ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 50 Januari 2026
Ketika Bencana Datang, Mengapa Kita Panik?
Oleh:
Dina Nazriania, Eko A. Meinarnob, Fasihah Irfani Fitric, Rahma Fauziaa, Fahmia
aFakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
bFakultas Psikologi, Universitas Indonesia
cFakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara
Pengantar: Pentingnya Kesiapan Psikologis Menghadapi Bencana
Jenis bencana yang paling sering muncul di Indonesia adalah bencana alam. Gempa bumi, banjir bandang, longsor, perubahan iklim yang menimbulkan kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara berulang. Kesemuanya berdampak luas pada kehidupan masyarakat (Yulisinta, 2022; BNPB, 2024). Setiap kali bencana terjadi, satu fenomena yang hampir selalu muncul adalah gelombang ketakutan publik yang tampak jelas, terutama di internet dan media sosial. Padahal sedari awal kita tahu bahwa Indonesia adalah wilayah rawan bencana (Suwartono & Meinarno, 2009; Yulisinta, 2022).
Secara khusus, masyarakat awam melihat atau menilai risiko bencana tidak berdasar fakta atau statistik (Suwartono & Meinarno, 2009). Ketika media sosial dengan cepat penuh dengan video kepanikan, pesan berantai, spekulasi bencana susulan, hingga narasi yang belum tentu berbasis data ilmiah. Ketakutan ini menyebar jauh lebih cepat daripada informasi resmi, dan dalam banyak kasus justru memperbesar kecemasan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis.
Ketakutan Kolektif di Era Media Sosial
Secara psikologis, bencana merupakan peristiwa yang tidak terduga, mengancam keselamatan, dan sering kali berada di luar kendali individu. Kondisi ini memicu respons dasar manusia—fight, flight, atau freeze—yang pada level individu sebenarnya bersifat adaptif karena membantu orang bereaksi cepat terhadap ancaman (Paton, 2019). Namun, dalam situasi bencana yang dialami bersama, respons tersebut dapat membesar menjadi kepanikan kolektif, terutama ketika masyarakat juga menghadapi “krisis informasi”: arus kabar yang tidak lengkap, saling bertentangan, atau tidak terverifikasi. Saat kepastian rendah, orang cenderung menggunakan jalan pintas dalam menilai situasi—misalnya mengikuti reaksi orang lain sebagai petunjuk (social proof), menyerap emosi kelompok, atau mempercayai pesan yang berulang meski belum tentu benar (Hafiz et al., 2018).
Penelitian menunjukkan bahwa paparan informasi bencana yang berlebihan, terutama melalui media sosial, berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, ketakutan irasional, dan persepsi risiko yang tidak proporsional (Suwartono & Meinarno, 2009; Boylan & Lawrence, 2020). Di Sumatra, hal ini terlihat dari kecenderungan masyarakat untuk bereaksi spontan—mengungsi tanpa arahan jelas, menyebarkan pesan berantai, atau menolak kembali ke rumah meskipun situasi telah dinyatakan aman oleh otoritas resmi.
Kesiapan Psikologis: Lebih dari Sekadar Tidak Takut
Dalam psikologi kebencanaan, kesiapan psikologis (psychological preparedness) merujuk pada kapasitas individu dan komunitas untuk mengantisipasi, merespons, dan pulih secara mental dari ancaman bencana (Zulch, 2019). Kesiapan ini mencakup kemampuan mengelola emosi, memahami risiko secara realistis, mengambil keputusan adaptif, serta memanfaatkan dukungan sosial.
Penting untuk ditekankan bahwa kesiapan psikologis bukan berarti tidak merasa takut. Rasa takut adalah reaksi yang normal dan sehat. Perbedaannya terletak pada kemampuan untuk tetap berpikir jernih dan bertindak efektif meskipun berada dalam kondisi tertekan (McLennan et al., 2020).
Bukti Empiris: Komunitas yang Siap Lebih Tangguh
Berbagai studi empiris menunjukkan bahwa komunitas yang memiliki kesiapan psikologis yang baik menunjukkan tingkat kepanikan yang lebih rendah dan pemulihan psikososial yang lebih cepat pascabencana (Boylan & Lawrence, 2020; Paton, 2019). Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, dan penguatan kapasitas psikologis terbukti membantu masyarakat membangun rasa kontrol dan efikasi diri.
Dalam konteks Indonesia, khususnya Sumatra, beberapa komunitas rawan bencana yang secara rutin mengikuti simulasi dan pelatihan kebencanaan menunjukkan respons yang lebih terkoordinasi. Masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan, ke mana harus pergi, serta sumber informasi mana yang dapat dipercaya. Hal ini secara signifikan menurunkan dampak kecemasan dan kepanikan massal.
Selain itu, kesiapan psikologis juga berperan penting dalam menghadapi disinformasi. Individu yang memiliki literasi risiko dan pemahaman psikologis yang baik cenderung lebih kritis terhadap informasi di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh pesan yang bersifat menakutkan.
Dukungan Sosial sebagai Penyangga Psikologis
Salah satu faktor paling konsisten dalam literatur psikologi bencana adalah peran dukungan sosial. Individu yang merasa didukung oleh keluarga, tetangga, dan komunitas memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik saat dan setelah bencana (Paton, 2019). Dengan demikian, kesiapan psikologis bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi merupakan hasil dari ekosistem sosial yang saling menguatkan.
