ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 65 September 2026
Kerja atau Bertahan? Stres yang Diam-Diam Dihadapi Generasi Z di Dunia Kerja Modern
Oleh:
Merry Christina Sinaga, Nikmah Ramadhani, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana
“Capek sih, tapi ya tetap harus bertahan”
Kalimat ini mungkin sering terdengar, atau bahkan kita sendiri yang merasakannya. Kalimat sederhana ini sering kali menggambarkan apa yang dirasakan banyak Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja. Baru memulai, namun sudah merasa lelah terhadap berbagai tuntutan yang dihadapinya.
Tuntutan untuk cepat beradaptasi, cepat tanggap dengan segala tugas yang diberi, selalu produktif, serta mampu mengikuti ritme kerja yang cepat membuat tekanan terasa semakin berat. Meskipun dari luarnya terlihat baik-baik saja, tapi tidak sedikit yang sebenarnya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.
Dunia kerja modern memang menawarkan banyak peluang, tetapi sekaligus membawa dinamika tekanan yang semakin kompleks dan sering kali diabaikan.
Ketika Harapan Tidak Berjalan Sesuai dengan Realita
Setelah melalui masa sekolah dan perkuliahan, Generasi Z mulai memasuki dunia kerja dengan semangat dan harapan besar. Mereka memiliki harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak serta menemukan makna dalam pekerjaan yang dijalani. Namun, realita yang dihadapinya tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi tersebut. Di balik semangat besar tersebut, tidak sedikit yang ternyata merasa kewalahan di awal. Bukan karena tidak adanya daya juang, namun karena tuntutan yang dihadapi jauh lebih kompleks dari yang terlihat di luarnya.
Sayangnya, Generasi Z masih sering disalahpahami. Mereka sering dianggap terlalu sensitif ataupun lemah terhadap tekanan. Padahal, generasi ini tumbuh di tengah berbagai perubahan besar, mulai dari adanya pandemi, ketidakpastian ekonomi, hingga arus informasi yang terus menerus diterima. Kondisi tersebut justru membuat mereka lebih sadar akan kesehatan mentalnya dan lebih berani mengakui ketika mereka merasakan tidak baik-baik saja.
Mengapa Generasi Z Lebih Mudah Mengalami Stres
Untuk memahami fenomena ini, artikel ini menggunakan kerangka Job Demands-Resources (JD-R) Model, yaitu model yang menjelaskan bahwa stres kerja dan kelelahan muncul ketika tuntutan pekerjaan terus meningkat sementara sumber daya yang dimiliki karyawan seperti dukungan atasan, otonomi, dan kesempatan berkembang tidak mencukupi. Sebagaimana dijelaskan oleh Saputra dan Adetya (2024), beban kerja yang berlebihan secara langsung meningkatkan beban psikologis karyawan, terutama ketika berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai. Penelitian menunjukkan bahwa beban kerja yang berlebihan berhubungan langsung dengan meningkatnya stres, kecemasan, serta kelelahan emosional pada karyawan Gen Z (Hapiti et al., 2025). Kondisi ini menjadi berat ketika tuntutan tersebut berlangsung secara terus-menerus tanpa adanya dukungan yang memadai.
Menariknya, kondisi ini tidak dialami secara merata oleh tiap individu. Tidak semua individu merespons tekanan dengan cara yang sama. Salah satu faktor yang membedakan adalah motivasi kerja. Individu dengan motivasi kerja yang tinggi cenderung lebih tahan banting saat menghadapi tekanan, bahkan dalam situasi yang kompleks (Djalil et al., 2025). Misalnya bagi mereka yang memilih kuliah sambil bekerja. Bayangkan harus memenuhi deadline tugas kampus sekaligus target kantor setiap harinya. Selain itu, keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi juga menjadi faktor penting. Penelitian menunjukkan bahwa work-life balance yang baik dapat membantu menurunkan tingkat stres sekaligus meningkatkan kinerja karyawan (Nasution et al., 2024).
Namun ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian, yaitu lingkungan kerja. Bagi Gen Z, lingkungan kerja bukan sekadar soal meja yang ergonomis, atau koneksi internet yang cepat. Lebih dari itu, mereka sangat peduli pada atmosfer tempat mereka bekerja, apakah ada ruang untuk berpendapat, dan apakah ada dukungan nyata dari rekan kerja maupun atasan. Ketika lingkungan terasa kompetitif secara tidak sehat, tingkat stres mereka bisa melonjak dengan cepat. Penelitian mencatat bahwa lingkungan kerja yang tidak kondusif menjadi salah satu penyebab utama gangguan mental pada karyawan muda (Wahyuningrum & Khan, 2023).
Dampak yang Tidak Bisa Diabaikan
Stres kerja yang tidak diperhatikan dengan baik tidak hanya berakibat buruk pada individu, namun juga pada organisasi. Dari sisi individu, stres dapat menyebabkan kelelahan, penurunan motivasi, hingga menimbulkan gangguan mental. Pada jangka panjangnya, kondisi tersebut dapat menimbulkan kurangnya rasa percaya diri dan kepuasan pada pekerjaan.
