ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 44 Oktober 2025
Psikologi Lagu Kebangsaan: Sebuah Kajian Psikologi Musik
Oleh:
Christ Billy Aryanto1 & Eko Aditya Meinarno2
1Fakultas Psikologi,Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
2Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia
Pengantar
Lagu kebangsaan dikenal sebagai salah satu media untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap bangsa sendiri. Meinarno (2019) melakukan kajian upaya pemerintah pada tahun 2019 untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam bioskop dengan harapan dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan memperkuat identitas bangsa. Sejak November 2024, menteri BUMN, Erick Thohir, juga meminta untuk seluruh pegawainya untuk mendengarkan lagu Indonesia Raya setiap pukul 10.00 pagi dengan khidmat dengan tujuan meningkatkan semangat nasionalisme dan persatuan Indonesia (Rahman, 2024). Tulisan ini ditulis untuk merespon Meinarno (2019) karena ternyata setelah enam tahun, budaya mendengarkan lagu kebangsaan masih ada di masyarakat Indonesia. Secara anekdotal, lagu kebangsaan hampir selalu terdengar indah dan menimbulkan rasa bangga kepada pendengarnya.
Lagu
Secara umum, musik dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat memberikan dampak yang positif. Hasil penelitian pada musisi yang bermain musik setidaknya satu tahun menemukan bahwa memainkan musik dan mendengarkan musik memiliki hubungan positif dengan emosi yang positif (Aryanto, 2017). Musik yang seseorang mainkan atau dengarkan juga bisa terdiri atas berbagai genre sesuai dengan preferensi musiknya masing-masing. Genre musik yang didengarkan sesuai dengan preferensi musiknya masing-masing biasanya seseorang gunakan untuk meregulasi emosinya, sehingga mereka akan merasakan mood yang lebih baik setelah mendengarkan musik (Greasley & Lamont, 2006). Salah satu genre musik yang bisa seseorang dengarkan adalah musik kebangsaan yang biasanya bertemakan nasionalisme dan semangat juang. Jika didengar lagu-lagu kebangsaan di seluruh dunia, kebanyakan memiliki tempo seperti orang baris-berbaris atau dikenal dengan tempo di marcia dalam istilah musik. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tempo yang cepat dapat meningkatkan arousal, dan terkhusus bila musik bernada mayor dapat membuat mood lebih positif (Aryanto, 2016; Husain dkk., 2002). Pada lagu kebangsaan, selain tempo, ada lirik yang mengandung emosional tertentu yang memengaruhi bagaimana warga memahami bangsa, sejarah, dan identitas kolektif (Toiviainen, dkk., 2025).
Apakah lagu kebangsaan memiliki dampak psikologis kepada pendengarnya?
Lagu kebangsaan tidak lepas dari keberadaannya sebagai atribut atau simbol sebuah bangsa (Hummel, 2017; Toiviainen, dkk., 2025). Umumnya atribut bangsa, tidak lagi terikat pada tanda-tanda kesukubangsaan. Atribut bangsa cenderung menggelorakan ide baru dari kebangsaan, tujuan mereka berbangsa (Wimmer, 2006), internalisasi nilai-nilai patriotisme (Csepeli & Örkeny, 1998; Alwi, dkk., 2023) dan kesetiaan kelompok (Hummel, 2017; Silaghi-Dumitrescu, 2020; Harari, 2023), pembentukan identitas nasional (Langman, 2006), serta cinta tanah air (Silaghi-Dumitrescu, 2020).
Penelitian terkait dengan lagu nasional juga pernah dilakukan di luar negeri. Hummel (2017) menuliskan ada pesan-pesan dari setiap lagu kebangsaan. Sebagai contoh, terdapat 28 lagu kebangsaan yang merujuk pada kekerasan dan dominasi konflik. Menurutnya kondisi itu berpotensi menumbuhkan sikap positif terhadap perang bagi warga yang menginternalisasinya.
Winstone dan Witherspoon (2015) melakukan penelitian mengenai lagu kebangsaan Inggris, God Save the Queen, dan hubungannya dengan identitas nasional siswa usia 8 sampai 10 tahun. Mereka menemukan bahwa siswa-siswa yang berusia 10 tahun sudah dapat mengaitkan antara lagu kebangsaan yang diperdengarkan dengan identitasnya sebagai warga Inggris, tetapi siswa yang lebih muda belum bisa (Winstone & Witherspoon, 2015). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek perkembangan juga perlu diperhatikan ketika memperdengarkan lagu kebangsaan bila ingin digunakan sebagai penguatan identitas nasional seseorang.
Bagaimana dengan Indonesia Raya?
Bagaimana dengan lagu Indonesia Raya? Lagu yang diperkenalkan oleh WR Supratman di tahun yang sama dengan Sumpah Pemuda 1928 (Soejono & Leirissa, 2008) ini kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian kualitatif Mariyani dan kawan-kawan (2025) pada lima orang mahasiswa, memperdengarkan lagu Indonesia Raya di perguruan tinggi dapat memperkuat identitas nasional serta menumbuhkan rasa cinta tanah air pada mahasiswa. Lagu Indonesia Raya menjadi media refleksi mahasiswa agar semangat dalam membangun negeri karena kemerdekaan yang diperoleh merupakan pengorbanan para pahlawan yang telah gugur (Mariyani, dkk., 2025). Riset lainnya menemukan bahwa Indonesia Raya tidak menonjolkan unsur kekerasan atau perang, melainkan lebih pada persatuan dan cinta tanah air (“Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku”). Indonesia Raya berada pada sisi simbol nasional yang konstruktif: ia memperkuat kohesi sosial, karakter bangsa, dan potensi perdamaian (Alwi, dkk., 2023)
Penutup
Lagu kebangsaan bukan sekadar musik, melainkan energi psikologis bangsa. Ia membangkitkan emosi, meneguhkan identitas, dan menyatukan perbedaan dalam semangat persatuan. Indonesia Raya memberi kita bukan glorifikasi perang, melainkan ajakan membangun jiwa, raga, dan cinta tanah air. Sangat mungkin, lagu kebangsaan menjadi suara batin kolektif yang mengikat kita pada harapan bersama sebagai bangsa yang damai, berdaya, dan terus tumbuh.
Daftar Pustaka
Alwi, S., Iqbal, M., & Nabihah, N. H. (2023). Educational Psychology: Patriotism and Educative Internalization through the National Anthem. Mimbar Ilmu, 28(2), 339–349. https://doi.org/10.23887/mi.v28i2.59074.
Aryanto, C. B. (2016). Efek mozart vs. efek gamelan Bali: Pengaruh musik klasik barat dibandingkan dengan musik tradisional Indonesia terhadap penalaran spasial mahasiswa (Tesis, Universitas Indonesia).
Aryanto, C. B. (2017). Indonesian Musicians’ Music Engagement and Subjective Well-Being. In The 6th Asian Psychological Association Convention (pp. 177-183).
Billig, M. (1995). Banal nationalism. Sage.
Csepeli, G., & Örkeny, A. (1998). The imagery of national anthems in Europe. Nation, Ethnicity, Minority and Border. Contributions to an international sociology, 37-56.
Greasley, A. E., & Lamont, A. M. (2006, August). Music preference in adulthood: Why do we like the music we do. In Proceedings of the 9th international conference on music perception and cognition (pp. 960-966). Bologna, Italy: University of Bologna.
Harari, YN. (2023). 21 pelajaran untuk abad ke-21. Gramedia. Jakarta.
Hummel, D (2017) Banal Nationalism, National Anthems, and Peace. Peace Review, 29:2, 225-230, DOI: 10.1080/10402659.2017.1308736
Husain, G., Thompson, W. F., & Schellenberg, E. G. (2002). Effects of musical tempo and mode on arousal, mood, and spatial abilities. Music Perception, 20(2), 151–171.
Langman, L. (2006). The Social Psychology of Nationalism: To Die for the Sake of Strangers. Dalam The Sage Handbook of Nations and Nationalism. Ed. Gerard Delanty & Krishan Kumar. Sage Publications Ltd. London.
Mariyani, M., Wardhani, P. S. N., & Bria, M. E. (2025). Penguatkan Identitas Nasional & Cinta Tanah Air Mahasiswa Melalui Pembiasaan Pemutaran Lagu "Indonesia Raya". Keteg: Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi, 25(1), 88-96.
Meinarno, EA. (2019). Menguatkan kembali cinta negeri dan identitas bangsa. https://macapat.ub.ac.id/menguatkan-kembali-cinta-negeri-dan-identitas-bangsa/
Rahman H. (2024, 20 November). BUMN Wajib Dengarkan Lagu Indonesia Raya Tiap Jam 10 Pagi. Liputan 6. https://www.liputan6.com/bisnis/read/5797495/bumn-wajib-dengarkan-lagu-indonesia-raya-tiap-jam-10-pagi?
Silaghi-Dumitrescu, R. (2020). Topics in national anthems. Journal of Language and Literature, 20(2), 288.
Soejono, RP., Leirissa, RZ. (ed.). (2008). Sejarah nasional Indonesia V: Zaman kebangkitan nasional dan masa Republik Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
Toiviainen, P., Hartmann, M., & Koehler, F. (2025). The emotional geography of National anthems. Scientific Reports, 15(1), 23050.
Wimmer, A. (2006). Ethnic Exclusion in Nationalizing States. Dalam The SAGE Handbook of Nations and Nationalism. Ed. Gerard Delanty & Krishan Kumar. SAGE Publications Ltd. London.
Winstone, N., & Witherspoon, K. (2016). ‘It’s all about our great Queen’: The British National Anthem and national identity in 8–10-year-old children. Psychology of Music, 44(2), 263-277.
