ISSN 2477-1686

Vol.2. No.22, November 2016

Menikah Karena Cinta?

Yonathan Aditya Goei

Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan

Mayoritas pasangan yang menikah akan mengatakan mereka menikah karena saling mencintai. Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat pada tahun 2010 menemukan bahwa 93 % responden yang sudah menikah mengatakan cinta adalah fondasi utama dari pernikahan. Hasil yang hampir sama juga ditunjukkan oleh responden belum menikah yaitu 84%.  Hasil ini mendukung survei yang dilakukan pada tahun 1986 yang menemukan mayoritas pria dan wanita di Amerika Serikat tidak akan menikah jika tidak mencintai pasangannya, padahal pada tahun 1967, 76 % wanita dan 35 % pria bersedia menikah dengan seseorang yang tepat sekalipun tidak dicintai (Simpson, Campbell, & Berscherd, 1986). Data-data ini menunjukkan bahwa manusia semakin memandang cinta romantis sebagai alasan utama untk menikah di jaman ini. Namun dijaman dimana pasangan memiliki kebebasan untuk menentukan pasangannya dan menikah karena cinta, angka perceraian juga semakin meningkat. Oleh karena itu timbul pertanyaan apakah menikah karena cinta adalah keputusan yang tepat?

Alasan Cinta Romantis Tidak Bertahan

Aaron Beck (1989) yang dikenal sebagai Bapak Cognitive Behavioral Therapy menulis buku yang berjudul Love Is Never Enough. Dia mengatakan cinta saja tidak mampu menolong pasangan menghadapi tantangan dalam pernikahan. Bruckner (2013) dalam Has Marriage For Love Failed? menuliskan alasan yang dipakai masyarakat masa kini untuk menentang pernikahan tradisional yang tidak berdasarkan cinta justru menjadi alasan mengapa pernikahan karena cinta gagal. Jika seseorang menikah hanya karena cinta, maka jika perasaan cinta itu hilang landasan pernikahan itu juga ikut hilang. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pernikahan yang hanya berdasarkan cinta banyak menemui kegagalan.

Cinta romantis memang membuat hidup menjadi indah. Mereka yang sedang jatuh cinta bisa merasakan jantung berdebar-debar, pikiran yang tidak bisa berhenti memikirkan kekasih, perasaan bahwa segala sesuatu selain kekasih tidak berarti. Banyak film dan lagu yang menggambarkan hal ini dan banyak orang terbius karena dalam  berbagai media ini digambarkan indahnya cinta romantis dan cinta seperti ini bisa terus bertahan. Jika cinta romantis ini dapat mengharu biru perasaan manusia, lalu mengapa cinta romantis tidak dapat menjadi fondasi utama pernikahan? Salah satu jawabannya adalah karena cinta romantis tidak dapat bertahan lama.  Alasan mengapa cinta romantis tidak dapat bertahan lama dapat dilihat dari faktor-faktor yang mempengaruhi cinta romantis yaitu : fantasi, kebaruan, dan gairah.

Fantasi meningkatkan cinta romantis. Di awal hubungan pasangan masih belum terlalu mengenal pasangannya dan juga masih terbutakan oleh cinta, sehingga fantasi mereka tentang pasangan dan hubungan mereka masih tinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, pasangan juga semakin mengenal satu sama lain sehingga sedikit demi sedikit mereka semakin menyadari realitas yang sesungguhnya. Dengan semakin dapat melihat realitas, fantasi juga semakin menurun. Hal ini berarti fantasi menurun seiring dengan berjalannya waktu. Kebaruan juga membuat cinta semakin hidup dan berenergi. Manusia selalu tertarik dengan hal-hal yang baru, demikian pula halnya dengan cinta. Ketika pasangan baru menjalin hubungan, banyak hal-hal baru yang mengejutkan dan dapat membuat cinta mereka semakin berkobar. Dengan berjalannya waktu, pasangan sudah saling mengenal dan semakin sedikit hal-hal baru yang dijumpai. Oleh karena itu cinta juga dapat meredup. Hal yang sama juga terjadi pada gairah. Gairah berhubungan dengan kadar dopamine yang dihasilkan otak. Diawal relasi, otak memproduksi dopamine dalam jumlah yang banyak. Namum produksi  dopamine ini menurun setelah pasangan semakin saling mengenal. Oleh karena itu gairah juga menurun seiring dengan berjalannya waktu.  

Mengingat tiga faktor yang mempengaruhi cinta romantis menurun dengan berjalannya waktu, tidak mengherankan jika cinta romantis tidak bisa bertahan lama. Setelah beberapa saat yang biasanya antara 18 -36 bulan, seiring dengan menurunnya fantasi, kebaruan, dan gairah maka pasangan yang sedang jatuh cinta itu mulai menyadari realita sesungguhnya. Mereka mulai bisa menyadari bahwa pasangannya adalah manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Kekecewaan demi kekecewaan mulai dirasakan. Jika hal ini dibiarkan maka hubungan mereka akan berakhir seiring dengan pudarnya cinta romantis.

Karakter Adalah Penentu

Untuk mempertahankan hubungan setelah cinta romantis ini memudar, diperlukan keahlian lain dari pasangan tersebut, seperti kemampuan untuk berkompromi dan memaafkan. Berkompromi yang dimaksudkan adalah tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri tapi juga memperhatikan kepentingan pasangan. Mencoba mencari jalan tengah di tengah berbagai perbedaan pendapat, keinginan, dan tingkah laku. Di pihak lain kemauan untuk memaafkan juga sangat diperlukan. Dalam relasi dari dua orang yang tidak sempurna dan hidup di dunia yang juga tidak sempurna, perselisihan dan sakit hati tidak mungkin terhindarkan. Oleh karena itu tanpa adanya kemauan memaafkan, akan membuat sakit hati semakin bertumpuk hingga akhirnya membuat relasi sepasang kekasih berakhir.

Melalui penjelasan di atas jelaslah bahwa sekalipun banyak pasangan memulai hubungannya dengan cinta romantis yang memabukkan, tapi bukan cinta romantis yang dapat membuat hubungan sepasang kekasih bertahan lama. Karakter dari sepasang kekasihlah yang menentukan apakah hubungan mereka dapat bertahan atau tidak. Jika mereka mempunyai karakter yang baik yang antara lain ditandai dengan kemampuan untuk berkompromi dan memaafkan, besar kemungkinan hubungan mereka akan tetap harmonis.

Referensi:

Beck, A. (1988). Love is never enough. New York, NY: Harper Row

Bruckner, P. (2013). Has marriage for love failed? Malden, MA: Polity Press

Cohn, D. (2013). Love and marriage. Diunduh dari http://www.pewsocialtrends.org/2013/02/13/love-and-marriage/

Fisher, H. (2010). Why him? Why her: How to find and keep lasting love. New York, NY: Hery Holt and company

Miller, S.R. (2015). Intimate Relationships 7th ed, New York, NY: McGraw-Hill.

Simpson, J.A., Campbell, B., & Berscherd, E. (1986). The association between romantic love and marriage: Kephart (1967) twice revisited. Personality and social psychology bulletin

Tripp, P (2010). What did you expect? Reedeming the realities of marriage. Wheaton, IL: Crossway.