ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 07 April 2020

 

Kontribusi Diriku dalam Kelompokku: Kontribusiku untuk Bangsaku

 

Oleh

Eko A Meinarno

Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

 

Pendahuluan

Saat covid 19 merebak, upaya pengobatan belum efektif, dan belum menunjukkan hasil yang menggembirakan maka perlu ada perubahan lain yang diperlukan agar keselamatan manusia lebih terjamin. Saat ini satu pilihan yang akan membantu menyelamatkan banyak nyawa yakni rekayasa tingkah laku. Salah satu yang dikembangkan dengan cepat adalah gerak sosial berjarak (social distancing). Hal ini menjadi alternatif penting karena mengurangi potensi penularan dari berdekatan dengan orang lain yang tidak diketahui apakah sudah terjangkit atau belum. Diketahui adanya bukti tidak semua individu menunjukkan gejala sakit walau positif terinfeksi covid 19. Kita juga perlu memperhatikan kelompok rentan, khususnya orang yang berusia di atas 60 tahun. Sebagaimana diberitakan bahwa pada kasus Italia, para lansia adalah korban terbanyak yang terinfeksi dan wafat.

Penyebaran penyakit ini sudah melampaui semua batasan. Sebagaimana penjelasan Umam (2020) bahwa penularan covid 19 cepat dan tidak mengenal warna kulit dan agama. Dengan demikian kita tidak bisa berpangku tangan hanya dengan sekedar menunggu bantuan pemerintah! Pemerintah telah lakukan hal-hal terbaik yang secara umum. Sementara agar semua petunjuk itu berjalan sangat dibutuhkan kemauan atas diri sendiri, yang salah satu aspeknya adalah kepatuhan (Meinarno, 2020 dalam proses penerbitan).

 

Modal Sosial

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sudah nyatakan saatnya bergotong-royong menghadapi covid 19. Jika di awal covid 19 muncul di RRT dan jumlah korban tergolong tinggi, maka saat mulai mereda justru RRT yang mulai membantu negara lain. Saat pemerintah Indonesia mulai membutuhkan bantuan perlengkapan kesehatan dan fasilitasnya maka mulai ada badan usaha yang segera membantu. Ketika gerak sosial berjarak dicanangkan dan masih banyak yang melanggar maka bermunculan suara agar ikuti anjuran pemerintah. Semua bergerak untuk hadapai covid 19. Inilah wujud modal sosial Indonesia yang ada, yakni gorong-royong. Gotong-royong adalah hubungan timbal balik yang mendorong individu untuk saling menolong untuk menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan orang lain pada satu waktu, baik untuk tujuan perorangan maupun kelompok (Meinarno & Fairuziana, dalam Meinarno, Putri, & Fairuziana, 2019). Covid 19 adalah musuh bersama. Tujuan kita jelas untuk terhindar dari covid 19, karena ini bukan masalah kesehatan satu dua individu, tapi masalah bersama.

Pekerjaan mencegah dan menghalau covid 19 bukan pekerjaan individual. Mulai dari diri sendiri dengan patuh pada norma baru yakni gerak sosial berjarak. Menggunakan masker, membersihkan badan dan lingkungan sekitar rumah. Melebarnya wujud tadi dengan tidak membuat orang banyak berkumpul. Membantu orang lain mempunyai pembersih tangan kimia, membersihkan lingkungan, setidaknya tidak kotor. Beberapa bentuk tingkah laku tadi adalah kontribusi individu kepada masyarakat atau kelompok di lingkungan rumah dalam menghalau covid 19. Salah satu bentuk yang cukup ekstrem bahwa diketahui di RRT, seorang lansia sampai memberikan uang pesangonnya untuk disumbangkan bagi perlawanan terhadap covid 19.

 

Prinsip Dasar: Apa yang bisa Saya lakukan untuk Orang Lain?

Pada prinsipnya saat ini kontribusi individu pada keselamatan orang banyak sangat dibutuhkan. Sebagaimana diketahui bahwa tujuan dari gerak sosial berjarak adalah melindungi orang lain dari peluang tertular penyakit (Hafiz, 2020). Dalam perspektif kesehatan masyarakat, gerak sosial berjarak ini juga dapat dikatakan sebagai promosi kesehatan dan pencegahan penyakit di luar tingkat individual Nuqul & Ningrum, 2020). Dan yang melakukan ya hanya diri kita.

Penyebaran berita di aplikasi grup WA menyentak kita bahwa para korban wafat di Indonesia paling banyak adalah para lansia dan tenaga medis. Saat tulisan ini dibuat, setidaknya lima dokter dan satu perawat meninggal. Para keluarga yang ditinggal menuliskan status/menceritakan proses sakit keluarganya di media sosial. Dan semuanya terlalu menyakitkan untuk dapat dirasakan. Mayoritas dari kita tentu tidak ingin kejadian ini menimpa diri dan keluarga kita. Sesuatu harus dilakukan, dan harus sekarang juga.

