ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
Dinamika Kecemasan Ibu Bekerja dalam Pengasuhan Anak Usia Dini
Oleh:
Devina Ramli & Venie Viktoria Rondang Maulina
Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2026), tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2025 sebesar 56,63% dan mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam dunia kerja mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam beberapa periode terakhir. Peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja menimbulkan tantangan baru yang harus dihadapi. Hal ini dikarenakan perempuan yang bekerja menjalankan beberapa peran sekaligus, yaitu sebagai istri, ibu, dan tenaga kerja (Santoso & Rinaldi, 2021).
Ibu bekerja menjalankan tiga tanggung jawab berbeda, yaitu mengurus anak, mengurus pekerjaan rumah, dan mengerjakan pekerjaan yang didapatkan dari tempat kerjanya (Gina & Fitriani, 2020). Sandrariasti (dalam Sari, 2020) menjelaskan bahwa ibu yang bekerja memberikan dampak positif dalam pemenuhan kebutuhan keluarga, dalam arti bukan hanya suami saja yang aktif mencari penghasilan. Di lain sisi, dengan bekerja, ibu dapat mengalami keterbatasan waktu untuk bersama dengan anak dan suami, serta munculnya rasa bersalah ketika berusaha menyeimbangkan tanggung jawab antara pekerjaan dan keluarga (Sandriasti, dalam Sari, 2020). Ibu yang memutuskan bekerja dapat merasa kehilangan kebebasan, peningkatan tanggung jawab, serta dinamika hubungan yang berubah dengan suami (Anggarwati et al., 2019). Semakin banyak peran yang dijalankan, semakin besar kemungkinan seorang ibu mengalami konflik peran yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan dan kinerjanya (Obrenovic, Jianguo, Khudaykulov, & Khan, 2020). Ibu sering kali menghadapi tekanan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, sementara di lain sisi terdapat tuntutan dari keluarga terkait waktu yang diperlukan untuk mengelola tugas rumah tangga, merawat anak, dan mendukung pasangan (Sitorus & Brahmana, 2023).
Dampak konflik peran yang dialami oleh ibu bekerja dapat menimbulkan masalah emosional yang berdampak pada kesejahteraan psikologis serta kualitas hidup individu (Esther et al., 2016), khususnya pada ibu yang memiliki anak usia dini. Dengan adanya tantangan-tantangan ini, ibu bekerja yang memiliki anak usia dini sering kali mengalami kecemasan yang tinggi ketika menghadapi beban ganda antara pekerjaan profesional dan peran sebagai pengasuh utama di rumah, terutama ketika mereka merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan perkembangan anak secara optimal (Nurinayah & Rinaldi, 2023; Utami & Fitria, 2020). Santrock (2013) menyebutkan bahwa anak-anak yang masih termasuk usia dini adalah mereka yang berusia 0-7 tahun. Namun, di Indonesia, seorang anak digolongkan sebagai anak usia dini ketika berada dalam rentang usia 0-6 tahun (Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, Nomor 17 Tahun 2010 Pasal 1 Ayat 3). Sesuai dengan tahapan perkembangan, kelompok anak usia dini dibagi menjadi berikut: bayi (usia 0-1 tahun), batita (1-3 tahun), usia pra-sekolah (3-4 tahun), dan usia sekolah (4-6 tahun) (Talango, dalam Rachmaniar & Zanzabil, 2024), dengan tugas perkembangannya masing-masing.
Ibu yang bekerja dapat merasa cemas karena anak pada tahap perkembangan awal membutuhkan perhatian intensif dan keterlibatan emosional dari orang tua (Oktavia et al., 2023). Sebagai tambahan, ibu yang meluangkan sebagian besar waktunya untuk bekerja akan merasa tidak tenang ketika memiliki anak usia dini di rumahnya (Putrihapsari & Fauziah, 2020). Hal ini dikarenakan kondisi anak yang masih membutuhkan ibunya. Selain itu, ibu bekerja yang sudah lelah terkadang melampiaskan perasaannya kepada keluarga, terutama kepada anaknya, sehingga membuat ibu bekerja mengalami tiga konflik, yaitu konflik perasaan bersalah, permasalahan waktu dengan anak-anak, dan permasalahan sikap terhadap anak sebagai respons dari emosi yang dirasakan oleh ibu bekerja (Mase & Tyokyaa, dalam Putrihapsari & Fauziah, 2020). Hal ini menimbulkan kecemasan akibat ketidakmampuan menyeimbangkan peran ganda.
