ISSN 2477-1686

 Vol.5 No. 2 Januari 2019

Dear Mantan: Aku Memaafkanmu 

Oleh

Frida Medina Hayuputri

Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Dalam menjalin hubungan, hampir semua pasangan memiliki keinginan untuk meraih kebahagiaan. Namun seiring berjalannya waktu, terkadang kenyataan hidup tidak bisa sepenuhnya berjalan sesuai keinginan. Kondisi-kondisi yang saling bertentangan di antara pasangan, sehingga tidak terhindarkan untuk berbuat salah kepada satu sama lain. Sehingga muncul rasa tersakiti dalam diri masing-masing. Rasa tersakiti tersebut biasanya sulit dihilangkan, meskipun kita dan pasangan akhirnya memilih jalan untuk berpisah (mengakhiri hubungan). 

Ketidakmauan Memaafkan (Unforgiveness)

Pengertian unforgiveness adalah sikap tidak memaafkan dan masih menyimpan dendam (Arif, 2016). Bentuk dari unforgiveness bisa berupa pembalasan setimpal kepada orang yang pernah menyakiti kita, atau justru berusaha keras untuk menghindarinya dengan memutus tali relasi dan “membuang jauh-jauh” dari kehidupan kita.

Sebenarnya, semakin membenci seseorang maka kita akan semakin terikat secara emosional dengannya, sehingga rasa sakit itu tetap ada meskipun tidak disadari. Sakit emosional yang tidak disadari lebih berbahaya dibandingkan yang disadari, karena banyak energi psikologis terbuang sehingga bisa mengurangi vitalitas dan kreativitas serta mengganggu kesehatan fisik dan mental (Arif, 2016).

Memaafkan (Forgiveness)

Pengertian forgiveness adalah berkurangnya keinginan untuk menghindari orang yang pernah menyakiti, dan berkurangnya keinginan untuk melukai atau membalas dendam padanya, melalui cara berbelas kasih (compassion) dan keinginan untuk bertindak secara positif kepada orang tersebut (McCullough, 2000). 

Pada kenyataannya, forgiveness sulit untuk dilakukan. Karena manusia lebih mendahulukan prinsip keadilan daripada memaafkan, contohnya seperti pada semboyan “nyawa dibalas nyawa” yang artinya jika ada orang menyakiti kita, maka demi keadilan, ia harus mendapat balasan yang setimpal. Namun, setelah keadilan ditegakkan, biasanya kita tidak otomatis mendapat rasa kedamaian di hati, dan luka hati juga tidak langsung sembuh ketika melihat pelaku mendapat balasan.

Memaafkan “Mantan”

“Mantan” adalah orang yang pernah sangat dekat dan bermakna bagi kita. Semakin seseorang itu dekat dan bermakna bagi kita, maka akan semakin berpotensi untuk menyakiti, dikarenakan realita yang biasanya tidak sejalan dengan ekspektasi.

Banyak orang setelah mengakhiri hubungan, memilih bermusuhan dengan “mantan”, karena sulit untuk memaafkan kesalahannya. Hal ini sebenarnya membawa dampak buruk bagi diri sendiri, yaitu bisa mengganggu kesehatan fisik dan mental. Unforgiveness dapat mengganggu fungsi hormon tubuh, menghambat respons tubuh dalam mengatasi bakteri, infeksi dan berbagai gangguan kesehatan (Harris & Thoresen, 2005). Selain itu, unforgiveness juga membawa pada konflik psikologis dan emosi negatif (Worthington  & Wade, 1999).

Sedangkan jika kita memilih untuk memaafkan “mantan”, banyak dampak positif yang akan terjadi pada diri kita, yaitu dampak positif bagi kesehatan, tingkat stres menjadi lebih rendah, sikap bermusuhan (hostility) juga ikut berkurang. Forgiveness juga berkaitan erat dengan kebahagiaan (Tsang, McCullough,  & Fincham, 2006).

Langkah-langkah Memaafkan “Mantan”

Memaafkan “mantan” merupakan langkah penting bagi kita, karena jika tidak memaafkan, selamanya kita akan mengalami derita akibat peristiwa yang menyakitkan, kehilangan rasa damai, menjadi pribadi yang pahit dan penuh konflik internal.

Berikut ini merupakan langkah-langkah memaafkan “mantan”:

1. Mulai berpikir tentang berbagai situasi dan latar belakang yang menjadi penyebab “mantan” menyakiti kita, termasuk masa kecilnya, luka batinnya di masa lalu, serta tekanan-tekanan hidup yang dialaminya. Cobalah untuk memahami “mantan” dengan berpikir objektif, dan berupaya untuk menemukan penjelasan yang empatik dan rasional yang dapat menjelaskan mengapa ia menyakiti kita.

2. Jika kita sudah mulai memahami alasan perbuatan “mantan”, rasakan apakah kita bisa merasa bersimpati dengan tulus dan berbuat baik kepadanya. Jika belum bisa, jangan memaksakan diri.

3. Memandang pengalaman pahit itu dengan cara yang baru, yaitu dengan mencoba menemukan makna, hikmah, dan tujuan yang lebih baik dalam hidup kita.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kita tidak perlu terus menerus menyimpan dendam kepada “mantan”, karena akan berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental. Sebaiknya kita segera move on. Maafkan dan ikhlaskan dia. Tunjukkan bahwa hidup kita menjadi jauh lebih baik dan sukses tanpa dia, karena ada quote yang mengatakan bahwa “di balik orang sukses, ada mantan yang menyesal”.

Referensi

Arif, I. S. (2016). Psikologi positif: pendekatan saintifik menuju kebahagiaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Harris, A. H. S, & Thoresen, C. E. (2005). Forgiveness, unforgiveness, health, and disease. New York: Taylor & Francis Group.

McCullough, M. E. (2000). Forgiveness as human strength. Journal of Social and Clinical Psychology, 19, (1), 43.

Tsang, J., McCullough, M. E., & Fincham, F. (2006). The longitudinal association between forgiveness and relationship closeness and commitment. Journal of Social and Clinical Psychology, 25, 448-472.

Worthington, E. L. Jr, & Wade, N. G. (1999). The social psychology of unforgiveness and forgiveness and implications for clinical practice. Journal of Social and Clinical Psychology, 18, 385–418.