ISSN 2477-1686

Vol.2. No.22, November 2016

Pilih Mana, Jomblo atau Pacaran?

Lucky Kurniawan

Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta

Masa dewasa adalah masa dimana manusia sudah memiliki banyak sekali tuntutan dari mulai pendidikan, karir hingga hubungan dekat dengan seseorang. Manusia memang harus mempunyai hubungan dekat karena manusia dikodratkan untuk hidup berinterkasi satu sama lain dan tidak mungkin hidup sendiri (Aristoteles dalam Gintis, dkk., 2015), manusia juga mempunyai naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya (Soekanto, 2013).

Hubungan dekat bisa didapat dari banyak hal, dari mulai keluarga, berteman, bahkan mencari pasangan. Banyak cara yang bisa dilakukan dalam hal mencari pasangan, salah satunya adalah Pacaran. Kita sudah tidak asing lagi dengan istilah pacar ataupun berpacaran, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri Pacar artinya kekasih atau teman lawan jenis yang tetap sementara berpacaran sendiri artinya berkasih-kasih atau bercintaan. Jika ditinjau dari teori motivasi menurut Murray, manusia tersebut sedang memenuhi kebutuhan afiliasinya atau mungkin saja bisa untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti sex.

Teori Murray

Kebutuhan afiliasi dan sex adalah sebagian kecil dari 20 kebutuhan yang dirumuskan oleh Murray (Schultz & Schultz, 2011) selain itu ada 19 kebutuhan lagi seperti, kebutuhan akan kerendahan diri, kebutuhan akan prestasi, kebutuhan agresi, kebutuhan otonomi, kebutuhan penetralan, kebutuhan untuk bertahan, kebutuhan menghormati, kebutuhan mendominasi, kebutuhan untuk memperlihatkan, kebutuhan untk menghindari bahaya, kebutuhan menghindari hinaan, kebutuhan memelihara, kebutuhan mengatur, kebutuhan untuk bermain, kebutuhan untuk penolakkan, kebutuhan kesadaran, kebutuhan sex, kebutuhan untuk dibantu, dan kebutuhan untuk mengerti.

Individu yang memiliki afiliasi tinggi akan berbeda dengan individu memiliki otonomi tinggi, jika kedua individu ini berpacaran akan terjadi pertentangan dalam pemenuhan kebutuhannya. Individu yang memiliki otonomi tinggi akan cenderung ingin bebas, tidak ingin diatur sedangkan individu yang memiliki afiliasi tinggi akan cenderung menginginkan lebih banyak waktu untuk bersama dengan pasangannya. Apabila kebutuhan otonomi yang tinggi ini dibarengi dengan kebutuhan afiliasi yang tinggi maka akan timbul kecenderungan untuk mendominasi yang biasanya akan cenderung terjadi kekerasan di dalam pacaran tersebut. Namun jika kedua individu tersebut memiliki kebutuhan yang sama untuk dipenuhi dalam hubungan itu bisa saja mereka akan bersama dalam waktu yang lama.

Dari sini kita bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan mempunyai dampak, begitupun dengan pacaran. Ada beberapa orang yang berpacaran untuk memenuhi kebutuhan afiliasinya saja, ada pula untuk memenuhi kebutuhan afiliasi dan sex yang ternyata berguna untuk membuat hubungan tersebut menjadi harmonis (Fricker & Moore, 2002), bahkan ada pula yang untuk kebutuhan agresi yang menurut Guamarawati (2009) agresi yang ada dalam pacaran bisa terjadi karena ketimpangan peran antara laki-laki dan perempuan. Lalu bagaimana dengan individu yang memilih untuk men-jomblo?

Jomblo

Jomblo atau sendiri secara harfiah adalah sebutan yang digunakan untuk seseorang yang tidak punya pacar atau belum menikah. Jika kita mencari kata jomblo di Kamus Besar Bahasa Indonesia maka kita tidak akan menemukannya. Yang ada adalah kata “Jomlo” yang artinya Perempuan Tua. Menurut Badan Pusat Statistika, berdasarkan data tahun 2014 indeks kebahagiaan pada individu yang belum menikah lebih tinggi 3,78 dibanding tahun 2013 dan lebih tinggi 0,04 dari individu yang sudah menikah di tahun 2014. Mengapa bisa seperti itu?

Data tersebut diambil berdasarkan karakteristik demografi dan ekonomi. Dengan kata lain meningkatnya tingkat kebahagiaan dari tahun 2013 ke 2014 salah satunya adalah meningkatnya jumlah penduduk. Lalu indeks kebahagiaan yang hanya berbeda 0,03 antara individu yang belum menikah dengan yang sudah menikah salah satu penyebabnya adalah angka perceraian (baik itu cerai hidup ataupun mati) yang meningkat dari 2013 ke 2014 sebesar 4,49 dan 2,31. Kenapa berpengaruh, karena menurut Hetherington (dalam Santrock, 2012) perceraian membuat individu tersebut merasa kesepian, kehilangan harga diri, hinga kesulitan menjalin relasi akrab yang baru.

Dewasa dan Jomblo

Penulis sudah menjelaskan diatas bahwa di usia dewasa kita sudah memiliki banyak tuntutan, pola pikir pun sudah berubah, kita harus berpikir bagaimana caranya untuk memenuhi semua kebutuhan diri. Karena menurut Santrock (2012) banyak anak punya fantasi ideal tentang ingin jadi apa mereka ketika dewasa nanti dan ketika remaja mereka berpikir bagaimana caranya agar fantasi idealnya terwujud.

Kita bisa saja memenuhi fantasi kita yang ada saat masih kecil, tapi hidup terus berkembang dan berubah, karena manusia pasti mengalami perubahan, baik itu lambat ataupun cepat (Soekanto, 2013). Karena perubahan itu kita harus memilih tentang kebutuhan-kebutuhan apa saya yang terlebih dahulu harus kita penuhi.

Tidak masalah jika kamu single, jomblo, menikah, berpacaran, ataupun pernah merasakan perceraian. Yang menjadi masalah adalah apakah kita merasa bahagia di situasi tersebut? Itu hanya diri kita yang bisa menjawabnya.

Referensi:

Santrock. J.W. (2012). Life-span development jilid 2. Jakarta : Erlangga

Soekanto, S. (2013). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Gintis, H., Schaik V,C. & Boehm, C. 2015. Zoon Politikon The Evolutionary Origins of Human Political Systems

Schultz, D.P & Schultz, S.E. (2011). Theories of Personality (8th ed.). Florida : Wadsworth

Fricker, J. & Moore,S. 2002. “Relationship Satisfaction: The Role of Love Styles and Attachment Styles. Current Research In Social Psychology, 7 (11), 182-205.

Badan Pusat Statistik. 2015. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi (61st ed). Diunduh dari https://www.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Laporan-Bulanan-Data-Sosial-Ekonomi-Juni-2015.pdf .