ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 49 Januari 2026

 

Usia Berapa Anak Boleh Memiliki Smartphone Pribadi?

Oleh:

Fransisca Febriana Sidjaja

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Di era digital saat ini, banyak orang tua memberikan perangkat digital pribadi kepada anak di usia yang sangat muda. Survei nasional yang dilakukan oleh Organisasi Common Sense menemukan bahwa satu dari empat anak di Amerika telah memiliki smartphone pribadi pada usia delapan tahun (Common Sense Media, 2025). Di Indonesia sendiri, data mengenai usia anak pertama kali memiliki smartphone pribadi masih terbatas, namun studi dari UNICEF menunjukkan bahwa banyak anak mulai mengakses internet pada usia sekitar 11–14 tahun, dengan smartphone sebagai

perangkat yang paling sering digunakan (UNICEF, 2017). Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital kini menjadi bagian dari kehidupan anak sejak usia sangat dini. Walaupun smartphone memberikan berbagai dampak positif bagi anak dan remaja dalam berinteraksi dan mencari informasi untuk keperluan sekolah, risiko penggunaan dapat lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang ditawarkan.

 

Hasil penelitian menemukan bahwa penggunaan layar digital dan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan kesepian pada remaja (World Health Organization, 2024). Hal ini terutama disebabkan oleh penggunaan media sosial dan kebiasaan anak bermain game online melalui smartphone. Dengan menggunakan media sosial, anak dan remaja berisiko terpapar berbagai konten negatif dan membandingkan diri terus-menerus dengan orang lain. Bermain game online berisiko membuat anak kecanduan dan terganggu fokus belajarnya. Dalam dunia game online, mereka dapat bertemu dan berinteraksi dengan berbagai pemain dari seluruh dunia. Hal ini berisiko membuat anak dan remaja mengalami perundungan virtual (online bullying), pelecehan seksual virtual, dan diperkenalkan dengan budaya yang tidak sehat.

Adapun fenomena ini sejalan dengan pengalaman penulis yang berpraktek sebagai psikolog anak dan remaja. Dalam lima tahun terakhir, cukup banyak orang tua mengeluhkan perilaku anak remajanya yang kecanduan smartphone. Setelah memiliki smartphone pribadi, perilaku anak menjadi berubah drastis. Anak menjadi kurang tertarik berinteraksi dengan orang di rumah dan lebih senang menyendiri bermain smartphone di kamarnya. Saat sedang menghadiri acara keluarga, anak malas berbincang dengan orang lain, dan asyik sendiri dengan smartphone miliknya. Tidak sedikit orang tua yang melaporkan penurunan motivasi belajar dan nilai-nilai di sekolah. Hal lain yang sering terjadi adalah anak dan remaja memasang password pada smartphone pribadinya. Hal ini membuat orang tua tidak bisa memeriksa isismartphone mereka dan menjadi kuatir mengenai konten yang dikonsumsi anak. Biasanya anak akan beralasan bahwa isi smartphone merupakan privasi mereka, dan orang tua tidak berhak melihat isi smartphone miliknya. Hal ini membuat orang tua menyesal memberikan smartphone pribadi pada anak, namun biasanya pola adiksi sudah terbentuk dan orang tua kesulitan mendisiplinkan anaknya.

Dalam kebingungan, orang tua sering bertanya pada penulis: “Usia berapa sebenarnya anak saya boleh memiliki smartphone pribadi?”. Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab, karena saat ini tidak terdapat standar ideal usia kepemilikan smartphone pribadi bagi anak dan remaja. Namun perlu diperhatikan bahwa usia anak saat pertama kali memiliki smartphone memengaruhi kesejahteraan mental mereka.