Menurut American Psychological Association (2018), kecemasan merupakan respons emosi yang ditandai dengan perasaan khawatir atau cemas serta gejala fisik berupa ketegangan. Kecemasan dapat berdampak pada keseharian ibu serta dalam pekerjaannya, serta mungkin mengganggu suasana di lingkungan sekitar (Wu, 2012). Selain itu, perasaan takut dan khawatir yang dialami ibu bekerja dapat mengganggu pemikiran positif dan menurunkan kemampuan mereka dalam mengelola stres, termasuk dalam mengelola tanggung jawab mengasuh anak. Sebagai tambahan, kecemasan juga dapat membuat ibu bekerja merasakan dampak fisiologis, seperti rasa kelelahan yang berkepanjangan, kehilangan nafsu makan, dan gangguan tidur, sehingga juga berdampak pada kontrol emosi (Paramita, et al., 2024). Dampak-dampak ini yang akhirnya mengganggu ibu bekerja dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian Asri dan Hendriani (2024) pada ibu bekerja di Asia menunjukkan bahwa ibu bekerja sering kali merasa cemas akan keterbatasan waktu yang mereka miliki sehingga memengaruhi tumbuh kembang dan perkembangan emosi anak secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan anak usia dini berada pada periode emas (golden age), sehingga membutuhkan peran orang tua, khususnya ibu.
Adapun dukungan dari orang lain, terutama anggota keluarga dekat (suami, orang tua, mertua, dan saudara), dipersepsikan dapat membantu ibu dalam kaitannya dengan kecemasan yang dirasakan. Selain itu, pada dasarnya masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan orang lain dan senang hidup berkelompok (Nur Alfaeni & Rachmawati, 2023). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2018) menyebutkan bahwa 75% keluarga di Indonesia mempercayakan pengasuhan kepada orang lain, seperti babysitter atau daycare, selain kepada anggota keluarga terdekat. Hal ini juga selaras dengan pendapat Nona dan Sumargi (2022) yang menyatakan bahwa semakin banyak dukungan sosial yang diterima oleh ibu bekerja, semakin tinggi tingkat kesejahteraan psikologisnya. Rahmadhani et al. (2021) juga menyatakan bahwa keterlibatan keluarga besar juga akan membantu ibu bekerja dalam mengelola peran ganda, baik sebagai ibu dan istri, maupun sebagai pekerja. Sementara itu, Bajaj et al. (2016) dalam penelitiannya menekankan bahwa mindfulness berkorelasi negatif dengan kecemasan. Dengan demikian, ibu bekerja yang memiliki anak usia dini dan memiliki mindfulness yang tinggi memiliki kemungkinan yang semakin kecil untuk mengalami perasaan dan pikiran negatif.
Daftar Pustaka:
Anggarwati, P.I., & Thamrin, W.P. (2019). work family-conflict dan psychological well-being pada ibu bekerja. Jurnal Psikologi, 12(2). DOI:10.35760/psi.2019.v12i2.2444
American Psychological Association (2018). APA Dictionary of Psychology. American Psychological Association Dictionary. https://dictionary.apa.org/anxiety
Asri, H. N., & Hendriani, W. (2024). Mengapa ibu bekerja mengalami stres pengasuhan? literatur review pada ibu bekerja di Asia. Jurnal Psikologi Tabularasa, 19(1), 73–87. https://doi.org/10.26905/jpt.v19i1.10986
Badan Pusat Statistik. (2026, Mei 5). Tingkat partisipasi angkatan kerja menurut jenis kelamin. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjIwMCMy/tingkat-partisipasi-angkatan-kerja-menurut-jenis-kelamin.html
Bajaj, B., Pande, N., & Robins, R. (2016). Mediating role of self-esteem on the relationship between mindfulness, anxiety, and depression. Personality and Individual Differences, 96:127-121. DOI:10.1016/j.paid.2016.02.085
Esther, K., Dizaho, R., Salleh, A., & Abdullah. (2016). The impact of work-family conflict on working mothers’ career development: A review of literature. Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 10(11), 328-334.
