ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 35 Juni 2025

 

Mahar Pernikahan: Simbol Status Sosial atau Beban Psikologis? Mengungkap Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental Pasangan

 Oleh :

Fadhilla Alfitri

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

Mahar dalam pernikahan memiliki makna yang sangat mendalam dalam banyak budaya, termasuk Indonesia. Di Indonesia, mahar bukan hanya simbol penting dalam prosesi pernikahan, tetapi juga sering kali menjadi cerminan status sosial. Besarnya mahar juga  kerap dipandang sebagai simbol yang mencerminkan prestise keluarga, serta kedudukan ekonomi dan sosial seseorang. Dalam budaya tradisional, besarnya jumlah mahar sering dianggap sebagai penanda status sosial keluarga pria.

Praktik pemberian mahar dalam pernikahan di Indonesia sering kali dikaitkan dengan kemampuan finansial keluarga pria. Semakin besar mahar yang diberikan, semakin tinggi pula status sosial pria tersebut di mata masyarakat. Dalam beberapa budaya dan suku di Indonesia, mahar yang besar diinterpretasikan sebagai tanda kemapanan ekonomi dan keberhasilan baik dalam hal pekerjaan, pendidikan, maupun status sosial. Besarnya mahar bukan hanya soal simbolis cinta, tetapi lebih dipandang sebagai representasi prestasi dan tanggung jawab sosial seorang pria. Oleh karena itu dalam banyak kasus, mahar yang tinggi dianggap sebagai pembuktian atas kemampuan seorang pria untuk memimpin keluarga, yang akhirnya membentuk citra dirinya di mata masyarakat (Sujani, 2020). Kebiasaan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai patriarkal yang masih dominan di banyak bagian dunia, termasuk Indonesia. Dalam masyarakat yang masih menjunjung nilai-nilai patriarkal, pria diharapkan untuk membuktikan kemampuannya dalam pemberian mahar. Hal ini membuat besarnya mahar menjadi simbol yang menunjukkan kemampuan finansial dan sosial pria, selain menunjukkan komitmen dalam pernikahan. Tuntutan sosial ini memengaruhi stigma masyarakat terhadap pria yang menikah. Jika mahar yang diberikan terbilang kecil atau tidak sesuai harapan, seringkali pria dianggap tidak mampu atau tidak cukup mapan, yang dapat mempengaruhi citra sosial mereka. Sebaliknya, semakin besar mahar yang diberikan, semakin tinggi pula anggapan masyarakat tentang status sosial pria (Berg et al., 2019).

Namun, tekanan yang timbul dari harapan sosial terkait besarnya mahar dapat memberikan dampak negatif bagi pihak pria. Banyak pria yang merasa terbebani dengan ekspektasi tersebut, terlebih bagi mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang mampu. Dalam usaha memenuhi harapan sosial ini, pria terkadang terpaksa mengorbankan keuangan pribadi atau bahkan terjerat utang. Kondisi ini sering kali menambah beban psikologis yang besar, yang akhirnya bisa menyebabkan stres, kecemasan, atau ketegangan dalam hubungan pernikahan itu sendiri. Akibatnya, banyak pasangan yang memulai pernikahan dengan tekanan keuangan yang cukup besar, yang berisiko merusak keharmonisan hubungan (Berg et al., 2019). Di sisi lain, bagi perempuan mahar dapat dipandang sebagai bentuk penghormatan atau simbol nilai diri mereka. Namun, harapan sosial terkait mahar yang besar seringkali menimbulkan rasa cemas bagi perempuan, terutama jika mahar yang diberikan tidak memenuhi standar masyarakat. Dalam beberapa kasus, perempuan bisa merasa malu atau dihina jika mahar yang diberikan dianggap tidak cukup besar. Stigma sosial terkait besarnya mahar ini dapat merusak harga diri perempuan, seolah-olah mereka dihargai hanya berdasarkan materi yang diterima, bukan berdasarkan kualitas dirinya sebagai individu dalam hubungan tersebut (Yamin, 2018). Mahar yang sering dipandang sebagai simbol status sosial juga dapat memengaruhi cara pasangan melihat pernikahan itu sendiri. Fokus pada jumlah mahar yang diberikan dapat membuat pasangan lebih memperhatikan aspek materi daripada hubungan emosional yang mendalam. Dalam hal ini, pernikahan yang seharusnya dibangun atas dasar cinta dan saling pengertian bisa terdistorsi oleh tekanan sosial untuk memenuhi ekspektasi masyarakat terkait mahar. Hal ini bisa mengarah pada pernikahan yang lebih bersifat transaksional, di mana status sosial lebih dipentingkan daripada kebahagiaan pribadi dan keharmonisan hubungan.

Seiring dengan perubahan zaman, semakin banyak pasangan yang mulai menyadari bahwa kebahagiaan pernikahan tidak harus diukur dengan besar kecilnya mahar yang diberikan. Beberapa pasangan memilih untuk tidak terikat pada tradisi yang mengharuskan mahar dalam jumlah besar dan memilih untuk memfokuskan perhatian pada aspek-aspek emosional yang lebih penting dalam pernikahan mereka. Banyak pasangan modern yang menganggap bahwa kualitas hubungan dan kebersamaan lebih berharga daripada simbol status sosial yang terkadang berlebihan dan membebani secara finansial. Mahar sebagai simbol status sosial dalam pernikahan memang memberikan pengaruh yang kuat dalam masyarakat. Namun, semakin berkembangnya kesadaran akan pentingnya kesejahteraan emosional dan mental pasangan, banyak yang mulai menilai kembali esensi dari mahar itu sendiri. Perubahan pandangan ini menuntut masyarakat untuk lebih memfokuskan pada nilai-nilai cinta dan saling pengertian, daripada mengejar status sosial yang berisiko merusak keharmonisan hubungan.

Referensi

Berg, M. A., Schell, M. B., & Litzinger, D. (2019). Financial stress and mental health:A study of marital satisfaction in young couples. Journal of Marriage and Family,         81(3), 614-625. https://doi.org/10.1111/jomf.12544

Sujani, A. (2020). The psychology of dowry and its impact on women’s mental health. International Journal of Psychological Studies, 12(4), 157-164.          https://doi.org/10.5539/ijps.v12n4p157

Yamin, S. (2018). The cultural significance of mahar in Indonesian marriage traditions.Cultural Studies Journal, 24(2), 45-58. https://doi.org/10.1353/csj.2018.0014