ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 37 Juli 2025
Sejarah Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya
Oleh:
Juliana Murniati, Angela Oktavia Suryani, & Maria Theresia Asti Wulandari
Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya
Pendahuluan
Berdasarkan makna katanya, sejarah menunjuk pada fakta peristwa di masa lampau yang memberikan pelajaran kepada kita bagaimana dunia bisa menjadi seperti saat ini. Tulisan yang menceritakan tentang sejarah bisa menjadi tanda adanya kebutuhan untuk mengetahui dan memahami apa yang terjadi di masa lalu untuk memperbaiki masa depan. Merupakan suatu kehormatan dan kebangaan bagi Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (FP UAJ) bisa menjadi bagian dari KPIN dan kami ingin membagi sejarah perjalanan FP UAJ selama 33 tahun.
Cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
FP UAJ berdiri 8 Juni 1992 (https://www.atmajaya.ac.id./id/fakultas/psikologi). Pendirian fakultas ke 7 (tujuh) di lingkungan Atma Jaya ini menggenapi 6 (enam) fakultas lainnya yang sudah lebih dulu yakni 2 (dua) fakultas eksakta (Teknik dan Kedokteran) dan 4 (empat) fakultas ilmu sosial (Ekonomi, Ilmu Administrasi-Komunikasi, Pendidikan, Hukum). Sejak awal pendirian Unika Atma Jaya (UAJ), para founding fathers, yang dipelopori oleh Frans Seda memimpikan pendidikan yang membangun kapabilitas manusia, agar terbangun bangsa Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Karena itu, mimpi akan Fakultas Psikologi sudah lama ada di benak para pendiri dan pimpinan universitas pada waktu itu.
Bagi para pendiri, kehadiran perguruan tinggi Katolik haruslah untuk membangun kapabilitas manusia (Dua, 2012). Karenanya, universitas yang dibangun Frans Seda dengan para awam muda yang baru kembali dari studi di Eropa ini adalah sumbangan Gereja Katolik bagi Indonesia, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas umat Katolik dan bangsa Indonesia. Untuk itu, penting bagi UAJ untuk memiliki fakultas/prodi yang khusus berbicara mengenai perilaku manusia, lengkap dengan berbagai permasalahannya. Jauh sebelum permasalahan kesehatan mental sebagai isu masyarakat sebagaimana permasalahan dewasa ini, para bapak pendiri Atma Jaya telah menyadari potensi masalah ini.
Mengelola prodi Psikologi ini tidaklah sama dengan pengelolaan prodi ilmu sosial lainnya. Manusia dengan berbagai permasalahannya bukan sekedar subjek ajar, tetapi bersamaan, perlu juga dikelola manusia sebagai peserta didiknya, yang seringkali hadir di kampus karena menyadari dirinya bermasalah. Mahasiswa hari ini sering mengatakan “berobat jalan sembari mengejar gelar Sarjana Psikologi/Psikolog”. Kesulitan ini menyadarkan kita semua mengapa pemberian ijin operasional pendirian program studi itu sulit, terlebih pada tahun 1980-1990-an. Pada masa itu, jumlah prodi Psikologi di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sangat terbatas, rasanya tidak lebih dari tiga, dan lama sesudah Fakultas Psikologi di PTS itu beroperasi, penambahan prodi Psikologi baru tidak kunjung tiba. Hingga kemudian, ketika Prof. Dr. Fuad Hassan, yang berlatar belakang psikologi menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1985-1993), mimpi Unika Atma Jaya mendirikan FP UAJ terealisasikan. Selain memahami betul kebutuhan Indonesia akan Sarjana, Psikolog, dan/atau Ilmuwan Psikologi, dukungan para akademisi dari Universitas Indonesia yang kredibel dan dikenal kualifikasinya oleh Fuad Hassan, dan juga akademisi yang juga Psikolog dari Universitas Pajajaran dalam proses belajar mengajar meyakinkan Fuad Hassan akan akuntabilitas prodi Psikologi yang akan didirikan Atma Jaya.
Konsistensi FP UAJ mengupayakan terus menerus dan menjaga mutu lulusan di tengah situasi yang tidak mudah sekarang ini, tidak lain karena ingat pesan para pendiri. Frans Seda selalu mengingatkan bahwa pendirian universitas Katolik adalah membangun sebuan harapan, yang harus terus dipelihara semangatnya, pun ketika kita menghadapi berbagai permasalahan di dalam pengelolaannya (Dua, 2012).
