ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 68 Oktober 2026
Menua dalam Bayang-Bayang Sunyi:
Tantangan Depresi Lansia di Era Ageing Population Indonesia
Oleh:
1Arie Rihardini Sundari & 2Dina Siswoyo
1Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI
2TemanMu Curhat Online
Pengantar
“Kalian nggak tahu rasanya jadi aku.”
Kalimat itu diucapkan seorang nenek kepada keluarganya ketika mereka melarangnya mengambil es batu karena asupan cairannya harus dibatasi akibat menjalani cuci darah. Bagi keluarganya, larangan itu adalah bentuk kepedulian. Namun, bagi sang nenek, mungkin itu merupakan satu dari sedikit keputusan yang masih ingin ia ambil sendiri.
Beberapa tahun sebelumnya, hidupnya sangat berbeda. Ia senang memasak untuk keluarga, rutin menghadiri kebaktian bersama sahabatnya, dan mengisi waktu luang dengan bermain puzzle atau permainan sederhana di aplikasi e-commerce. Namun, kondisi kesehatannya yang terus memburuk membuat ia semakin sering keluar masuk rumah sakit. Otot kakinya melemah sehingga ia kesulitan berjalan dan akhirnya harus menggunakan kursi roda. Aktivitas yang dulu menjadi bagian dari kesehariannya perlahan menghilang. Memasak tak lagi memungkinkan karena nyeri yang dirasakan, pergi ke gereja pun mulai ditinggalkan karena mobilitas yang terbatas. Pada tahun terakhir kehidupannya, ia bahkan membutuhkan bantuan untuk mandi dan menjalani hampir seluruh aktivitas sehari-hari. Di tengah berbagai perubahan itu, keluarganya berusaha memberikan perawatan terbaik. Namun, mereka juga menyaksikan bagaimana kehilangan kemampuan melakukan hal-hal sederhana perlahan mengubah kehidupan seseorang.
Depresi Geriatri
Kisah tersebut bukanlah cerita yang berdiri sendiri. Indonesia kini memasuki era ageing population Proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai 11,97% atau hampir 34 juta jiwa (SUPAS, 2025), dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Bertambahnya jumlah lansia tentu merupakan pencapaian pembangunan yang patut disyukuri. Namun, di balik usia yang semakin panjang, muncul tantangan baru yang tidak dapat diabaikan. Selama ini perhatian kita lebih banyak tertuju pada penyakit fisik seperti hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Padahal, proses menua juga membawa perubahan psikologis yang dapat memengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satunya adalah depresi.
Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 14,75% orang berusia 70 tahun ke atas hidup dengan gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai kondisi yang paling umum. Sayangnya, depresi pada lansia masih sering luput dikenali karena gejalanya tidak selalu ditandai oleh kesedihan yang nyata seperti pada orang dewasa yang lebih muda (Mann, et al., 2021). Sebaliknya, lansia lebih sering datang dengan keluhan fisik, gangguan tidur, penurunan energi, apatis, atau gangguan konsentrasi dan daya ingat sehingga gejalanya kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau penyakit fisik yang menyertai (Devita, 2022). Beragamnya gejala tersebut mencerminkan bahwa depresi pada lansia bukanlah kondisi yang disebabkan oleh satu faktor saja. Sebaliknya, depresi berkembang melalui interaksi berbagai perubahan biologis, psikologis, hingga sosial (Maramis, 2014).
Seiring bertambahnya usia, perubahan pada otak, penurunan fungsi tubuh, serta penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, atau artritis dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi. Di sisi lain, lansia juga sering menghadapi berbagai kehilangan, seperti pensiun, meninggalnya pasangan hidup, atau berkurangnya kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, yang dapat memengaruhi identitas diri dan rasa kebermakanaan hidup. Perubahan struktur keluarga dan berkurangnya interaksi sosial juga membuat sebagian lansia merasa kesepian atau bergantung pada orang lain, sehingga semakin meningkatkan risiko depresi (Suryani et al., 2023).
Perubahan-perubahan tersebut sering kali hadir secara bertahap melalui berbagai kehilangan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pada kisah nenek di awal tulisan dimana ia tidak dapat lagi memasak karena nyeri, tak lagi rutin ke gereja karena mobilitas yang terbatas, hingga akhirnya membutuhkan bantuan untuk mandi dan menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan, keinginan sederhana mengambil satu es batu pun harus dibatasi demi kondisi kesehatannya.
Kehilangan-kehilangan kecil tersebut mungkin tampak sepele jika dilihat satu per satu. Namun, ketika terus bertambah, seseorang perlahan kehilangan rutinitas, peran, dan rasa mampu yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari dirinya. Tak heran jika banyak lansia berusaha mempertahankan hal-hal kecil yang masih bisa mereka kendalikan. Bagi mereka, memasak, pergi ke gereja, atau mengambil segelas es batu dapat menjadi cara untuk tetap merasa memiliki kendali atas hidupnya.
Ketika kendali tersebut semakin berkurang, sebagian lansia mulai merasa tidak lagi mampu menjalankan peran yang selama ini mereka miliki. Ketergantungan terhadap keluarga untuk aktivitas sehari-hari juga dapat memunculkan perasaan menjadi beban atau tidak lagi berguna. Perasaan bersalah seperti ini perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi salah satu indikasi adanya depresi pada lansia.
Sayangnya, perasaan tersebut sering kali tidak diungkapkan secara langsung. Alih-alih berkata, "Saya merasa bersalah," lansia mungkin lebih sering mengatakan, "Saya cuma merepotkan kalian," atau "Kalian capek karena harus mengurus saya." Ungkapan seperti ini kerap dianggap sebagai keluhan biasa, padahal dapat mencerminkan kondisi emosional yang sedang mereka alami.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa depresi pada lansia sering terlambat dikenali. Perhatian keluarga maupun tenaga kesehatan lebih banyak tertuju pada penyakit fisik, sementara keluhan emosional tertutupi oleh gangguan tidur, mudah lelah, nyeri berkepanjangan, atau penurunan konsentrasi. Pada sebagian kasus, depresi bahkan dapat menyerupai demensia (pseudodementia), sehingga lansia tampak mudah lupa atau lambat merespons, padahal penurunan fungsi kognitif tersebut berkaitan dengan depreso (Maramis, 2014). Di sisi lain, anggapan bahwa lansia yang murung atau menarik diri adalah hal yang “wajar karena sudah tua” juga membuat gejala depresi semakin mudah terabaikan (Hadrianti et al., 2024). Akibatnya, banyak lansia tidak memperoleh bantuan psikologis yang mereka butuhkan.
Karena itu, perhatian dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan menjadi penting agar lansia mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang menyertai proses menua (Zulkifli et al., 2026). Berkurangnya keterlibatan dalam berbagai kegiatan dan hubungan sosial dapat meningkatkan rasa kesepian yang berkontribusi terhadap depresi. Oleh sebab itu, menjaga interaksi, melibatkan lansia dalam aktivitas sesuai kemampuannya, serta memberikan dukungan emosional dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental lansia (Zulkifli et al., 2026).
Ketika seorang lansia berkata, "Kalian nggak tahu rasanya jadi aku," mungkin yang sedang ia sampaikan bukan sekadar keinginan untuk mengambil segelas es batu. Kalimat itu bisa menjadi ungkapan tentang kehilangan kendali, berkurangnya rasa bermakna, atau ketakutan menjadi beban bagi orang-orang yang dicintainya. Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin menua, mendengarkan suara-suara seperti inilah yang menjadi langkah awal untuk mengenali depresi lebih dini dan membantu lansia menjalani masa tua dengan lebih bermartabat.
Strategi Penanganan Depresi pada Lansia
Penanganan depresi pada lansia membutuhkan pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan aspek kuratif, rehabilitatif, dan preventif berbasis keluarga. akademisi dan praktisi psikologi dapat memberikan intervensi berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir negatif, serta Reminiscence Therapy (terapi kenangan) untuk meningkatkan harga diri melalui memori masa lalu yang positif. Proses ini membantu lansia mengintegrasikan pengalaman hidup mereka, meningkatkan harga diri, dan menemukan kembali makna hidup di masa kini.
Strategi Penanganan Depresi pada Lansia
Penanganan depresi pada lansia membutuhkan pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan aspek kuratif, rehabilitatif, dan preventif berbasis keluarga. akademisi dan praktisi psikologi dapat memberikan intervensi berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengubah pola pikir negatif, serta Reminiscence Therapy (terapi kenangan) untuk meningkatkan harga diri melalui memori masa lalu yang positif (Lestari & Sumintardja, 2014; Anggraini & Yuniartika, 2023; Safrudin dkk, 2025). Proses ini membantu lansia mengintegrasikan pengalaman hidup mereka, meningkatkan harga diri, dan menemukan kembali makna hidup di masa kini.
Pada tingkat komunitas, peran Posyandu Lansia perlu direvitalisasi menjadi pusat interaksi sosial dan stimulasi kognitif melalui aktivitas kelompok yang adaptif guna meminimalkan isolasi sosial. Fasilitas ini harus dioptimalkan menjadi pusat rehabilitasi sosial dan stimulasi kognitif berkelompok. Aktivitas seperti senam lansia bersama, permainan asah otak, merajut, atau sekadar ruang mengobrol antar-teman sebaya dapat menekan angka isolasi sosial secara signifikan. Lingkungan tempat tinggal juga harus didesain inklusif agar ramah lansia, memberikan mereka ruang aman untuk tetap berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan seperti pengajian atau kerja bakti ringan. Akhirnya, keluarga sebagai caregiver utama memegang peran paling krusial. Edukasi keluarga sangat penting agar mereka peka terhadap perubahan perilaku terkecil, mampu membangun komunikasi intergenerasi yang sehat tanpa menghakimi, serta terus melibatkan lansia dalam mengambil keputusan demi mengembalikan rasa kebermanfaatan diri mereka di usia senja. Dukungan emosional yang tulus dan komunikasi intergenerasi yang sehat—di mana anak dan cucu mau mendengarkan cerita lansia tanpa menghakimi atau mendikte—adalah obat penawar terbaik bagi kesepian yang dialami lansia.
Kesimpulan
Lonjakan populasi lansia di Indonesia memicu peningkatan risiko depresi geriatri yang sering terabaikan di masyarakat. Depresi geriatri bukanlah konsekuensi alamiah dari proses menua, melainkan sebuah gangguan kesehatan mental nyata yang dapat dicegah, dideteksi, dan disembuhkan. Peningkatan usia harapan hidup akan kehilangan maknanya jika dilewati dalam penderitaan batin akibat depresi yang tidak tertangani. Penanganan multidisipliner melalui pendekatan medis serta intervensi psikoterapi—seperti Cognitive Behavioral Therapy dan Reminiscence Therapy—sangat krusial untuk mengikis stigma, mengoptimalkan dukungan keluarga, dan menjamin kesejahteraan mental mereka di usia senja. Hanya dengan ekosistem yang suportif dan inklusif, kita dapat menjamin bahwa generasi senja Indonesia tidak hanya berumur panjang, tetapi juga menua dengan sehat, berdaya, dan bermartabat.
Referensi:
Anggraini, R., & Yuniartika, W. (2023). Cognitive Behavior Therapy (CBT) sebagai terapi tingkat depresi pada lansia. Journal of Telenursing (JOTING), 5(1), 416-429. DOI : https://doi.org/10.31539/joting.v5i1.5421
Badan Pusat Statistik Indonesia. (5 Mei 2026). SUPAS 2025: Angka Kelahiran Total (TFR) sebesar 2,13, Angka Kematian Bayi (IMR) sebesar 14,12, dan persentase lansia mencapai 11,97 persen. Diakses pada 4 Agustus 2026, dari https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2645/supas-2025--angka-kelahiran-total--tfr--sebesar-2-13---angka-kematian-bayi--imr--sebesar-14-12--dan-persentase-lansia-mencapai-11-97-persen-.html
Devita M, De Salvo R, Ravelli A, De Rui M, Coin A, Sergi G, Mapelli D. Recognizing Depression in the Elderly: Practical Guidance and Challenges for Clinical Management. Neuropsychiatr Dis Treat. 2022 Dec 7;18:2867-2880. doi: 10.2147/NDT.S347356. PMID: 36514493; PMCID: PMC9741828.
Lestari, F. M., & Sumintardja, E. N. (2014). Kajian reminiscence group therapy pada depresi lansia wanita yang tinggal di panti werdha. Jurnal Ilmiah Psikologi MANASA, Vol 5 No. 1, 42-56
Mann, L. A., Faria, M. C., & Torres, D. V. (2021). Depression Without Sadness in the Elderly: Understanding Atypical Presentations. Geriatric Psychiatry Review, 18(2), 112–120.
Maramis, M. M. (2014). Depresi pada lanjut usia. Jurnal Widya Medika, 2(1), 39–50.
Safrudin, M. B., Widyastuti, D., Pratama, A. V., Febriani, W., Pinky, R. S., Fitriana, W., … Rumba, D. R. (2025). PENERAPAN TERAPI REMINISCENCE TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS LANSIA : SEBUAH LITERATURE REVIEW . Jurnal Kesehatan Tambusai, 6(4), 14280–14290. https://doi.org/10.31004/jkt.v6i4.51204
Suryani, I., Siregar, F., & Nasution, A. (2023). Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat depresi pada lansia: Literature review. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(3), 201–212.
World Health Organization. (2026, July 20). Mental health of older adults. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-of-older-adults
Zulkifli, Y. S., Tahriani, R., Jibriel, D. A., & Swara, Y. P. W. (2026). Late-life depression (LLD). Indonesian Journal of Health and Medical Education, 1(1), 7–22.
