ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 51 Februari 2026

 

Mengapa Pikiran Justru Sibuk Ketika Dunia Terlelap?

Oleh:

Deva Febriyantina Jaya & Setiawati Intan Savitri

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Pernahkah kamu merasa ketika hari mulai gelap dan dunia mulai tenang, pikiranmu justru lebih ramai? Saat itu, yang ada bukan sekedar “pikiran biasa” melainkan luapan kekhawatiran, penyesalan, dan rencana yang tak kunjung selesai. Di malam hari, banyak dari kita mendapati diri dalam situasi yang disebut overthinking yaitu kondisi dimana otak seolah enggan berhenti bekerja, sementara tubuh sudah siap untuk istirahat. Overthinking didefinisikan sebagai pikiran yang berlebihan yang dialami seseorang hingga tidak menemukan solusi konstruktif untuk masalah tersebut. Selain mengganggu kesehatan mental secara menyeluruh, overthinking juga dapat menyebabkan beberapa penyakit fisik seperti sakit kepala dan gangguan pencernaan. Oleh karena itu, overthinking bukan sekedar pikiran yang menghantui, melainkan reaksi tubuh dan otak yang nyata sekaligus berbahaya.

 

Mengapa hal seperti ini justru sering terjadi di malam hari?  Pada siang hari pikiran kita sibuk dengan berbagai aktivitas sehingga tidak punya waktu untuk memproses kecemasan secara emosional. Pikiran tidak punya ruang untuk diam, apalagi merenung. Tapi saat malam datang dan semuanya melambat, kita akhirnya punya waktu untuk “mendengar” isi kepala sendiri. Tidak ada kebisingan dari luar yang bisa dijadikan pengalihan. Pikiran-pikiran kecil yang tadinya tersembunyi kini muncul dan memaksa untuk dihadapi.

 

Secara biologis, malam adalah waktu tubuh memproduksi hormon melatonin agar kita bisa tidur. Namun, bagi otak yang penuh beban pikiran, sinyal itu sering kali diabaikan. Ada bagian yang disebut default mode network yaitu sistem di otak yang aktif ketika kita sedang melamun atau merenung. Saat tubuh berbaring tenang, bagian ini justru bekerja lebih keras membuatmu memutar kembali kenangan masa lalu, membayangkan masa depan, dan mempertanyakan hal-hal yang tidak bisa dijawab saat itu juga. Akibatnya, tidur pun menjadi sulit dan ketika pagi tiba tubuh terasa lelah meski sudah semalaman di tempat tidur.

 

Kurang tidur tentu berdampak pada suasana hati dan produktivitas keesokan harinya. Orang yang sering overthinking di malam hari cenderung mudah lelah, kurang fokus, dan merasa cemas tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini menciptakan siklus yang melelahkan seperti semakin stress, semakin sulit tidur, semakin banyak hal yang dipikirkan.

 

Banyak yang mengira overthinking terjadi karena seseorang terlalu berpikir secara logis. Padahal, sebaliknya overthinking lebih bersifat emosional. Dalam sehari, kita berusaha berfungsi secara normal seperti menahan kecewa, marah, atau takut agar tetap terlihat baik-baik saja. Ketika malam tiba, tidak ada lagi cara untuk mengalihkan pikiran dan semua emosi yang dipendam mulai menuntut untuk diproses. Tak heran jika tidur menjadi sulit, otak masih sibuk membereskan “ruangan” emosional itu satu per satu sebelum benar-benar tenang.

Ketika dunia menjadi begitu sunyi, banyak orang tanpa sadar mencoba mengendalikan segala sesuatu lewat pikirannya. Otak mulai berkelana mengingat masa lalu atau membayangkan masa depan yang belum tentu terjadi. Semua itu dilakukan sebagai bentuk perlindungan diri, seolah dengan terus berpikir kita bisa mencegah hal buruk terjadi. Namun sayangnya, upaya ini seringkali membuat kita semakin cemas. Rasa gelisah yang muncul justru merupakan tanda bahwa diri kita masih berusaha menerima kenyataan “bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan kita”. Maka, overthinking pun muncul sebagai mekanisme perlindungan, itulah cara otak berkata ‘aku hanya ingin kamu aman”, meski ancaman itu hanya hidup di dalam pikiran.

Menghentikan overthinking bukan berarti memaksakan diri untuk berhenti berpikir, melainkan belajarlah untuk berdamai dengan pikiran itu sendiri. Banyak orang mencoba mengalihkan perhatiannya dengan liburan atau mempunyai kesibukan, padahal cara yang paling menenangkan adalah menerima pikiran itu apa adanya tanpa perlu melawannya. Dengan melalui latihan seperti mindfulness, kita belajar menyadari setiap pikiran yang terlintas tanpa terbawa olehnya. Ketika kita mampu melihat pikiran hanya sebagai sesuatu yang datang dan pergi, seperti awan yang bergerak di langit malam ketenangan perlahan muncul. Pada saat itu, keheningan tidak lagi terasa menakutkan. Keheningan menjadi ruang yang lembut, tempat dimana kita dapat mengenal diri kita lebih dalam dan akhirnya benar-benar beristirahat.

Pada akhirnya, terlalu overthinking di malam hari adalah bagian dari upaya diri untuk memahami apa yang belum selesai. Mungkin memang benar bahwa tidak semua pertanyaan harus terjawab malam itu juga dan tidak semua perasaan harus diungkapkan pada saat yang bersamaan. Terkadang, kita hanya perlu memberi diri kita izin untuk beristirahat tanpa merasa bersalah. Karena esok selalu membawa kesempatan baru dan hal yang terasa berat tadi malam, seringkali terasa lebih ringan saat matahari terbit. Mungkin, di antara kesunyian yang dulu kamu takuti ada sedikit kedamaiaan yang selama ini kau cari.

 

Daftar Pustaka:

 

Agus Budiman, J., Hikayudi, A., & Zulfia, S. (2025). Dampak Overthinking Terhadap Produktivitas Belajar Dan Kesejahteraan Psikologis Mahasiswa Di Perguruan Tinggi. PSIKIS : Jurnal Ilmu Psikiatri dan Psikologi, Vol, 1((1)), 1–9.

Anggaraeni, F. D., & Frisca Tambunan, A. (2022). Mengenal Overthinking. Buletin K-PIN, vol, 8((6)). https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1003-mengenal-overthinking

Savero, A. R., & Amelasasih, P. (2025). Mindfulness Therapy as an Intervention to Address Overthinking. Indonesian Counseling and Psychology, Vol. 5((2)), 344–355. https://doi.org/DOI : 10.24114/icp

Suroiyya, F. O., & All Habsy, B. (2024). Tinjauan Overthinking Dan Berbagai Intervensi Konseling Untuk Mengatasinya | PDF. Scribd. https://id.scribd.com/document/833191244/Tinjauan-Overthinking-Dan-Berbagai-Intervensi-Konseling-Untuk-Mengatasinya