ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 48 Desember 2025
Doom Scrolling pada Mahasiswa Gen Z: Tantangan Global dari Perspektif Psikodiagnostik
Oleh:
Jane Ross1, Teguh Lesmana1 & Mutiara Mirah Yunita2
1 Fakultas Psikologi, Universitas Pelita Harapan
2 Program Studi Psikologi, Universitas Bunda Mulia
Pendahuluan
Generasi Z merupakan kelompok usia yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Fenomena khas yang muncul adalah doom scrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti meskipun informasi yang dikonsumsi sering kali negatif atau tidak relevan. Fenomena ini terjadi secara global, tidak terkecuali di Indonesia. Fenomena ini menjadi perhatian global karena berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi belajar.
Di Indonesia, kebiasaan scrolling media sosial menjadi salah satu aktivitas utama Gen Z saat mengisi waktu luang. Survei Jakpat (GoodStats, 2025) menunjukkan bahwa 63% responden Gen Z lebih memilih scrolling media sosial dibanding aktivitas lain seperti nonton film, olahraga, atau membaca buku. Laporan APJII (2023) juga menyebutkan 99% mahasiswa aktif menggunakan internet setiap hari, mayoritas untuk mengakses TikTok, Instagram, dan X. Hal ini menunjukkan bahwa doom scrolling bukan hanya tren global, melainkan juga masalah nyata di Indonesia yang perlu ditelaah dari perspektif psikodiagnostik.
Permasalahan Global dan di Indonesia
Secara global, penelitian dari American Psychological Association (2022) mengaitkan doom scrolling dengan meningkatnya kecemasan dan depresi pada mahasiswa. Studi Elhai et al. (2020) bahkan menemukan bahwa perilaku ini sering muncul bersama gejala problematic smartphone use yang mengarah pada adiksi digital.
Di Indonesia, mahasiswa sering melaporkan dampak serupa: sulit tidur, kesulitan fokus pada perkuliahan, hingga munculnya rasa bersalah karena waktu belajar terbuang untuk scrolling. Kondisi ini semakin menegaskan perlunya asesmen psikologis yang dapat mendeteksi gejala dini akibat doom scrolling.
Sudut Pandang Psikologi
Dari perspektif psikologi, fenomena doom scrolling dapat dianalisis melalui beberapa pendekatan:
Cognitive Load Theory menjelaskan bahwa kapasitas otak untuk memproses informasi terbatas (Sweller, 1988). Doom Scrolling memicu information overload, membuat perhatian mudah terpecah dan mengganggu efektivitas belajar mahasiswa.
Social Comparison Theory menunjukkan bahwa individu cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain (Festinger, 1954). Media sosial memperkuat kecenderungan ini, sehingga mahasiswa merasa cemas atau kurang percaya diri ketika melihat pencapaian orang lain.
Masa remaja akhir dan dewasa muda merupakan periode pembentukan identitas. Penelitian menunjukkan bahwa paparan media sosial berlebihan dapat meningkatkan fear of missing out (FOMO) dan menurunkan kesejahteraan emosional (Baker et al., 2020).
Dalam budaya Indonesia yang kolektivistik, keterhubungan dengan komunitas adalah nilai utama. Kebutuhan belongingness dapat mendorong mahasiswa untuk terus terhubung melalui media sosial, yang pada akhirnya memperkuat perilaku doom scrolling. Namun, jika diarahkan pada komunitas positif, nilai kebersamaan ini bisa berfungsi sebagai pelindung (Tandon et al., 2024).
Relevansi dengan Agama
Dalam konteks budaya Indonesia yang kolektivistik, perilaku doom scrolling sering dipicu oleh kebutuhan untuk selalu “terhubung” dengan komunitas. Tekanan sosial ini dapat memperburuk kecemasan, tetapi juga dapat menjadi sumber kekuatan ketika mahasiswa memperoleh dukungan dari keluarga, kelompok belajar, maupun komunitas keagamaan. Dalam tradisi Kristen, terdapat penekanan pada pentingnya pengendalian diri (self-control), hidup yang seimbang, serta keterhubungan dengan komunitas iman. Nilai-nilai ini sejalan dengan teori psikologi tentang regulasi diri dan kesejahteraan psikologis. Dengan mengintegrasikan ajaran Kristen mengenai keseimbangan hidup dan dukungan komunitas gereja, mahasiswa Gen Z dapat diarahkan untuk mengurangi perilaku doom scrolling sekaligus membangun relasi sosial yang lebih sehat, baik secara digital maupun nyata.
Upaya Mengatasi
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak doom scrolling pada mahasiswa adalah:
- Psikoedukasi mengenai risiko doom scrolling terhadap kesehatan mental
- Pelatihan regulasi diri, seperti teknik time blocking atau digital deto
- Konseling individual/kelompok, untuk membantu mahasiswa mengembangkan strategi menghadapi kecemasan.
- Pendekatan komunitas, memanfaatkan nilai kolektivisme Indonesia untuk menciptakan budaya digital yang lebih sehat.
Kesimpulan
Doom Scrolling adalah fenomena global yang sangat mempengaruhi Gen Z, terutama mahasiswa di Indonesia. Dengan perspektif psikologi kognitif, sosial, perkembangan, dan relevansi agama, perilaku ini dapat dipahami sebagai konsekuensi dari information overload, perbandingan sosial, pencarian identitas, serta kebutuhan keterhubungan. Jika nilai-nilai agama dan budaya Indonesia diintegrasikan, mahasiswa dapat membangun regulasi diri yang lebih kuat untuk menciptakan keseimbangan hidup.
Referensi
American Psychological Association. (2022, Agustus). Digital media and the rise of doomscrolling. https://www.apa.org/news/press/releases/2022/08/doomscrolling
APJII. (2023). Laporan survei internet APJII 2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. https://apjii.or.id
Elhai, J. D., Yang, H., McKay, D., & Asmundson, G. J. G. (2020). COVID-19 anxiety symptoms associated with problematic smartphone use severity in Chinese adults. Journal of Affective Disorders, 274, 576–582. https://doi.org/10.1016/j.jad.2020.05.080
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202
Sugiarti, U. (2025, September 2). Mayoritas generasi Z menghabiskan waktu luang dengan media sosial. GoodStats.
https://goodstats.id/article/mayoritas-generasi-z-menghabiskan-waktu-luang-dengan-media- sosial-KT9NM
Sweller, J. (1988). Cognitive load during problem solving: Effects on learning. Cognitive Science, 12(2), 257–285. https://doi.org/10.1207/s15516709cog1202_4
Tandon, A., Dhir, A., Talwar, S., Kaur, P., & Mäntymäki, M. (2024). Dark consequences of social media-induced fear of missing out (FoMO): Conceptualization, scale development, and nomological validation. Computers in Human Behavior, 146, 107751. https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107751