ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 52 Februari 2026
Berkenalan dengan Psikologi Bencana
Oleh:
Arie Rihardini Sundari1 & Eko A Meinarno2
1Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI
2Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Psikologi Bencana: Pendahuluan dan Pemahaman Awal
Bencana, baik yang terjadi secara alami maupun akibat ulah manusia, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah umat manusia. Beberapa bencana dahsyat yang terekam adalah letusan gunung Vesuvius di Italia (79), letusan gunung Tambora di Indonesia (1815), dan tsunami Aceh juga di Indonesia (2004). Di balik kehancuran fisik dan material, bencana juga menyisakan luka psikis yang tak kalah mendalam. Dalam konteks inilah psikologi bencana hadir sebagai bidang kajian yang sangat relevan—sebuah pendekatan ilmiah untuk memahami, menganalisis, dan merespon dampak psikologis yang timbul akibat bencana (DeWolfe, 2000; Norris et al., 2002; Beaglehole et al., 2018; Subiyanto & Damayanti, 2022; Sundari & Meinarno, 2026).
Psikologi bencana adalah cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari perilaku, reaksi, serta dinamika psikologis individu maupun kelompok dalam menghadapi dan merespons situasi bencana. Dalam dunia yang makin rentan terhadap bencana akibat perubahan iklim, urbanisasi tak terkendali, dan konflik sosial, peran psikologi bencana menjadi sangat penting. Ia membantu menjembatani antara respon tanggap darurat dan pemulihan jangka panjang dengan memberikan perhatian khusus pada kondisi psikologis para penyintas (DeWolfe, 2000). Termasuk di dalamnya adalah upaya untuk meminimalkan risiko dalam semua situasi (Gant & Gant, 2012), dan edukasi darurat bencana, yang tercakup dalam layanan psikososial yang diberikan oleh para relawan bencana (fasilitator dan atau pendamping penyintas).
Pengertian Bencana dalam Perspektif Global
Secara terminologis, pengertian bencana telah dijabarkan oleh berbagai lembaga dunia dengan penekanan yang berbeda namun saling melengkapi. International Strategy for Disaster Reduction (ISDR atau sekarang United Nations Office for Disaster Risk Reduction/UNDRR) mendefinisikan bencana sebagai “suatu gangguan serius terhadap aktivitas masyarakat yang menyebabkan kerugian luas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi, atau lingkungan, dan melampaui kemampuan masyarakat untuk mengatasinya dengan sumber daya yang mereka miliki” (ISDR, 2004). Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO), bencana merupakan “kejadian yang mengakibatkan kerusakan ekologi, kerugian jiwa, serta memburuknya pelayanan kesehatan sehingga membutuhkan bantuan luar biasa dari pihak luar” (WHO, 1999). Asian Disaster Reduction Center (ADRC) juga menekankan bahwa bencana adalah gangguan serius yang menyebabkan kerugian meluas, termasuk kerusakan infrastruktur dan lingkungan, dengan dampak yang melampaui kapasitas manusia untuk mengatasinya secara mandiri (ADRC, 2003). Bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 tentang bencana merujuk pada peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan atau faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Berbagai macam bentuk bencana antara lain, bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.
Keempat definisi tersebut menggarisbawahi bahwa bencana bukan hanya kejadian fisik, tetapi juga krisis sosial dan psikologis yang kompleks. Dalam konteks psikologi, hal ini menuntut pemahaman terhadap kapasitas adaptasi individu, ketahanan sosial, serta intervensi yang tepat untuk mencegah trauma berkepanjangan (DeWolfe, 2000; Norris et al., 2002; Beaglehole et al., 2018).
Jenis Bencana dan Dampaknya di Indonesia
Bencana yang terjadi dapat dikategorikan menjadi dua jenis utama yakni bencana alam dan bencana non-alam. Bencana alam meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan (Mumpuni & Meinarno, 2024). Bencana non-alam dapat berupa wabah penyakit, kecelakaan transportasi massal, hingga konflik sosial, kerusuhan, dan termasuk peperangan (pengeboman dan tindakan terorisme), serta kecelakaan teknologi atau nuklir (DeWolfe, 2000; Subiyanto & Damayanti, 2022; Mumpuni & Meinarno, 2024).
