ISSN 2477-1686  

 

   Vol.5 No. 12 Juni 2019

Perempuan Memulai PDKT: Kenapa Harus Takut?

 

Oleh

Adhisty Triandini, Juliana Irmayanti Saragih dan Ridhoi Meilona Purba

Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara

 

 

Hubungan romantis merupakan salah satu bentuk dari hubungan intim yang didasari oleh rasa saling keterbukaan yang intim dan ditandai dengan pengekspresian perasaan serta perilaku seksual yang telah diantisipasi (Collins & Sroufe, 1999). Proses pembentukan hubungan romantis bisa dijelaskan dari berbagai teori, salah satunya dari fase pertama yang dikemukakan oleh Knapp dan Vangelisti (2005) yaitu coming together phase dalam teori mereka: Relational Development Model. Pada fase ini, pembentukan hubungan dijelaskan dalam 5 (lima) tahapan yaitu,

a.    Initiating, merupakan saat pertama kali seseorang melakukan kontak pertama atau memulai sebuah interaksi untuk pertama kalinya dengan orang;

b.    Experimenting, adalah tahap saat seseorang berusaha menjadi lebih kenal satu sama lain;

c.    Intensifying adalah tahap ketiga, yaitu saat seseorang mulai mengekspresikan perasaannya baik secara verbal dan non-verbal;

d.    Integrating, tahap ketika kepribadian  seseorang seolah sudah melebur menjadi satu dengan pasangannya;

e.    Bonding, adalah tahap saat dua orang telah berkomitmen (berpacaran, bertunangan, menikah) dan memamerkan hubungan mereka ke orang-orang sekitar sebagai tanda hubungan mereka yang eksklusif.

 

Di Indonesia, coming together phase ini dikenal sebagai masa pendekatan (atau sering disingkat PDKT). Masa-masa PDKT, bagi perempuan Indonesia sering menjadi masa yang berat dan emosional. Banyak wanita yang berpendapat bahwa untuk memulai sebuah hubungan, laki-laki lah yang harus bertindak lebih dulu. Pandangan tersebut membatasi wanita untuk bergerak dalam mendekati pria yang mereka sukai. Wanita lebih cenderung menunggu untuk diajak mengobrol atau menunggu diberikan kabar daripada untuk memulainya terlebih dahulu. Tidak jarang, mereka harus menelan kecewa ketika pria yang mereka suka tidak bertindak seperti yang mereka harapkan.

 

Hal tersebut tidak terlepas dari stereotip gender yang terbentuk dalam masyarakat. Perilaku yang sama, jika dilakukan oleh pria bisa dianggap sebagai perilaku ‘ambisius’ dan ‘go-getting’, sementara pada wanita dianggap memaksa dan agresif (Myers & Myers, 1992). Senada dengan hal tersebut, Ömür dan Büyükşahin-Sunal (2015) juga mengakui bahwa dalam banyak kelompok masyarakat, laki-laki memainkan peran besar dalam memulai sebuah hubungan. Menurut McDaniel (dalam Ömür & Büyükşahin-Sunal, 2015) peran tradisional pria dalam memulai sebuah hubungan membuat wanita bisa meminimalisir risiko penolakan. Sebaiknya wanita pasif, menggunakan taktik mendapatkan pasangan yaitu taktik ‘jual mahal’ (di dunia barat dikenal sebagai playing hard-to-get). Taktik ini merupakan taktik mendapatkan pasangan yang mengharuskan seseorang berpura-pura memberikan kesan kepada orang lain bahwa ia tidak tertarik pada orang tersebut dalam rangka membuat orang tersebut lebih tertarik (Jonason & Li, 2013).

 

Meskipun begitu, banyak juga wanita yang mulai mencoba untuk memecahkan stereotip dan mengabaikan taktik ‘jual mahal’ dengan mengambil langkah memulai hubungan terlebih dahulu. Mongeau, Hale, Johnson, and Hillis  (dalam Shumaker, 2010) menemukan bahwa 90% wanita mengajak kencan pria dan bahkan 83% diantaranya adalah kencan pertama. Sementara itu, Wilkins & Gareis (dalam Harrison & Shortall, 2011) juga menemukan bahwa lebih banyak wanita yang mengatakan ‘I Love You’ daripada pria.

