ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 52 Februari 2026
Apa yang Membuat Tes Psikologi Dapat Dipercaya?
Oleh:
Murni Widya Ningsih
Program Studi Magister Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tes didefinisikan Cronbach, L.J (1970) sebagai “a systematic procedure for observing a person’s behavior and describing it with the aid of a numerical scale or a category system”. Sejalan dengan konsep tersebut, Azwar, S (2025) memberikan definisi spesifik terhadap tes psikologi, yakni serangkaian pertanyaan, pernyataan, ataupun perintah yang disusun secara sistematis untuk menggali respons dari seseorang dengan tujuan mengukur tingkat atribut psikologis yang ada pada diri seseorang. Tata cara yang digunakan dalam pelaksanaan tes psikologi harus jelas, sehingga dapat menjadi panduan dalam mengamati perilaku maupun mengukur atribut psikologis seseorang.
Periantalo, J (2023) menambahkan, bahwa tes psikologi tidak hanya digunakan dalam ilmu Psikologi saja, tetapi pada berbagai ilmu yang berhubungan dengan perilaku manusia. Kegunaan tes psikologi juga beragam; ada yang digunakan dalam seleksi pendidikan, rekrutmen dalam pekerjaan, sampai ranah paling khas yakni digunakan pada layanan kesehatan mental. Hasil tes psikologi juga dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang mempunyai dampak secara signifikan pada seseorang, demikian dari Azwar, S (2022). Ini mempertegas bahwa tes psikologi sangat berperan penting, tetapi apa yang membuat tes psikologi dapat dipercaya?
Menjawab hal ini Azwar, S (2022) memberikan keterangan bahwa demikian pentingnya peran tes psikologi, maka hasil tes psikologi yang digunakan untuk berbagai kepentingan haruslah memberikan validitas dan reliabilitas yang tinggi sehingga dapat dipercaya untuk dijadikan acuan. Kedua kriteria tersebut menjadi indikator dari tes psikologi yang dianggap baik, dimana ini diperankan oleh psikometri sebagai konteks keilmuan pengukuran psikologi yang memusatkan perhatian pada hal-hal tersebut, termasuk evaluasi tingkat lanjut dalam tes psikologis (Furr & Bacharach, 2008; Furr, R.M, 2021). Ini menekankan bahwa psikometri menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu tes psikologi dapat mengukur apa yang akan diukur dan sejauh mana tingkat kepercayaan yang dihasilkan dalam suatu pengukuran tes psikologi.
Siregar, T. (2025) juga mengonfirmasi bahwa validitas dan reliabilitas sebagai prinsip-prinsip utama dalam psikometri harus terpenuhi yang menjadi landasan ilmiah dalam instrumen, yang tentu disajikan pula pada tes-tes psikologi. Validitas berkaitan dengan hasil pengukuran berupa skor dalam tes yang diinterpretasikan, dan dapat dikatakan valid jika skor tes mampu menggambarkan tingkat akurasi mengenai takaran atribut psikologi yang diukur pada seseorang (Azwar, S., 2022). Ketepatan informasi yang digambarkan mengenai atribut psikologi yang diukur, menunjukkan keberfungsian tes pada seseorang. Dengan kata lain bahwa tingginya skor tes yang dihasilkan, maka validitas dalam tes psikologi juga ikut meningkat.
Selanjutnya, Ahmed (2021) menyebutkan bahwa pembahasan mengenai validitas ini semakin naik ke permukaan dan menjadi topik utama dalam kajian psikometri secara global, termasuk di Indonesia dengan keragaman budaya yang lebih kompleks. Menurut Triandis (1972; 1994), memasukkan penilaian yang sensitif dalam konteks lintas budaya dapat menghasilkan data yang lebih valid. Kesadaran terhadap kepekaan budaya menjadi faktor penting dalam menjaga agar proses penilaian tetap inklusif dan akurat.
Menelaah hal ini, Lestari (2023) juga ikut memaparkan dengan landasan teori kesetaraan dan bias oleh Van de Vijver & Leung (2021), jika validitas lintas budaya tidak diperhatikan, penilaian berisiko disalahartikan dan dapat berujung pada pengambilan keputusan strategis yang kurang tepat. Pemaparan itu juga menjelaskan bahwa instrumen penilaian yang telah divalidasi secara lintas budaya mampu menggambarkan atribut seseorang secara lebih realistis dalam beragam konteks.
Berpindah pada prinsip psikometri berikutnya yang dinilai sebagai pilar penting dalam mendongkrak kepercayaan terhadap tes psikologi adalah reliabilitas. Azwar, S (2025) menambahkan bahwa perkara reliabilitas selain menjadi pilar penting yang mendukung kepercayaan terhadap hasil tes psikologi, juga merujuk pada konsistensi hasil tes psikologi yang dilakukan. Maksudnya bagaimana?, yakni hasil tes psikologi akan dapat dipercaya jika menghasilkan skor tes yang relatif sama pada seseorang atau kelompok. Hasil tes menjadi tidak akurat jika reliabilitas pada skor tes ini tidak terpenuhi. Lebih lanjut diperjelas bahwa hasil skor tes psikologi yang rendah dapat menjurus pada ketidakadilan dalam keputusan pada suatu kepentingan tes psikologi dilakukan.
