ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 47 Desember 2025

 

Mengapa seseorang memiliki risiko tinggi untuk bunuh diri?

Tinjauan The Interpersonal-Psychological Theory of Suicide

 

Oleh:

Afinnisa Rasyida

Fakultas Psikologi Universitas Surabaya

 

 

Fenomena bunuh diri marak terjadi di Indonesia maupun di dunia. Fenomena ini merupakan fenomena kompleks yang menjadi tantangan bagi banyak disiplin ilmu dan telah mendorong pengembangan beberapa teori mengenai bunuh diri guna membantu memahami mengapa seseorang mengembangkan niat untuk mengakhiri hidupnya (Göbbels-Koch, 2024).

 

Teori psikologi yang banyak digunakan untuk memberikan kerangka kerja dalam usaha memahami risiko bunuh diri adalah teori dari Dr. Thomas Joiner, seorang Psikolog dari Amerika yang pada tahun 2005 mengemukakan The Interpersonal-Psychological Theory of Suicide (selanjutnya disebut IPTS) yang digagasnya pertama kali dari model dalam bukunya Why People Die by Suicide (Anestis et al., 2018). IPTS berpendapat bahwa seseorang akan berpikir untuk bunuh diri apabila mereka memiliki keinginan untuk bunuh diri dan kemampuan untuk bertindak berdasarkan keinginan itu. Hipotesis ini dituangkan dari tiga konstruk IPTS, yaitu perceived burdensomeness, thwarted belongingness, and the acquired capability for suicide, dimana kematian dengan cara bunuh diri paling mungkin terjadi jika ketiga komponen spesifik ini muncul secara bersamaan (Anestis et al., 2018).

 

1.    Perceived burdensomeness: persepsi bahwa seseorang menjadi beban bagi orang lain, khususnya orang-orang terdekat atau orang disekitarnya.  Beban yang dirasakan ini meliputi adanya rasa benci terhadap diri sendiri dan keyakinan bahwa kematian seseorang akan lebih berharga bagi orang terdekatnya daripada kelangsungan hidupnya.

2.    Thwarted belongingness: mengalami rasa keterasingan atau terisolasi secara sosial yang mencakup adanya perasaan kesepian dan keyakinan bahwa seseorang tidak memiliki hubungan yang saling peduli. Kondisi ini memunculkan perasaan “terputus” dan tidak merasa menjadi bagian dari kelompok sosialnya.

3.    Acquired capability for suicide: kemampuan yang dimiliki untuk bunuh diri. Kemampuan ini ditandai oleh adanya ketidakpedulian terhadap kematian atau cedera fisik dan adanya toleransi tinggi terhadap rasa sakit fisik, yang biasanya diperoleh seiring waktu melalui paparan pengalaman dan habituasi terhadap situasi menyakitkan dan menakutkan (misal nonsuicidal self-injury, pelecehan seksual, kekerasan fisik, atau perkelahian).

 

Menurut teori IPTS (Anestis et al., 2018), terdapat dua prediksi utama tentang kapan keinginan untuk mengakhiri hidup dan perilaku bunuh diri yang serius atau mematikan terjadi. Pertama, keinginan serius untuk mengakhiri hidup muncul dari adanya kondisi yang terjadi secara bersamaan antara perceived burdensomeness dan thwarted belongingness, serta keputusasaan bahwa situasi-situasi ini akan berubah. IPTS menggambarkan kedua konstruk ini sebagai sebuah keadaan. Oleh karenanya, sifatnya menjadi fluktuatif (mudah berubah) pada seseorang yang mengalaminya. Biasanya fluktuasi terjadi berdasarkan faktor intrapersonal (misal suasana hati saat itu) dan interpersonal (misal bagaimana respons lingkungan sosial). Menurut teori ini, setiap kondisi psikologis secara terpisah akan meningkatkan risiko ide bunuh diri pasif, namun ide bunuh diri aktif berkembang ketika perceived burdensomeness dan thwarted belongingness hadir bersamaan dan dianggap tidak akan berubah atau stabil.

