ISSN 2477-1686

Vol.3. No.6, Juni 2017

Suicidal Ideation: Titik Kritis Hilangnya Makna Hidup

Pradipta Christy Pratiwi

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Haparan (UPH)

 

Akhir-akhir ini, masyarakat dikejutkan dengan beberapa kasus bunuh diri. Dari sekian kasus yang terjadi, bahkan terdapat sebuah kasus bunuh diri dimana pelaku bunuh diri secara terang-terangan merekam detik-detik bunuh dirinya di media sosial. Benny Prawira Siauw, seorang aktivis komunitas pemerhati kasus bunuh diri, Into the Light, (Kuwado, Maret 24, 2017) menjelaskan bahwa setidaknya terdapat 227.625 orang di Indonesia yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Hal ini diperparah dengan pemberitaan bunuh diri yang mengarah pada paparan media yang salah dan masih sangat terbatasnya akses konseling bagi mereka. Untuk memahami lebih jauh mengenai fenomena perilaku bunuh diri, kita perlu mengenali tahapan proses sebelumnya, yaitu ide bunuh diri. 

Suicide Ideation

Perilaku bunuh diri biasanya didahului dengan pikiran dan percobaan bunuh diri. Ide bunuh diri adalah pikiran-pikiran mengenai kematian diri sendiri, tingkat keparahannya sangat beragam tergantung pada seberapa spesifik perencanaan dan intensinya. Setelah itu muncul ekspektasi dan keinginan untuk melukai diri sendiri (APA, 2010). Menurut teori kognitif, cara pikir individu dan interpretasi tentang suatu kejadian akan menentukan respon emosi dan perilakunya terhadap kejadian tersebut. Sementara itu, model kognitif menekankan bahwa pikiran maladaptif dapat menyebabkan perilaku bunuh diri. Automatic thoughts dan core beliefs yang maladaptif memunculkan kecenderungan individu melakukan percobaan bunuh diri. Pikiran maladaptif yang tampak meliputi perasaan tidak berdaya, tidak dicintai, merasa tidak mampu menghadapi distres, pikiran yang tidak fleksibel, pikiran dikotomus tentang diri sendiri dan orang lain, tidak mampu memecahkan masalah sehingga bunuh diri sebagai solusinya (Berk, Henriques, Warman, Brown, & Beck, 2004). Hal tersebut menunjukkan adanya penurunan signifikansi hidup dan adanya kehampaan pada individu.

Suicidal Ideation dan Makna Hidup

Compton & Hoffman (2013) menyebutkan bahwa makna hidup memberikan suatu signifikansi hidup, artinya individu memahami pentingnya hidup yang sedang dijalani. Salah satu aspek yang dapat memberikan individu makna hidup adalah relasi dengan Tuhan. Upaya manusia dalam mencari pribadi yang kudus dan memiliki kuasa yang melampaui dirinya, hal ini disebut dengan religiusitas. Melalui religiusitas, individu memperoleh makna global yang meliputi dunia pada umumnya, kehidupan manusia serta konsep Ketuhanan. Selain itu juga memberikan pemahaman mengenai alasan mengapa sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada dirinya, dan mengingatkan individu tentang adanya harapan dalam hidup.

Beberapa penelitian dilakukan sebagai upaya memahami suicidal ideation. Taliaferro, Rienzo, Pigg, Miller, & Dodd (2010) mengeksplorasi dimensi kesejahteraan spiritual terkait dengan penurunan ide bunuh diri pada mahasiswa. Penelitian lain (Garcia-Alandete, Marco & Perez, 2014) menyebutkan bahwa adanya korelasi negatif antara makna hidup terhadap depresi, hopelessness dan resiko bunuh diri. Hal ini menunjukkan pentingnya makna hidup sebagai faktor preventif, agar individu dapat memandang hidupnya menjadi lebih positif. 

Pemerolehan Makna Hidup

Setiap individu hendaknya menciptakan makna hidupnya masing-masing (Compton & Hoffman, 2013). Enam cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh makna hidup dan tujuan hidup yaitu: berupaya untuk mengurangi diskrepansi antara situasi yang ada dan standar ideal yang dimiliki. Kedua, melayani dan mendedikasikan diri bagi kepentingan orang lain. Dengan menolong orang lain, individu akan merasa berkontribusi bagi kesejahteraan sesama sehingga memunculkan makna dan signifikansi hidup. Ketiga, melakukan sesuatu yang baru dan kreatif sehingga membuat kita menjalani hidup dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Keempat, membuka diri secara aktif terlibat terhadap segala sesuatu yang dijalani sehari-hari. Hal ini bukan berarti individu terobsesi mencari kesenangan dan menghindari kepahitan, namun kesediaan diri untuk openness to the experience. Kelima, mengevaluasi kembali hidup yang telah dijalani dan mengubah diri. Ketika individu mengalami suffering atas pengalaman tidak menyenangkan, maka hal tersebut merupakan kesempatan untuk bertransformasi baik dalam aspek spiritualitas, pertumbuhan pribadi, relasi dengan orang lain dan filosofi hidupnya. Keenam, yang terakhir, tentunya adalah pengalaman religius. Pengalaman religius yang dimaksud adalah perilaku religius, seperti partisipasi aktif dalam komunitas keagamaan dan tradisi keagamaan.

Uraian di atas diharapkan dapat membantu setiap kita untuk menolong individu yang menunjukkan pemikiran bunuh diri, dengan kembali menemukan signifikansi dan meaning hidup mereka. Hal tersebut tentunya juga akan menambah kesejahteraan psikologis mereka. Baik penanganan secara personal dan komunitas, dirasa sangat diperlukan sebagai upaya preventif terhadap fenomena ini.

Referensi:

American Psychiatric Association. (2010). Practice Guideline for the Assessment and Treatment of Patients with Suicidal Behaviors. Retrieved from:

https://psychiatryonline.org/pb/assets/raw/sitewide/practice_guidelines/guidelines/suicide.pdf

Berk, M. S., Henriques, G. R., Warman, D. M., Brown, G. K., & Beck, A. T. (2004). A cognitive therapy intervention for suicide attempters: an overview of the treatment and case examples. Cognitive and Behavioral Practice, 11, 265-277.

Compton, W. C. & Hoffman, E. (2013). Positive Psychology: The science of happiness and flourishing (2th Ed.). Wadsworth: Cengage Learning.

Kuwado, F. J. (Maret 24, 2017). Kemasan Pemberitaan Bunuh Diri yang Tak Tepat Mendorong Peniruan. Retrieved from:

http://nasional.kompas.com/read/2017/03/24/16430951/kemasan.pemberitaan.bunuh.diri.yang.tak.tepat.mendorong.peniruan. Diakses tanggal 13 April 2017.

García-Alandete, J., Marco, J. H., & Pérez, S. (2014). Predicting role of the meaning in life on depression, hopelessness, and suicide risk among Borderline Personality Disorder patients. Universitas Psychologica, 13(4), 1545-1555.

Taliaferro, L. A., Rienzo, B. A, Pigg, M., Miller, D., & Dodd, V. J. (2010). Spiritual well-being and suicidal ideation among college students. Journal of American College Health, 58 (1). http://dx.doi.org/10.3200/JACH.58.1.83-90.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh