ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 39 Agustus 2025

Dari Ketapel ke Kelas: Menghubungkan Kearifan Lokal dengan Pembelajaran Bermakna

Oleh:

Diana

Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya

Seorang anak yang berasal dari Papua dengan antusias memanggil gurunya, “Ibu guru. Ini buat ibu! Kami menangkapnya di hutan sebelah” dan menunjukkan burung yang tampaknya sudah mati kena ketapel. Pertanyaan yang terlintas di kepala adalah sekolah ini di tengah kota, tidak ada hutan. Ternyata lapangan luas sebelah gedung sekolah dengan tanaman-tanaman liar mereka sebut sebagai hutan.

Sepenggal cerita ini memantik beberapa pertanyaan yang membuat pemahaman baru. Tempat asal mereka di pedalaman tentunya belum tentu ada gedung-gedung dengan tembok semen dan area hijau yang disebut lapangan. Hidup mereka dekat dengan alam sehingga lapangan dengan banyak tanaman-tanaman liar tanah kosong dimaknai serupa dengan tanah lapang hutan mereka tinggal. Budaya dan lingkungan seseorang tumbuh sangat mempengaruhi seseorang memaknai dunia.

Hal menarik lain dari cerita tersebut adalah kepiawan mereka dalam membidik burung sebagai target buruan. Jika kita telaah dalam keilmuwan Fisika, proses tersebut sejalan erat kaitannya perubahan panjang karet pada ketapel dalam meregangkan dan menekankan pegas menurut Hukum Hooke. Selain itu, ketika karet ketapel ditarik ke belakang (aksi), karet memberikan gaya dorong ke peluru (reaksi), yang sejalan dengan hukum Newton II bahwa adanya reaksi yang sama besar dan berlawanan arah pada setiap aksi. Tentunya masih ada konsep Fisika lainnya yang dapat digunakan untuk mengulas. Pada kenyataannya, mereka menikmati aktivitas berburu tersebut tanpa memikirkan konsep fisika yang mendasarinya. Mereka mampu menyelesaikan tantangan-tantangan secara teknis (terkait ketapel) saat berburu. Namun, bukan berarti mereka mampu menyelesaikan soal Fisika dengan studi kasus tentang permainan ketapel disertai dengan angka-angka untuk dihitung. Apakah artinya mereka bukan anak yang cukup cerdas untuk belajar di kelas?

Proses berpikir di balik pembelajaran.

Berdasarkan teori Cattel-Horn-Carrol yang dikembangkan oleh McGrew (2018), Salah satu kemampuan seseorang dalam menyelesaikan persoalan adalah fluid reasoning (Gf), yaitu kemampuan seseorang dalam menggunakan prosedur yang disengaja dan terkendali (seringkali butuh fokus perhatian) untuk menyelesaikan persoalan baru “di tempat” yang tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan kebiasaan, skema, dan skrip yang dipelajari sebelumnya. Kemampuan ini tidak terbatasi hanya pada bidang akademisi semata, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak Papua berhasil menentukan dengan material apa saja dan seberapa besar kekuatan ketapel dibutuhkan untuk membidik burung, sebenarnya proses berpikir menyelesaikan permasalahannya sedang dilakukan. Di sisi lain, untuk memahami konsep Fisika dibutuhkan pengetahuan yang spesifik. Berpikir logis tidak berarti seorang anak menjadi otomatis bisa suatu pelajaran. Berpikir logis dan analitis adalah kemampuan yang dibutuhkan seseorang untuk memahami, mempelajari, dan menyelesaikan suatu persoalan dengan konteks dan pengetahuan tertentu. Dengan demikian, menekankan konteks dalam pembelajaran adalah jembatan penting yang membantu seseorang memahami konsep-konsep yang lebih kompleks.

Cara anak belajar tentang dunia.

Piaget (Santrock, 2011) menekankan anak-anak secara aktif menyusun dunia kognisinya, artinya anak-anak tidak hanya menerima informasi yang diberikan begitu saja, tetapi mereka menjelajah berbagai poin dari perkembangan tentang caranya memahami dunia.Otak membentuk skema, yaitu tindakan atau pikiran yang mewakili struktur pengetahuan. Skema mental (pikiran) mulai berkembang di masa anak-anak, sehingga mereka memilih skema mengenai strategi dan rencana menyelesaikan suatu persoalan. Misalnya, anak-anak memikirkan alat apa saja yang digunakan sebagai ketapel agar dapat melontarkan batu dengan kencang dan tepat sasaran.

