ISSN 2477-1686

Vol.2. No.12, Juni 2016

Membangun Empati

 

Selviana

 Fakultas Psikologi, Universitas Persada Indonesia YAI

 

Pentingya Empati 

Semua orang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya seperti keluarga, teman, dan rekan sekerja yang dapat saling menolong saat seseorang mengalami kondisi yang sulit dalam hidupnya. Empati adalah istilah psikologi yang mempunyai arti dimana seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan berbagai peristiwa yang menunjukkan kurang empati antar sesama manusia. Kurangnya empati terlihat pada saat saling serobot tempat duduk di kereta tanpa mempedulikan orang lain yang membutuhkan, padahal sudah tertulis pada papan informasi bahwa ibu hamil, lansia, disabilitas dan orang sakit harus didahulukan, bahkan ada yang sengaja pura-pura tidur atau asik saja main gadget karena tidak mau memberi kursinya untuk orang lain. Pengendara sepeda motor melewati trotoar dan jembatan penyeberangan tanpa peduli hak pejalan kaki. Mengacu pada berbagai peristiwa tersebut, Sarwono (2013) menyatakan bahwa empatilah yang dinilai hilang dari kepribadian bangsa Indonesia dan dengan meningkatkan kembali kadar empati tidak bertentangan dengan religi, karena agamapun mengajarkan bahwa hubungan dengan orang lain adalah sangat utama.

Pengertian Empati

Empati   berasal   dari   kata   pathos   dalam  bahasa  Yunani    yang   berarti perasaan yang mendalam. Kata empati mengandung makna bahwa seseorang mencoba untuk mengerti keadaan orang lain sesuai orang tersebut mengertinya dan  menyampaikan pengertian itu kepadanya (Budiningsih, 2008). Barr dan D’Alessandro (2009) mengartikan empati adalah respon afektif yang berasal dari penangkapan atau pemahaman emosional orang lain yakni perasaan yang mirip dengan perasaan orang lain. Borba (2001) mengartikan empati adalah kemampuan untuk merasakan keprihatinan orang lain, meningkatkan rasa kemanusiaan dan kesopanan. Menurut Cohen dan Strayer (1996) empati adalah pemahaman dan berbagi dalam keadaan emosi orang lain. Pengertian ini menggambarkan bahwa seseorang yang empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan sekaligus berbagi dengan orang lain. Selanjutnya, Miller dan Wallis (2011) mendefinisikan empati sebagai kemampuan mengidentifikasi dan memahami perasaan dan kondisi orang lain.

Sedangkan Hoffman (1984) mendefinisikan empati sebagai suatu respon afeksi dan kognisi terhadap apa yang terjadi pada orang lain. Ada dua hal yang yang dapat ditekankan pada pengertian ini, pertama yaitu respon afeksi. Hoffman (1984) mengungkapkan bahwa respon afeksi disini merupakan pernyataan perasaan seperti yang dialami orang lain yakni memiliki perasaan empati, juga mampu menyatakannya dalam kata-kata dan perlakuan. Kedua adalah respon kognisi, yaitu bertolak dari pengetahuan tentang apa yang sedang dialami orang lain, sehingga memiliki gambaran tentang apa yang dirasakan orang tersebut. Dari berbagai pandangan tersebut, dalam hal ini dapat diartikan bahwa empati merupakan kemampuan untuk memahami, merasakan dan menempatkan diri pada posisi orang lain.

Membangun Empati

Gadza et al. (1991) mengungkapkan tiga tahap dalam berempati, sebagai berikut:

a.   Tahap pertama, mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan orang lain mengenai perasaannya dan hal-hal yang terjadi pada orang tersebut. Hal ini melatih diri untuk menyimak permasalahan yang sesungguhnya terjadi dengan oang lain dengan benar. 

b.   Tahap kedua, menyusun kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan perasaan dan kondisi orang tersebut. Mengulang sedikit cerita dari yang telah disampaikan lawan bicara dapat membuat lawan bicara merasa dihargai dan percaya bahwa ceritanya didengarkan.

c.   Tahap ketiga, menggunakan susunan kata-kata tersebut untuk mengenali orang lain dan berusaha memahami perasaan serta kondisinya.

Ketiga proses ini tidaklah mudah, tetapi jika sering dilakukan akan menjadi terbiasa (otomatis), khususnya dalam mengembangkan kemampuan berempati terhadap orag lain.

Hal lain yang tak kalah penting untuk membangun empati adalah melihat segala sesuatu dengan hati. Seseorang yang memiliki hati yang mengasihi orang lain akan tergugah dengan kesulitan yang dirasakan oleh orang lain, cepat tanggap untuk menolong orang lain dan tidak menghambat orang lain hanya karena ingin kepentingannya didahulukan. Hal ini diperkuat dengan Penelitian Cotton (2012) yang menyatakan bahwa dengan membangun empati sejak anak-anak dan remaja yaitu dengan cara mengajaknya berbuat kebaikan kepada orang lain dan menolong orang lain yang membutuhkan bantuan dengan tulus, maka dapat mendidik perilakunya ke arah yang positif. Dalam hal ini, pentingnya membangun empati sejak anak-anak maupun remaja agar dapat membentuk pribadi yang memiliki toleransi terhadap oranglain, mempunyai rasa kepedulian terhadap sesama dan melatih diri untuk saling membantu, sehingga hal-hal baik tersebut dapat terbawa sampai dewasa.

Referensi:

Barr, J. J., & D’Alessandro, H. (2009). How adolescent empathy and prosocial behavior change in the context of school culture: A two year longitudinal study. Adolescence, 44, 751-772.

Borba, M. (2001). Building moral intelligence. San Fransisco: Jossey-Bass.

Budiningsih, Asri. (2008). Pembelajaran moral. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Cohen, D., & Strayer, J. (1996). Empathy in conduct-disordered and comparison youth. Developmental Psychology, 32, 988-998.

Cotton, K. (2012). Developing empathy in children and youth.School Improvement Research Series, 1, 1-18.

Gadza, G. M., Asbury, F. R., Balzer, F. J., Childers, W. C., & Walters, R. P. (1991). Human relation development: A manual for educators. Boston: Allyn & Bacon.

Hoffman, M. L. (1984). Morality, moral behavior, and moral development. Dalam Gewirtz, J. L., & Kurtines, W. M (Eds). Empathy, its limitations, and its role in a comprehensive moral theory (pp. 283-302). Canada: John Wiley & Sons.

Miller, W., & Wallis, J. (2011). Social interaction and the role of empathy in information and knowledge management: A literature review. Journal of Education for Library and Information Science, 52, 122-132.

Sarwono, Sarlito. W. (2013). Koran Sindo 1 Desember 2013.