ISSN 2477-1686

 

Vol.6 No. 01 Januari 2020

Resiliensi Keluarga Bukan Hanya untuk

Keluarga dengan Masalah Berat

 

Oleh

Melok Roro Kinanthi

Fakultas Psikologi, Universitas YARSI  

Konsep resiliensi keluarga erat kaitannya dengen keluarga yang sedang alami situasi menekan atau krisis. Hal ini terlihat dari sebagian besar topik riset resiliensi keluarga yang menjadikan keluarga rentan (vulnerable family) sebagai partisipan penelitian, seperti keluarga dengan anak berkebutuhan khusus (Maulidia, Kinanthi, Fitria, Permata, 2018), keluarga miskin (Wadsworth & Santiago, 2008), keluarga penyintas bencana alam (Fasa, 2019), dan keluarga dengan masalah kesehatan berat (Greeff & Wenworth, 2009; Hsiao dkk, 2016). Selain itu, definisi resiliensi keluarga yang dikemukakan sejumlah ahli, juga menggandeng frasa “situasi menekan” atau “krisis”. Sebagai contoh, Mc Cubbin dan Mc Cubbin (dalam Nichols, 2013) mendefinisikan resiliensi keluarga sebagai kompetensi dan pola perilaku positif yang dilakukan keluarga saat mengalami situasi menekan. Definisi lainnya dari resiliensi keluarga adalah kapasitas yang dimiliki keluarga untuk memantul (bangkit kembali) dari situasi menekan, untuk menjadi lebih kuat dan berdaya. Definisi inilah yang kemudian membuat konsep resiliensi keluarga “seolah-olah” hanya berlaku bagi keluarga yang sedang mengalami masalah berat. 

Meskipun secara konseptual berakar dari teori stres atau krisis, konsep resiliensi keluarga juga dapat diaplikasi dalam situasi sehari-hari. Definisi resiliensi keluarga yang lebih netral dikemukakan oleh Walsh (2013), yakni bagaimana keluarga beradaptasi dan melakukan coping, termasuk saat menghadapi stres sehari-hari, transisi kehidupan, dan perkembangan. Dengan menjadi resilien, keluarga dapat menjadi lebih berdaya, menjalankan fungsinya dengan baik, dan meningkatkan kesehatan mental anggota-anggota di dalamnya. 

Keluarga yang Baik-baik Saja Juga Mengalami Stres

Tekanan dalam hidup bukan hanya dialami oleh keluarga dengan karakteristik khusus (seperti keluarga yang bercerai, yang mengalami gangguan kesehatan berat, yang miskin, dan sebagainya). Tekanan atau stres juga dapat dialami oleh keluarga yang baik-baik saja. Misalnya, stres dengan kadar ringan terjadi saat tiba-tiba asisten rumah tangga harus pulang kampung di saat kita sedang membutuhkan bantuannya. Anggota keluarga perlu beradaptasi dengan situasi ini. Si kakak yang biasanya tinggal memakai seragam sekolah karena sudah disetrika, kini harus menyetrika sendiri; Ayah yang biasanya langsung berangkat kerja, sekarang harus membantu Ibu menyiapkan bekal untuk si kecil yang masih TK,dan sebagainya.  Jika keluarga tidak segera menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi, maka stres yang semula memiliki kadar ringan ini bisa berubah menjadi stres dengan kadar yang lebih berat, apalagi jika sudah sangat mempengaruhi dinamika kehidupan keluarga. Resiliensi keluarga diperlukan agar keluarga dapat mengelola stres ringan ini supaya tidak menjadi berat atau tidak mengganggu fungsi sehari-hari. 

