ISSN 2477-1686  

   Vol.5 No. 12 Juni 2019 

 

Hambatan Belajar: Kemalasan vs Kesulitan Belajar

Oleh

Krishervina Rani Lidiawati

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

 

Banyak orang tua yang memiliki konsep bahwa kesulitan belajar adalah jika terjadi kesenjangan antara prestasi akademik dan kapasitas kemampuan belajar anak. Beberapa anak mengalami kesulitan belajar bukan karena kapasitas belajar anak yang kurang mampu, namun anak mengalami gangguan secara pemusatan perhatian pada tingkat tertentu atau dikarenakan kemalasan. Namun kali ini kita ingin memahami bahwa ada anak-anak yang memang mengalami kesulitan belajar bukan karena tidak memiliki dorongan untuk belajar saja, tetapi dikarenakan mereka mengalami ketidakmampuan dalam belajar yang dikenal dengan learning disability (LD). Beberapa faktor yang membuat anak mengalami kesulitan belajar seperti faktor genetik, kerusakan otak dan permasalahan pada waktu kehamilan. Anak-anak dengan learning disability (LD) dapat memiliki intelegensi umum rata-rata dan bahkan di atas rata-rata (Sattler, 2002). Ada anak-anak tertentu yang memang kurang memiliki motivasi belajar dari dirinya sendiri atau mungkin juga cara pengajaran guru yang kurang efektif dan menarik, sehingga membuat anak kurang menyukai belajar dan membuat kesulitan belajar sebagai justifikasi. Tentu pernyataan tersebut kurang tepat dalam pembenaran kemalasan atau kurang adanya motivasi belajar anak. Lalu bagaimana cara mengenali anak kurang motivasi belajar dengan anak yang mengalami learning disability (LD)  ?

 

Learning Disability (LD)

Learning Disability  yang dapat diartikan kesulitan belajar yang di alami oleh anak karena ketidakmampuan anak dalam beberapa area tanpa disertai gangguan lain. LD biasa terjadi pada anak dan tingkat keparahan yang bervariasi. Contohnya pada anak dengan kesulitan membaca juga akan mengalami gangguan pemusatan perhatian pada tingkat tertentu (Santrock, 2018; Sattler, 2002).

 

Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) mendefinisikan specific learning disability atau kesulitan belajar spesifik, yang kemudian disingkat dengan SLD sebagai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologikal termasuk pemahaman atau penggunaan bahasa, berbicara atau menulis, gangguan yang termanifestasi pada kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau melakukan kalkulasi matematika (Friends, 2006). Sementara itu, The National Joint Committee for Learning Disabilities (NJCLD) mendefinisikan kesulitan belajar sebagai istilah umum terkait dengan sekelompok variasi atau berbagai gangguan. Heterogenitas gangguan ini dimanifestasikan pada kesulitan yang signifikan dalam menggunakan dan memperoleh berbagai kemampuan, seperti mendengar, berbicara, membaca, menulis atau matematika (Friends, 2006).

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa Learning Disability (LD) merupakan kesulitan dalam belajar dalam memahami atau menggunakan baik bahasa secara lisan atau pun tertulis, mereka akan mengalami kesulitan dalam mendengarkan, berpikir, mengeja -membaca, menulis dan berhitung (matematika). Namun klasifikasi kesulitan belajar bukan karena akibat ketidakmampuan anak dalam melihat, mendengar atau ketidakmampuan secara motorik, bahkan gangguan emosi, keterbelakangan mental bukan pula karena faktor budaya atau ekonomi rendah.

 

Dalam hal ini, sesulitan belajar hanya pada area belajar dan tidak diikuti didiagnosa lain. Kesulitan belajar ini terjadi sepanjang hidup dan memiliki dampak pada prestasi akademik yang buruk. Kesulitan belajar banyak terjadi pada tiga area yaitu kesulitan membaca, menulis dan berhitung. Yang pertama, kesulitan membaca dengan istilah dyslexia yaitu kesulitan atau ketidakmampuan mengenal huruf, anak tidak dapat menyambung suku kata. Dyslexia merupakan kesulitan dalam mengartikan, membaca dan pemahaman terhadap teks bacaan yang sifatnya komprehensif. Beberapa tanda-tanda awal disleksia yang disebabkan oleh genetik, diantaranya telat bicara, artikulasi tidak jelas, dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi-bunyi huruf, binggung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan memegang alat tulis dengan baik dan kesulitan dalam menerima informasi. Penderita disleksia biasanya mengalami masalah-masalah, seperti hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Kesulitan ini termasuk dalam memahami bagaimana suara dan huruf alphabeth dapat di bentuk menjadi satu kata dan termasuk dalam memahami isi dari bacaan (comprehension). Kesulitan membaca ini bervariasi, tingkat keparahan dalam membaca dan mengeja yang dimulai sejak kanak-kanak hingga dewasa (Mash & Wollfe, 2013; Santrock, 2018).

 

Kedua, kesulitan menghitung (Diskalkulia), yaitu kesulitan melaksanakan tugas-tugas berhitung dan gangguan yang berhubungan dengan pemahaman dan penerapan konsep-konsep matematika. Dari penelitian di Amerika diperoleh hasil bahwa banyak siswa kelas 3-4 dan 5-6 SD mengalami kesulitan dengan bilangan pecahan, desimal, persen, dan pengukuran. Kondisi ini disebabkan siswa kurang memahami arti simbol, salah menghitung atau menentukan hasil akhir dari suatu hitungan (Mash & Wollfe, 2013; Santrock, 2018). Kesulitan belajar yang ketiga adalah kesulitan dalam menulis (Dysgraphia), dalam hal ini anak menulis dengan lambat dan sulit terbaca serta kerap kali melakukan kesalahan dalam penulisan. Ketiga kesulitan belajar ini kerap ditemukan pada anak-anak dan dianggap biasa saja sehingga kurang mendapat penanganan lebih lanjut. Padahal jika dapat di deteksi sejak dini, maka akan dapat diberikan treatment yang tepat dan sesuai kesulitannya (Mash & Wollfe, 2013; Santrock, 2018).

 

Hal ini berbeda dengan anak yang memiliki motivasi belajar rendah bukan karena kesulitan belajar. Motivasi belajar dapat dipengaruhi dari diri sendiri ataupun dari luar diri anak seperti perlakukan orang tua, cara pengajaran guru yang kurang efektif, ataupun faktor lingkungan yang kurang mendukung untuk belajar. Oleh karena itu, sebagai orang tua atau pendidik perlu bijak dalam membedakan sikap anak dalam belajar apakah dikarenakan motivasi belajar atau mereka mengalami kesulitan belajar secara spesifik, sehingga tidak dengan mudah memberikan label tanpa ada penanganan lebih lanjut. Deteksi dini lebih memungkinkan treatment yang tepat, sehingga perkembangan anak lebih sesuai kapasitas dan anak lebih mampu mengatasi hambatan belajar yang dialami sesuai dengan penyebabnya.

 

Referensi:

Friends, M. (2006). Special Education; Contemporary perspectives for school professionals. New York: Pearson.

 

Mash, E.J & Wolfe, D,A. (2013). Abnormal child psychology. USA: Cengage Learning.

 

Santrock, J.W. (2018). Educational psychology (6th edition). New York: Mc-GrawHill.

 

Sattler, J.M. (2002). Assesment of children (4th edition). San Diego: Jerrome M. Sattler Publisher.

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh