ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 50 Januari 2026

Remaja  dan Media Sosial: Antara Kebutuhan Diakui dan Tekanan Divalidasi

Oleh:

Safitri Salsabilla

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

Media sosial kini menjadi sarana utama bagi para remaja untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Remaja berusaha menjalin hubungan, memperoleh pengakuan, dan membangun rasa memiliki dalam kelompok sosial melalui platform Tiktok, Instagram, dan WhatsApp. Aktivitas seperti mengunggah foto, membalas pesan, atau menonton konten viral adalah dorongan psikologis untuk diterima dan dihargai oleh orang-orang di sekitarnya, bukan sekedar hiburan. Oleh karena itu, penggunaan media sosial tidak hanya terkait dengan tren digital, tetapi juga merupakan komponen penting dari upaya remaja untuk memenuhi kebutuhan sosialnya di era modern.

Menurut psikologi, perilaku ini terkait dengan kebutuhan sosial, salah satu kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow. Manusia membutuhkan rasa memiliki dan kasih sayang setelah memenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa aman mereka. Media sosial menjadi cara kontemporer untuk memenuhi kebutuhan remaja tersebut. Melalui interaksi daring, mereka mendapatkan dukungan emosional, merasa menjadi bagian dari kelompok, dan membangun identitas diri.

Namun, fenomena ini memiliki dua sisi. Media sosial membantu remaja merasa terhubung, tetapi mereka juga dapat menyebabkan kesepian dan tekanan sosial jika kebutuhan ini tidak dipenuhi dengan baik.

 

Remaja menggunakan media soial untuk beragai alasan, termasuk mencari dukungan emosional, mempertahankan hubungan dengan teman sebaya, menampilkan citra diri, dan mendapatkan pengakuan sosial melalui like dan komentar. Studi di Indonsia menemukan bahwa ketersediaan jaringan digital, kebiasaan komunikasi keluarga dan sekolah, dan kebutuhan untuk membangun identitas sosial di antara teman sebaya memengaruhi motivasi ini.

Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan untuk menggunakan media sosial sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan sosial termasuk keinginan untuk eksistensi (kebutuhan untuk belonging), tingkat keyakinan diri yang rendah atau tinggi, dan sensitivitas terhadap penerimaan sosial. Remaja yang memiliki konsep diri yang belum stabil sering memanfaatkan media sosial untuk mencari validasi dari orang lain. Ini menjadikan media sosial sebagai sumber afeksi dan identitas sementara.

 

Media sosial dapat menawarkan banyak keuntungan, seperti memperluas jejaring persahabatan memudahkan dukungan emosional saat krisisi, dan menjadi sarana untuk bereksperimen dengan identitas positif. Namun, efek negatif seperti kesepian, kecemasan sosial, tekanan untuk tampil sempurna, dan perlakuan konsumtif dapat muncul jika penggunaan tidak seimbang atau didasarkan pada perbandingan sosial yang terus-menerus.

Remaja memerlukan pelatihan literasi digital, pembatasan waktu layar yang bijaksana, dan dukungan dari keluarga dan sekolah agar media sosial dapat memenuhi kebutuhan sosial secara sehat. Pendidik dan orangtua harus mengajarkan remaja untuk memilih komunitas online yang sportif dan mengimbangi interaksi online dan tatap muka. Implementasi kebijakan pendidikan dan program pelatihan di sekolah akan meningkatkan penggunaan media sosial yang sesuai dan bermanfaat bagi kesehatan mental remaja.

 

Secara keseluruhann memenuhi kebutuhan sosial remaja melalui media sosial menunjukkan cara orang memperoleh pengakuan dan membangun hubungan di era digital. Media sosial memungkinkan remaja untuk mengekspresikan diri, mencari dukungan emosional, dan menjadi bagian dari kelompok sosial. Namun, jika digunakan secara berlebihan atau tanpa pengendalian diri, mereka juga dapat menimbulkan tekanan psikologis. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan sosial secara sehat, sangat penting untuk mengimbangi interaksi online dan tatap muka. Untuk membantu remaja menggunakan media sosial secara positif, literasi digital, dukungan keluarga, dan bimbingan sekolah diperlukan. Ini dapat meningkatkan identitas diri, kesehatan psikologis, dan mendorong pembentukan relasi soial yang lebih segnifikan baik secara digital maupun nyata.

 

Media sosial telah menjadi tempat penting bagi remaja untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka, terutama pengakuan, rasa memiliki, dan dukungan emosional.Remaja berusaha membangun hubungan sosial dan membentuk identitas diri di dunia digital dengan mengikuti tren, berinteraksi, dan mengunggah konten. Media sosial membantu remaja dengan banyak hal baik, seperti membangun hubungan baru, menjadi tempat berekspresi , dan membuat mereka merasa terhubung dengan dunia sosial. Hal ini menunjukkan bahwa media soial bukan sekedar alat hiburan tetapi juga tempat untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang berkaitan dengan tahap perkembangan remaja.

Namun, penggunaan media sosila yang tidak seimbang juga dapat memiliki efek negatif seperti kecemasan, tekanan sosial, ketergantungan pada validasi, dan kesetaraan ketika ekspetasi sosial tidak terpenuhi. Oleh karena itu, sangat penting bagi remaja untuk memiliki literasi digital, memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, dan mendapatkan dukungan dari keluarga dan sekolah untuk menjaga penggunaan media sosial yang sehat dan bermakna. Media sosial dapat digunakan dengan baik untuk membangun hubungan sosial yang positif, namun tetap mengingat pentingnya interaksi langsung dalam kehidupan nyata.

 

Daftar Pusataka

Felita, P., Siahaja, C., Wijaya, V., Melisa, G., Chandra, M., & Dahesihsari, R. (2016). Pemakaian media sosial dan self concept pada remaja. Manasa, 5(1), 30-41.

Firamadhina, FIR, & Krisnani, H. (2020). generasi Z terhadap penggunaan media sosial TikTok: TikTok sebagai media edukasi dan aktivisme. Bagikan: Jurnal Pekerjaan Sosial , 10 (2), 199-208.

Komariah, NS, Untari, DT, & Bukhari, E. (2020). Teknologi komunikasi dan perubahan sosial remaja di Indonesia; sebuah kajian literatur tentang penggunaan media sosial. Jurnal Kajian Ilmiah , 20 (2), 177-184