ISSN 2477-1686

Vol.4. No.5, Maret 2018

Skema Kognitif yang Keliru pada Penderita Gangguan Hipokondriasis

Oleh

Mori Vurqaniati

Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI 

Di dalam kehidupan sehari-hari, individu kerap dihadapkan pada berbagai masalah, konflik, tekanan, kehilangan secara mendadak, kesedihan yang mendalam serta proses penerimaan terhadap kenyataan yang sangat sulit. Tak jarang masalah-masalah tersebut kemudian menimbulkan reaksi yang di interpretasikan terdapat masalah pada tubuh (fisik). Secara jelas mungkin kita pernah bertemu atau mengenal orang yang kerap mengeluhkan sejumlah gejala-gejala di tubuhnya namun saat dilakukan pemeriksaan medis ternyata tubuhnya dalam kondisi yang tidak mengalami masalah, sehingga tak jarang individu tersebut berkali-kali mengujungi dokter untuk mendapatkan jawaban atas pemikirannya terkait dengan masalah pada tubuhnya.

Penelitian terakhir melaporkan 4 sampai 6 % laki-laki dan wanita sama-sama berpotensi terkena gangguan hipokondriasis. Onset paling sering usia 20 dan 30 tahun (Kaplan, 2010). Artinya individu dengan gangguan hipokondriasis menyakini atau memiliki ketakutan jika mereka memiliki penyakit yang serius. Misalnya, sakit perut yang biasanya terjadi selama satu hari dapat membuat wanita dengan hipokondriasis merasa cemas jika sakitnya telah berkembang menjadi penyakit kanker perut (Halgin, 2010). 

Gambaran Klinis Penderita Gangguan Hipokondriasis

Penderita hipokondriasis yakin bahwa mereka menderita penyakit yang parah yang belum dapat dideteksi. Keyakinan tersebut menetap walaupun hasil laboratorium negatif. Preokupasi penderita menyebabkan masalah secara personal, sosial, dan pekerjaan (Kaplan, 2010). Hipokondriasis tidak melibatkan disfungsi tubuh yang ekstrem namun penderita hipokondriasis keliru dalam menafsirkan atau membesar-besarkan permasalahan normal yang terjadi pada tubuhnya. Penderita hipokondriasis sangat panik dan sensitif terhadap simtom fisik, seperti sedikit perubahan detak jantung dan nyeri (Nevid, 2005). Individu tersebut juga cenderung memusatkan perhatian pada informasi yang membenarkan kekhawatirannya dan mengabaikan fakta diagnosis sesungguhnya. Selain itu, penderita hipokondriasis terkait dengan trait kepribadian neurosis, karena itu mereka sering kali marah dan tidak sabar pada saat mereka merasa kekhawatiran mereka tidak ditanggapi dengan serius (Halgin, 2010). 

 

Kriteria Diagnostik untuk penderita Hipokondriasis menurut DSM-IV 

Kriteria-kriteria diagnostik penderita Hipokondriasis menurut DSM-IV adalah:

  1. Preokupasi ketakutan menderita, atau ia menderita suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru terhadap gejala-gejala tubuh.
  2. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penenteraman.
  3. Keyakinan kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti pada gangguan delusional, tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh)
  4. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
  5. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
  6. Preokupasi tidak dapat diterangkan oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

 

Dengan tilikan buruk: Jika selama episode terakhir, penderita tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius berlebihan atau tidak beralasan.

Etiologi Gangguan Hipokondriasis

Skema kognitif/berfikir yang keliru (kesalahan menginterpretasikan gejala tubuh) yang berbasis pada teori perilaku mengungkapkan adanya keinginan untuk menghindari kewajiban (terutama pada orang yang sedang mengalami masalah berat). Selain itu, skema ini berhubungan juga dengan gangguan depresi dan kecemasan, serta sudut pandang psikodinamika menyatakan permusuhan terhadap orang lain di repres dan dialihkan kepada keluhan fisik. Kekecewaan, penolakan, dan kehilangan di masa lalu juga terkait, namun pasien mengeskpresikan pada saat ini dengan meminta pertolongan dan perhatian dari orang lain. Hipokondriasis juga dipandang sebagai bentuk mekanisme pertahanan dari rasa bersalah, ekspresi harga diri yang rendah dan self-concern yang berlebihan (Kaplan, 2010).

Terapi untuk Pasien Hipokondriasis

Terapi cognitive-behavior/CBT dan me-restrukturisasi pemikiran pesimis penderita hipokondriasis, mengatur strategi perhatian penderita hipokondriasis terhadap simtom-simtom fisik, tidak mendorong penderita hipokondriasis mencari kepastian medis secara terus-menerus, serta dukungan eksternal juga dibutuhkan baik dari keluarga maupun lingkungan sosial.

Referensi

Halgin, R.P., & Whitebourne, S.K (2010). Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis Pada Gangguan Psikologis. Salemba Humanika: Jakarta. 

Kaplan, H.I., Sadock, B.K., & Grebb, J.A (2010). Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Erlangga: Jakarta

             Kriteria Diagnostik DSM IV-TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV Text Revision). American Psychiatric Association.

 

Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene, B (2005). Psikologi Abnormal. Erlangga: Jakarta

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh