ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
Taman Kota Bikin Tenang?: Menyingkap syarat psikologis di balik "efek menenangkan" ruang hijau perkotaan
Oleh:
Ridhoi Meilona Purba, Rayhan Rivaldo, Azizah Ainnyyah, Charlos Hutabarat, Daniel Parasian Manurung
Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Pernah merasa tiba-tiba pikiran lebih plong setelah duduk sebentar di taman? Tren ini mulai dilakukan oleh warga kota, seorang diri, bersama keluarga, dan atau rekan. Psikologi lingkungan telah cukup lama mengkaji fenomena ini. Sejumlah riset menemukan bahwa taman kota memberi dampak psikologis, namun beberapa riset lainnya menunjukkan bahwa kualitas tertentu justru memicu kecemasan pada sebagian orang. Apakah taman kota selalu memberikan efek menenangkan?
Dua Teori yang Menjelaskan "Efek Menenangkan" Alam
Ada dua kerangka teori klasik yang jadi pijakan riset di bidang ini (Bell et al., 2001). Pertama, Attention Restoration Theory (ART) dari Rachel dan Stephen Kaplan. Menurut teori ini, aktivitas sehari-hari menuntut kita terus-menerus memakai "atensi terarah", yaitu perhatian yang butuh usaha sadar, seperti saat fokus mengerjakan laporan atau menyetir di jalan macet. Pemakaian atensi ini yang berlebihan memicu kelelahan mental. Didukung banyak studi, lingkungan alami dipercaya mampu memulihkan kelelahan tersebut karena menghadirkan "soft fascination", yaitu stimulus yang menarik perhatian secara ringan dan tanpa paksaan, seperti gemerisik daun atau kicau burung, sehingga otak bisa beristirahat sambil tetap terjaga.
Kedua, Stress Recovery Theory (SRT) dari Roger Ulrich, yang menyoroti sisi emosional dan fisiologis. Ulrich menyatakan bahwa manusia secara evolusioner "terprogram" untuk merespons positif terhadap lingkungan bervegetasi, sebuah warisan dari masa saat lingkungan hijau menandakan sumber pangan dan tempat berlindung yang aman. Dalam eksperimennya, paparan pemandangan alam terbukti mempercepat pemulihan dari kondisi stres dibandingkan dengan paparan pemandangan perkotaan. Artikel ini akan membahas bahwa kualitas lingkungan, karakteristik individu, dan aktivitas yang dilakukan di taman kota menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Kualitas Lingkungan
Terdapat beberapa kualitas lingkungan yang terbukti memberikan efek positif sebagai berikut. Pertama, ruang hijau yang berukuran luas, mudah diakses, dan padat pepohonan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Baskaran menemukan bahwa paparan ruang hijau berasosiasi dengan rata-rata perbaikan kesehatan mental sekitar 17% dalam hal stres, depresi, dan kecemasan, dan efek ini akan makin kuat pada ruang hijau berukuran lebih luas, mudah diakses, dan padat pepohonan (Baskaran, 2025).
Kedua, bukan sekadar "ada atau tidaknya" ruang hijau yang penting, tapi juga keragamannya. Felappi dan Kötter dalam penelitiannya menunjukkan bahwa lingkungan dengan keragaman elemen alami yang lebih tinggi seperti pepohonan, tumbuhan, satwa burung, dan air berasosiasi dengan kesejahteraan mental yang lebih besar dibandingkan dengan lingkungan dengan keragaman rendah, dan efek ini bertahan beberapa jam setelah paparan. Kehadiran badan air dan kanopi pohon yang rimbun terbukti meningkatkan potensi restorasi psikologis pengunjung taman (Felappi & Kötter, 2024). Artinya, taman kota bukan cuma soal berapa hektare luasnya, tapi juga seberapa "hidup" ekosistem di dalamnya.
Ketiga, pengelolaan perawatan dan kebersihan lingkungan. Laporan kajian kesehatan taman kota di Amerika Serikat mencatat bahwa keberadaan sampah, fasilitas rusak, dan pohon yang tidak terawat membuat pengunjung enggan datang dan merasa tidak aman, sehingga memengaruhi dampak taman kota terhadap individu yang berkunjung (Urban Institute, 2022). Felappi dalam studi terhadap pengunjung taman kota di São Paulo, Brasil, menemukan bahwa efek restoratif yang dirasakan pengunjung paling kuat dipengaruhi oleh persepsi keamanan, diikuti oleh persepsi kealamian taman yang keduanya ditentukan oleh kualitas perawatan fasilitas dan vegetasi. Tanda-tanda vandalisme (grafiti, fasilitas rusak) adalah prediktor terkuat dari rendahnya persepsi keamanan dan pengelolaan taman, sejalan dengan Broken Windows Theory (Cohen et al., 2022; Felappi & Kötter, 2024).
Karakteristik Individu
Selain kualitas taman itu sendiri, siapa yang mengunjunginya ternyata sama pentingnya. Efek restoratif ruang hijau bukan "satu ukuran untuk semua"—ia berinteraksi dengan kepribadian, kebutuhan, dan latar belakang demografis pengunjung. Pertama, kedekatan dengan alam (nature relatedness). Chang dalam survei terhadap warga Brisbane dan Sydney, menemukan bahwa manfaat psikologis dari kunjungan ke ruang hijau jauh lebih terasa pada orang dengan kedekatan personal yang kuat terhadap alam. Sebaliknya, individu dengan skor kedekatan-alam terendah, frekuensi kunjungan ke ruang hijau publik nyaris tidak mengurangi tingkat stres dan kecemasan mereka, kelompok ini cenderung kurang benar-benar "memperhatikan" unsur alam saat berada di taman, sehingga tidak banyak menyerap efek restoratifnya, meski mereka sering berkunjung (Chang et al., 2024).
Kedua, kepribadian, usia dan gender secara bersamaan. Bos dalam studi terhadap warga Belanda, menemukan bahwa asosiasi antara ruang hijau dan kesehatan mental yang lebih baik hanya muncul secara signifikan pada kelompok usia dan gender tertentu, tidak berlaku merata untuk seluruh populasi (Bos et al., 2016). Ia menduga hal ini terkait dengan siapa yang secara realistis memiliki kesempatan dan waktu untuk benar-benar memanfaatkan lingkungan hijau di sekitar tempat tinggalnya. Sejalan dengan Feng dalam studi terhadap remaja Australia berusia menemukan bahwa remaja dengan skor neurotisisme dan introversi lebih tinggi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih buruk secara umum. Namun menariknya, ruang hijau berkualitas baik terbukti melemahkan hubungan negatif tersebut, tetapi hanya pada remaja perempuan; efek serupa tidak ditemukan pada remaja laki-laki. Ini mengindikasikan bahwa kelompok yang secara kepribadian lebih rentan justru berpotensi paling diuntungkan oleh ruang hijau berkualitas, meski manfaatnya tidak merata antar gender (Feng et al., 2022). Terlebih lagi saat kualitas keamanan taman masih menjadi isu yang perlu diperhatikan. Seperti hasil penelitian São Paulo perempuan bahwa, tingkat rasa tidak aman yang lebih tinggi di ruang hijau dibanding laki-laki, bahkan setelah memperhitungkan kualitas taman, sehingga potensi manfaat psikologisnya berkurang bagi kelompok ini (Felappi & Kötter, 2024).
Aktivitas yang Dilakukan
Kualitas taman dan karakteristik pengunjung saja belum menjelaskan seluruh gambaran , jenis aktivitas yang dilakukan selama berada di taman ternyata juga ikut menentukan seberapa besar manfaat psikologis yang didapat. Pertama, duduk santai atau berolahraga berat. Hu menemukan bahwa "olahraga hijau" (green exercise) secara umum memberi manfaat kesehatan mental yang bermakna. Namun manfaat paling besar justru muncul pada intensitas rendah hingga sedang (atau setara jalan santai) dan sesi pendek (kurang dari 20 menit) yang dilakukan sering, bukan pada olahraga intensitas tinggi atau sesi panjang (Hu et al., 2025).
Kedua, olahraga berat justru bisa mengurangi manfaat. Huang dalam studi di Taiwan, menemukan bahwa perilaku olahraga yang berat atau berkepanjangan justru melemahkan hubungan antara persepsi kealamian lingkungan dan efek restoratif psikologis yang dirasakan. Olahraga berat menyita sumber daya kognitif untuk mengatur napas dan gerakan tubuh, sehingga perhatian seseorang teralihkan dari lingkungan sekitarnya, padahal justru interaksi aktif dengan lingkungan itulah yang menghasilkan efek menenangkan (Huang et al., 2026).
Ketiga, aktivitas statis lebih mendukung pemulihan psikologis dibandingkan aktivitas dinamis. Sejalan dengan itu, Qin dan Chiang (2026), dalam studi terhadap pengunjung taman kota di Changzhou, Tiongkok, menemukan bahwa perilaku statis, seperti duduk, mengamati lingkungan, dan bersantai, menjadi mediator antara kualitas elemen alami serta perawatan taman dengan pemulihan psikologis, termasuk peningkatan vitalitas. Sebaliknya, aktivitas dinamis seperti berjalan cepat atau berolahraga tidak menunjukkan pola yang sama, melainkan lebih berkaitan dengan kualitas fasilitas taman. Demikian juga frekuensi kunjungan berkorelasi signifikan dengan potensi emosi positif pengunjung, dan efek positif taman terhadap kesehatan warga setelah sekitar dua tahun sejak pembangunannya (Qin et al., 2023).
Dengan kata lain, "berolahraga di taman" tidak serta-merta sama dengan "menenangkan diri di taman". Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat psikologis taman tidak hanya ditentukan oleh keberadaan elemen alaminya, tetapi juga oleh aktivitas yang dilakukan pengunjung selama berada di dalamnya.
Kesimpulan
Kota yang ramah secara psikologis bukan sekadar kota dengan banyak taman, melainkan kota yang taman-tamannya benar-benar layak, aman, dinikmati oleh warganya. Taman sama dengan “menenangkan” perlu dikoreksi menjadi: taman yang aman, terawat, alami, dan cukup beragam secara hayati cenderung menenangkan, sementara taman yang terbengkalai, dirasa tidak aman, atau sekadar formalitas tata kota belum tentu memberi manfaat apa pun, bahkan berpotensi menambah kewaspadaan dan stres bagi sebagian pengunjung. Bukan sekadar "ada atau tidaknya" ruang hijau yang penting, tapi juga kualitas taman kota dengan keanekaragaman hayati tinggi dengan banyak jenis tanaman, satwa, dan suara alami terbukti memberi manfaat kesehatan mental yang lebih besar dibanding taman kota yang seragam dan minim variasi hayati. Bagaimana dengan taman kota di kota-mu? Apakah kamu mendapatkan manfaat berada di taman kota? Artikel ini kiranya dapat menjadi pemicu penelitan dan praktik pemanfaatan taman bagi masyarakat kota yang tinggal di dalamnya.
Daftar Pustaka:
Baskaran, S. (2025). Effectiveness of Green Space in Improving Mental Health: A Review. International Journal of Built Environment and Sustainability, 12(1), 175–186. https://doi.org/10.11113/ijbes.v12.n1.1369
Bell, P. A., Greene, T. C., Fisher, J. D., & Baum, A. (2001). Environmental Psychology (Fifth). Taylor & Francis Group LLC.
Bos, E. H., Meulen, L. Van Der, Wichers, M., & Jeronimus, B. F. (2016). A Primrose Path ? Moderating Effects of Age and Gender in the Association between Green Space and Mental Health. https://doi.org/10.3390/ijerph13050492
Chang, C., Lin, B. B., Feng, X., Andersson, E., Gardner, J., & Burt, T. A. (2024). A Lower Connection to Nature is Related to Lower Mental Health Benefits from Nature Contact. Scientific Reports, 6705(14), 1–9. https://doi.org/10.1038/s41598-024-56968-5
Cohen, M., Burriwes, K., & Gwam, P. (2022). The Health Benefits of Parks and their Economic Impacts A Review of the Literature (Issue February).
Felappi, J. F., & Kötter, T. (2024). Urban park qualities driving visitors mental well ‑ being and wildlife conservation in a Neotropical megacity. Scientific Reports, 1–16. https://doi.org/10.1038/s41598-024-55357-2
Feng, X., Astell-burt, T., Standl, M., Flexeder, C., Heinrich, J., & Markevych, I. (2022). Green space quality and adolescent mental health : do personality traits matter ? Environmental Research, 206, 112591. https://doi.org/10.1016/j.envres.2021.112591
Hu, G., Luo, Q., Zhang, P., Zeng, H., & Ma, X. (2025). Effects of urban green exercise on mental health : a systematic review and meta-analysis. Frontiers in Public Health, 1677223(13), 1–13. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1677223
Huang, T., Li, C., & Huang, M. (2026). The psychological restorative effects of green exercise : a moderated mediation model of nature relatedness and exercise behavior. Frontiers in Sports and Active Living, 1887724(8), 1–9. https://doi.org/10.3389/fspor.2026.1887724
Qin, W., Chiang, Y., & Shen, R. (2023). Applied Mathematics and Nonlinear Sciences Exploring the analysis of the benefits of different types of urban park landscape spaces on the health of residents.