Piaget menawarkan dua konsep terkait caranya anak-anak menggunakan dan menyesuaikan skema, yaitu: asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi saat anak-anak menggunakan skema yang ada untuk menghadapi informasi atau pengalaman yang baru. Akomodasi terjadi saat mereka menyesuaikan skema mereka untuk mempertimbangkan informasi dan pengetahuan baru. Anak-anak memahami dunia mereka dengan mengatur dunia secara kognitif, yang disebut sebagai “organisasi” pada teori Piaget. Pada proses ini, anak-anak mengelompokkan perilaku dan pemikirannya ke dalam suatu sistematika yang lebih kompleks. Dalam upaya untuk memahami dunianya, anak-anak pasti mengalami pengalaman konflik kognitif yang disebut juga “disequilibrium”. Artinya, anak-anak terus meneruma menghadapi skema-skema yang tidak konsisten dan berlawanan dengan skema yang sudah ada. Ketidak-seimbangan (disequilibrium) yang tercipta mengembangkan motivasi untuk perubahan, sehingga anak-anak mengasimilasi, mengakomodasi, menyesuaikan skema yang lama dengan yang baru, sertia melakukan organisasi skema lama dan baru. Pada akhirnya, organisasi tersebut menjadi berbeda dengan organisasi lama yang memunculkan cara berpikir yang baru.

Dikaitkan dengan kasus ketapel, memahami konsep Fisika dan formula yang menyertainya tidak sama dengan kepiawaiannya berburu dengan ketapel di hutan. Anak-anak perlu dibantu untuk memahami adanya skema baru (asimilisasi tentang konsep fisika), yang perlu disesuaikan dari konkret menjadi abstrak (akomodasi tentang formula di balik aktivitas berburu). Harapannya anak-anak terbangun pengetahuan yang lebih terstruktur mengenai konsep Fisika di balik suatu fenomena di sekitarnya. 

Peran pendidik sebagai katalisator pembelajaran.

Jembatan yang menghubungkan kemampuan dan pemahaman konsep ini perlu diaktifkan melalui pengalaman pembelajaran di kelas yang menekankan pada konteks pembelajaran. Pembelajaran yang menekankan pada kontekstual biasanya menerapkan pendekatan konstruktivis yang mendorong pembelajaran bermakna. Beberapa elemen yang diterapkan, antara lain: (a) menanamkan pembelajaran di lingkungan yang realistis, relevan dan kompleks; (b) menyediakan negosiasi dan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari pembelajaran; (c) mendukung berbagai persepektif; (d) menumbuhkan kesadaran diri dan pemahaman mengenai konstruk pengetahuan; dan (e) mendorong rasa kepemilikan dalam belajar (Woolfolk, 2016).

Konteks pembelajaran perlu mempertimbangkan latar belakang budaya, status ekonomi sosial dan perkembangan anak. Anak-anak yang berasal dari pedalaman Papua akan kesulitan untuk memahami konsep-konsep Fisika menggunakan contoh kasur spring bed dan shock absorber kendaraan karena mereka kemungkinan besar belum pernah melihat dan merasakan langsung benda-benda tersebut. Namun, akan lebih mudah bagi mereka untuk membayangkannya dengan contoh berburu burung dengan ketapel. Konteks pembelajaran ini tidak serta merta hanya menjadi soal cerita tertulis dan diselesaikan dengan rumus, tetapi perlu dijadikan suatu cerita yang menarik.

Dengan pemahaman mengenai proses berpikir dari teori Piaget, maka pendidik dapat secara bertahap membantu anak-anak membentuk suatu pemahaman baru saat fenomena ketapel dituangkan dalam formula atau rumusan konsep Fisika tertentu. Proses pembelajaran ini yang membutuhkan pendidik sebagai katalisator pembelajaran yang berperan sebagai pendorong, fasilitator, dan pemacu proses pembelajaran. 

Referensi:

Santrock, J.W. (2011). Life-span development (13th ed.). McGraw-Hill.

Schneider, W. J., & McGrew, K. S. (2018). The Cattell–Horn–Carroll theory of cognitive abilities. In D. P. Flanagan & E. M. McDonough (Eds.), Contemporary intellectual assessment: Theories, tests, and issues (4th ed., pp. 73–163). The Guilford Press.

Woolfolk, A. (2016). Educational psychology (13th ed., Global ed.). Pearson Education Limited.