Dampak dari bencana berupa trauma, gangguan kecemasan, kehilangan makna hidup, dan stres pasca-trauma serta depresi adalah beberapa bentuk luka psikologis yang umum dialami para penyintas (Irawan, 2013). Terlebih lagi, korban sering kehilangan struktur sosial yang selama ini menopang kehidupan mereka, seperti keluarga, komunitas, tempat tinggal, dan pekerjaan (DeWolfe, 2000; Norris et al., 2002; Beaglehole et al., 2018; Subiyanto & Damayanti, 2022). Pemulihan akibat bencana terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama (kadang-kadang bertahun-tahun), yang menghasilkan masa pemulihan yang panjang dan sering tidak stabil.
Manajemen Risiko Bencana dan Fase Tanggap
Manajemen risiko bencana merupakan upaya sistematis untuk mengurangi kerugian akibat bencana melalui serangkaian proses yang terstruktur. Secara umum, terdapat empat fase penting dalam siklus manajemen risiko bencana: fase pra-bencana (tanpa potensi), fase pra-bencana (dengan potensi), fase tanggap darurat, dan fase pemulihan (DeWolfe, 2000). Psikologi bencana terlibat secara aktif dalam seluruh fase ini, khususnya pada aspek edukasi, pendampingan psikososial, serta pemberdayaan komunitas korban agar kembali bangkit dari keterpurukan (DeWolfe, 2000). Dibutuhkan bukan hanya upaya terencana, namun kepemimpinan yang tegas sangat dibutuhkan dalam manajemen risiko bencana, (Gant & Gant, 2012).
Cakupan Kajian Psikologi Bencana
Psikologi bencana mencakup beragam kajian, mulai dari bagaimana individu menghadapi situasi darurat, hingga bagaimana komunitas mengelola ketidakpastian dan kehilangan. Kajian ini tidak hanya memperhatikan individu secara terpisah, tetapi juga bagaimana struktur sosial dan budaya memengaruhi respons terhadap bencana (Subiyanto & Damayanti, 2022).
Salah satu fokus utama adalah pemahaman terhadap ketahanan psikologis—kemampuan individu dan kelompok untuk bangkit kembali/daya lenting (resiliensi) dari kondisi krisis (Irawan, 2013). Di sinilah psikologi bencana memiliki peran besar dalam menyusun program-program intervensi berbasis bukti yang mampu membantu individu dan masyarakat untuk pulih (DeWolfe, 2000; Beaglehole et al., 2018; Norris et al., 2002; Sundari & Meinarno, 2026).
Dinamika Psikologis dan Krisis Mental pada Penyintas
Pada saat bencana terjadi, penyintas menghadapi perubahan ekstrem secara tiba-tiba yang dapat memicu perubahan tingkah laku sampai krisis mental (Sarwono, 2016). Respon psikologis ini bisa bervariasi, tergantung pada kondisi individu, pengalaman masa lalu, dukungan sosial, serta persepsi terhadap bencana itu sendiri (Irawan, 2013; DeWolfe, 2000).
Beberapa dinamika yang umum terjadi meliputi reaksi syok dan disorientasi, kecemasan berlebih dan ketakutan ekstrem, perasaan tidak berdaya dan putus asa, gangguan tidur dan makan, serta gejala PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) (DeWolfe, 2000). Respon-respon ini merupakan bentuk adaptasi alami, namun jika berlangsung berkepanjangan tanpa penanganan, bisa mengarah pada gangguan psikologis serius (DeWolfe, 2000).