Kekuatan jejaring
Dukungan jejaring Atma Jaya, yakni Katholieke Universiteit Brabant (KUB)–Tilburg, sangatlah besar dalam pendirian FP UAJ (LED Program S-3 UAJ, 2024). Dorongan internal yang kuat para pendiri dan pimpinan universitas bertemu dengan enabler dari eksternal, KUB. Pembicaraan awal dengan Rektor Magnificus dari KUB (Prof L.F.W de Klerk) dan para profesor di KUB mengerucutkan fokus FP UAJ pada Psikologi Industri dan Organisasi sesuai dengan lokasi UAJ yang strategis di jantung perkotaan (kampus Semanggi). Lebih dari itu, Atma Jaya juga mempertimbangkan kepakaran beberapa tokoh Katolik di bidang Psikologi Industri & Organisasi yang sangat diakui masyarakat pada waktu itu, seperti Pater A.M. Kadarman S.J (1918-2005), inisiator pendirian Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).
Selanjutnya bergulirlah dukungan konkrit dari KUB, yang ditandai dengan kehadiran Prof L.F.W de Klerk dan Prof. van Doren, pakar PIO bereputasi di Eropa Barat. Prof de Klerk melakukan benchmarking ke beberapa Fakultas Psikologi di Indonesia antara lain menemui Prof. Dr. Yaumil A Achir (almh.), Prof. SC Utami Munandar (almh.), dan Prof. AS Munandar (alm.). Keseriusan dukungan KUB juga tampak dari bantuan studi lanjut kepada dua peneliti UAJ masa itu (Prof Irwanto, Ph.D dan Prof. Dr. Clara Ajisuksmo, guru besar FP UAJ saat ini) ke Belanda dan ke Amerika Serikat.
Menurut testimoni Ibu Widiarto, M.Sc, salah satu pendiri Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, ketika Yayasan Atma Jaya hendak mendirikan Fakulas Psikologi, tidak ada seorang pun psikolog di Unika Atma Jaya di masa itu, maka Ibu Widiarto dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya yang bisa berbahasa Belanda, ditugaskan untuk membuat proposal pendirian prodi. Keberadaan tim pendiri yang bisa berbahasa Belanda dirasa penting karena ke depan akan membangun kerja sama dengan Neijmegen University, Belanda (sekarang Radboud University).
Pionir lainnya adalah Dr. Engelina Tanzil Bonang (dosen FP Universitas Indonesia) yang memberikan informasi kepada Dra. Evie Maria Setiadarma (alm.) (rektor Unika Atma Jaya saat itu). Prof. Sudirgo Wibowo dari UI yang bisa bergabung dengan Unika Atma Jaya, akhirnya Prof Sudirgo menjadi dekan pertama FP UAJ yang kemudian silanjutkan oleh Ibu Engelina Bonang sebagai dekan berikutnya. Dukungan dari Prof. Dr. Yaumil A Achir di masa-masa pendirian awal adalah mengirim dosen-dosen FP Universitas Indonesia menjadi dosen di FP UAJ.
Kekhasan Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya
Psikologi yang dikembangkan FP UAJ menekankan pada konteks, yakni masyarakat Indonesia yang majemuk, sebagai bagian dari masyarakat dunia yang terus berubah (Panduan Kurikulum, 2011). Penekanan pada manusia dalam konteksnya telah mendapatkan perhatian serius sejak rektor pertama dan sekaligus pendiri, Frans Seda. Ia memberikan landasan pendidikan humanitis dan kritis agar lulusan tidak saja memiliki pengetahuan/keterampilan yang mumpuni di bidang ilmunya, tetapi juga berwawasan luas mengenai manusia, masyarakat dan dalam relasi dengan Tuhan (Dua, 2012). Karena itu, Psikologi sebagai disiplin yang memelajari ilmu perilaku manusia, tidak bisa melepaskan pembahasannya lepas dari konteks di mana manusia itu bertumbuh.
