ISSN 2477-1686

Vol.4. No.8, April 2018

Kesiapan dan Kontribusi Psikologi untuk

Revolusi Industri 4.0

Oleh:

Eko A Meinarno

PIC Modul dan Buku K-PIN

Jika pada abad XVIII kita mengenal Revolusi Industri, maka saat ini Indonesia mengalami apa yang disebut sebagai Revolusi Industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 ini adalah Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif (https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0, April 2018). Sungguh lompatan jauh ke depan (merujuk Mao Ze Dong, 1893-1976), bahkan bisa jadi akan jatuh terseok-seok jika gagal. 

Hal yang menarik bukan masalah tentang definisi yang disampaikan, yang lebih penting bagaimana kesiapan manusianya dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ini? Pada awalnya teknologi dibuat untuk membantu manusia atau manusia tuan dari alat. Namun perlahan teknologi menjadi mitra (ingat film Doraemon?) dan bahkan menjadi tuan atas manusia (film I robot dan The Matrix). Tanda-tanda perlunya kesiapan manusia menghadapi revolusi ini ketika salah satunya adalah kecanggihan komputer melawan manusia dalam permainan catur (Deep Blue vs Kasparov). Tentu kita tidak terbawa dalam konteks pertempuran teknologi lawan manusia. Yang akan kita kaji adalah kesiapan manusia dalam memasuki revolusi industri 4.0.

Untuk menghadapi revolusi ini Kemenristekdikti tampaknya tidak tinggal diam. Melalui menterinya Mohamad Nasir menjelaskan ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan dilaksanakan oleh Kemenristekdikti untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0, yaitu (https://ristekdikti.go.id/pengembangan-iptek-dan-pendidikan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/, April 2018):

  1. Persiapan sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, technological literacy and human literacy.
  2. Rekonstruksi kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University, seperti sistem perkuliahan jarak jauh, sehingga mengurangi intensitas pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi yang berkualitas.
  3. Persiapan sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang responsif, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan, riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan, riset, dan inovasi.
  4. Terobosan dalam riset dan pengembangan yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset dan pengembangan di Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang, LPNK, Industri, dan Masyarakat
  5. Terobosan inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas industri dan meningkatkan perusahaan pemula berbasis teknologi.

Melihat kelima elemen yang disampaikan menteri, penulis melihat dan menduga bahwa yang dapat langsung diperhatikan dan bahkan dikaji adalah poin pertama sampai ketiga. Ketiga elemen ini dapat dilakukan langsung secara mikro di dalam lingkungan kelas para pengajar/dosen.

Kesiapan orang Indonesia

Bagi penulis, kesiapan psikologi bukan fokus pada teknologinya. Teknologi dipastikan segera datang. Namun akankah orang yang mengendalikannya siap mental berhadapan dengan teknologinya? Ada tiga hal yang perlu diperhatikan bagi para pengkaji psikologi bahwa saat ini untuk menghadapi (atau menjalani) revolusi industi 4.0. Pertama kesiapan orangnya, kedua situasi pelakunya, dan yang ketiga persiapan untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Pertama kesiapan orangnya. Jauh sebelum tema ini muncul salah satu bait dari lagu Indonesia Raya menuliskan “…bangunlah jiwanya …..”. Psikolog Sosial Sarlito W Sarwono (1987) mengajukan faktor sikap dalam menghadapi teknologi maju. “Jiwa” dan sikap adalah bagian dari individu. Menurut Sarwono, sikap adalah pangkal dari penyesuaian diri. Sikap potensi utama dari perilaku (Sarwono, 1987). Dalam sikap ini ada aspek kognitif, afeksi, dan psikomotor yang nantinya akan mengarahkan sikap individu pada teknologi yang kemudian berpotensi menjadi perilaku yang tertuju pada teknologinya. Merujuk pada tiga elemen dari kemenristekdikti maka kesiapan individu menjadi hal penting untuk elemen satu dan tiga.

Kedua situasi pelakunya selain teknologinya, manusia Indonesia tengah memasuki generasi phi (p). Generasi ini adalah yang lahir tahun 1989-2000 (Faisal, 2017). Menurut Faisal generasi ini bercirikan independen, dengan tidak masuk dalam organisasi lama yang mapan lpeas dari indoktrinasi. Stress tinggi karena tekanan dan persaingan ketat. Perubahan infrastruktur yang tidak memadai speerti kurangnya ruang publik (tidak heran jika kemudian stress). Interaksi digital yang sangat lekat (media sosial via gawai). Dan yang terakhir aspirasi ideologis yang bebas diekspresikan. Pemahaman terhadap generasi baru ini penting karena di masa mendatang merekalah yang menjalani masa revolusi ini, baik itu menentang, mendukung atau bahkan melampauinya. Faktor generasi ini menjadi bagian yang penting dari elemen satu dan dua dari elemen pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0

Ketiga persiapan untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Bentuknya adalah mempersiapkan generasi baru ini untuk hidup di masa revolusi industri 4.0 ini. Sebagai pengajar atau dosen pernahkah kita memberikan perhatian khusus pada rancangan ajar kita (minimal diri penulis jika tidak semua orang)? Kemungkinan besar mayoritas dari kita mendesain pengajaran sebatas capaian pokok bahasan atau sebatas “sampai tingkatan taksonomi Bloom yang tepat, sesuai jenjangnya”. Menurut penulis justru pada bagian ini yang esensi untuk merancang kesiapan mahasiswa yang berkarakter generasi p tadi. Sebagai contoh jika pada umumnya untuk pendidikan sarjana taksonominya adalah C4 (menganalisis). Maka yang diharapkan adalah bukan sarjana hanya mencapai tingkat itu, tapi ia siap untuk menghadapi tingkat taksonomi berikutnya yakni C5 (menilai).

Dalam konteks revolusi industri 4.0 ini, mahasiswa saat lulus menjadi sarjana dengan tingkatan kognitif C4 (menganalisis) tidak pasif. Ia berhadapan dengan dunia yang menuntutnya siap untuk lebih maju. Bukan sekedar maju teknologinya, tapi siap untuk menilai apa kelemahan dan keunggulan saat ini. Dengan demikian peran sebuah rancangan mata ajar yang kita jalankan/ampu tidak sebatas pada ruang kelas dan untuk kesarjanaan, kemagisteran, dan kedoktoran saja. Rancangan ajar didesain untuk kesiapan mental memasuki dunia nyata, baik itu dunia industri (jasa dan produk) juga dunia akademik/ilmiah. Hal ketiga inilah yang patut dipertimbangkan oleh para pengajar/dosen untuk menjalankan tiga elemen pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa di era Revolusi Industri 4.0 secara serentak.

Referensi

Faisal, M. (2017). Generasi Phi p: Memahami milenial pengubah Indonesia. Republika Penerbit. Jakarta. 

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0, April 2018.

 

https://ristekdikti.go.id/pengembangan-iptek-dan-pendidikan-tinggi-di-era-revolusi-industri-4-0/, April 2018.

Sarwono, S.W. (1987). Kesiapan masyarakat Indonesia dalam menghadapi teknologi tinggi dalam masalah-masalah kemasyarakatan di Indonesia. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta

  

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh