ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 26 Januari 2025
Anak Marah Terhadap Orang Tua, Salah Siapa?
Oleh:
Kurniadi Wina Prasetya, Tika Wulandari, & Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
Fenomena Anak Marah Terhadap Orang Tua,
Suara.com – Kontroversi Nikita Mirzani dan putri sulungnya, Laura Meizani alias Lolly masih menjadi perbincangan publik. Usai marah-marah di media sosial, Lolly akhirnya dijemput paksa oleh ibunya dari apartemen, Kamis (10/9/2024). Fenomena yang terjadi diatas mungkin semakin sering kita kita temukan di media sosial akhir-akhir ini. Pertanyaannya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Menurut Bandura (1995) perilaku agresif atau pemarah anak bisa karena meniru sikap agresif orang tua yang dilihat dan diamati anak. Dalam teorinya terdapat istilah “Modelling” yang artinya meniru, merupakan proses pembelajaran dengan melihat dan memperhatikan perilaku orang lain dalam hal ini salah satunya adalah orang tua. Anak akan menyerap semua pengalaman dan memindahkan ke dalam pengalaman pribadinya tanpa evaluasi dan seleksi ketat. Semua perilaku diterima sebagai sesuatu yang wajar tanpa keraguan.
Dampak serius dari kemarahan orang tua terhadap perkembangan anak?
Menurut De Raeymaecker dan Dhar (2022) anak-anak yang mengalami sosialisasi emosi negatif dari orang tua, termasuk bentuk perilaku pemarah, cenderung mengalami masalah regulasi emosi di masa depan. Anak-anak ini dapat tumbuh dengan kurangnya keterampilan dalam mengatasi stres, yang berkontribusi pada risiko lebih tinggi untuk masalah psikologis seperti kecemasan dan depresi.
Akibat Orang Tua Pemarah, Otak Anak Mengecil
Menurut Alit Kurniasari dan kawan-kawan (2017) seringkali pelaku kekerasan pada anak-anak adalah lingkungan keluarga dekat sendiri, terutama orangtua. Penelitian mereka juga mengungkapkan prevalensi kekerasan oleh orangtua pada anak-anak yang dialami sebelum usia 18 tahun di Indonesia lebih rentan terjadi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan. Hasil dari survei menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan seksual sebesar 6,36% laki-laki, dan 6,28 perempuan, prevalensi kekerasan fisik 40,57% laki-laki, dan 7,63% perempuan, sementara prevalensi kekerasan emosional 13,35% pada laki-laki, dan 3,76% pada perempuan.
Menurut Sabrina Suffren dan kawan-kawan (2019) orangtua pemarah akan berdampak negatif pada perkembangan otak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang kasar di masa kanak-kanak memiliki dampak jangka panjang bagi perkembangan otak anak. anak yang mengalami kekerasan berat memiliki korteks prefrontal yang lebih kecil, dua struktur yang memainkan peran penting dalam pengaturan emosi dan munculnya kecemasan serta depresi. Pengasuhan anak yang kasar yang tidak sampai pada pelecehan serius dikaitkan dengan penurunan struktur otak, mirip dengan korban pelecehan serius.
Peran orang tua terhadap perilaku meniru (Modeling) Anak
Teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Albert Bandura (1995) memberikan kerangka yang kuat untuk memahami bagaimana anak-anak meniru perilaku orang tua mereka, termasuk perilaku agresif yang diekspresikan melalui kemarahan. Pada tahun 1961 bandura dkk, telah membuat lapporan eksperimennya dengan judul Transmission of Agression Through imitation of Aggressive. Dalam eksperimen tersebut , bandura dkk menggunakan subjek 36 laki-laki dan 36 anak perempuan yang terdaftar dalam Standford University Nurseyry School. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak yang terpapar atau diperlihatkan perilaku agresif dari model nyatanya akan memberikan tindakan yang agresif pula. Laki-laki lebih mudah menunjukkan agresif dibandikan perempuan.
Menurut Bandura Modeling artinya meniru, merupakan proses pembelajaran dengan melihat dan memperhatikan perilaku orang lain.
Anak akan menyerap semua pengalaman dan memindahkan ke dalam pengalaman pribadinya tanpa evaluasi dan seleksi ketat. Semua perilaku diterima sebagai sesuatu yang wajar tanpa keraguan. Indikator perilaku meniru aanak umur 2-7 tahun antara lain:
- Anak melihat aktifitas dalam keluarga
- Anak merespon kegiatan yang ada di lingkungan keluarga
- Timbulnya kecenderungan dalam diri anak untuk meniru
Menurut De Raeymaecker dan Dhar (2022), orang tua memiliki peran penting dalam proses sosialisasi emosi anak, terutama dalam mengembangkan keterampilan regulasi emosi. Proses ini dapat dipengaruhi oleh perilaku emosi orang tua, atau bagaimana orang tua menanggapi dan mengajarkan cara menghadapi situasi emosional.
Dampak Kemarahan Orang Tua terhadap Anak
Menurut de Raeymaecker dan dhar (2022) dampak dari kemarahan orang tua pada anak dapat terlibat dalam berbagai aspek:
- Dampak Emosional: Anak yang sering menghadapi kemarahan orang tua sering kali mengalami ketakutan, kecemasan, dan rasa rendah diri. Emosi-emosi ini muncul karena lingkungan rumah yang seharusnya menjadi tempat aman berubah menjadi sumber tekanan. Anak-anak yang sering dimarahi akan merasa tidak nyaman mengekspresikan diri, dan takut akan reaksi negatif orang tua.
- Dampak Kognitif: Kemarahan orang tua yang terus-menerus dapat menghambat perkembangan kognitif anak. Stres yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kemarahan mungkin tidak mengembangkan cara berpikir yang sehat dam kritis.
- Dampak Sosial: Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan kemarahan sering mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan sosial yang sehat. Mereka mungkin menjadi agresif terhadap teman sebaya atau bahkan menarik diri dari interaksi sosial.
Efikasi diri dan kestabilan emosi jadi solusi . Bandura (1995) menerangkan pentingnya efikasi diri orang tua. Efikasi diri orang tua adalah keyakinan orang tua terhadap kemampuan mereka untuk menjalankan peran sebagai orang tua dengan sukses. Tingkat efikasi orang tua yang tinggi dapat berkorelasi dengan berbagai hasil pengasuhan dan anak. Efikasi diri yang tinggi dapat membentuk komitmen yang tinggi. Komitmen yang tinggi mendorong orang tua untuk memiliki motivasi yang tinggi tanpa mengenal kebosanan dalam mengambil tindakan.
Orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua agar menjadi lebih efektif dalam mendidik anak. Pertama, meningkatkan harga diri anak adalah salah satu upaya penting. Anak yang memiliki rasa percaya diri tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan. Orang tua dapat mendukung ini dengan memberikan pujian yang tulus dan konstruktif atas pencapaian anak, sekecil apa pun itu. Selain itu, penting bagi orang tua untuk menetapkan batasan yang jelas dan konsisten dalam mendisiplinkan anak. Ketegasan yang dilakukan dengan kasih sayang membantu anak memahami aturan dan tanggung jawab mereka.
Meluangkan waktu bersama anak juga menjadi kunci utama dalam membangun hubungan yang erat. Dalam waktu yang dihabiskan bersama, anak merasakan perhatian dan cinta dari orang tua. Selain itu, menjadi panutan yang baik sangatlah penting karena anak sering belajar melalui pengamatan. Perilaku orang tua menjadi contoh yang diikuti oleh anak dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, orang tua harus menunjukkan cinta tanpa syarat kepada anak. Kasih sayang yang tulus membantu anak merasa diterima dan dicintai apa adanya, terlepas dari segala kekurangan yang mereka miliki. Sementara itu, untuk meningkatkan efikasi diri, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh individu. Mengamati orang lain dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga. Dengan memperhatikan cara orang lain menghadapi situasi, kita dapat memperoleh wawasan baru dan strategi untuk diterapkan dalam kehidupan sendiri. Selain itu, memiliki teman yang kreatif juga dapat mendorong kita untuk berpikir di luar kebiasaan dan mengembangkan ide-ide baru. Menemukan mentor yang berpengalaman dalam bidang tertentu juga sangat membantu dalam memberikan panduan dan inspirasi untuk mencapai tujuan.
Menulis keberhasilan yang telah dicapai merupakan cara yang baik untuk mengingat pencapaian dan membangun rasa percaya diri. Di sisi lain, penting juga untuk menghindari situasi penuh tekanan yang tidak lazim, karena hal ini dapat menguras energi dan menghambat perkembangan diri. Terakhir, mengembangkan keterampilan baru adalah salah satu langkah efektif untuk meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan mengintegrasikan langkah-langkah ini, baik dalam pola asuh anak maupun dalam pengembangan diri, seseorang dapat mencapai efektivitas yang lebih tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
Referensi :
Bandura, A. (1995). Self-Efficacy in Changing Societies. New York: Cambridge University Press.
De Raeymaecker, K., & Dhar, M. (2022). The Influence of Parents on Emotion Regulation in Middle Childhood: A Systematic Review. Children, 9(1200).
https://doi.org/10.3390/children9081200
Nabilla F. Dan Nofiana F. (2024). Gaya Marah-Marah Lolly Plek Ketiplek Nikita Mirzani Saat Ngamuk Di TV, Netizen Singgung Pola Asuh. Diakses 1 November 2024 dari https://www.suara.com
Suffren, S., Chauret, M., & Nassim, M. (2019). On a Continuum to Anxiety Disorder : Adolescents at Parental Risk for Anxiety Show Smaller Rostral Anterior Cingulate Cortex and Insula Thickness. Journal of Affective Disorder, 248, 10-18. https://doi.org/10.106/j.jad.2019.01.028
