ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 49 Januari 2026

Cinta, Luka, dan Manipulasi: Memahami Siklus Hubungan Narsistik

Oleh:

Ellyana Dwi Farisandy, Aisyah Zahrah Rahmania, Kevin Daffa Aditya Wijaya

Program Studi Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Belakangan ini, perhatian terhadap dinamika hubungan yang melibatkan individu dengan trait narsistik meningkat, terutama dalam konteks hubungan romantis. Narsisme sendiri ditandai oleh rasa penting terhadap diri yang berlebihan, kebutuhan yang kuat akan pengakuan, serta adanya keterbatasan empati. Dalam relasi interpersonal, sifat ini seringkali membuat salah satu pihak lebih memprioritaskan kebutuhannya sendiri dan mengabaikan kesejahteraan emosional pasangannya (Drescher, 2025). Trait narsistik tidak hanya memengaruhi interaksi sehari-hari, namun juga kualitas hubungan seseorang dalam jangka panjang. Penelitian Day et al. (2022) terhadap 15 partisipan yang memiliki hubungan dekat lebih dari sepuluh tahun dengan kerabat yang memiliki narsistik patologis menunjukkan bahwa trait narsistik dapat memicu pola hubungan yang ditandai dengan disharmoni yang tinggi, perasaan kurang aman dan lebih mengabaikan kebutuhan pasangan. Pola interaksi seperti ini cenderung berulang, membentuk apa yang kemudian dikenal sebagai siklus hubungan narsistik.

Siklus Hubungan Narsistik

Siklus hubungan narsistik merupakan pola interaksi berulang yang muncul dalam hubungan dengan individu yang memiliki trait narsistik atau bahkan individu dengan gangguan Narcissistic Personality Disorder (NPD). Siklus ini biasanya bergerak melalui tahap idealization, devaluation, discard, dan hoovering, di mana dinamika emosional antara pasangan terus menguat dan mengulang.

1.      Idealization

       Tahap idealization merupakan gerbang utama seseorang terjebak dalam hubungan dengan individu yang memiliki trait narsistik. Pada tahap ini, hubungan terasa begitu sempurna, seolah korban akhirnya menemukan sosok yang sudah lama ditunggu. Mereka akan memberikan kasih sayang yang intens, perhatian penuh, pujian tanpa henti, hingga berbagai macam hadiah. Pola ini dikenal dengan istilah love bombing. Pada tahap ini, korban akan kesulitan dalam mengenali tanda bahaya karena hubungan terasa begitu hangat, cepat berkembang, dan sangat intens. Namun, pola seperti ini sebenarnya tidak stabil. Ketika kebutuhan mereka tidak lagi terpenuhi, intensitas idealization akan perlahan memudar. Semua hal yang awalnya terasa seperti kasih sayang yang tulus, pada akhirnya lebih mirip sebagai sebuah strategi untuk membangun kedekatan yang dapat mereka kendalikan (Gupta, 2025; Mason, 2020; Saxena, 2024).

 

2.      Devaluation

       Setelah tahap idealization yang terasa hangat dan membuat hubungan tampak begitu istimewa, dinamika perlahan bergeser memasuki tahap devaluation. Pada tahap ini, individu dengan trait narsistik mulai menunjukkan sisi dirinya yang sangat berbeda dari sebelumnya. Mereka mulai mengkritik, meremehkan, bahkan mengabaikan korban. Perubahan ini dapat terjadi secara perlahan seperti mengomentari terkait penampilan dan kepribadian korban, atau justru berubah secara drastis dengan melontarkan komentar yang menyakitkan sehingga membuat korban terus mempertanyakan keberhargaan dirinya. Tahap devaluation umumnya terjadi ketika korban tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka, seperti memberikan pujian tanpa henti atau selalu menuruti keinginan mereka. Alih-alih mengomunikasikan kebutuhan secara terbuka dan sehat, mereka justru menurunkan harga diri pasangan sebagai cara untuk mempertahankan kendali dalam hubungan. Di sinilah kebingungan kerap terjadi. Korban kerap bertanya-tanya, “Kenapa seseorang yang dulu begitu hangat bisa berubah menjadi sangat dingin dan kasar?” atau “Kemana orang yang penuh kasih yang dulu aku kenal?”. Kebingungan tersebut sangat wajar, karena tahap idealization meninggalkan kenangan manis yang membuat korban berusaha “kembali” ke masa indah di awal hubungan. Tidak jarang, korban akhirnya menyalahkan diri sendiri dan berpikir bahwa perubahan sikap mereka terjadi karena kekurangan yang ada dalam diri korban. Namun sebenarnya, ini adalah pola manipulatif yang perlahan meruntuhkan harga diri korban, membuat korban merasa tidak berharga, dan semakin bergantung pada validasi dari individu dengan trait narsistik. Dalam jangka panjang, tahap ini dapat menciptakan luka emosional yang dalam dan sulit dipulihkan (Gupta, 2025; Mason, 2020; Saxena, 2024).