Di Indonesia, ekosistem sosila ini ditopang oleh keberadaan nilai gotong-royong yang masih hadir di masyarakat. Dalam perspektif psikologi, gotong-royong adalah hubungan timbal balik yang mendorong individu untuk saling menolong untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan orang lain pada satu waktu, baik untuk tujuan perorangan maupun kelompok (Meinarno & Fauriziana, 2019 dalam Meinarno, Putri, & Fauriziana, 2019). Ketika nilai ini dipadukan dengan edukasi kebencanaan dan penguatan kesiapan psikologis, komunitas menjadi lebih tangguh dan adaptif dalam menghadapi krisis.
Menggeser Narasi: Dari Panik ke Siap
Alih-alih berfokus pada sensasi dan ketakutan, narasi publik tentang bencana perlu diarahkan pada penguatan kesiapan psikologis. Hal ini dimulai dengan pengetahuan kebencanaan (Mumpuni & Meinarno, 2024). Misalnya dimulai dengan pembentukan pengetahuan/materi ajar sekolah sampai perguruan tinggi kebencanaan sebagai muatan lokal. Media, termasuk buletin dan platform edukatif, memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman bahwa rasa takut adalah wajar, namun harus dikelola secara adaptif. Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi korban pasif bencana, tetapi aktor aktif yang mampu merespons secara tenang, rasional, dan saling mendukung.
Keterampilan Siaga: Teknik Napas untuk Meredam Panik
Apa yang bisa dilakukan saat panik mulai naik? Salah satu teknik paling sederhana dan mudah dilakukan adalah pernapasan dalam (deep breathing). Saat panik, napas cenderung pendek dan cepat sehingga tubuh makin teraktivasi; mengatur napas membantu menurunkan respons fisiologis dan membuat pikiran lebih jernih. Teknik deep breathing relaxation yang dipadukan dengan pemantauan sederhana (diary feedback) terbukti membantu mahasiswa mengelola stres pada masa pandemi (Zahra et al., 2020). Prinsipnya relevan dalam situasi bencana: ketika tubuh “alarm mode”, intervensi singkat yang menurunkan aktivasi dapat membantu kita kembali stabil dan memilih respons yang lebih adaptif. Praktiknya sederhana: tarik napas perlahan—tahan sebentar—hembuskan lebih pelan selama beberapa siklus, sambil mengalihkan fokus dari rumor ke langkah aman yang bisa dilakukan saat itu.
Penutup
Bencana di Sumatra (seperti yang terjadi pada awal Desember 2025) mungkin tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dampak psikologisnya dapat diminimalkan. Kesiapan psikologis merupakan investasi jangka panjang yang sama pentingnya dengan kesiapsiagaan fisik dan infrastruktur. Individu yang siap secara mental dan komunitas yang saling menguatkan akan lebih mampu menghadapi bencana tanpa terjebak dalam kepanikan massal. Sebagai penutup, mencegah kepanikan bukan semata tahu soal bertahan hidup, tetapi juga tentang menjaga kesehatan mental, solidaritas, dan martabat kemanusiaan di tengah krisis.
Daftar Pustaka
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2024). Indeks Risiko Bencana Indonesia 2024. BNPB.
Boylan, J. L., & Lawrence, C. (2020). What does it mean to psychologically prepare for a disaster? A systematic review. International Journal of Disaster Risk Reduction, 45, 101480. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2020.101480
Hafiz, S. E., Nauly, M., Fauzia, R., Pitaloka, A., Takwin, B., Hakim, M. A., & Moningka, C. (2018). Psikologi sosial: Pengantar dalam teori dan penelitian. Salemba Humanika.
McLennan, J., Marques, M. D., & Every, D. (2020). Conceptualising and measuring psychological preparedness for disaster threat. Natural Hazards, 101(1), 297–317. https://doi.org/10.1007/s11069-020-03879-4
Meinarno, EA., Putri, MA., Fauriziana. (2019). Isu-isu kebangsaan dalam ranah psikologi Indonesia. Dalam Psikologi Indonesia. Penyunting Subhan El Hafiz dan Eko A Meinarno. Rajawali Pers. Jakarta.
Mumpuni, ID., & Meinarno, E. A. (2024). Bencana dalam Kacamata Psikologi. Buletin KPIN. Vol. 10 No. 18 September 2024. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/1612-bencana-dalam-kacamata-psikologi.
Paton, D. (2019). Disaster risk reduction: Psychological perspectives on preparedness. Australian Journal of Psychology, 71(4), 327–341. https://doi.org/10.1111/ajpy.12237
Suwartono, C., & Meinarno, E. A. (2009). Gambaran Persepsi Risiko terhadap bencana pada Remaja di Wilayah DKI Jakarta. Jurnal Ilmiah Psikologi MIND SET, 1(01), 86-91.
Yulisinta, F. (2022). Masa Depan Bumi Indonesia: Tanggung Jawab Siapa? Buletin KPIN. Vol. 8 No. 4 Feb 2022. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/975-masa-depan-bumi-indonesia-tanggung-jawab-siapa.
Zahra, Y., Dewi, I. S., Meutia, A., Nazriani, D., Siregar, S. M., & Burhan, O. K. (2020). Managing stress during the COVID-19 pandemic: The application of deep breathing relaxation technique and diary feedback among students. ABDIMAS TALENTA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 385–390. https://doi.org/10.32734/abdimastalenta.v5i2.5063
Zulch, H. (2019). Psychological preparedness for natural hazards: Improving disaster preparedness policy and practice. United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR).