ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 39 Agustus 2025
"Lazy Girl Job": Antara Kenikmatan dan Kepuasan Diri”
Oleh:
Sonya Maranatha Sagala
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Dalam era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, muncul sebuah tren baru di dunia kerja yang dikenal dengan sebutan "Lazy Girl Job." Istilah ini merupakan sebuah pekerjaan dengan tingkat stres rendah, fleksibilitas tinggi, dan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karyawan tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka. Fenomena ini banyak diminati oleh generasi muda yang semakin menyadari pentingnya kesejahteraan dan kesehatan mental dalam bekerja (Awu, E, dkk (2025). Awalnya istilah ini dikenal sebagai "quiet quitting," kini muncul wacana baru dari Gen Z yang menentang budaya kerja keras generasi sebelumnya lewat istilah viral " Lazy Girl Job" Istilah ini mencerminkan perlawanan terhadap pekerjaan yang berlebihan, dengan pesan: "Kami tak lagi rela lelah demi pekerjaan." Gen Z lebih memilih pekerjaan yang ringan, bergaji layak, fleksibel, dan mendukung keseimbangan hidup. Bagi mereka, ini adalah respons atas dunia kerja korporat yang dianggap tidak manusiawi dan mengorbankan kualitas hidup.
Konsep "Lazy Girl Job" tidak berarti menolak produktivitas atau ambisi, tetapi lebih kepada mendefinisikan ulang kesuksesan dalam konteks yang lebih manusiawi. Alih-alih terjebak dalam budaya kerja yang menuntut pengorbanan tanpa henti, banyak individu memilih jalur karir yang lebih selaras dengan kebutuhan emosional dan psikologis mereka. Dengan memilih pekerjaan yang lebih fleksibel dan tidak membebani mereka secara mental, mereka dapat mengalokasikan energi untuk hal-hal yang lebih bermakna dalam hidup, seperti membangun hubungan sosial, mengembangkan diri, dan menjaga keseimbangan emosional (Robinson, 2023).
Dari perspektif psikologi, tren ini dapat dianalisis melalui konsep Hedonic and Eudaimonic Well-Being. Pendekatan Hedonic well-being, merupakan pendekatan yang berfokus pada kebahagiaan dan kesejahteraan merupakan pencapaian kesenangan dan penghindaran sebuah rasa sakit. Kahneman dkk (dalam Ryan, & Deci, 2001). menyatakan bahwa fokus utama psikologi hedonis adalah pada pengalaman subjektif, termasuk emosi, kesenangan, dan ketidaknyamanan, dan bagaimana orang mengevaluasi pengalaman ini. Sementara itu, Pendekatan eudaimonic well-being, merupakan pendekatan yang berfokus pada makna dan realisasi diri dan mendefinisikan kesejahteraan dalam hal tingkat di mana seseorang berfungsi sepenuhnya (Ryan & Deci, 2001).
Dengan demikian, "Lazy Girl Job" dapat dilihat sebagai strategi untuk mencapai kebahagiaan yang seimbang, di mana seseorang tidak hanya menikmati kenyamanan dalam bekerja (hedonic well-being), tetapi juga menemukan kepuasan dan makna hidup (eudaimonic well-being). Fenomena ini menjadi refleksi dari perubahan paradigma dalam dunia kerja, di mana kesejahteraan individu semakin diutamakan dalam mendefinisikan kesuksesan. Meski terlihat menarik, tren Lazy Girl Job memiliki berbagai tantangan yang kerap tidak disadari, seperti persaingan yang ketat akibat persyaratan masuk yang rendah, jenjang karir yang minim, serta pendapatan yang tidak stabil akibat sifatnya yang umumnya freelance atau kontrak. Ketergantungan pada pekerjaan yang mudah tanpa keterampilan yang kuat justru dapat menghambat perkembangan dan membuat seseorang mudah tergantikan. Oleh karena itu, daripada mengejar pekerjaan yang mudah tanpa usaha, lebih baik fokus pada pengembangan keterampilan, membangun portofolio yang solid, dan mencari peluang pendapatan tambahan agar tetap fleksibel tanpa mengorbankan masa depan karir (Kompasiana, 2025).
Fenomena Lazy Girl Job mencerminkan pergeseran nilai dalam dunia kerja modern, khususnya di kalangan generasi muda yang lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan kerja keras tanpa henti. Meskipun tren ini menawarkan kenyamanan dan fleksibilitas, ia juga menghadirkan tantangan seperti persaingan tinggi, pendapatan tidak stabil, dan minimnya prospek karier. Dalam konteks psikologi, tren ini mencerminkan kombinasi antara hedonic well-being kebahagiaan dari kenyamanan dan eudaimonic well-being kepuasan dari makna hidup. Oleh karena itu, untuk menghindari jebakan kenyamanan semu, penting bagi individu untuk tetap mengembangkan keterampilan, membangun portofolio, dan merancang strategi karier jangka panjang yang berkelanjutan.
Referensi:
Awu, E., Darius, B & Daniel, O. (2025). The Quiet Lazy Girl’s Job As An Emerging Concept Of Contract Employment. International Journal of Academic Management Science Research (IJAMSR). Vol. 9. Pages: 164-168. https://www.researchgate.net/publication/389487576_The_Quiet_Lazy_Girl's_Job_As_An_Emerging_Concept_Of_Contract_Employment
Kompasiana. (2025). Lazy Girl Jobs: Antara Mimpi Kerja Santai dan Realita Dunia Kerja. https://www.kompasiana.com/arielhosea1877/67d05b82ed64153a7b55f552/lazy-girl-job-antara-mimpi-kerja-santai-dan-realita-dunia-kerja?page=all
Robinson, B. (2023). How ‘Lazy Girl Jobs’ Contribute To Work-Life Balance And Burnout Prevention. https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2023/08/04/how-lazy-girl-jobs-contribute-to-work-life-balance-and-burnout-prevention/
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well-being. Annual Review of Psychology, 52, 141–166. https://doi.org/10.1146/annurev.psych.52.1.141