ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 35 Juni 2025
Identity Fatigue: Kelelahan Menjadi Diri Sendiri di Era Media Sosial
Oleh:
Khansa Zayyana
Magister Psikologi Sains, Universitas Sumatera Utara
Di era digital, media sosial telah menjadi ruang utama untuk membentuk, memamerkan, dan mengelola identitas diri. Individu kini tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga membangun persona digital yang dikurasi sedemikian rupa agar sesuai dengan standar sosial yang berlaku. Namun, di balik unggahan yang tampak sempurna, banyak individu mengalami apa yang disebut sebagai "identity fatigue" yaitu kelelahan psikologis akibat upaya terus-menerus untuk mempertahankan citra diri di dunia maya.
Fenomena ini kian meningkat seiring dengan tekanan sosial yang melekat pada penggunaan platform digital. Setiap unggahan foto, cerita, atau opini bukan hanya menjadi ekspresi diri, tetapi juga ajang evaluasi publik. Kehidupan yang dipamerkan di Instagram, TikTok, maupun LinkedIn sering kali bukan refleksi autentik dari keseharian, melainkan hasil kurasi citra yang strategis. Menurut Goffman (1959), manusia cenderung mempresentasikan dirinya seperti aktor di atas panggung dengan memilih apa yang ingin ditampilkan kepada “penonton”. Konsep ini kini sangat relevan dalam konteks media sosial, di mana pengguna menjadi sutradara sekaligus pemeran utama dalam panggung digital mereka sendiri.
Namun, tampil sempurna secara terus-menerus bukanlah perkara mudah. Proses ini membutuhkan energi mental, emosional, bahkan waktu. Orang-orang merasa perlu untuk selalu tampil bahagia, produktif, sukses, atau estetik demi memenuhi ekspektasi sosial dan algoritma yang mengutamakan keterlibatan (engagement). Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat menimbulkan kelelahan psikologis, stres, hingga krisis identitas. Individu mulai merasa terjebak dalam versi diri yang mereka ciptakan, kehilangan koneksi dengan diri asli mereka. Inilah yang disebut sebagai “identity fatigue”.
Menurut penelitian dari Duffy dan Chan (2019), tekanan untuk terus mengelola persona online dapat menciptakan ketegangan antara identitas publik dan identitas privat. Ketika ada ketidaksesuaian antara keduanya, individu dapat mengalami disonansi kognitif yaitu kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak selaras antara apa yang ia tampilkan dan apa yang sebenarnya ia rasakan (Festinger, 1957). Semakin besar jaraknya, semakin besar pula beban psikologis yang dirasakan.
Fenomena ini tidak hanya dialami oleh selebritas atau influencer. Generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, kini juga rentan terhadap identity fatigue karena mereka tumbuh dalam budaya digital yang mengutamakan representasi visual diri. Sebuah studi oleh Yang et al. (2020) menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang terlalu fokus pada self-presentation online cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi dan kepuasan diri yang lebih rendah.
Identity fatigue juga berhubungan erat dengan fenomena comparison trap — kebiasaan membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial. Unggahan orang lain yang tampak bahagia, sukses, dan ideal sering kali menjadi standar tidak realistis yang membuat pengguna merasa kurang, gagal, atau “tidak cukup baik”. Ini bisa menyebabkan tekanan untuk terus memperbaiki citra diri demi mengikuti standar tersebut, menciptakan lingkaran kelelahan yang tak kunjung selesai.
Di sisi lain, algoritma media sosial memperparah kondisi ini. Konten yang mendapatkan perhatian lebih (likes, shares, komentar) cenderung yang bersifat ekstrem atau memikat secara visual. Hal ini mendorong pengguna untuk terus menciptakan persona yang menarik perhatian, bahkan jika itu berarti memalsukan sebagian dari kenyataan mereka. Akibatnya, ruang ekspresi diri yang seharusnya otentik berubah menjadi panggung performatif yang melelahkan.
Mengatasi identity fatigue memerlukan kesadaran dan keberanian untuk kembali pada keotentikan diri. Salah satu langkah penting adalah melakukan digital self-reflection dengan mengevaluasi apakah citra yang kita bangun di media sosial benar-benar merepresentasikan siapa diri kita sebenarnya. Selain itu, mengurangi konsumsi media sosial secara sadar atau melakukan digital detox secara berkala dapat membantu mengurangi tekanan untuk selalu tampil.
Membangun komunitas yang mendukung ekspresi diri yang jujur dan tidak menghakimi juga sangat penting. Ketika orang merasa diterima dengan keunikan dan ketidaksempurnaan mereka, kebutuhan untuk berpura-pura akan berkurang. Terakhir, edukasi mengenai literasi digital dan kesehatan mental perlu ditingkatkan agar pengguna lebih sadar akan dampak psikologis dari penggunaan media sosial yang tidak sehat.
Identity fatigue adalah refleksi dari kebutuhan manusia untuk diakui dan diterima, namun dalam dunia digital yang penuh performa dan tekanan, kebutuhan itu sering kali disalahartikan. Dengan kembali pada keotentikan, kita bisa menciptakan ruang digital yang lebih sehat, bukan hanya untuk dilihat tetapi juga untuk menjadi diri sendiri.
Referensi:
Duffy, B. E., & Chan, N. K. (2019). “You never really know who’s looking”: Imagined surveillance across social media platforms. New Media & Society, 21(1), 119–138. https://doi.org/10.1177/1461444818791318
Festinger, L. (1957). A theory of cognitive dissonance. Stanford University Press.
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. Anchor Books.
Yang, C. C., Holden, S. M., & Carter, M. D. K. (2020). Social media social comparison and mental health: A meta‐analytic review. Journal of Adolescence, 79, 104–118. https://doi.org/10.1016/j.adolescence.2020.01.001
