ISSN 2477-1686

Vol.6 No. 04 Februari 2020

Perspektif tentang Altruisme

 

Oleh

Abu Bakar Fahmi

Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

 

Perhatikan dua kasus berikut :

a.  Seorang anggota parlemen DKI Jakarta menyusuri rumah-rumah untuk menyelamatkan warga yang tertimpa banjir di Jakarta awal tahun 2020 lalu. Ia memberi bantuan yang dibutuhkan warga di antaranya beras, telor, baju, dan obat-obatan. Ia melakukan itu sebagai bentuk kepeduliannya kepada warga yang sedang tertimpa musibah (Al Fajri, 2020).

b.  Seorang kakek di Sragen menambal jalan berlubang yang ditemui di sekitar rumahnya. Pasir dan semen dibeli sendiri dari hasil bekerja sebagai pemulung. Ia mengaku melakukan itu karena pernah mengalami kecelakaan akibat jalan berlubang. Ia tidak ingin ada orang lain yang tertimpa musibah seperti yang dialaminya (Wismabrata, 2017).

 

Pelaku di dua kasus di atas sama-sama melakukan tindakan yang berorientasi pada orang lain. Anggota parlemen menolong korban banjir dengan memberi barang-barang yang paling dibutuhkan; kakek menambal jalan berlubang agar pengguna jalan dapat berkendara dengan nyaman dan terhindar dari kecelakaan. Alih-alih harta yang dimiliki digunakan untuk kepentingan diri sendiri, dua pelaku ini menggunakannya untuk kepentingan orang lain. Jika tindakan yang berorientasi diri sendiri biasa disebut egoisme, tindakan yang berorientasi orang lain ini dikenal dengan altruisme. Pertanyaannya, apakah kedua tindakan pada kasus di atas bisa disebut sebagai altruisme? Lantas, apakah altruisme itu tindakan, lebih khusus lagi tingkah laku, atau sesuatu di luar tingkah laku?

 

Kita tengok bagaimana altruisme dipahami secara umum. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mencantumkan lema altruisme sebagai berikut:

 

al·tru·is·me n 1 paham (sifat) lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain (kebalikan dari egoisme); 2 Antr sikap yang ada pada manusia, yang mungkin bersifat naluri berupa dorongan untuk berbuat jasa kepada manusia lain.

 

Dari dua pengertian tersebut, kita tidak mendapatkan pengertian bahwa altruisme itu suatu tindakan atau tingkah laku. Pengertian pertama menyebut altruisme sebagai paham atau sifat (padahal paham dan sifat itu sesuatu yang berbeda); pengertian kedua menyebut altruisme sebagai sikap, juga dorongan. Jadi altruisme itu tingkah laku, paham, sifat, sikap, atau dorongan?

 

Sejak kemunculan altruisme dalam kosakata umat manusia, pengertian terhadap kata ini beragam dan terkadang berlawanan satu dengan yang lain (Ricard, 2015). Jika kita merujuk pengertian altruisme dari pertama kali digunakan, altruisme berasal dari Bahasa Latin, "alter", artinya "orang lain". Bapak positivisme Auguste Comte mengenalkannya pada abad ke-19 yang mengatakan bahwa dalam altruisme terkandung "penghapusan hasrat mementingkan diri sendiri dan egosentrisme, serta menjalani kehidupan yang ditujukan untuk kesejahteraan orang lain" (Ricard, 2015). Dari pengertian paling mula tersebut, tampaknya tidak tersurat apakah altruisme itu tindakan, paham, sifat, atau dorongan. Hasrat dalam pengertian Comte tersebut dekat dengan dorongan; menjalani kehidupan dekat dengan tingkah laku.

 

Ragam pengertian altruisme muncul lebih karena ragam sudut pandang para pendefinisinya. Ilmuwan biologi evolusioner memandang altruisme sebagai tingkah laku terkait daya tahan dan reproduksi. Segala tingkah laku disebut altruisme jika dapat meningkatkan kebugaran pihak (orang atau mahluk hidup) lain dan mengurangi kebugaran pelakunya (Sober dan Wilson, 1998). Melalui pengertian ini, ilmuwan biologi evolusioner bisa menjelaskan segala tingkah laku altruis, tidak hanya pada manusia, tapi juga pada mahluk hidup yang lain. Tingkah laku altruis tidak menguntungkan secara evolutif jika dilihat secara individual, namun menguntungkan dalam kebertahanan kelompok. Mahluk hidup yang tinggal dalam kelompok yang punya tingkah laku altruis lebih bertahan hidup daripada yang tidak.

 

Sementara, ilmuwan psikologi perkembangan memandang altruisme sebagai tindakan. Altruisme merupakan salah satu tipe tingkah laku prososial, yakni “tindakan yang didorong oleh motif-motif internal seperti perhatian dan simpati terhadap orang lain, atau oleh nilai-nilai dan ganjaran-diri daripada oleh keuntungan pribadi” (Eisenberg dan Mussen, 1989). Nilai-nilai yang membuat orang bertindak altruis di antaranya nilai-nilai kesejahteraan dan keadilan. Jika seseorang bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini tersebut maka ia akan mendapat ganjaran-diri seperti harga diri, kebanggaan, dan kepuasan hidup yang meningkat. Eisenberg lebih perhatian pada nilai-nilai yang membuat orang bertindak altruis karena tindakan orang akan sejalan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Ia tidak terlalu mempertimbangkan pentingnya motif (apakah orang bertindak prososial itu untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain) dalam tindakan altruis karena mengetahui motif di balik tindakan prososial itu sulit.