Gina, F., & Fitriani, Y. Regulasi emosi dan parenting stres pada ibu bekerja. Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 2(2), 96-102. http://journal.uad.ac.id/index.php/Psikologi/index
Komisi Perlindungan Anak Indonesia. (2018). KPAI akan Bahas Standarisasi Pengasuh Anak dengan Menaker.
Nona, E. H. A. P., & Sumargi, A. M. (2022). Konflik peran dengan well-being pada ibu bekerja. Jurnal EMPATI, 11(3), 177-184. https://doi.org/10.14710/empati.2022.34468
Nurinayah, A., & Rinaldi, R. M. (2023). Mindful parenting and anxiety in full-time working mothers. Jurnal Psikologi Integratif, 11(2), 155-169. DOI: https://doi.org/10.14421/jpsi.v11i2.2786
Nur Alfaeni, D. K., & Rachmawati, Y. (2023). etnoparenting: Pola pengasuhan alternatif masyarakat indonesia. Aulad: Journal on Early Childhood, 6(1), 51–60. https://doi.org/10.31004/aulad.v6i1.432
Oktavia, C., Nurhafizah., & Retnoningsih. (2023). Hubungan ibu bekerja terhadap perkembangan emosional anak usia 4-6 tahun. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 5 (1), 93-108. https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/pelangi
Obrenovic, B., Jianguo, D., Khudaykulov, A., & Khan, MAS. (2020). Work-family conflict impact on psychological safety and psychological well-being: A job performance model. Frontiers in Psychology, 11:475. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.0047
Paramita, P., Syahfitri, N., & Nurfajri, A. (2024). Degrees anxiety in working mothers. European Journal of Psychological Research, 11(3), 8-12. www.idpublications.org
Putrihapsari, R., & Fauziah, P. Y. (2020). Manajemen Pengasuhan Anak Usia Dini pada Ibu Yang Bekerja: Sebuah Studi Literatur: Childcare Management Of Working Mothers: A Literature Review. JIV-Jurnal Ilmiah Visi, 15(2), 127–136. https://doi.org/10.21009/JIV.1502.4
Rahmadhani, A., Nabillah, A., Firdaus, K. N., Hakim, I. N., Hidayat, E. A., Idamatussilmi, F., Achdiani, Y., & Fatimah, S. N. (2025). Peran dukungan keluarga dalam membangun work-family balance dan mengatasi stres pengasuhan ibu bekerja. JISPENDIORA Jurnal Ilmu Sosial Pendidikan Dan Humaniora, 4(2), 134–150. https://doi.org/10.56910/jispendiora.v4i2.2198
Santoso, B., & Rinaldi, M. R. (2021). Teknik mindfulness dan kecemasan perempuan sebagai aparat sipil negara. Jurnal Intervensi Psikologi, 14(1), 21-29. DOI :10.20885/intervensi psikologi.vol 14.iss 1.art3
Sari, R. P. (2020). Motivasi ibu bekerja dengan tahap perkembangan keluarga anak usia remaja kota Tangerang. Jurnal Kesehatan, 9(1), DOI 10.37048/kesehatan.v9i1.131
Sitorus, Y. N., & Brahmana, K. M. (2023). Gambaran konflik peran ganda pada wanita yang bekerja sebagai karyawan pemetik daun teh di perkebunan bah butong. Journal of Social Science Research, 3(4), 9040-9053. : https://j-innovative.org/index.php/Innovative
Wu, W. (2012). State-trait and separation anxiety among mothers with an only child entering kindergarten. International Journal of Education and Humanities, 12 (2), 35-39. DOI:10.54097/nay8hp28
