ISSN 2477-1686

Vol.3. No.10, Oktober 2017

Life Skills Untuk Atlet Di Indonesia 

Clara Moningka 

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

Persiapan menjadi Seorang Atlet

Menjadi atlet bukanlah profesi yang mudah. Kita seringkali melihat bagaimana seorang atlet berjuang dan mengerahkan tenaganya untuk memenangkan sebuah pertandingan. Tidak jarang usaha tersebut berujung dengan kekalahan. Soerdjoatmodjo, Kaihatu, Moningka, dan Angkawijaya (2017) melakukan penelitian pada atlet bulu tangkis di suatu klub ternama di Indonesia. Pada penelitian tersebut diidentifikasi bahwa atlet; khususnya atlet remaja kerap mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan hidupnya. Apa yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana mereka mempersiapkan diri, menang dan menjadi juara dunia. Impian yang indah, namun kalau kita pikirkan kembali merupakan rencana yang panjang dan belum tentu dapat diwujudkan. Kita dapat melihat berapa banyak atlet yang dapat menang dan dapat mempertahankan karirnya. Para atlet yang luar biasa ini merupakan atlet yan memang memiliki kemampuan di atas rata-rata; tidak hanya dari segi fisik, namun juga dari dari segi mental. Rudi Hartono, atlet legendaris bulu tangkis Indonesia merupakan salah satu atlet yang luar biasa dalam hal prestasi dan mental.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa Rudi harus menjalani latihan yang sulit dengan fasilitas yang tidak sebaik saat ini. Tidak jarang ia harus menghadapi kekalahan. Kecemasan juga kerap harus dihadapi saat bertanding, namun mental juara didukung stamina yang mumpuni membuat ia berhasil menjadi juara berkali-kali. Saat ini sangat sulit untuk mendapatkan gelar juara berkali-kali seperti Rudi Hartono. Memang bukanlah sesuatu yang tidak mungkin; namun persaingan yang semakin ketat juga perlu diperhitungkan. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana kehidupan para atlet ketika mereka telah melewati usia produktif; atau bahkan cenderung gagal menjadi atlet? Memang benar bahwa seorang atlet dipersipakan untuk menjadi juara. Namun bagaimana bila memang tidak? Apa yang harus mereka lakukan.

Hasil wawancara dengan atlet bulu tangkis remaja mengidentifikasikan bahwa atlet remaja saat ini cenderung tidak memikirkan alternatif masa depan lain selain sebagai atlet. Hal ini cukup mengkhawatirkan karena tidak semua atlet pada akhirnya akan berhasil. Pada saat menghadapi kekalahan terus menerus akhirnya mereka merasa kebingungan terlebih dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus keluar dari asrama dan meninggalkan klubnya. Bagi individu yang mampu secara ekonomi mereka dapat melanjutkan sekolah atau memilih alternatif karir, lain halnya dengan individu dengan status ekonomi sosial yang rendah. Tidak jarang mereka merasa stres; bahkan depresi. Impian mereka lenyap begitu saja. Pada kenyataannya perlu mempersiapkan atlet tersebut untuk menjadi individu yang mampu menghadapi kegagalan dan kehidupannya. Mereka perlu dibekali life skills.

 Life Skills untuk Para Atlet

Menurut UNICEF, life skills atau keterampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif. Keterampilan ini meliputi keterampilan kognitif (learning to know), yaitu memecahkan masalah dan berpikir kritis. Dalam hal ini individu perlu melakukan evaluasi terhadap dampak terhadap masa depannya berdasarkan apa yang dilakukan saat ini dan siap untuk berbagai kemungkinan. Pada dasarnya impian menjadi juara dan meyakini bahwa bisa menjadi juara adalah hal yang positif. Namun perlu mempersiapkan alternatif atau pilihan lain. Dalam hal ini atlet juga perlu menyadari bahwa ada atlet yang lebih baik dari dirinya dan ada kemungkinan bahwa ia akan mengalami kegagalan. Perlu adanya informasi yang relevan mengenai alternatif-alternatif masa depan mereka.

Keterampilan lain yang perlu dimiliki kemampuan personal (learning to be) dimana individu mampu membangun kepercayaan diri dan juga sadar akan kekuatan dan kelemahannya. Individu juga seharusnya mampu untuk mengelola perasaaan; termasuk bagaimana menghadapi kegagalan, hinaan, dan berbagai hal yang tidak diinginkan. Individu dengan kemampuan personal yang baik mampu berpikir positif dan dapat melakukan coping stress. Hal lain yang termasuk life skills adalah bagaimana individu dapat hidup berdampingan dengan orang lain (learning to live together), meliputi keterampilan komunikasi interpersonal, asertivitas, kemampuan berempati, kerjasama dan kemampuan advokasi (bagaimana individu mampu mempersuasi; membangun jejaring sosial dan memotivasi).

Berkaitan dengan keterampilan hidup untuk para atlet, perlu adanya pendidikan yang berbasis pada keterampilan hidup. Di Asrama, atlet cenderung mendapatkan pelatihan untuk menambah keterampilan mereka dalam olahraga. Pendidikan secara formal jelas akan berbeda dengan sekolah pada umumnya. Tujuan yang ditetapkan adalah menang atau berprestasi dan bukan mendapatkan nilai pelajaran yang cemerlang. Pendidikan yang mereka peroleh pada dasarnya harus berbasis life skills.

Metode ini pada dasarnya adalah dengan memasukkan materi life skills pada pelatihan atau pada pendidikan yang diberikan. Siswa, dalam hal ini atlet dapat diajak berperan serta untuk memahami keadaan atau situasi yang akan mereka alami. Dalam hal ini siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan namun juga keterampilan psikososial termasuk kesiapan dan bagaimana merencanakan perilaku mereka selanjutnya ketika mereka dihadapkan pada kegagalan (kekalahan, didegradasi/dikeluarkan, dan lain sebagainya). Dalam hal ini kegagalan dapat diberi arti yang positif. Atlet pada dasarnya harus menyadari bahwa kegagalan merupakan umpan balik bagi mereka. Kegagalan dapat membuat individu memetakan kekuatan dan kelemahannya, sehingga pada akhinya dapat membuat strategi mengenai apa yang akan dilakukan pada kesempatan berikutnya; kegagalan merupakan hal yang harus dilalui untuk berkembang. Atlet kerap tidak menyadari bahwa kekalahan atau kegagalan menjadi atlet dapat membuka kesempatan baru bagi mereka untuk mengembangkan potensi lainnya.

Referensi

Soerjoatmodjo, G. W. L., Kaihatu, V., Moningka, C., Angkawijaya, Y.F. (2017). Identifikasi asesmen dan peningkatan kapasitas sang juara pada atlet Jaya Raya. Widyakala4(1).

https://www.unicef.org/lifeskills/index_7308.html

 

 

 

 

 

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh