ISSN 2477-1686

Vol.2. No.12, Juni 2016

Guru Sosok Yang Digugu dan Ditiru

Sri W Rahmawati

Universitas Tama Jagakarsa

Sepatutnyalah guru berperan sebagai orang tua bagi anak di sekolah. Mengajarkan tentang beragam ilmu dan memperluas cakrawala pengetahuan. Mendidik dengan kasih sayang dan rasa cinta. Mencontohkan perilaku positif yang akan berdampak pada pembentukan karakter anak. Namun, bagaimana halnya bila bullying justru dilakukan oleh sosok mulia tersebut?

Contoh Kasus Bullying

CK (16 tahun) hanya bisa berdiam diri di rumah, trauma pergi ke sekolah belum hilang dari dirinya. Semuanya hanya gara-gara persoalan yang sepele. Tugas kliping yang dikerjakan sebagai pengganti ketidakhadirannya mengikuti kegiatan upacara kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus di sekolah tidak sesuai dengan keinginan guru. Tugas seharusnya dikerjakan sebanyak 8 lembar, namun CK mengerjakannya kurang dari itu. AS (42 tahun), sang guru, marah kepada CK dan menarik sambil menjambak  rambutnya,  kemudian memukul wajah sehingga bibir korban luka dan mengeluarkan darah.

Pagi yang cerah itu menjadi pagi yang berdarah. Adalah D (17 tahun) yang ditegur oleh FF (38 tahun) karena tidak menggunakan seragam batik ketika upacara hari Senin berlangsung. Merasa petuahnya diabaikan, FF memukuli D dengan kayu hingga tewas. FF yang adalah guru honorer di sekolah tersebut, diangkat oleh sekolah untuk menutupi kekurangan tenaga guru. Namun apa hendak di kata, alih-alih memberi bantuan, kini kasus tewasnya siswa tersebut menjadi panjang setelah orang tua menuntutnya ke ranah hukum.

Iklim Sekolah

Bullying di sekolah perlu dipahami terjadi dalam konteks sosial yang dinamakan setting sekolah. Program intervensi yang dilakukan Olweus (Olweus dan Limber, 2010) misalnya, mencoba mengembangkan relasi yang sehat di sekolah, yang dicirikan dengan keterlibatan secara hangat orang dewasa, aturan yang jelas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, penerapan prosedur disiplin yang jelas dan konsisten, serta terdapatnya orang dewasa (dalam hal ini guru, kepala sekolah, ataupun staf admininstrasi sekolah) sebagai role model.

Comitte for Children, lembaga yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat, sejak tahun 2002 meluncurkan program intervensi dengan nama the Steps to Respect Program. Program ini menyasar bullying dalam beberapa tingkatan. Menariknya dari program ini adalah diletakkannya tahap pertama pelaksanaan program dengan sasaran iklim sekolah sebagai tahap pertama. Di dalamnya terkandung kebijakan untuk mengatasi bullying, menumbuhkan kesadaran guru dan siswa terhadap bullying, meningkatkan tanggung jawab terhadap faktor-faktor penyebab bullying dan dukungan untuk mengembangkan tingkah laku pro sosial (Hirschstein dan Frey, 2006 dalam Summers, 2008). Di Indonesia sendiri, tak kurang gencarnya KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyerukan tindakan pencegahan terhadap bullying maupun agresivitas terhadap anak dalam berbagai program (http://www.kpai.go.id).

Pembentukan iklim sekolah yang sehat dibutuhkan untuk membuat sekolah yang aman (safe school). Pada tahun-tahun terakhir ini, terdapat kecenderungan untuk meletakkan iklim sekolah sebagai faktor yang menentukan pada terjadinya perilaku bullying di sekolah (Ma, 2002; Nansel dkk, 2001; Rolland dan Halloway, 2002, dalam Summers, 2008).  Beberapa hal  dalam iklim sekolah yang perlu dikembangkan untuk mengantisipasi terjadinya korban dalam perilaku bullying:  (a) perhatian dan penghargaan guru terhadap siswa; (b)  norma dan tujuan bersama, yaitu norma dan aturan yang ditegakkan di sekolah dan dijadikan prinsip dalam dinamika interaksi sehari-hari; serta (c) relasi antar teman sebaya, yaitu hubungan antara teman sebaya yang didasari rasa saling menghormati, menghargai, menegakkan prinsip kerja sama dan kesediaan untuk saling membantu.

