ISSN 2477-1686

Vol.3. No.6, Juni 2017

Ekspresi Emosi dalam Bingkai Budaya 

Annisa Zahra Kawitri & Shavira Alissa

Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas YARSI

Emosi menurut Barret & Fossum merupakan hasil manifestasi dari keadaan fisiologis dan kognitif manusia, dan juga merupakan cermin dari pengaruh kultur budaya dan sistem sosial (dalam Kurniawan & Hasanat, 2010). Lebih lanjut Ekman mengemukakan enam bentuk emosi dasar (basic emotion) yaitu marah takut, sedih, bahagia, jijik, dan terkejut dan terdapat juga emosi lain seperti bingung, tak setuju, cemburu, menyesal, sedih, malu, dan lain sebagainya (dalam Sarwono, 2015). Darwin mencetuskan bahwa emosi seseorang merupakan bawaan dasar biologis dan evolusi dasar manusia yang berlaku secara universal ( dalam, Prado, Mellor, Byrne, Wilson, Xu & Liu, 2014). Pardo menjelaskan emosi yang berlaku secara universal yaitu terdiri dari senang, sedih, takut, marah, terkejut dan jijik (Prado, dalam Ekman, 1987).

Senyum Tidak Selalu Bahagia

Senyuman menjadi simbol kebahagiaan yang merupakan wujud emosi manusia. Matsumoto menyatakan bahwa adakalanya emosi diatur oleh display rule yang mengatur ekspresi emosi terkait budaya sehingga arti senyuman belum tentu sebagai wujud emosi bahagia (dalam, Prado, 2014). Secara etik, masyarakat Indonesia mengungkapkan emosi sesuai dengan konteksnya. Masyarakat Jawa memiliki ekspresi emosi yang implisit sehingga membuat persepsi orang lain dapat berbeda-beda (Kurniawan & Hasanat, 2010). Keyakinan yang dianut masyarakat Jawa jika mengekspresikan emosi secara spontan dianggap kurang sopan (Baqi, 2015). Masyarakat Jawa berbicara halus dan penuh senyuman meskipun sebenarnya senyuman tersebut disebabkan oleh emosi negatif. Masyarakat suku Jawa di Yogyakarta cenderung menyembunyikan emosi positif maupun negatif, hal ini secara emik terkait dengan prinsip rukun dan harmonis yang dianut oleh Keraton dan Sri Sultan. Oleh karena itu dianggap penting untuk melestarikan budaya Jawa. Kurniawan dan Hasanat menjelaskan tujuan dilestarikannya kebudayaan Jawa terkait ekspresi emosi adalah untuk menjaga tepa selira (tenggang rasa) yang bersifat ramah dan lembut (dalam Suseno, 2001).

Berdasarkan pengalaman penulis, keluarga selalu menanamkan nilai yang dianut secara turun-temurun untuk selalu menjaga ungkapan emosi dimana pun berada, terhadap siapapun terutama pada orang-orang yang dianggap sepuh. Selain itu diyakini bahwa tepa selira (tenggang rasa) harus dijaga dengan menyembunyikan emosi negatif untuk menciptakan suasana yang harmonis antar sesama.

Ekspresi Marah melalui Pantun

Averill; Scherer dan Tannenbaum; Wallbott dan Summerfield menjelaskan bahwa dalam konteks hubungan interpersonal emosi marah adalah emosi yang paling sering muncul (dalam Minauli dkk, 2006). Secara umum, emosi marah seringkali ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku yang berujung negatif. Miller menyatakan bahwa hal ini juga berlaku di Indonesia, yang jika dilihat dari sudut pandang etic, emosi marah ini cenderung dikaitkan dengan stereotype laki laki yang memiliki tingkat agresivitas yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang memilih untuk mengurangi atau meredakan konflik (dalam Minauli, 2006). Apabila dilihat dari beberapa kasus di berita, banyak laki-laki yang berperilaku negatif dalam mengatasi kemarahannya. Bahkan dalam beberapa kasus ekstrem ada pula yang membunuh pasangannya sebagai salah satu dari ekspresi emosi marah dan penanganan dalam meredakan emosinya.

Ternyata ekspresi kemarahan tidak selalu sama, karena laki-laki di suku Minangkabau, Sumatera Barat, cenderung memilih cara damai dalam menangani konflik atau mengekspresikan emosi kemarahannya dibandingkan kaum perempuannya (Minauli dkk, 2006). Dalam pengungkapan emosi marah, laki-laki di suku Minangkabau cenderung untuk tidak mengekspresikan bentuk kemarahannya secara langsung dan terbuka. Budaya di suku Minangkabau, ekspresi marah yang diangkapkan laki-laki biasanya dilakukan secara terselubung melalui pantun ataupun ‘pepatah-petitih’nya. Pada pandangan emic, hal ini dikarenakan adanya sistem matrilineal, di mana perempuan merupakan sosok sentral dengan derajat yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, sehingga status perempuan dipandang lebih terhormat dalam masyarakat suku Minangkabau. Latar belakang ini yang mungkin menjelaskan mengapa laki-laki Minangkabau kemudian mengekspresikan marah tidak secara terbuka, terkait dengan status sosial sebagai gender sub-ordinat, bukan dominan.

Referensi:

Baqi. S. A. (2015). Ekspresi Emosi Marah. Buletin Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 23(1), 22-30.

Kurniawan, A. P., Hasanat, N. U. (2010). Expression of emotion in three stages of development among the Javanese in Yogyakarta: a study on psychology of emotion and culture in the Javanese. Jurnal Psikologi Indonesia, Vol.7 No.1, 50-64.

Minauli, I., et al. (2006). Perbedaan Penanganan Kemarahan pada Situasi Konflik dalam Keluarga Suku Jawa, Batak dan Minangkabau. PSIKOLOGIA, Vol.2 No.1.

Prado, C., Mellor, D., Byrne, L. K., Wilson, C., Xu, X., & Liu, H. (2014). Facial emotion recognition: a cross-cultural comparison of Chinese, Chinese living in Australia, and Anglo-Australians. Motiv Emot Journal, 38, 420-428.

Sarwono, S. W. (2015). Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Add comment

Harap memberi komentar yang sesuai dengan artikel dan menggunakan bahasa yang sopan. Jika anda belum mendaftar maka komentar akan dimoderatori oleh admin.


Security code
Refresh