 

3.      Discard

       Tahap discard dalam hubungan narsistik merupakan tahap di mana ketika individu dengan trait narsistik memilih untuk mengakhiri hubungan karena merasa pasangannya tidak lagi memberikan manfaat, validasi, pun hal-hal lain yang mereka butuhkan. Cara mengakhiri hubungan bisa sangat bervariasi. Pemutusan hubungan dapat terjadi dengan sangat mendadak, disertai dengan sikap dingin, kritik yang tajam, atau bahkan penghinaan yang membuat korban merasa tidak berharga. Dalam beberapa kasus, individu narsistik juga bisa mengakhiri hubungan secara perlahan tanpa alasan yang jelas. Korban dibiarkan kebingungan dan bertanya-tanya tanpa adanya kepastian mengenai apa yang terjadi dalam hubungan mereka. Namun, tidak selalu mereka yang mengakhiri hubungan. Ada kalanya korban yang memilih pergi setelah menyadari bahwa hubungannya sudah tidak sehat (duRivage-Jacobs, 2023; Gupta, 2025; Hoodye, 2025; Mason, 2020; Saxena, 2024).

 

4.      Hoovering

       Tahap hoovering atau re-engagement terjadi setelah hubungan ‘tampak’ berakhir dan korban sudah mulai pulih pun membangun kembali kehidupannya. Pada tahap ini, individu dengan trait narsistik akan berusaha menarik kembali korban ke dalam hubungan yang sebelumnya. Mereka dapat mengirimkan pesan, menelepon, pun muncul secara tiba-tiba; berulang kali tanpa henti. Beberapa perilaku yang umum dilakukan pada tahap ini, termasuk mengirim hadiah-hadiah mahal, meminta maaf disertai dengan penyesalan, memohon dan berjanji untuk berubah, membicarakan mengenai rencana untuk menemui psikolog, mengancam akan melukai diri atau orang lain karena ‘sakit hati’ yang mereka rasakan, pun menggunakan trauma masa lalu sebagai alasan atas perilaku mereka. Tidak jarang, mereka juga mengaku lupa terhadap tindakan menyakitkan yang pernah mereka lakukan atau malah menyalahkan korban atas semua yang terjadi. Jika individu dengan trait narsistik tidak bisa menarik korban kembali, ia akan melibatkan orang lain untuk membantu. Segala perilaku yang mereka tunjukkan biasanya menimbulkan kebingungan pada korban. Di satu sisi, korban merasa ada harapan bahwa hubungan ini bisa diperbaiki. Namun di sisi lain, juga muncul keraguan apakah perubahan ini nyata atau hanya ‘janji palsu’ semata. Sayangnya, hoovering bukanlah tanda adanya perubahan yang sehat, namun bentuk kontrol dan manipulasi agar siklus hubungan narsistik bisa dimulai kembali (Hoodye, 2025; Mason, 2020; Saxena, 2024)

Simpulan

Pola hubungan dengan individu yang memiliki trait narsistik selalu memiliki siklus yang berulang; mulai dari idealization, devaluation, discard, hingga hoovering. Siklus ini bukan merupakan tanda dinamika hubungan yang sehat, namun pola manipulatif yang membuat korban terus terjebak dalam lingkaran yang sangat melelahkan secara emosional. Idealnya, hubungan seharusnya menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan pun perkembangan diri inidvidu. Jika dalam hubungan lebih banyak terluka dibanding bahagianya, maka pertanyaan yang perlu ditanyakan pada diri Anda sendiri adalah: “Berapa banyak lagi kesempatan yang ingin Anda berikan hingga Anda menyadari bahwa Anda hanya kembali ke titik yang sama?”

“Sometimes the hardest part isn’t letting go but realizing you deserve better.” — Anonymous

 

 Referensi: 

Day, N. J. S., Townsend, M. L., & Grenyer, B. F. S. (2022). Living with pathological narcissism: Core conflictual relational themes within intimate relationships. BMC Psychiatry, 22(1), 30. https://doi.org/10.1186/s12888-021-03660-x

Drescher, A. (2025, May 6). Narcissistic relationships: Signs, impact, and how to cope. Simply             Psychology. https://www.simplypsychology.org/narcissistic-relationships-signs-impact-and-how-to-cope.html

duRivage-Jacobs, S. (2023, March 11). Signs and symptoms of the narcissistic abuse cycle. Charlie Health. https://www.charliehealth.com/post/signs-symptoms-and-the-narcissistic-abuse-cycle

Gupta, S. (2025, October 29). How to identify and escape a narcissistic abuse cycle. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/narcissistic-abuse-cycle-stages-impact-and-coping-6363187

Hanselman, K. (2023, July 20). Narcissistic relationship patterns: Signs, behaviors, & how to leave the relationship safely. Thriveworks. https://thriveworks.com/help-with/narcissism/narcissistic-relationship-pattern/

Hoodye, A. M. (2025, August 21). Narcissistic cycle of abuse: Key signs & stages. Flourishing Hope. https://www.flourishinghope.com/narcissistic-cycle-of-abuse-signs-stages/ flourishinghope.co

Mason, M. (2020, January 25). 4 phases of a narcissistic relationship. Pathways Family Coaching. https://pathwaysfamilycoaching.com/4-phases-of-a-narcissistic-relationship/

Saxena, S. (2024, July 8). What is a narcissistic abuse cycle & how does it work? Choosing Therapy. https://www.choosingtherapy.com/narcissistic-abuse-cycle/