Guru, Sekolah dan Teman Sebaya

Guru perlu memiliki harapan yang positif kepada siswa, agar dapat menimbulkan perasaan serupa pada diri siswa. Perhatian dan dukungan guru berupa curahan waktu yang diberikan guru untuk memahami permasalahan siswa, baik di bidang akademik, sosial maupun perkembangan emosional. Di dalamnya juga terkandung penghargaan guru terhadap progresivitas yang dicapai siswa. Sekolah perlu memiliki aturan dan norma yang jelas, yang tidak hanya sekedar jargon ataupun tag line yang ditulis dengan indahnya di etalase sekolah, namun tak berdampak. Upaya mensosilisasikan nilai-nilai sekolah ini perlu dilakukan oleh staf sekolah. Setiap warga sekolah perlu berpartisipasi dalam mendefisinikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan konkret. Contoh nilai-nilai tersebut misalnya: setiap siswa dapat belajar dengan nyaman, setiap orang harus saling menghargai dan diperlakukan secara bermartabat, anggota sekolah seperti keluarga yang saling solid, dan sebagainya. Relasi antar teman sebaya perlu dibangun dalam interaksi antar siswa. Siswa biasanya lebih banyak meluangkan waktu bersama teman sebayanya, maka relasi saling menghargai antara teman menjadi penting. Bentuk-bentuk tingkah lakunya antara lain: saling peduli, memiliki kesediaan untuk membantu, mendengarkan persoalan yang dimiliki teman, menghormati perbedaan yang terjadi di antara teman, menghargai pendapat teman, bekerja sama dengan teman (Rahmawati, Iskandar, Setiono, dan Abidin, 2014).

Tugas yang Tidak Ringan

Iklim sekolah yang sehat akan menjadi langkah preventif dalam pencegahan terbentuknya bullying di sekolah. Dengan iklim sekolah yang baik, setiap warga sekolah  memiliki rasa tanggung jawab satu sama lain, serta keterikatan emosional. Guru khususnya memiliki tugas yang tidak ringan, tidak sekedar menyampaikan materi pelajaran, tidak sekadar memenuhi tuntutan kurikulum sekolah, namun juga membentuk perilaku positif pada siswa, termasuk bersikap sabar tanpa batas ketika menemui berbagai kendala dalam penanaman sikap yang positif. Beratnya tugas guru, berbanding dengan kemuliaan yang disematkan pada profesi ini:  pahlawan tanpa tanda jasa. Yang semua upayanya dalam mengajarkan ilmu mengalir menjadi kebajikan sepanjang masa, sepanjang ilmu yang dipraktikkan oleh siswa didiknya.

Referensi:

 

Olweus, D., & Limber, S. P. (2010). Bullying in school: Evaluation and dissemination of the olweus bullying prevention program. American Journal of Orthopsychiatry, 80(1), 124-134. doi:http://dx.doi.org/10.1111/j.1939-0025.2010.01015.x

 

Rahmawati, S. W., Iskandar, Tb. Z., Setiono, K., & Abidin, Z. (2014). Sehatkah sekolah kita? Peran iklim sekolah sebagai upaya preventif pencegahan korban bullying. Prosiding Temu Ilmiah Asosiasi Psikologi Pendidikan Indonesia ke IV. Surabaya: Universitas Hang Tuah.

 

Summers, K. H. (2008). The relationship among bullying participant roles, social support, and school climate (Order No. 3335063). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (304540706). Retrieved from http://search.proquest.com/docview/304540706?accountid=17242

www.kpai.go.id

www.merdeka.com