Dampak Psikologis Menurut Kelompok Usia, Gender, dan Sosial Ekonomi
Psikologi bencana juga melihat bahwa dampak tidak bersifat seragam. Anak-anak, remaja, orang dewasa, dan lansia memiliki kerentanan yang berbeda-beda. Anak-anak cenderung menunjukkan regresi, ketergantungan, dan mimpi buruk (Fitriani, Rusmiati, & Mellisa, 2020). Remaja bisa mengalami ledakan emosi, agresivitas, atau menarik diri. Namun temuan Irawan (2013) pada remaja korban letusan gunung Merapi menunjukkan karakteristik daya lenting, khususnya meaningfulness. Lansia menghadapi tantangan besar dalam hal mobilitas dan kehilangan jaringan sosial (Subiyanto & Damayanti, 2022).
Gender juga memainkan peran penting. Perempuan sering kali lebih rentan secara sosial dan ekonomi, sementara laki-laki lebih berisiko menekan emosi dan tidak mencari bantuan. Demikian pula, kelompok dengan tingkat sosial ekonomi rendah biasanya memiliki sumber daya yang lebih terbatas untuk memulihkan diri, sehingga membutuhkan perhatian lebih dalam intervensi psikologis (Subiyanto & Damayanti, 2022).
Konsep dan Prosedur Intervensi Psikologis
Intervensi psikologis dalam konteks bencana bertujuan untuk membantu korban memahami pengalaman traumatis mereka, mengembangkan strategi koping, dan memperkuat jejaring sosial sebagai sistem dukungan. Intervensi ini dilakukan dengan pendekatan bertahap dan sensitif terhadap konteks budaya dan lokalitas (DeWolfe, 2000).
Prosedur intervensi umumnya melibatkan assesmen psikologis awal, pendampingan psikososial jangka pendek, terapi krisis atau konseling trauma, intervensi kelompok, serta rujukan ke layanan kesehatan jiwa profesional bila diperlukan (DeWolfe, 2000). Tujuannya adalah mengurangi risiko psikopatologi jangka panjang serta mengembalikan fungsi sosial penyintas ke tingkat optimal (DeWolfe, 2000), dan dapat berbagi jenis dukungan diantara penyintas, agar didapatkan pertumbuhan dan pemulihan yang selaras, (Gist & Lubin, 1999).
Jenis Intervensi dan Peran Sarjana Psikologi atau Psikolog
Jenis intervensi psikologis bisa sangat beragam, mulai dari psychological first aid (PFA), group debriefing, terapi berbasis narasi (misalnya mendongeng) (Paramitha, 2011), hingga Cognitive Behavioral Therapy atau Complicated Grief Therapy untuk kasus yang lebih kompleks. Khusus untuk psikolog, tidak hanya bertugas memberikan terapi, tetapi juga menjadi fasilitator pemulihan komunitas (DeWolfe, 2000).
Peran sarjana psikologi dan psikolog dalam situasi bencana antara lain memberikan edukasi kepada masyarakat tentang stres dan trauma, melatih relawan dan tenaga tanggap darurat tentang dukungan psikologis dasar, mendorong komunitas untuk saling mendukung dan bangkit bersama, serta menjadi jembatan antara korban dan sistem bantuan formal (DeWolfe, 2000; Sundari & Meinarno, 2026). Sangat penting untuk mempersiapkan mereka menjadi seorang profesional dalam hal keselamatan dan manajer darurat yang harus merancang rencana tindakan dan respon darurat yang serealistis dan seefektif mungkin. Hal lainnya adalah mencakup pemahaman menyeluruh tentang perilaku manusia yang diharapkan dalam skenario bencana dan darurat berdasarkan informasi empiris (Gant & Gant, 2012).
Penutup: Psikologi yang Berpihak pada Kemanusiaan
Psikologi bencana bukan hanya tentang respon terhadap krisis, tetapi tentang membangun masyarakat yang lebih tangguh, lebih empatik, dan lebih siap menghadapi ketidakpastian. Di tengah keterbatasan sumber daya dan luka yang masih membekas, hadirnya intervensi psikologis yang tepat bisa menjadi bantuan sederhana yang menuntun penyintas kembali pada harapan (DeWolfe, 2000; Subiyanto & Damayanti, 2022; Beaglehole et al., 2018; Norris et al., 2002; Beaglehole et al., 2018). Dengan demikian respon terbaik bukanlah yang tercepat atau terbesar, tapi yang paling manusiawi dan menghargai pengalaman subjektif korban.
