ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 26 Januari 2025
Putus karena Kurang Komitmen atau Bosan?
Oleh:
Laurensius Agus Diantoro T.
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Menjalin hubungan romantis pada awalnya dirasa sangat menggebu-gebu dan terasa seperti Anda disihir oleh keadaan, hingga sampai pada saat di mana menatap wajah pasangan Anda saja sudah malas. Pernahkah Anda merasakan hal tersebut? Coba lihat sekeliling Anda, mungkin ada teman, sahabat, kerabat, atau keluarga Anda yang pernah mengalami hal tersebut, atau jangan-jangan diri Anda sendiri. Rasa cinta yang dirasakan saat awal menjalin hubungan romantis terkadang memang memberikan sensasi seperti dunia milik berdua dengan pasangan Anda.
Ada kisah cinta yang menarik perhatian, sebut saja N, salah satu teman saya yang menjalin hubungan romantis selama beberapa bulan dengan pasangannya. N sering bercerita kepada temannya bahwa pasangannya pasti merupakan teman hidupnya sampai tua. Beberapa bulan berlalu, terdengar kabar bahwa N sudah tidak menjalin hubungan romantis dengan pasangannya tersebut. Lantas, muncul kondisi di mana N merasakan emosi negatif yang signifikan terhadap dirinya. Menangis, menyesal, dan menyalahkan keadaan membuat N tidak bisa produktif dalam kesehariannya. N merasa bahwa cinta pasangannya telah pudar untuk dirinya.
Dalam mencintai seseorang dan menjaga hubungan jangka panjang (long-term relationship) tidak hanya membutuhkan cinta, pengorbanan, tapi juga komitmen. Komitmen kepada orang yang dicinta dan juga komitmen pada hubungan yang diperjuangkan bersama (Caroll, 2019). Mengakhiri hubungan romantis bukan hanya sekedar perasaan bosan atau pemikiran bahwa pasangan Anda kurang menunjukkan komitmen kepada Anda. Menjalin hubungan romantis akan terasa berat jika hanya satu orang yang memperjuangkan komitmen dalam hubungan tersebut. Berakhirnya hubungan romantis tak hanya kurangnya komitmen atau sekedar rasa bosan dengan pasangan. Dalam mencintai seseorang, komitmen merupakan salah satu aspek yang penting dari dua aspek lain yang mendukung sebuah hubungan romantis dapat berkelanjutan (Sternberg, 1985). Dalam menjaga hubungan romantis agar berlanjut, dibutuhkan komitmen dari kedua orang yang menjalin hubungan tersebut dan komunikasi dua arah. Jadi kalau bukan rasa bosan atau kurangnya komitmen, hal apa yang dapat menjadi patokan dalam seseorang menjaga hubungan romantisnya?
Menurut Sternberg (1999) terdapat tiga komponen dalam mencintai seseorang, yang jika salah satu komponen hilang atau terampas, maka bentuk cinta yang terjalin akan berbeda. Passion, intimacy, dan komitmen merupakan komponen cinta yang mungkin dirasakan oleh semua orang ketika menjalin hubungan romantis. Passion dapat diartikan sebagai ketertarikan Anda terhadap karakteristik fisik lawan jenis (Caroll, 2019), Ahmetoglu et al. (2010) berpendapat bahwa passion merupakan komponen cinta yang pertama kali dirasakan dan paling cepat pudar ketika seseorang menjalin hubungan romantis dengan pasangannya. Jika Anda merasakan kedekatan, perasaan hangat dan kelekatan emosional dengan pasangan Anda, hal ini disebut sebagai komponen intimacy. Sesuai pembahasan kasus N, komponen cinta terakhir adalah komitmen. Dalam jangka pendek, komitmen diartikan sebagai keputusan untuk mencintai seseorang dan untuk jangka panjang diartikan sebagai tekad seseorang dalam menjaga hubungan romantis (Caroll, 2019).
Melihat komponen cinta dari Sternberg, apakah terdapat bentuk cinta paling ideal yang bisa Anda rasakan atau jalani? Cinta yang ideal mungkin berbeda untuk masing-masing orang, termasuk Anda. Dari segi teoretis, khususnya menurut Sternberg (1999), bentuk cinta yang paling ideal adalah kombinasi dari ketiga komponen cinta yang harus diusahakan oleh kedua pihak yang menjalin hubungan romantis. Bahkan setelah memiliki ketiga komponen cinta yang timbal balik, seseorang masih bisa merasa bahwa cinta mereka pudar, tiada lagi kedekatan emosional, dan merasa bosan dengan pasangannya. Mencintai seseorang mungkin bukan sekedar usaha dan perasaan yang positif. Mencintai seseorang juga tidak hanya perasaan menggebu-gebu di awal hubungan atau perasaan seperti disihir oleh keadaan. Rasa kecewa, sedih, atau marah mungkin Anda rasakan dalam mencintai seseorang. Merasa cocok, nyambung, dan mempunyai visi misi masa depan yang sama bukan berarti seseorang itu merupakan teman hidup Anda. Jika Anda belum berhasil menjalin hubungan romantis, Anda dapat meningkatkan kualitas diri Anda menjadi lebih positif dengan melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan diri, misalnya. Mengakhiri atau diakhiri dalam hubungan romantis bukan berarti akhir dari perjalanan cinta.
Referensi:
Ahmetoglu, G., Swami, V., & Chamorro- Premuzic, T. (2010). The relationship between dimensions of love, personality, and relationship length. Archives of Sexual Behavior, 39(5), 1181-1190
Carroll. (2019). Sexuality Now: Embracing Diversity. United States of America: Cengage.
Sternberg, R. J. (1985): Beyond IQ: A triarchic theory of human intelligence. New York: Cambridge University Press.
Sternberg, R. J. (1999). Love is a story. New York: Oxford University Press.
