ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 05 Maret 2020

Balada Kuliah Daring: Aplikasi Self-Determinantion Theory pada Penerapan Kebijakan Kuliah Daring

 

Oleh:

Imam Faisal Hamzah

Fakultas Psikologi – Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

Kuliah Daring

Sejak merebaknya kasus penderita Covid-19 di Indonesia awal Maret 2020, banyak institusi pendidikan menerapkan kuliah daring. Kebijakan ini diambil sehubungan dengan adanya himbauan untuk melakukan social distance. Sebuah upaya untuk melakukan pencegahan agar laju gerak virus, yang dikenal sebagai Virus Corona tersebut, dapat dicegah. Tentu Indonesia tidak ingin bernasib sama seperti Italia, Korea Selatan, Iran, atau bahkan Tiongkok sendiri yang jumlah korban meninggalnya telah mencapai angka 1000 orang.  

Kuliah daring, merupakan sarana media pendidikan yang dapat memperpendek kesenjangan sosial sehingga kesempatan belajar bisa dirasakan oleh publik secara massif  (Shmidt & Cohen, 2014) Kemajuan teknologi informasi berupa internet telah mempermudah masyarakat dunia untuk mengakses informasi, termasuk pendidikan, yang tidak terbatasi oleh waktu maupun letak geografis. Tentu ini memberikan dampak psikologis pada peserta didik. Permasalahannya adalah ketika perilaku manusia berbeda antara dunia nyata di mana saling betatap muka (face-to-face) secara langsung dengan ketika berinteraksi melalui teknologi (Aiken, 2016). Begitu juga dengan penggunaan kuliah daring.

Meskipun kuliah daring mempermudah interaksi antara pengajar dan peserta didik, hal ini tidak lantas mempermudah segala sesuatunya. Pengalaman penulis dan beberapa staf pengajar lain dalam menggunakan media daring dalam pembelajaran lebih kurangnya motivasi instrinsik untuk melakukan pembelajaran, Kuliah daring memang menawarkan pengalaman pembelajaran yang berbeda dibandingkan kuliah tatap muka. Oleh karena itu, baik pengajar maupun peserta didik perlu memiliki motivasi intrinsik agar proses ini dapat berjalan dengan baik. Penulis menggunakan Self-Determination Theory untuk memberikan sudut pandang dan juga aplikasi yang dapat mempermudah proses pendidikan melalui media daring.

 

Self Determination Theory

Self-Determination Theory (SDT) merupakan salah satu teori motivasi yang dikemukakan oleh Richard Ryan dan Edward L. Deci. Teori ini berasumsi bahwa manusia itu aktif, termotivasi secara instrinsik, dan berkembang alami di mana proses tersebut tidak dipelajari tetapi merupakan sifat alami manusia (Deci & Ryan, 2012). Dibandingkan motivasi yang dipicu secara eksternal, seperti pemberlakukan reward and punishment, teori ini menganggap bahwa pemberian otonomi jauh lebih penting. 

Pembahasan pembelajaran daring dalam Self-Determination Theory pun sudah beberapa dilakukan. Seperti Chen & Jang (2010) yang menemukan peran kepuasan kebutuhan (need satisfaction) dalam memediasi dukungan kontekstual dan motivasi (self-determination theory) pada pembelajaran daring, meskipun penelitian menyebutkan tidak menemukan pengaruh motivasi dalam self-determination theory pada hasil pembelajaran daring.  Meskipun hasilnya kemudian dibantah oleh Hsu, Wang, dan Levesque-Bristol (2019) bahwa bagaimana penerapan SDT dapat membantu pencapaian tujuan pembelajaran daring.

Teori ini mengemukakan tiga kebutuhan dasar yang perlu dipenuhi oleh seseorang untuk memiliki motivasi intrinsik, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterkaitan. Kebutuhan yang perlu ada pada tenaga pengajar maunpun peserta didik agar dapat melakukan proses pembelajaran daring yang efektif.

1.    Otonomi (autonomy) di mana terkait dengan kebebasan psikologis individu (Deci & Ryan, 2012). Terkadang peserta didik atau bahkan pengajar merasa terpaksa untuk menggunakan sarana daring untuk melakukan perkuliahan. Seperti kondisi saat ini di mana social distance merupakan tuntutan akibat adanya bencana wabah corona. Penanaman arti penting (meaning) penggunaan media daring dalam pembelajaran lebih diutamakan dibandingkan sekedar memberikan reward and punishment. Makna atau meaning diartikan sebagai nilai yang ada pada suatu perilaku sehingga perilaku itu menjadi penting untuk dilakukan (Riyono, 2012). Keberadaan otonomi ini, perlu diimbangi dengan kompetensi yang memadai.