 

Lalu bagaimana harusnya seorang wanita bertindak dalam masa PDKT? Berbagai penelitian sudah banyak yang menemukan ketidakefektifan strategi pasif dan ‘jual-mahal’. Strategi Hard-to-get bukanlah strategi yang efektif untuk meningkatkan status seseorang  (Walster & Walster, 1971). Jika seorang wanita atau pria jual mahal, maka perasaan ingin dan suka pada orang yang sedang mendekatinya akan menurun (Dai, Dong, & Jia, 2013). Ömür & Büyükşahin-Sunal (2015) menemukan bahwa baik wanita dan pria sama-sama menginginkan lawan jenisnya yang lebih asertif, sehingga dapat mengurangi perasaan terancam dan kecemasan akan ditolak yang mereka rasakan. Knapp dan Vangelisti (2005) juga menggungkapkan bahwa jika ada interaksi positif setiap hari dengan seseorang yang baru, maka pergerakan hubungan akan menjadi lebih cepat dari pada interaksi yang dilakukan mingguan atau bulanan. Hubungan akan lebih lambat ketika hanya ada seseorang yang ingin membawa maju hubungan mereka.

 

Terus menunggu atau mulai berjuang itu adalah pilihan setiap wanita. Namun, harus diingat bahwa sebuah hubungan itu bersifat resiprokal atau timbal balik. Hubungan tidak akan meningkat jika hanya ada satu orang yang berjuang. Ditolak mungkin menakutkan, tetapi berjuang juga tidak akan merugikan.

 

 

Referensi:

 

Collins, W. A., & Sroufe, L. A. (1999). Capacity for intimate relationship. In W. Furman, B. B. Brown, & C. Feiring, The development of romantic relationships in adolescence (Eds.). Cambridge University Press.

 

Dai, X., Dong, P., & Jia, J. (2013). When does playing hard to get increase romantic attraction? Journal of experimental psychology. Diakses pada 11 Desember, 2017, dari Researchgate.net: https://www.researchgate.net/publication/236738208_When_Does_Playing_Hard_to_Get_Increase_Romantic_Attraction.

 

Jonason, P. K., & Li, N. P. (2013). Playing Hard-to-Get: Manipulating one's perceived availability as a mate. European Journal of Personality, 27(5), 458-459. Diakses pada 11 Desember 2017 dari Online Library Willey: http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/per.1881/full?restartSession=true.

 

Knapp, M. L., & Vangelisti, A. L. (2005). Relationship stages: A communication persepctive . Diakses pada 19 Desember, 2017, dari Seagull: https://scholar.google.co.id/scholar?q=relationship+stages+a+communication+perspective&hl=id&as_sdt=0&as_vis=1&oi=scholart&sa=X&ved=0ahUKEwi6ptHz3JTYAhUDKZQKHfSNBGIQgQMIJTAA.

 

Myers, G. E., & Myers, M. T. (1992). The dynamics of human communicatin: A laboratory approach. New York: McGraw-Hill, Inc.

 

Ömür, M., & Büyükşahin-Sunal, A. (2015). Preferred strategies for female and male initiators. Journal of Educational and Social Research, 5, 195-201. Diakses pada 11 Desember 2017 dari http://www.mcser.org/journal/index.php/jesr/article/view/6323.

 

Shumaker, E. (2010). Gender and personaliy: Differences in date initiation preferences. Adavances in Communication Theory and research, 3.

 

Harrison, M. A., & Shortall, J. (2011). Women and men in love: who really feels it and says it first? The Journal of Social Psychology. Diakses pada 07 September dari researchgate.net.

 

Walster, E., & Walster, G. W. (1971). The efficacy of playing Hard-To-Get. The Journal of Experimental Education, 39(3), 73-77. Diakses pada 11 Desember 2017 dari tandfonline.com: http://www.tandfonline.com/doi/ref/10.1080/00220973.1971.11011270?scroll=top.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh