ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 36 Juni 2025

Compulsive Buying: Ketika Belanja Menjadi Pelampiasan

 Oleh:

Brena Egita Verina

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

Pernahkah kalian berada di suatu situasi yang mana kalian sangat ingin marah karena sesuatu hal namun alih-alih berteriak atau mengamuk, kalian malah melampiaskannya dengan berbelanja secara gila-gilaan terhadap suatu barang? Atau pernahkah kalian membeli barang dalam jumlah yang sangat banyak namun beberapa saat kemudian kalian malah menyesalinya dan ingin mengembalikannya lagi? Jika kalian sering melakukannya, maka kebiasaan tersebut harus segera dihentikan karena tindakan-tindakan seperti demikian mengarah kepada suatu bentuk perilaku yang disebut dengan compulsive buying. Lantas apa sih yang dimaksud dengan perilaku compulsive buying itu? Berikut penjelasannya.

Compulsive buying atau dalam Bahasa Indonesia disebut “Pembelian Kompulsif” merupakan suatu istilah psikologis yang merujuk pada perilaku berbelanja secara berlebihan dan tidak terkendali yang mana sering kali tidak didasarkan pada kebutuhan atau keinginan yang rasional. Menurut Edwards (1993), compulsive buying merupakan suatu perilaku tidak normal atau abnormal dalam hal berbelanja dan pengeluaran uang sebagai pelampiasan dalam menghilangkan perasaan-perasaan negatif seperti stres dan kecemasan. Perilaku compulsive buying sendiri dapat dijelaskan dalam konsep spending cycle yaitu bermula dengan adanya perasaan-perasaan negatif seperti sedih, marah ataupun stres pada diri individu lalu kemudian lingkungan akan memberikan sinyal bahwa apabila seseorang memiliki barang maka orang tersebut akan menjadi berharga dan disukai sehingga dengan demikian, orang tersebut akan berbelanja untuk mendapatkan perasaan senang dan tenang akan tetapi perasaan positif yang mereka rasakan tidak berlangsung lama dan orang tersebut akan merasakan kembali emosi-emosi negatif yang mereka rasakan sebelumnya lalu kembali berbelanja untuk menyenangkan diri dan pada akhirnya, siklus berbelanja pun menjadi terus berulang (Edwards, 1993).

Belanja atau shopping pada dasarnya bukanlah aktivitas yang buruk karena bersifat memenuhi kebutuhan manusia baik primer, sekunder maupun tersier namun apabila dilakukan secara berlebihan akan berdampak buruk bagi orang yang melakukannya apalagi bila orang tersebut berbelanja secara berlebihan hanya untuk melampiaskan emosi-emosi negatif yang sedang ia rasakan seperti halnya orang-orang dengan perilaku compulsive buying pada umumnya. Berdasarkan pada pemaparan di atas, maka muncullah sebuah pertanyaan, lalu bagaimana sih tepatnya ciri-ciri orang dengan perilaku compulsive buying itu? Berikut penjelasannya menurut Faber & O’Guinn (1989):

1.     Objective Attachment, individu yang mengalami compulsive buying merasa sangat terikat pada barang yang ia beli sehingga pembelian tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan namun juga sebagai sumber kepuasan dan identitas

2.     Emotional Lift, individu yang mengalami compulsive buying seringkali merasa senang, puas, dan juga terhibur ketika ia berhasil melakukan pembelian terhadap suatu barang akan tetapi rasa senang yang ia rasakan hanya bersifat sementara saja karena setelah itu, mereka akan kembali merasa tidak puas atau mengalami cemas secara berlebihan.

3.     Remorse, individu yang mengalami compulsive buying seringkali merasa menyesal karena telah menghabiskan uang untuk membeli barang yang sebenarnya tidak ia perlukan dan juga karena barang tersebut tidak dipakai.