Dalam konteks akademik, mempelajari psikologi bencana bukan hanya untuk memahami teori, tapi juga untuk menumbuhkan sensitivitas dan empati—dua hal yang sangat dibutuhkan dalam mendampingi mereka yang kehilangan arah setelah didera bencana. Sebab, dari setiap kondisi yang pascabencana akan selalu ada harapan untuk bangkit.
Daftar Pustaka
Asian Disaster Reduction Center (ADRC). (2003). Definisi Bencana. https://www.adrc.asia/acdr/2003_index.php. http://glossary.adrc-web.net/translate.asp?lang=en&query=disaster+definition&qtype=1&source=EN&target=EN
Beaglehole, B., Mulder, R. T., Frampton, C. M., Boden, J. M., Newton-Howes, G., & Bell, C. J. (2018). Psychological distress and psychiatric disorder after natural disasters: systematic review and meta-analysis. The British Journal of Psychiatry, 213(6), 716-722.
DeWolfe, D. J. (2000). Training Manual for Mental Health and Human Service Workers in Major Disasters (2nd ed.). Washington: Department of Health and Human Services Substance Abuse and Mental Health Services Administration Center for Mental Health Services.
Gant, P., & Gant, R. (2012). Disaster Psychology: Dispelling The Myths of Panic. Professional Safety, January 2012.https://www.researchgate.net/publication/285716646.
Gist, R., & Lubin, B. (1999). Response to disaster: psychosocial, community, and ecological approaches. Taylor & Francis, New York.
Fitriani, KR., Rusmiati, H., Mellisa, Y. Pentingnya Dukungan Psikososial pada Anak Pasca Bencana. Buletin KPIN. Vol.6 No. 06 Maret 2020. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/577-pentingnya-dukungan-psikososial-pada-anak-pasca-bencana.
International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). (2004). International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). Living with Risk - A Global Review of Disaster Reduction Initiatives. United Nations Publication. New York and Geneva. Diakses pada tanggal 2 Juni 2025 dari https://www.unisdr.org/files/7817_7819isdrterminology11.pdf
Irawan, MA. (2013) Resliensi pada remaja suku Jawa yang menjadi penyintas bencana erupsi gunung Merapi tahun 2010. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Mumpuni, ID., Meinarno, EA. (2024). Bencana dalam Kacamata Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 18 September 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1612-bencana-dalam-kacamata-psikologi.
Norris, F. H., Friedman, M. J., Watson, P. J., Byrne, C. M., Diaz, E., & Kaniasty, K. (2002). 60,000 disaster victims speak: Part I. An empirical review of the empirical literature, 1981–2001. Psychiatry: Interpersonal and Biological Processes, 65(3), 207-239.
Paramitha, S. (2011). Mendongeng sebagai metode pemulihan trauma pada anak-naka di daerah pascabencana: Sebuah analisis life history pustakawan pendongeng. Skripsi strata satu Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Tidak dipublikasikan.
Sarwono, SW. (2016). Psikologi Lingkungan & Pembangunan. Edisi kedua. Mitra Wacana Media. Jakarta.
Subiyanto, A., Damayanti, N. (2022). Pengantar Psikologi Bencana. Yogyakarta: Abhiseka Dipantara.
Sundari, AR., Meinarno, EA. (2026). Psikologi Bencana: Membangun Ketangguhan Mental Sejak Bangku Studi Sarjana Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 12 No. 50 Januari 2026. https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/1959-psikologi-bencana-membangun-ketangguhan-mental-sejak-bangku-studi-sarjana-psikologi
Undang-Undang Negara Republik Indonesia No. 24 tahun 2007. Diakses pada tanggal 8 September 2024 dari https://bnpb.go.id/definisi-bencana.
World Health Organization (WHO). 1999. Community emergency preparedness: a manual for managers and policy-makers. Diakses pada tanggal 2 Juni 2025 dari https://iris.who.int/handle/10665/42083.