 

Alih-alih perhatian pada tindakan atau tingkah laku, ilmuwan psikologi sosial justru memandang altruisme sebagai motif atau dorongan. Ilmuwan biologi evolusioner dan psikologi perkembangan yang memandang altruisme sebagai tingkah laku tidak bisa memberi penjelasan yang memadai apa motif di balik tingkah laku itu, padahal motif merupakan masalah penting dalam membahas altruisme (Baston, Ahmad, Lishner & Tsang, 2009). Mengingat peran penting motivasi, di sini altruisme lebih terbatas pada fenomena yang dialami manusia. Altruisme menurut pandangan psikologi sosial merupakan “keadaan motivasional yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan orang lain” (Batson, 2011). Altruisme merupakan salah satu jenis motivasi yang membuat orang terdorong untuk melakukan tindakan prososial. 

 

Batson dipengaruhi oleh Kurt Lewin yang memandang bahwa motif adalah kekuatan yang mengarah kepada tujuan yang terbagi tiga macam, yakni tujuan akhir, tujuan instrumental, dan konsekuensi yang tidak diniatkan (Batson, Ahmad & Stocks, 2011). Tujuan akhir adalah keadaan yang ingin dicapai oleh seseorang. Tujuan instrumental adalah tahap antara dalam mencapai tujuan akhir, sementara konsekuensi yang tidak diniatkan adalah dampak yang muncul karena kita mencapai tujuan akhir dan tujuan instrumental.   

 

Jadi, meskipun tindakan prososial berpengaruh terhadap kesejahteraan orang lain, tidak semua dimotivasi oleh altruisme. Di sini tujuan akhir memegang peran penting. Jika seseorang melakukan tindakan prososial tetapi tujuan akhirnya adalah untuk keuntungan diri sendiri, ini bukan altruisme tetapi egoisme. Bagi orang yang dimotivasi oleh egoisme, kesejahteraan orang lain akibat tindakan prososial yang dilakukannya merupakan tujuan instrumental belaka. Jadi, jika kita menolong orang lain dengan harapan akan mendapat keuntungan sebagai balasannya, atau agar meningkatkan atau menjaga mood kita, atau menghindari penilaian buruk orang lain, tindakan tersebut masih dimotivasi oleh egoisme bukan altruisme.

 

Bagi Batson, orang yang dimotivasi oleh altruisme dalam melakukan tindakan prososial mungkin mendapat sejumlah keuntungan seperti mood yang meningkat, citra yang baik, pujian dari orang lain, dan mendapat balasan kebaikan, namun semua itu hanya konsekuensi yang tidak diniatkan dari upayanya mencapai tujuan akhir yakni kesejahteraan orang lain.

 

Kembali ke dua kasus di atas, anggota parlemen dan kakek melakukan tindakan prososial yang memberi keuntungan kepada orang lain. Dua tindakan tersebut belum tentu sebagai bentuk altruisme. Apakah tindakan tersebut dimotivasi oleh altruisme atau tidak, perlu diketahui lebih jauh apakah tujuan akhirnya benar-benar untuk keuntungan orang lain atau hanya jadi tujuan antara semata.    

   

          

Referensi:

 

Al Fajri, F. (4 Januari 2020). Anggota DPRD Ini Keliling Ikut Selamatkan Korban Banjir Sekaligus Beri Bantuan Sembako di 5 Titik. Tribunnews.com.https://wartakota.tribunnews.com/amp/2020/01/04/anggota-dprd-ini-keliling-ikut-selamatkan-korban-banjir-sekaligus-beri-bantuan-sembako-di-5-titik

 

Batson, C. D. (2011). Altruism in humans. Oxford University Press.

 

Baston, C. D., Ahmad, N., Lishner, D. A., & Tsang, J.-A. 2002). Empathy and altruism. Dalam C. R. Snyder & S. J. Lopez (Ed). Handbook of positive psychology (hal 485-498). Oxford University Press.

 

Batson, C. D., Ahmad, N. & Stocks, E. L. (2011). Four forms of prosocial motivation: Egoism, altruism, collectivism, and principlism. Dalam D. Dunning (Ed). Social motivation. Psychology Press.

 

Eisenberg, N. & Mussen, P. H. (1989). The roots of prosocial behavior in children. Cambridge University Press.

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi ke-4). (2008). Gramedia Pustaka Utama.

 

Ricard, M. (2015). Altruism, the power of compassion to change yorself and the world. Little, Brown and Commpany.

 

Sober, E. & Wilson, D. S. (1998). Unto others: The evolution and psychology of unselfish behavior. Harvard University Press.

 

Wismabrata, M. (1 Maret 2017). Mbah Sadiyo, Pemulung yang Sukarela Tambal Lubang Jalan di Sragen. Kompas.com. https://amp.kompas.com/regional/read/2017/03/01/15201271/mbah.sadiyo.pemulung.yang.sukarela.tambal.lubang.jalan.di.sragen