Hal lain yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap hasil tes psikologi menurut Azwar, S (2025) ini adalah mengenai adanya kesalahan pengukuran dalam pelaksanaan tes (error of measurement). Kesalahan ini bisa terjadi karena memang tidak ada alat ukur psikologis yang benar-benar terbebas dari unsur ini. Oleh karena itu, berbagai informasi yang dihasilkan dalam bentuk skor tes, harus diinterpretasikan dengan sangat hati-hati dan tidak menjadikan hasil tes sebagai sesuatu yang absolut. Sekiranya, inilah yang menjadi peran Psikometri yang dapat membantu peneliti maupun praktisi sehingga dapat memahami bahwa setiap skor tes dapat mengandung unsur ketidakpastian.
Isu kepercayaan terhadap hasil tes psikologi semakin kompleks terjadi di Indonesia. Hal ini menurut Fitriani, W. (2016), karena alat ukur yang digunakan di Indonesia merupakan hasil proses adaptasi dan uji psikometri yang kurang memadai. Tes psikologi hanya diterjemahkan secara bahasa dengan tidak memperhatikan norma atau nilai budaya lokal dapat memicu bias hasil tes. Hal ini sejalan dengan temuan Codex, Y. (2023), bahwa alat tes psikologi memerlukan penyesuaian secara kultural supaya dapat menggambarkan atribut psikologis dengan akurat berdasarkan budaya lokal.
Pemaparan demi pemaparan dari berbagai temuan telah menambah khasanah eksklusif dalam hal kepercayaan terhadap tes psikologi. Dapat dipahami bahwa kepercayaan terhadap tes psikologi tidak bisa hanya ditentukan dari bagaimana suatu tes dirancang, tetapi juga merujuk pada kualitas pengukuran saat tes psikologi berlangsung. Validitas, reliabilitas, dan memahami tentang adanya kesalahan pengukuran yang ternyata saling berkaitan. Ketiganya dapat memberikan kepastian bahwa skor tes benar-benar memberikan gambaran mengenai atribut psikologis seseorang, bukan lagi menyoal angka dari hasil tes saja. Mutu suatu tes psikologi ditopang oleh psikometri yang menjadi landasan ilmiah dalam pengukuran.
Beragam hasil dari penelitian memberikan pemahaman yang sangat jelas tentang apa yang membuat tes psikologi dapat dipercaya, bukan hanya sebatas kepentingan akademisi atau praktisi psikologi, tetapi juga kepentingan masyarakat. Sangat perlu memastikan kualitas pengukuran sebagai bentuk tanggung jawab etis dan ilmiah, karena hasil tes digunakan untuk berbagai kepentingan seseorang. Informasi yang tersaji memberikan penegasan bahwa psikometri bukan hanya sebatas rangkaian teknik statistik, tetapi fondasi ilmiah untuk memahami manusia secara lebih adil dan bermakna.
Referensi:
Azwar, S. (2025). Dasar-dasar Psikometrik (edisi III). Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2025). Reliabilitas dan Validitas. Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2022). Riset-riset Konstruksi Skala Psikologi. Pustaka Pelajar.
Cronbach, L. J. (1970). Essentials of psychological testing. Harper & Row.
Codex, Y. (2023). Validating Psychological Assessment Tools Across Cultures: Challenges, Methods, and Enhancing Cross-Cultural Validity. Yubetsu Codex Medicine & physiology, 1(4), November 2nd, 2023. https://codex.yubetsu.com/article/40c29ee926ea40328f4f50dd02ef6504
Fitriani, W. (2016). Bias Budaya dalam Tes Psikologi Ditinjau dari Aspek Testee dan Alternatif Solusinya. Ta’dib, 15(2). https://doi.org/10.31958/jt.v15i2.231
Furr, R. M. & Bacharach, V. R. (2008). Psychometrics: an introduction. SAGE Publications.
Furr, R. M. (2021). Psychometrics: an introduction. SAGE Publications
Periantalo, J. (2023). Validitas Alat Ukur Psikologi: Aplikasi Praktis (Cetakan II). Pustaka Pelajar.
Siregar, T. (2025). Mengapa Validitas dan Reliabilitas Penting dalam L&D (Pembelajaran & Pengembangan): Apa yang Dapat Anda Lakukan Tentang Hal Ini. JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN, 7(1), 1-12. https://doi.org/10.31970/pendidikan.v7i1.463
Triandis, H. C. (1972). Analysis of subjective culture. Wiley.
Triandis, H. C. (1994). Culture and social behavior. Mcgraw-Hill Book Company.
Van de Vijver, F. J., & Leung, K. (2021). Methods and Data Analysis for Cross-Cultural Research (Vol. 116). Cambridge University Press.