Kembali pada sejarah pendirian, di mana para founding fathers sejak awal pendirian telah berkonfrontasi dengan keberagaman internal mereka sendiri. Latar belakang etnisitas yang sangat beragam di antara mereka, yakni (sebagian besar) keturunan Tionghoa, Jawa dan Flores, memberi dinamika di antara mereka sendiri. Sebagaimana dituturkan oleh Anton Moeliono (Dua, 2012) adalah Frans Seda, seorang Flores yang tumbuh dalam pendidikan di Muntilan, Jawa Tengah yang mencairkan dinamika di antara mereka untuk mendarmabaktikan diri pada upaya mencerdaskan bangsa yang bercirikan nilai Katolik. Lebih dari itu, menilik nama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya segera bisa menemukan sifat inklusif dalam UAJ, di mana institusi ini mendasarkan diri pada identitas dan misi Katolik, tetapi menekankan pada konteks Indonesia yang multikultural bukan hanya pada etnisitas, tetapi juga keberagaman agama dan keyakinan. Simbol Hall C dan Hall KW yang lapang tanpa ada sekat-sekat sengaja dirancang oleh arsitektur berdasarkan arahan Frans Seda, sebagai tempat pertemuan semua orang tanpa memandang latar belakang ekonomi, sosial, budaya, dan kategori lainnya dari individu tersebut (Dua, 2012).
Kembali pada penekanan manusia dalam konteksnya, ada sejumlah pertimbangan spesifik dari sisi disiplin ilmu Psikologi itu sendiri:
1. Subjek kajian Psikologi adalah manusia, yang caranya mempersepsikan, menilai, merasakan, dan bertindak sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang (Bronfenbrenner, 2005). Memelajari manusia Indonesia, karenanya, tidak bisa tidak harus bersentuhan dengan lingkungan mikro, meso dan makro Indonesia, guna menggali sistem makna yang dihayati masyarakat. Dalam prakteknya Psikologi di Unika Atma Jaya memberikan mata kuliah seperti Pendekatan Sosial Budaya, Psikologi Kerjasama antar Budaya, atau Psikologi dan Budaya kepada mahasiswa (Buku Kurikulum S-1 Psikologi, 2021); di samping memasukkan ulasan pengaruh sosial-budaya terhadap perilaku pada setiap bahasan. Bahkan Magister Psikologi yang kemudian didirikan pada tahun 2013 secara spesifik menekankan pendekatan budaya sebagai dasar pengajaran di mana pada kurikulumnya menyediakan peminatan/kekhususan Psikologi Temu Budaya dan Psikologi Sosial Kesehatan.
2. Pemahaman di atas menyadarkan para pendidik di FP UAJ bahwa produk pengetahuan yang dominannya dari kajian Amerika Utara dan Eropa Barat yang sejatinya masyarakat individualistik dan hanya 7,14% populasi dunia (Worldometer, n.d.), tidaklah mewakili masyarakat Indonesia yang guyub, memiliki jarak kekuasaan tinggi. Perlunya kajian yang menggambarkan siapa manusia Indonesia ini menjadi fokus riset sejumlah dosen yang diawali dari riset untuk disertasi mereka. Prof Bernadette Setiadi, Ph.D dengan studi lintas budaya di Amerika Serikat, belajar dari Prof Harry Triandis, Ph.D. Prof Dr Hana Panggabean dan Dr. Phil. Juliana Murniati mendalami culture standard dan intercultural competence di Jerman dengan berguru pada Prof. Dr. Alexander Thomas (Kearifan Lokal dan Keunggulan Global, 2014; Psikologi antar Budaya, 2024). Dr Angela Oktavia Suryani mendalami psikologi lintas budaya dan pengembangan alat ukur lintas budaya di Belanda dari ‘soko-guru’ Prof. Dr. Fons van de Vijver dan Prof. Ype Portinga. Lebih lanjut bisa ditemukan fokus kajian dan karya dari akademisi FP UAJ pada konteks masyarakat majemuk Indonesia (https://nuni.or.id/2016/09/27/katalog-ahli-unika-atma-jaya-fakultas-psikologi/) seperti Prof Irwanto, Ph.D pada kelompok marginal HIV Aids, sexual orientation. Prof Dr. Clara Ajisuksmo pada masyarakat miskin di area urban. Kajian Prof Dr Benecdita P. Dwi Riyanti berfokus pada entrepreneurship sekaligus mengembangkan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di masyarakat, dll.