2.    Kompetensi (competence). Uhls (2016) menyampaikan bahwa sebuah kebijakan pengadaan perangkatan digital pada institusi pendidikan tidak dapat memberikan manfaat yang diharapkan jika tidak dibarengi dengan pengadaan infrastruktur dan tenaga pendidik yang terlatih. Sarana teknologi pembelajaran tentu tidak akan dapat berjalan secara optimal jika pengajar tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk menggunakan fasilitas kelas daring. Tulisan lawas Fuad Hassan (1995) mungkin dapat memberikan pencerahan

“ …Penguasaan dan penerapan suatu teknologi haruslah didahului dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang mendukung kelahiran teknologi itu. Ilmu pengetahuanlah yang menjadi puncak keunggulan demi memajukan pemanfaatan teknologi.”

 

Pemberian kompetensi terhadap penggunaan media daring dalam pembelajaran menjadi tugas pihak terkait yang mengambil kebijkan di dalam institusi pendidikan tersebut untuk memberikan pelatihan kepada para pengajarnya juga pada peserta didik. Pemberian kompetensi diutamakan melalui mekanisme yang suportif dibandingkan dengan kontrol melalui reward and punishment.

 

3.    Keterkaitan (relatedness). Proses pendamping perlu dilakukan secara terus-menerus antara pihak institusi pendidikan, pengajar, dan peserta didik. Pelatihan pada satu waktu tidaklah cukup, tetapi perlu ada pendampingan yang berkelanjutan.  

 

Motivasi Instrinsik Pada Kuliah Daring

Memunculkan sebuah motivasi intrinsik memang merupakan sebuah proses. Bagi SDT sendiri hal ini merupakan sebuah proses yang kontinum (Deci & Ryan, 2000). Mulai dari kondisi tanpa motivasi kemudian termotivasi secara ekstrinsik hingga menjadi termotivasi secara instrinsik. Pada awalnya mungkin peserta didik masih memerlukan reward and punishment, seperti yang dikemukakan oleh Suler (2004) pada pengalamannya memberikan reward berupa nilai tambah agar diskusi dalam kuliah daringnya dapat berjalan dinamis. Seiring berjalannya waktu, peserta didik pun perlu ditanamkan makna atau arti penting penggunaan media daring dalam proses pembelajaran.

 

Referensi:

Aiken, M. (2016). The cyber effect : A pioneering cyberpsychologist explains how human behaviour cheng online.  London : John Murray.

Chen, K. C., & Jang, S. J. (2010). Motivation in online learning: Testing a model of self-determination theory. Computers in Human Behavior, 26, 741–752. https://doi.org/10.1016/j.chb.2010.01.011.

Deci, E.L. dan Ryan, R.M. (2012). Self-determination theory. Dalam Lange, P.A.M.V., Kruglanski, A.W., dan Higgins, E.T. (Eds.). Handbook of Theories of Social Psychology (Volume 1). London : Sage.

Deci, E.L. dan Ryan, R.M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. Doi : 10.1207/S15327965PLI1104_01.

Hassan, F. (1995). Dimensi budaya dan pengembangan sumberdaya manusia.  Jakarta : Balai Pustaka.

Hsu, H.K., Wang, C.V. & Levesque-Bristol, C. (2019). Reexamining the impact of self-determination theory on learning outcomes in the online learning environment. Education and Information Technologies, 24, 2159–2174. https://doi.org/10.1007/s10639-019-09863-w.

Riyono, B. (2012). Motivasi dengan perspektif psikologi islam. Yogyakarta : Quality Publishing.

Schmidt, E. & Cohen, J. (2014). The new digital age (Penerjemah : Selviya Hanna). Jakarta : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Suler, J. (2004). Extending the classroom into cyberspace: The discussion board. Diakses dari http://users.rider.edu/~suler/psycyber/extendclass.html.

Uhls, Y. T. (2016). Media moms & digital dads : Menjadi orang tua bijak di era digital (Penerjemah : Reinitha A. Lasmana). Solo : Metagraf.