Dengan demikian apa yang kita lakukan, gerak sosial berjarak itu sangat penting dan bermakna bagi keselamatan banyak orang. Membuat orang lain selamat dari covid 19 sekarang menjadi tugas sosial yang penting. Kesadaran diri sebagai anggota kelompok saat ini diperlukan. Dalam psikologi sosial, kesadaran kontribusi diri terhadap kinerja kelompok akan mengurangi potensi pemalasan sosial (social loafing). Kassin, Fein, dan Markus (2014) memberi batasan pemalasan sosial sebagai kecenderungan membiarkan orang lain mengerjakan tugas ketika berada dalam kelompok.

Dalam keadaan gawat darurat ini, gejala pemalasan sosial tentu akan berdampak merugikan pada banyak hal. Sebagai contoh wujud pemalasan sosial ketika individu tidak perlu merasa perlu menggunakan masker di area banyak orang berkumpul. Individu merasa bahwa sudah ada orang lain yang gunakan masker. Atau tetap menjalankan perjalanan yang kurang penting dengan alasan individu menaiki mobil pribadi. Maka bagaimana kita dapat mengurangi tingkah laku pemalasan sosial?

Kita dapat membangun tanggung jawab yang tidak terlalu banyak terbagi. Halida mencontohkan ketika guru memberi satu tugas kepada satu murid maka ia akan mengerjakan secara penuh tanggung jawab. Namun saat diberikan secara berkelompok maka tanggunng jawab terdistribusi dengan teman-temannya, maka usaha dirinya akan berkurang (Halida, 2018). Perluasan upaya mengurangi pemalasan sosial adalah dengan meningkatkan komitmen untuk sukses bersama (Halida, 2018; Kassin, Fein, & Markus, 2014). Menjadikan tingkah laku sederhana seperti gerak sosial berjarak, penggunaan masker, dan tetap berada di rumah harus dihargai dan dianggap sebagai upaya minimal yang maksimal dalam pencegahan covid 19. Kita sebagai warga di lingkungan perumahan dapat menegaskan bahwa tingkah laku tidak berkumpul adalah baik. Ini dapat dilihat pada banyak tempat ibadah yang patuh pada himbauan pemerintah. Pemerintah dan warga patut memberi apresiasi terhadap pengelola tempat ibadah yang jalankan kebijakan mengurangi berkumpul banyak orang.

Hal lain yang juga dapat diterapkan dengan memberi hukuman kepada yang tidak menjalankan himbauan atau perintah gerak sosial berjarak (Halida, 2018; Kassin, Fein, & Markus, 2014). Hal ini sudah dilakukan oleh banyak pemerintah di luar negeri seperti Arab Saudi dan Italia misalnya.  Melihat hal itu maka pemalasan sosial yang terjadi dalam masa gawat darurat ini dapat dikurangi. Individu akan merasa menjadi bagian dari upaya menghalangi penyebaran covid-19.

 

Penutup

Untuk kali ini benar, bahwa dunia bergantung pada diri kita. Diri kita berharga untuk melakukan perubahan, perubahan agar angka penderita dan kematian akibat covid 19 berkurang. Usaha ini dalam kerangka besar sosial kita adalah gotong-royong. Agar gerakan gotong-royong ini maksimal maka perlu terbangun kesadaran diri agar tidak terjebak pada pemalasan sosial. Diri ini adalah bagian dari kelompok yang patut dipertahankan dan terlalu berharga untuk hilang. Takkan ada anggota keluarga kita yang akan gugur. Karena diri ini jelas akan berkontribusi untuk selamatkan mereka. Saya adalah mereka, mereka adalah saya.

 

Referensi:

 

Hafiz, SE. (2020). Jadilah pahlawan lingkungan, isolasi diri anda untuk menyelamatkan masyarakat: Begini caranya! Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, 6(5) diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/553-jadilah-pahlawan-lingkungan-isolasi-diri-anda-untuk-menyelamatkan-masyarakat-begini-caranya

 

Halida, R. (2018). Individu dalam kelompok. Dalam Psikologi Sosial edisi kedua. Penyunting Eko A Meinarno dan Sarlito W Sarwono. Jakarta: Salemba Humanika.  

 

Kassin, S., Fein, S., Markus, HR. (2014). Social psychology. Wadsworth Cengage Learning. Belmont.

 

Meinarno, EA. (2020). Psikologi Sosial untuk Hadapi Covid 19. Dalam proses penerbitan.

 

Meinarno, EA., Putri, MA., Fairuziana. (2019). Isu-isu kebangsaan dalam ranah psikologi Indonesia. Penyunting Subhan El Hafiz dan Eko A Meinarno. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Nuqul, FL., Ningrum, ARM. (2020). Social Distancing: Kebutuhan kontrol personal untuk kesehatan Kolektif. Buletin Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, 6(5) diakses dari https://buletin.k-pin.org/index.php/daftar-artikel/552-social-distancing-kebutuhan-kontrol-personal-untuk-kesehatan-kolektif

 

Umam, ZK. (2020, Maret 10). Korona, antara sains dan agama. Jakarta: Kompas.