Dari satu menjadi utuh
Saat didirikan pada 1992, FP UAJ hanya memiliki satu program, yakni Sarjana Psikologi. Tepat pada usia seperempat abad, tahun 2017, paripurnalah perkembangan FPUAJ, empat program studi lengkap menyelenggarakan proses belajar mengajar, mulai dari program akademik (S-1, S-2 dan S-3) hingga program profesi. Secara kronologis, Program Magister Psikologi Profesi berdiri dan beroperasi pada tahun 2005, kemudian Program Magister Psikologi pada 2013 dan terakhir adalah program Doktor Psikologi pada 2017.
Pada awal pendirian, jumlah mahasiswa S-1 di tahun pertama adalah 70 orang, sesudah 33 tahun kemudian, student body prodi S-1 adalah 1053, sedangkan jumlah mahasiswa pascasarjana (S2, S3, dan S2-Profesi) adalah 86.
Sejarah Kegiatan Mahasiswa FPUAJ
Pada awal berdiri, FP UAJ hanya memiliki BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) dan SEMA (Senat Mahasiswa). Sejak 2002 BPM dan SEMA tidak lagi digunakan, melainkan KOMPSI (Komunitas Mahasiswa Psikologi) sebagai organisasi yang mewadahi HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa Psikologi) dan UKM FP (Unit Kegiatan Mahasiswa). Struktur Organisasinya konsultatif kepada Wadek 3/Kabid Kemahasiswaan, dan bertanggungjawab kepada RAM (Rapat Akbar Mahasiswa).
Unit Kegiatan Mahasiswa di fakultas Psikologi terus berkembang dimulai dengan berdirinya KMPA PELANGI (Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam) di tahun 2000, PENA (Tim Pendamping Anak) di tahun 2002, STAMP (Seni Tari Mahasiswa Psikologi) di tahun 2008, MAPLE (Make People Learn) di tahun 2009, PSYGHT (Psychological Insigt - Komunitas Jurnalistik Psikologi) di tahun 2013, WELCOME (We Love Counseling & Mental Health) di tahun 2014, COMPASS (Competition Assistant) di tahun 2016, PELITA (Pengembangan Penelitian dan Artikel Mahasiswa FP UAJ) di tahun 2022. Perkembangan kegiatan mahasiswa juga menunjukkan ragam minat bakat mahasiswa yang diberi ruang dan dibina sekaligus mengasah softskill mereka melalui aktivitas dalam organisasi mahasiswa. Hal ini menunjukkan FP UAJ menyadari pentingnya softskill dalam dunia kerja dan menghadapi hidup menjadi individu mandiri, bermakna dan berguna bagi Tuhan dan Tanah Air dengan semangat Kristiani, Unggul, Profesional dan Peduli.
Pimpinan Fakultas Dari Masa Ke Masa
Sebagai Dekan Psikologi pertama Unika Atma Jaya adalah Prof Dr Sudirgo Wibowo, yang menjabat sejak pendirian, 1992 hingga 2001; sesudahnya berturut-turut adalah:
1. Dr Engeline Bonang (2001-2005)
2. Johana Rosalina, Ph.D (2005-2009)
3. Dr.Phil. Juliana Murniati (2009-2015; 2022-2024)
4. Dr Angela Oktavia Suryani (2015-2019; 2024 - ...)
5. Dr Theresia Indira Shanti (2019-2022)
Berikutnya Setelah Melalui 30 Tahun
Dalam tiga dekade perjalanannya, FPUAJ telah menunjukkan bahwa pendidikan psikologi yang berkualitas tinggi harus berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, pelayanan, dan pembaruan berkelanjutan. FPUAJ tidak hanya mencetak lulusan yang profesional, tetapi juga membangun ekosistem belajar yang kolaboratif, sehat, dan terbuka terhadap tantangan zaman. Fakultas ini menjadi ruang di mana dosen, mahasiswa, alumni, dan mitra dapat tumbuh bersama untuk membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
Pengembangan keilmuwan melalui jejaring/komunitas psikologi
Komitmen FP UAJ dalam mengembangkan dirinya secara terus menerus tampak dari kontribusi aktif membangun jejaring dengan lembaga psikologi lainnya. Jejaring tersebut antara lain adalah:
1. Konsorsium Psikokultural Indonesia (2014 - …). Konsorsium Psikokultural Indonesia (KPI) merupakan konsorsium keilmuan psikologi yang berdiri pada tahun 2014 dengan anggota Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara, Program Studi Psikologi Fakuktas Kedokteran Universitas Andalas, Fakultas Psikologi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan The Robert Lemelson Foundation. KPI adalah salah satu dari sepuluh pemenang dan satu-satunya dari bidang ilmu sosial dalam seleksi Hibah Pengembangan Konsorsium Keilmuan bagi Perguruan Tinggi Negeri (Hibah PKK-PTN), yang diselenggarakan oleh Direktorat Kelembagaan dan Kerja Sama, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tahun 2014. Secara umum KPI dibentuk untuk mengembangkan psikologi Indonesia yang berbasis pada aspek psikokultural dan bertitik tolak dari kearifan lokal masyarakatnya. Melalui kontribusi keunggulan masing-masing anggota KPI dalam bentuk kolaborasi penelitian, diseminasi temuan serta publikasinya, diharapkan dapat memfasilitasi berbagai penyelesaian permasalahan bangsa secara lebih efektif dan efisien, sehingga KPI dapat diakui sebagai pusat rujukan bagi kajian-kajian psikokultural perilaku sosial masyarakat Indonesia. Saat ini KPI memiliki sejumlah mitra, antara lain adalah Universitas Dyana Pura, Denpasar, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Universitas Nusa Cendana, Kupang, dan Universitas Sebelas Maret, Solo.
2. Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (2019 - …). Konsorsium ini memberi wadah dan kesempatan kepada civitas akademika FP UAJ baik dosen maupun mahasiswa bekerja bersama perguruan tinggi penyelenggara pendidikan tinggi psikologi lainnya di nusantara untuk melaksanakan Tridarma PT. Tidak hanya aktif sebagai anggota, FP UAJ juga mengambil peran sebagai pengurus KPIN.
3. Tergabung dalam berbagai jejaring dan proyek penelitian dunia:
A. Turut mengatasi masalah pemanasan global
· ENA-Tex Project dengan Jerman, 2021-2024. Untuk menjawab tantangan global terkait keberlanjutan, Indonesia kini tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, terutama di sektor listrik dan panas. Salah satu industri yang ambil bagian dalam perubahan ini adalah industri tekstil. Lewat proyek EnaTex, industri tekstil Indonesia didorong untuk menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan, misalnya melalui pemanfaatan teknologi pabrik yang lebih efisien, optimalisasi proses produksi, serta penggunaan energi terbarukan dari daerah setempat dan limbah yang masih bisa dimanfaatkan.
Proyek ini juga memperkuat kolaborasi antara pelaku industri tekstil di Indonesia dan Jerman, dengan melibatkan lembaga riset dan memasukkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam setiap langkahnya. Harapannya, berbagai solusi yang dihasilkan dari riset dan kerja sama ini bisa langsung diterapkan di lapangan. Tak hanya itu, proyek EnaTex juga mendorong penerapan strategi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang menyeluruh, agar dampaknya bisa bertahan lama di perusahaan-perusahaan tekstil baik di Indonesia maupun Jerman.
Hasil penelitian tersebut disampaikan kepada public melalui konferensi internasional yang diselenggarakan di Kampus Unika Atma Jaya pada 11-12 Februari 2025 (https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/konferensi-internasional-iklim-energi-industri-indonesia/)
· DAAD SDG’s PRIMe, 2024-2027. Program PRIME (Postdoctoral Researchers International Mobility Experience) dari DAAD mendukung mobilitas internasional pada tahap pascadoktoral melalui posisi kerja jangka waktu tertentu di universitas-universitas Jerman. Program ini mencakup penempatan selama 12 bulan di luar negeri dan fase integrasi selama enam bulan di universitas Jerman. Para peserta memperoleh langkah kualifikasi penting melalui proyek riset mandiri mereka dan pengalaman tinggal di luar negeri, yang bermanfaat bagi karier mereka di dunia akademik. Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan dan Riset Federal Jerman (BMBF).
B. Psikologi dan budaya
· Cross-national Positive Youth Development Network yang dipimpin oleh Bergen University, Norwegia, yang befokus dalam penelitian mengenai perkembangan positif anak muda lintas budaya. Sejumlah aktivitas dalam jejaring ini antara lain adalah penelitian, konferensi (diseminasi penelitian), dan publikasi bersama rekan-rekan peneliti dari berbagai belahan dunia (https://www.uib.no/en/rg/sipa/pydcrossnational/101576/partners).