Setiap Tahap Perkembangan Keluarga, Ada Sumber Stresnya

Sama halnya dengan individu, keluarga juga mengalami sejumlah tahap perkembangan. Pada setiap tahapannya, keluarga akan dihadapkan pada tugas atau tuntutan perkembangan (Duvall & Miller, 1985), yang bisa menjadi tekanan tersendiri. Sebagai contoh, pada tahap transisi menjadi orang tua, kehadiran anak akan membentuk “hubungan baru” yang sebelumnya tidak ada: orang tua – anak dan kakek/nenek – cucu. Selain itu, adanya anak juga akan mengubah interaksi suami dengan istri (Cowan & Cowan, 2012). Masing-masing anggota keluarga harus beradaptasi dengan hubungan baru ini. Contoh lainnya, ketika keluarga memiliki anak usia remaja, orang tua perlu mendefinisikan kembali hubungan antara orang tua dengan anak yang tidak akan sepenuhnya sama dengan ketika anak masih berusia kanak-kanak (Mc Goldrick & Shibusawa, 2012). 

Keluarga harus saling bekerja sama dan menyesuaikan diri dalam rangka melaksanakan tugas-tugas perkembangan tersebut secara optimal. Ketidakmampuan dalam memenuhi tugas perkembangan dengan optimal mengakibatkan terganggunya fungsi keluarga dan dinamika hubungan antar anggota keluarga. Dengan menjadi resilien, tekanan yang mungkin dirasakan keluarga saat menghadapi berbagai tugas perkembangan tersebut akan dianggap sebagai tantangan, bukan sebagai hal yang merusak. Selain itu, resiliensi juga memungkinkan keluarga untuk memanfaatkan potensi atau sumber daya yang dimilikinya untuk memenuhi tuntutan perkembangan di setiap tahapnya. Keluarga yang resilien dapat membangun komunikasi yang terbuka dan hangat antar anggota keluarga, sehingga memudahkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan peran-peran baru yang harus disandang di tiap tahap perkembangan. Ketika ada masalah yang timbul saat transisi dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan selanjutnya, keluarga yang resilien mampu memecahkan masalah tersebut secara kolaboratif dengan curah gagasan dan evaluasi kesalahan di masa lalu. 

Referensi:

 

Cowan, P.A., & Cowan, P.P. (2012). Normative family transition, couple relationship  quality, and healthy child development. Dalam F. Walsh (Ed). Normal Family Process: Growing Diversity and Complexity.(pp.428-451).New York: The Guilford Press.

 

Duvall, E.M., & Miller, B.C. (1985). Marriage and Family Development. New York: Harper & Row Publisher.

 

Fasa, R.Z.M. (2019). Resiliensi keluarga korban bencana longsor di kecamatan Cimenyan kabupaten Bandung. Jurnal Mimbar Kesejahteraan Sosial, 2, 1-11.

 

Hsiao, F.H., Jow, G.M., Kuo, W.H., Yang, P.S., Lam, B., Chang, K.J., Lee, J.J., Huang, C.S., Lai, Y.M., Chen, Y.T., Liu, Y.F., Chang, C.H. (2016). The long term effect of mindfulness added to family resilience oriented couples support group on psychological well being and cortisol responses in breast cancer survivors and their partners. Mindfulness, 7, 1365-1376.

 

Greeff, A.P., & Wensworth, A. (2009). Resilience in families that have experienced heart related trauma. Current Psychology, 28, 302-314.

Maulidia, F.N., Kinanthi, M.R., Fitria, N., & Permata, A.S. (2018).Peran koherensi terhadap kelentingan keluarga yang memiliki anak dengan spektrum autistik. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konseling, 11(1), 13-24.

 

Mc Goldrick, M., & Shibusawa, T. (2012). The family life cycle. Dalam F. Walsh (Ed). Normal Family Process: Growing Diversity and Complexity.(pp.375-398).New York: The Guilford Press.

 

Nichols, W.C. (2013). Roads to understanding family resilience: 1920s to the twenty-first century. Dalam D.C. Becvar (Ed). Handbook of Family Resilience. (pp.3-16). London: Springer.

 

Wadsworth, M.E., & Santiago, C.D.C (2008). Risk and resiliency process in ethnically diverse families in poverty. Journal of Family Psychology, 22(3), 399-410.

 

Walsh, F.(2013). Applying a family resilience framework in training, practice, and research: mastering the art of possible. Family Process, 55(4), 616-632.