Hasil studi menemukan bahwa remaja yang mendapatkan smartphone pada usia lebih muda melaporkan tingkat kesehatan mental yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja yang memiliki smartphone pada usia yang lebih tua (Sapien Labs, 2023). Penulis melakukan studi literatur dan refleksi pribadi yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya menemukan jawaban. Dalam percakapan personal penulis dengan Dr. Ir. Lukas, S.T., MAI., CISA., IPU., seorang dosen dan peneliti di bidang sistem keamanan komputer, penulis

mendapatkan insight yang menjawab pertanyaan tersebut (komunikasi personal, 2025). Selain menekankan berbagai resiko dunia virtual bagi anak dan remaja dibawah umur, Dr. Lukas mengusulkan cara unik yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dan remaja dari resiko smartphone. Sampai saat ini, sekalipun salah satu anak mereka sudah duduk di bangku kuliah, Dr. Lukas dan istrinya tidak pernah ‘memberikan’ smartphone sebagai milik pribadi anak-anak mereka. Smartphone yang diberikan pada anak berstatus ‘dipinjamkan’ , bukan diberikan menjadi milik pribadi anak. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai bahaya dunia siber yang mengancam keselamatan anak. Penulis menilai bahwa cara ini memang tidak biasa, namun sangat bijaksana. Dengan status ‘dipinjamkan’, orang tua sewaktu-waktu berhak menarik Kembali smartphone tersebut dan berhak memeriksa isinya kapan saja. Selain itu, bila bersifat ‘dipinjamkan’ , smartphone tidak boleh dikunci dengan password tentunya. Orang tua juga berhak menetapkan aturan dalam penggunaan smartphone tersebut, termasuk menetapkan waktu dan durasi penggunaan, serta konten apa saja yang boleh atau tidak boleh diakses oleh anak. Konsep ‘meminjamkan smartphone’ ini tentunya wajib dibarengi dengan usaha konsisten orang tua untuk membangun kedekatan hubungan dengan si anak. Orang tua juga perlu mengedukasi anak terus-menerus mengenai cara penggunaan smartphone yang sehat. Ayah dan Ibu, pendidik, dan orang dewasa dalam kehidupan anak juga wajib menjadi role model yang ideal bagi anak dalam hal penggunaan smartphone.Anak dan remaja perlu melihat contoh nyata penggunaan smartphone yang sehat dan terkendali dari orang-orang terdekat mereka di rumah dan sekolah. Kembali pada pertanyaan awal: usia berapa anak boleh memiliki smartphone pribadi? Jawabannya: smartphone, laptop, tablet, dan perangkat apa pun yang memberikan akses anak untuk memasuki dunia digital sebaiknya dimiliki saat anak mampu membelinya dengan uang hasil kerjanya sendiri. Orang tua sebaiknya memperlakukan perangkat digital ini sama dengan mobil, motor, jam tangan mewah, atau benda berharga milik orang tua yang kelak dapat diwariskan kepada anak hanya saat anak sudah dewasa dan mandiri. Selama anak masih bergantung pada orang tua untuk membeli pulsa atau membayar biaya penggunaan smartphone, maka status perangkat tersebut sebaiknya tetap sebagai ‘barang pinjaman’ yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali oleh orang tua. Dengan cara ini, anak belajar bahwa memasuki dunia digital secara bebas wajib disertai tanggung jawab, kedewasaan, serta kemampuan untuk membedakan hal yang benar dan yang salah.

 

Referensi:

Common Sense Media. (2025). The Common Sense Census: Media use by kids age zero to eight 2025. https://www.commonsensemedia.org/research/the-common-sense-census-media- use-by-kids-age-zero-to-eight-2025

Sapien Labs. (2023). Age of first smartphone and mental wellbeing outcomes: A global analysis. https://sapienlabs.org/global-mind-project

Susilowati, I. H., Nugraha, S., Alimoeso, S., & Hasiholan, B. P. (2021). Screen Time for Preschool Children: Learning from Home during the COVID-19 Pandemic. Global pediatric health, 8, 2333794X211017836. https://doi.org/10.1177/2333794X211017836

UNICEF. (2017). The State of the World’s Children 2017: Children in a digital world. New York: United Nations Children’s Fund. https://www.unicef.org/reports/state- worlds-children-2017

World Health Organization. (2024, September 25). Teens, screens and mental health. https://www.who.int/europe/news/item/25-09-2024-teens--screens-and-mental-health