Setelah mengetahui ciri-ciri orang dengan perilaku compulsive buying, maka muncul pertanyaan lain yang tidak kalah penting, lalu apa sih dampak buruk perilaku compulsive buying bagi orang-orang yang melakukannya? Mengapa perilaku berbelanja seperti demikian tidak boleh dilakukan? Memang benar apabila dilihat dari ciri-ciri orang yang melakukannya, perilaku compulsive buying sangatlah berbahaya dan juga wajar untuk tidak dilakukan namun tetap saja kita perlu mengetahui dampak buruknya, kan? Lantas apa saja sih dampak buruk dari perilaku compulsive buying jika kita melakukannya? Beberapa ahli tentu memiliki jawabannya salah satunya ialah penjelasan dari Koran dkk (2006) yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa dampak buruk yang cukup serius apabila kita melakukan perilaku compulsive buying, yaitu:

1.     Masalah finansial, orang dengan perilaku compulsive buying cenderung akan mengalami masalah finansial seperti boros, bangkrut, terlilit utang, penipuan bahkan bisa sampai melakukan penggelapan uang akibat dari perilaku membeli yang berlebihan

2.     Gangguan hubungan sosial, orang dengan perilaku compulsive buying cenderung akan mengalami konflik dengan orang lain seperti konflik dengan keluarga, perceraian bagi yang telah menikah dan terus merasa kekurangan di dalam hidup

3.     Masalah Emosional, orang dengan perilaku compulsive buying cenderung akan mengalami perasaan bersalah, malu, depresi dan juga cemas berlebihan karena perilaku berbelanja mereka yang tidak terkendali bahkan dapat berakhir lebih parah yaitu bunuh diri

4.     Kesejahteraan mental, orang dengan perilaku compulsive buying cenderung akan mengalami penurunan kesejahteraan mental dan juga kualitas hidup karena beresiko mengalami gangguan mental seperti depresi dan kecemasan

Berdasarkan pada informasi yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku compulsive buying merupakan perilaku berbelanja berlebihan yang dapat memberikan dampak buruk bagi orang-orang yang melakukannya bahkan lebih parah, dapat menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan esktrim seperti bunuh diri. Maka dengan demikian, diharapkan bagi kita semua agar tidak terjerumus dalam perilaku compulsive buying. Adapun salah satu cara yang dapat kita lakukan agar terhindar dari perilaku compulsive buying yaitu dengan cara mengelola emosi sebaik mungkin. Perilaku compulsive buying timbul karena adanya faktor emosi sehingga untuk dapat menghindari perilaku buruk tersebut, kita harus bisa mengelola emosi kita dengan cara yang lebih tepat misalnya dengan cara mengalihkan emosi negatif kita seperti marah, kesal, stres ataupun sedih dengan melakukan aktivitas lain yang lebih positif, misalnya bermain dengan teman-teman atau menonton film kesukaan atau bahkan yang lebih sederhana mendengarkan musik dari handphone sambil bersantai di kamar atau kita juga bisa menggantinya dengan berolahraga atau melakukan meditasi dan yang paling penting sebisa mungkin menghindari aktivitas berbelanja ketika sedang mengalami emosi negatif. Dengan begitu, kita dapat terhindar dari perilaku compulsive buying.

Referensi:

Edwards, E. A. (1993). Development of a new scale for measuring compulsive buying behavior. Journal of Financial Counseling and Planning, 4(313), 67–85. https://www.afcpe.org/news-and-publications/journal-of-financial-counseling-and-planning/volume-4/development-of-a-new-scale-for-measuring-compulsive-buying-behavior/

Koran, L., Faber, R., Aboujaoude, E., Large, M., & Serpe, R. (2006). Estimated Prevalence of Compulsive Buying Behavior in the United States. American Journal of Psychiatry, 163(10), 1806. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.163.10.1806

O’Guinn, T. C., & Faber, R. J. (1989). Compulsive Buying: A Phenomenological Exploration. Journal of Consumer Research, 16(2), 147. https://doi.org/10.1086/209204