· Polyculturalism research group. Kelompok peneliti ini memfokuskan diri pada menggalian identitas diri dan aspek-aspek psikologis yang mengikutinya dari individu-individu yang terlahir dari keluarga campuran berbagai budaya. Begitu pula dengan peminat budaya lain di luar budaya asalnya (misalnya peminat K-PoP), mulai dari sekedar meyukainya hingga mengambil nilai-nilai budaya lain tersebut sebagai identitas dirinya. Selain identitas, topik penelitian yang relevan dengan tema ini adalah ideologi mengenai budaya serta interaksi sosial antar kelompok budaya.
· South East Asian Indigenous Psychology (SEAIP). Indigenous Psychology menggali pengaruh budaya dan proses sosial terhadap mekanisme psikologis internal, kognisi, dan perilaku individu, yang melampaui batas-batas psikologi Barat. Sayangnya, psikologi di Asia Tenggara masih kurang terwakili dalam arus utama psikologi, sehingga cara-cara pemahaman yang bersifat pribumi sering terpinggirkan. SEAIP bertujuan untuk menghimpun para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia guna memberdayakan psikolog lokal di kawasan Asia Tenggara, agar mereka mampu melakukan penelitian yang bersifat pribumi dan relevan secara budaya. Upaya ini ditujukan untuk memperluas cakupan riset psikologi global. Selain itu, kami juga ingin melibatkan psikolog dari negara-negara kurang berkembang di wilayah Asia Tenggara yang selama ini kurang terwakili, dengan memperkuat suara dan kepedulian mereka demi mewujudkan lanskap psikologi global yang lebih adil dan setara (https://seaipnetwork.wordpress.com/research-cluster/)
Pengembangan program pengajaran/akademik dan penjaminan mutu akademik melalui sertifikasi dan akreditasi internasional
- Pengembangan diri dalam aspek pengajaran/akademik diarahkan pada pencapaian sertifikasi dan akreditasi internasional
- Mendapatkan sertifikat ASEAN University Network Quality Assurance (AUN QA) pada tahun 2021 – 2026.
- Mendapatkan hibah beasiswa PMDSU pada tahun 2025 dari Dikjendikti, di mana FPUAJ menjadi institusi penyelenggaraan perkuliahan bagi mahasiswa yang mengikuti program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor bagi Sarjana Unggul (PMDSU). Hal ini memungkinkan FPUAJ menyelenggarakan percepatan kuliah (fast-track) pascasarjana dari S2 menuju S3 di mana kedua jenjang ini dapat diselesaikan sekaligus dalam waktu 4 tahun
- Mengikuti proses akreditasi internasional ACQUIN pada tahun 2025-2026. Sebagai upaya meningkatkan mutu kualitas diri terus menerus, dalam visinya FPUAJ melalui prodi-prodinya memberanikan diri untuk mendapatkan pengakuan internasional sebelum 2027. Keikutsertaan pada akreditasi internasional ini menunjukkan FP UAJ terbukti perbaikan diri terus-menerus.
Penutup
Merefleksikan perjalanan selama 30 tahun ini, layaknya masa dewasa muda menurut ukuran manusia, FPUAJ masih belum mencapai apa-apa, masih perlu meningkatkan dan mengembangkan diri terus menerus demi tercapainya cita-cita pendiri, yakni mencerdaskan bangsa Indonesia, membangun negeri dengan menghasilkan SDM bermutu. Kami menyadari masa mendatang semakin banyak tantangan yang perlu dilalui, namun dengan kemauan untuk maju tentunya cita-cita akan tergapai hingga mampu menorehkan sejarah FPUAJ yang tak berkesudahan.
Referensi
Bronfenbrenner, U. (2005). Making Human Beings Human: Bioecological Perspectives on Human Development. Sage Publications Inc
Dua, M. 2012. Frans Seda: Merawat Indonesia di Saat Krisis. Jakarta, Penerbit Obor
Laporan Evaluasi Diri Program Studi S-1 Psikologi Unika Atma Jaya, 2024.
Laporan Evaluasi Diri Program Studi S-2 Psikologi Unika Atma Jaya 2024.
Laporan Evaluasi Diri Program Studi S-3 Psikologi Unika Atma Jaya, 2024.
Worldometer. (n.d.). Current world population. Retrieved May 7, 2025, from https://www.worldometers.info/population/
Website Unika Atma Jaya. https://www.atmajaya.ac.id./id/fakultas/psikologi