 

Kedua, untuk terjadinya upaya bunuh diri yang mematikan atau hampir mematikan, seseorang tidak hanya harus memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup, tetapi juga harus memiliki acquired capability for suicide (Anestis et al., 2018). Berbeda dengan kedua konstruk sebelumnya, kemampuan untuk bunuh diri merupakan konstruk yang lebih stabil dan biasanya didasarkan pada adanya predisposisi genetik serta paparan terhadap peristiwa yang meningkatkan ketidakpedulian terhadap kematian dan toleransi terhadap rasa sakit fisik. Umumnya, kebanyakan orang akan memiliki rasa takut akan kematian dan naluri untuk mempertahankan diri yang kuat sehingga kedua hal ini mampu mencegah mereka mewujudkan keinginan itu. Konstruk ini memberikan pemahaman mengapa banyak orang memiliki pikiran untuk bunuh diri tetapi tidak mencoba bunuh diri, sementara ada kelompok kecil yang memiliki kemampuan tersebut dan berada pada risiko kematian tinggi.

 

Studi Baertschi et al., (2018) menyebutkan keterbatasan teori IPTS adalah tidak memperhitungkan kemungkinan kerentanan yang sudah ada sebelumnya terhadap bunuh diri, seperti faktor kepribadian. Penggunaan instrumen kepribadian spesifik dianjurkan untuk mengidentifikasi arah dimana intervensi individual dapat berkembang serta membantu membangun aliansi terapeutik yang kuat. Sementara itu, penelitian dari Pagliaccio et al., (2023) menyebutkan bahwa model ini kurang bisa menjelaskan kondisi bunuh diri pada remaja, hanya perceived burdensomeness yang mencerminkan faktor risiko kritis untuk ide bunuh diri di kalangan remaja berisiko tinggi. Justru tingkat keparahan depresi yang tinggi yang memiliki hubungan lebih besar pada percobaan bunuh diri.

 

Studi terbaru dari model ini memberikan 4 konstruks utama, menekankan hopelessness regarding belongingness and burdensomeness sebagai konstruk (Robison et al., 2024). Studi dari Mason et al., (2025) juga menyebutkan bahwa memasukkan rasa putus asa (hopelessness) bersama dengan faktor interpersonal sangat penting. Meski begitu, menurutnya faktor risiko interpersonal saja tidak cukup untuk memahami fenomena kompleks ini. Terlepas dari pengembangan IPTS kedepannya, teori ini dapat memberikan penjelasan, manfaat klinis, dan validitas prediktif yang patut kita pelajari. Sebagai praktisi psikologi, penting bagi kita untuk melakukan asesmen terhadap faktor-faktor risiko kritis pada klien untuk mengidentifikasi usaha bunuh diri.

 

Referensi:

 

Anestis, J. C., Finn, J. A., Gottfried, E. D., Hames, J. L., Bodell, L. P., Hagan, C. R., Arnau, R. C., Anestis, M. D., Arbisi, P. A., & Joiner, T. E. (2018). Burdensomeness, Belongingness, and Capability: Assessing the Interpersonal-Psychological Theory of Suicide With MMPI-2-RF Scales. Assessment25(4), 415–431. https://doi.org/10.1177/1073191116652227

 

Baertschi, M., Costanza, A., Canuto, A., & Weber, K. (2018). The Function of Personality in Suicidal Ideation from the Perspective of the Interpersonal-Psychological Theory of Suicide. International journal of environmental research and public health15(4), 636. https://doi.org/10.3390/ijerph15040636

 

Göbbels-Koch, P. (2024). The Interpersonal-Psychological Theory of Suicide in the context of (leaving) care: An empirical exploration of suicidal ideation among care-experienced young adults. Children and Youth Services Review, 167, 1–10. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2024.107980

 

Mason, A., Jamieson, I., Riordan, B. C., Rapsey, C., & Scarf, D. (2025). Understanding the Interpersonal Psychological Theory of Suicide and the Role of Hopelessness Within a University Sample in Aotearoa New Zealand. Journal of College Student Mental Health, 1–17. https://doi.org/10.1080/28367138.2025.2575186

 

Pagliaccio, D., Bitran, A., Kirshenbaum, J. S., Alqueza, K. L., Durham, K., Chernick, L. S., Joyce, K., Lan, R., Porta, G., Brent, D. A., Allen, N. B., & Auerbach, R. P. (2024). Testing the interpersonal theory of suicide in adolescents: A multi-wave longitudinal study. Journal of Child Psychology and Psychiatry65(5), 668-679. https://doi.org/10.1111/jcpp.13868

 

Robison, M., Udupa, S., & Joiner, T. (2024). The Interpersonal Theory of Suicide: State of the Science. Behavior Therapy, 55(6), 1158-1172. https://doi.org/10.1016/j.beth.2024.04.008