ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 35 Juni 2025

 

Strict Parenting: Saat Pengasuhan Berubah Jadi Tekanan bagi Anak

Oleh :

Ronika Cantika Sihombing

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua menjadi salah satu elemen yang signifikan dalam membentuk perkembangan psikologis anak . Di antara ragam model pola pengasuhan, pendekatan yang menerapkan pola pengasuhan ketat atau yang dikenal sebagai strict parenting sering kali menjadi fokus utama dalam studi psikologi perkembangan. Pola pengasuhan yang bersifat ketat kerap kali dicirikan oleh kecenderungan untuk mengontrol secara berlebihan, menerapkan ekspektasi tinggi disertai disiplin yang ketat.(Musslifah et al., 2021).  Di Indonesia, penerapan pola pengasuhan yang ketat masih sering ditemukan di berbagai keluarga. Berdasarkan data yang diperoleh mengenai fenomena strict parenting tercatat sebanyak 16.106 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2022, di mana Sebagian kasus tersebut berkaitan dengan pola pengasuhan yang terlalu ketat (Paudpedia, 2023). Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA, 2022), pola pengasuhan yang terlalu menekankan disiplin keras tanpa dukungan emosional berkontribusi mempengaruhi kesejahteraan emosional dan perkembangan sosial mereka. Pola asuh ketat sering kali bertujuan membentuk anak menjadi pribadi disiplin dan berprestasi. Namun, tanpa pendekatan yang seimbang, pengasuhan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan anak. Artikel ini bertujuan membahas dampak psikologis dari strict parenting dan menawarkan alternatif pola asuh yang lebih adaptif serta mendukung perkembangan anak secara sehat dan holistik 

Dampak Emosional dan Sosial

Pengasuhan yang bersifat ketat cenderung membentuk anak menjadi pribadi yang patuh secara berlebihan, tetapi sekaligus menghambat kemandirian dan kepercayaan diri. Anak-anak yang dibesarkan di bawah tekanan tinggi lebih rentan mengalami kecemasan dan kesulitan berinteraksi sosial. Mereka cenderung menilai harga diri berdasarkan sejauh mana mereka mampu memenuhi ekspektasi orang tua, bukan dari potensi dan pencapaian pribadi mereka (Baumrind, 1991). Dampak jangka panjangnya, anak-anak ini berisiko tumbuh menjadi individu yang hanya berorientasi pada pemenuhan standar eksternal. Mereka mungkin tampak sukses secara akademik, namun kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial yang menuntut fleksibilitas dan kreativitas.

Dampak Kognitif

Selain dampak emosional dan sosial, strict parenting juga mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Grolnick dan Ryan (1989) menjelaskan bahwa anak yang hidup dalam tekanan berlebih cenderung belajar karena takut akan hukuman, bukan karena dorongan intrinsik. Akibatnya, mereka lebih fokus memenuhi ekspektasi orang tua dibanding mengeksplorasi minat dan potensi pribadi. Kondisi ini berpotensi membentuk pola pikir perfeksionistik. Anak akan mudah merasa gagal jika hasil yang mereka capai tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan orang tua. Dalam jangka panjang, mereka cenderung mengalami kesulitan mengambil keputusan mandiri karena terbiasa bergantung pada arahan eksternal.

Alternatif Pola Asuh : Authoritative Parenting

Untuk meminimalisir dampak negatif strict parenting, pendekatan yang lebih seimbang sangat dianjurkan. Baumrind (1991) memperkenalkan model authoritative parenting, pola asuh yang menggabungkan kedisiplinan tegas dengan kehangatan serta dukungan emosional. Pendekatan ini meliputi:

1.     Menetapkan batasan yang jelas sesuai dengan usia dan kemampuan anak.

2.     Mendengarkan pendapat anak sebagai bentuk penghargaan terhadap perasaan dan pemikiran mereka.

3.     Mendorong kemandirian anak agar mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Pola asuh ini memungkinkan anak memahami tanggung jawab tanpa merasa tertekan. Anak juga lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan sosial yang lebih baik, serta ketahanan emosional yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Kesimpulan

Strict parenting sering kali bertujuan membentuk anak yang disiplin dan berprestasi. Namun, tanpa keseimbangan antara disiplin dan dukungan emosional, pola asuh ini berpotensi menimbulkan dampak negatif pada perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak. Orang tua diharapkan lebih reflektif dalam menerapkan pola pengasuhan. Pendekatan authoritative parenting menjadi alternatif yang lebih efektif, karena menyeimbangkan antara kedisiplinan dan kasih sayang. Anak tidak hanya bertumbuh sebagai individu yang sukses secara akademik, tetapi juga sehat secara emosional dan sosial. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang dampak strict parenting, diharapkan orang tua mampu membangun generasi yang lebih mandiri, percaya diri, serta memiliki ketahanan mental yang lebih baik dalam menghadapi dinamika kehidupan modern.

Referensi:

Baumrind, D. (1991). The Influence of Parenting Style on Adolescent Competence and Substance Use. The Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95. https://doi.org/10.1177/0272431691111004

Grolnick, W. S., & Ryan, R. M. (1989). Parent styles associated with children’s self-regulation and competence in school. Journal of Educational Psychology, 81(2), 143–154. https://doi.org/10.1037/0022-0663.81.2.143

KPPPA. (2022). Laporan Tahunan Kasus Kekerasan Anak di Indonesia. KPPPA https://kemenpppa.go.id.

Musslifah, A. R., Cahyani, R. R., Rifayani, H., & Hastuti, I. B. (2021). Peran pola asuh orang tua terhadap perilaku agresif pada anak. Jurnal Talenta, 10(2), 5–21. https://jurnal.usahidsolo.ac.id/index.php/JTL/article/view/759

Paudpedia. (2023, February 10). 16.106 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terlaporkan di Sistem Informasi Online PPA Tahun 2022. Https://Paudpedia.Kemdikbud.Go.Id/Kabar-Paud/Berita/16106-Kasus-Kekerasan-Terhadap-Anak-Terlaporkan-Di-Sistem-Informasi-Online-Ppa-Tahun-2022?Do=MTQ0MS1hYWM1NDdmYQ==&ix=MTEtYmJkNjQ3YzA=