Sementara itu, dari sisi organisasi, dampaknya terlihat dari kurangnya produktivitas, meningkatnya absensi, hingga tingginya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan. Penelitian menunjukkan bahwa stres kerja memiliki pengaruh rendahnya loyalitas pada karyawan Generasi Z (Syafira et al., 2025). Padahal, keputusan tersebut seringkali bukan karena kurangnya komitmen, namun karena mereka tidak menemukan lingkungan kerja yang cukup aman untuk bertahan.
Kerja atau Bertahan?
Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung mendahulukan pekerjaan di atas segalanya, Gen Z memandang keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan dasar. Penelitian membuktikan bahwa karyawan Gen Z yang berhasil menjaga keseimbangan ini tidak hanya lebih produktif dan kreatif, tapi juga lebih loyal artinya, work-life balance adalah pondasi produktivitas, bukan musuhnya. Dari sisi organisasi, perubahan perlu dimulai dari cara kerja dan gaya kepemimpinan. Evaluasi beban kerja perlu dilakukan secara rutin dan jujur. Budaya komunikasi yang terbuka perlu dibangun secara aktif, di mana karyawan tidak takut bersuara ketika merasa kewalahan.
Gen Z merespons dengan jauh lebih baik terhadap pemimpin transformasional. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian (Bantam et al., 2024), gaya kepemimpinan transformasional yang efektif untuk generasi Z adalah pemimpin yang mampu menjadi standar moral yang baik, mendorong pemikiran kreatif, memberikan perhatian yang tulus kepada anggota tim, dan mampu memberikan semangat optimisme. Pemimpin seperti ini menciptakan apa yang dikenal sebagai psychological safety, yaitu kondisi di mana karyawan tidak takut salah, tidak takut bertanya, dan tidak takut untuk jujur soal batas kemampuan mereka. Sebagaimana diuraikan oleh Uguy et al (2024), Keamanan psikologis ini terbukti menjadi pondasi penting dalam membangun iklim kerja yang produktif dan inovatif.
Di sisi lain, Generasi Z juga memiliki peran dalam mengelola stres yang mereka alami. Mengenali tanda-tanda stres sejak dini adalah yang paling penting. Membangun batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, belajar mengatakan tidak ketika kapasitas sudah penuh, serta tidak segan mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan. Perubahan tidak harus dimulai dari hal yang besar. Cukup dari pemimpin yang mau benar-benar hadir, perusahaan yang mau mengevaluasi diri, dan Generasi Z yang mau jujur tentang batas kemampuannya. Ketika semua pihak bergerak ke arah yang sama, lingkungan kerja yang sehat bukan lagi sesuatu yang mustahil. Pada akhirnya, dunia kerja tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk bertahan. Ia seharusnya menjadi ruang untuk berkembang. Hal tersebut hanya dapat terwujud ketika individu dan organisasi sama-sama bersedia untuk berubah.
Referensi:
Bantam, D. J., Shiddiq, M. A., & Putra, A. W. (2024). Gambaran gaya kepemimpinan transformasional yang efektif untuk memimpin Generasi Z. Jurnal Harmoni Nusa Bangsa, 1(2), 156–170. https://doi.org/10.47256/jhnb.v1i2.399
Djalil, R., Rafif, M., Nuristbeathi, N., Maheswari, D., & Azzahro, I. S. (2025). Analisis gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan Generasi Z pada industri teknologi informasi. PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, 4(5), 7610–7618. https://doi.org/10.56799/peshum.v4i5.11191
Hapiti, D. R., Dara, D., & Handaru, A. W. (2025). Pengaruh beban kerja dan lingkungan kerja terhadap gangguan kesehatan mental karyawan Generasi Z. Journal Social Society, 5(2), 1048–1059. https://doi.org/10.30605/jss.5.2.2025.828
Nasution, S. R. B., Dharmanto, A., & Dewi, N. K. (2024). Pengaruh work-life balance dan stres kerja terhadap kinerja karyawan Generasi Z. Jurnal Riset dan Inovasi Manajemen, 2(3), 90–101. https://doi.org/10.59581/jrim-widyakarya.v2i3.4043
Saputra, F., & Adetya, S. (2024). Hubungan beban kerja dengan stres kerja karyawan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 12(2C), 12–25. https://jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/download/13762/9608
Syafira, N., & Rahmah, D. D. N. (2025). Pengaruh stres kerja terhadap loyalitas karyawan pada karyawan Generasi Z Kota Samarinda. JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi) 11(4), 2648–2657. https://doi.org/10.35870/jemsi.v11i4.4427
Uguy, C. A. F., Sinaga, Z. V., Fitri, N. K., Ardiningrum, N. A., & Mangundjaya, W. L. (2024). Peran keamanan psikologis (psychological safety) terhadap pengembangan inovasi. Jurnal Komunikasi dan Ilmu Sosial, 2(4), 170–179. https://doi.org/10.38035/jkis.v2i4.1521
Wahyuningrum, E., & Khan, R. B. F. (2023). Pengaruh stres kerja terhadap turnover intention dengan kepuasan kerja sebagai mediasi pada Generasi Z di DKI Jakarta. Jurnal E-Bis: Ekonomi-Bisnis, 7(1), 486–499. https://doi.org/10.37339/e-bis.v7i2.1236
