ISSN 2477-1686

Vol.4. No.8, April 2018

Media Asosial, Sebuah Dikotomi:

Koneksi atau Isolasi?

Oleh:

Muchamad Salamun Abdul Rahman

Universitas Negeri Jakarta

Juara III Lomba PsychoPaper Psychology Village 9

 

Ketika berjalan di suatu taman, seberapa banyakkah anda menemukan orang yang tertunduk pada smartphone-nya? Ketika di dalam angkutan umum, apakah anda menemukan penumpang yang tidak saling kenal tengah  membuka percakapan satu sama lain? Atau malah mereka hanya diam terpaku pada layar gadget-nya sepanjang perjalanan? Jika fenomena ini menjadi suguhan keseharian Anda, maka selamat datang di tahun 2018, sebuah era modernisasi dengan kemajuan teknologi yang masif. 

Salah satu implikasi besar dari kemajuan teknologi adalah lahirnya media sosial. Media sosial saat ini merajai internet sebagai konten yang paling sering diakses netizen (Internet Citizen). Tercatat 97,4 persen orang Indonesia mengakses akun media sosial saat mengunakan internet (Sugiharto, 2016) 

Terkesan menggelitik rasanya mengetikkan kata “media sosial” saat penulis cenderung merasa lebih tepat menyebutnya “media asosial”. Media sosial dewasa  ini seperti sebuah belati yang memiliki dua sisi yang paradoksial. Konstrukif atau destrukif sifatnya ditentukan oleh kita sebagai pengguna dalam menyikapinya.

Media sosial yang semakin hari semakin canggih, konstruktifnya, tentu telah membawa berbagai macam kemudahan kepada manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan hanya menyediakan layanan komunikasi yang cepat dan super praktis, kini media sosial juga sudah dialihfungsikan pada berbagai keperluan seperti bisnis, pendidikan dan sumber informasi. Media sosial kini mendobrak batas komunikasi yang semula terpisah jarak dan waktu. Berkatnya, kita dapat berkomunikasi kapanpun, dimanapun, dan dengan siapapun. Kegiatan belajar-mengajar juga semakin canggih dengan adanya kelas-kelas online, memungkinkan akses pendidikan yang semakin mudah. Bisnis yang dilakukan secara online juga merupakan pangsa pasar paling laris pada era ini, lapangan pekerjaanpun makin tersedia. Dan sebagai sumber informasi, media sosial tentu telah menjadi salah satu rujukan masyarakat karena kepraktisannya.

Di lain sisi, media sosial seolah menjadi belati yang tajam. Terasa banyak keuntungan, menghadirkan berbagai kemudahan, namun membunuh secara perlahan. Tajam belati ini perlahan mengikis sisi psikologis manusia, menjauhkan manusia dari sisi kemanusiaannya sendiri. Manusia memang semakin mudah untuk menjalin koneksi dengan manusia lain, ya, namun bukan manusia “sungguhan” melainkan manusia “dunia maya”. Sebuah hubungan yang minim interaksi nyata, sebuah koneksi yang menciptakan isolasi. Fenomena ini sejalan dengan pendapat Erich Fromm yang menyatakan dalam tesisnya bahwa manusia modern telah mengalami pemisahan (alienation) dari alam dan juga dengan manusia satu sama lain (dalam Feist, 2013). Alienasi ini menyebabkan manusia merasakan kecemasan dasar, sebuah perasaan kesendirian dan isolasi. Rollo May (dalam Feist, 2013), seorang tokoh psikologi eksistensial, memiliki pendapat yang senada dengan Fromm. Tepat rasanya mengatakan bahwa manusia zaman sekarang mulai menjauh dari dunia Mitwelt, sebuah dunia interaksi sosial kita dengan sesama manusia. Tanpa hubungan sosial yang baik dengan sesama, manusia akan kehilangan eksistensinya di dunia. Kondisi yang menumpulkan asas keberadaan manusia, teknologi yang cenderung mendehumanisasi.

Media sosial juga merupakan wadah yang penuh kebohongan dan sarat akan penipuan diri sendiri. Kita berusaha menampilkan sisi baik kita disana seperti memasang wajah termanis kita dalam foto profil Facebook, menulis caption penuh motivasi, dan lain-lain. Semua upaya tersebut tidak lebih untuk mencari self worth. Kita berupaya menunjukkan kesan sempurna kepada khalayak yang secara tak sadar hal ini akan semakin menjauhkan kita dari diri kita yang sebenarnya. Sebuah fenomena yang disebut Carl Rogers (dalam Feist, 2013) sebagai inkongruensi, suatu kondisi dimana konsep diri (real self) kita berbeda dengan perilaku yang kita munculkan (ideal self). Suatu upaya pemolesan kesempurnaan diri yang berujung pada penyimpangan yang semakin ekstrem antara ideal self dan real self. Kita melihat di Instagram tentang gaya berpakaian musisi idola kita, kehidupan pernikahan yang sempurna dari artis idaman kita dan melihat suguhan barang-barang bermerek serta masa liburan kawan kita yang serba mewah. Potongan-potongan ideal self inilah yang secara alam bawah sadar, kita rangkaikan satu persatu dan melekatkannya kepada diri kita. Sebuah langkah tak sadar untuk menguatkan ego kita yang lemah dan terancam oleh superioritas orang lain.

Media sosial juga merupakan wahana empuk dalam perkembangbiakan sifat-sifat patologis dalam jiwa kita. Seseorang yang terlalu sering menggunakan  media sosial akan merasakan isolasi dalam dirinya. Terlalu sering terkungkung dalam lingkup pertemanan maya, menyebabkan dirinya sendirian di dunia nyata. Hal ini akan memicu stres dan mengantarkan manusia pada gerbang depresi. Lebih jauh lagi, orang seperti ini kadang mencari bantuan dengan menyalahgunakan internet yang berujung pada situs-situs berisiko seperti situs pornografi, situs-situs yang mengarah pada penyalahgunaan narkoba atau situs pertemanan online yang berisiko pada terorisme dan tindak anarkis. Efek negatif dari isolasi akibat media sosial cenderung bergulir seperti bola salju, menimbulkan bahaya-bahaya lain baik secara  psikologis maupun perilaku.

Intensitas yang berlebih dalam penggunaan media sosial juga dapat mengarahkan individu pada kecenderungan Obsesif Kompulsif, kecenderungan untuk memikirkan dan melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Misalnya ketika kita mengunggah sesuatu di Instagram, segera setelahnya mungkin akan terbesit dalam benak kita “adakah komentar, atau like pada postingan fotoku?” Atau saat sedang asyik chatting dengan teman, lalu tiba-tiba kita harus pergi untuk melakukan sesuatu. Saat itu pikiran obsesif sering  muncul, suatu kecenderungan pikiran yang berulang-ulang seperti “apakah dia membalas pesanku?” atau “bagaimana ya responnya atas pesanku?” Segera setelah urusan kita selesai, kita langsung menyambar ponsel dan melihat notification yang ada. Suatu kecenderungan obsesif kompulsif yang berulang-ulang dan tanpa sadar telah kita kembangbiakkan sendiri.

Oleh karena itu, dengan melihat semua dampak negatif dari penggunaan media sosial pada sisi psikologis, hendaknya kita makin giat untuk mengurangi penggunaannya. Setelah itu kita dapat berbagi pengetahuan dan saling mengajak kepada lingkungan di sekeliling kita agar mengurangi konsumsi media sosial dan mengalihkan energi kita pada aktivitas fisik yang bermanfaat seperti olahraga dan menjalin hubungan interpersonal yang hangat dengan teman-teman kita.

Kita dapat melakukan aksi sederhana seperti membuat komitmen ketika berkumpul bersama teman untuk mengumpulkan semua smartphone. Cukup menikmati keberadaan teman-teman kita, banyak bercerita, menjalin afeksi yang semula terkubur isolasi. Saling melempar kehangatan tanpa keinginan untuk menjadi sorotan. Cukup menjadi diri kita sendiri dengan segala kekurangan dan kelebihan diri.

Pemerintah juga harus lebih menentukan sikap terhadap isu psikologis rakyat. Pemerintah harus sadar bahwa dibutuhkan power yang besar, yang hanya berada di tangannya-lah sebuah kebijakan dapat muncul untuk menyelamatkan rakyat dari bahaya kemajuan teknologi seperti media sosial. Pemerintah dapat menerapkan kebijakan misalnya, saat di sekolah mulai dari SD –SMA dilarang menggunakan handphonenya. Handphone hanya dibawa untuk dititipkan pada pihak sekolah sebagai antisipasi apabila ada informasi penting dari keluarga. Kebijakan ini merupakan solusi yang jitu, mengingat sejumlah  penelitian mengemukakan bahwa angka depresi banyak diderita oleh remaja dan dewasa awal. Biarlah sekolah menjadi ajang siswa mengasah sisi kemanusiaannya. Berinteraksi dengan teman sebaya, mendapat ilmu dari guru, serta bermain dengan bebas tanpa intervensi gadget sedikitpun. Penulis percaya kegiatan ini dapat meningkatkan well-being siswa yang secara jangka panjang akan menurunkan angka gangguan psikologis di Indonesia.

Selain itu, kita juga harus memberikan perlawanan dari dalam media sosial itu sendiri. Buatlah media sosial justru menjadi wadah untuk menggiatkan gerakan mengurangi penggunaannya. Pemerintah melalui Kementrian Kesehatan RI dapat memberikan iklan layanan masyarakat secara masif melalui media sosial tentang isu kesehatan mental di Indonesia seperti ajakan untuk menggiatkan olahraga dan berinteraksi secara sosial. Penulis percaya dengan adanya gerakan simultan tiap komponen negeri ini, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menangkal sisi gelap kemajuan teknologi namun tetap menyesap manis akan manfaaatnya.

Teknologi memang sebuah takdir yang seakan tidak dapat dihindari. Media sosial, sebagai peranakan majunya teknologi makin unjuk gigi dalam modernisasi. Dikotomi besar makin menjadi, koneksi atau isolasi-kah yang kita rasakan atas hal ini? Kita tidak akan terlepas dari dikotomi ini, namun minimal kita sadar bahwa ada isu besar disini. Mari cerdas dalam hidup di era modernisasi, lebih mengkritik teknologi dan senantiasa merekatkan humanisasi. Mari bahu membahu merenungkan sejenak isu ini. Matikan smartphone-mu, keluar rumahlah, bakar kalorimu, carilah teman, tertawalah bersamanya. Jadilah manusia sesungguhnya.

Referensi

Feist, Feist & Roberts. (2013). Theories of Personality (8 ed.). Singapore: Mc Graw-Hill Internatiional Edition.

Sugiharto, Agung. (2016). Pengguna Internet di Indonesia Didominasi Anak Muda. from https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20161024161722-185-167570/pengguna-internet-di-indonesia-didominasi-anak-muda

 

 

 

Comments   

0 #1 hi 2018-05-30 04:57
Hmm it appears like your site ate my first comment (it was extremely long) so I guess I'll just sum it up what I had written and say, I'm thoroughly
enjoying your blog. I as well am an aspiring blog writer but I'm still new
to the whole thing. Do you have any points for rookie blog writers?
I'd really appreciate it.
Quote

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh