ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 67 Oktober 2026
Ketika Kecerdasan Emosional Menentukan Kualitas Kinerja Guru dan Pramugari
Oleh:
Marulin Hotmaida Sinaga, Hanny Astriani
Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Jakarta
“Jika engkau tidak menguasai emosimu, tidak sadar tentang dirimu, tidak mampu mengelola tekanan emosimu, tidak memiliki empati, dan tidak mampu menjalin hubungan yang baik, sepintar apapun dirimu, engkau tidak akan melangkah jauh”
Daniel Goleman
Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana kata-kata lembut seorang guru mampu menenangkan suasana kelas, atau bagaimana sikap sabar seorang pramugari dapat meredakan keluhan penumpang di tengah situasi yang tidak nyaman? Hal-hal seperti itu menunjukkan bahwa dalam pelayanan manusia, ada aspek penting yang sering tidak tertulis dalam buku pelajaran maupun prosedur kerja, yaitu kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali dan mengelola emosi diri sendiri, memahami perasaan, serta merespons situasi dengan tepat. Dalam dunia pendidikan, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga mengelola dinamika emosi siswa. Sementara dalam dunia penerbangan, pramugari tidak hanya memastikan keselamatan dan kenyamanan, tetapi juga dituntut untuk tetap tenang dan profesional menghadapi penumpang. Meskipun berada dalam bidang yang berbeda, guru dan pramugari memiliki kesamaan mendasar. Keduanya bekerja untuk manusia, karena itu, kecerdasan emosional merupakan bagian penting yang menentukan kualitas kinerja mereka.
Apa Itu Kecerdasan Emosional?
Banyak orang mengira orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik adalah mereka yang tidak pernah marah atau selalu tersenyum. Padahal, pemahaman itu kurang tepat. Menurut Santosa (2002), EQ yang tinggi bukan berarti seseorang mampu menekan amarahnya. Justru orang dengan EQ tinggi tahu persis kapan harus marah, kapan harus menangis, kapan harus tertawa, dan memahami sebab serta akibat dari setiap emosi. Oleh karena itu, kecerdasan emosional bisa dikatakan adalah sebuah kemampuan untuk mengelola emosi secara cerdas, menggunakannya dengan tepat sesuai situasi (Aizid, 2017). Emotional Intelligence atau dikenal dengan EI atau EQ, adalah fase dimana suatu individu memiliki kesadaran diri untuk mengatur emosi dan memotivasi diri mereka sendiri, dalam memberikan empati kepada orang sekitar (Moorhead dan Griffin, 2014 dalam Yudianto & Istiqomah, n.d.)
Daniel Goleman (1995) seorang psikolog terkenal, menjabarkan kecerdasan emosional ke dalam lima aspek, yaitu
1. Kesadaran diri, yaitu bagaimana seorang individu mampu memahami perasaan diri sendiri
2. Regulasi diri, yaitu kemampuan mengelola dan menempatkan emosi sesuai kondisi
3. Empati, yaitu kemampuan memahami dan merespons perasaan orang lain
4. Keterampilan sosial, yaitu kemampuan berkomunikasi dan membangun hubungan yang baik
5. Motivasi, yaitu dorongan dari dalam diri untuk terus berkembang
Kelima komponen inilah yang menjadi landasan di balik pelayanan terbaik baik di ruang kelas maupun di kabin pesawat.
Guru: Lebih dari Sekadar Pengajar
Dalam dunia kerja guru, kecerdasan emosional sangat penting. Guru harus dapat berinteraksi dengan siswa dari berbagai latar belakang, emosi, dan karakter setiap hari. Guru dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung lebih bahagia dengan pekerjaan mereka. Gkolia, Belias, dan Koustelios (2014) menemukan bahwa kecerdasan emosional memiliki korelasi positif dengan kinerja guru dan kepuasan kerja mereka, artinya kemampuan untuk mengelola emosi berdampak langsung pada kualitas kerja di kelas.
Selain itu, Chan (2006) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional juga membantu guru mengurangi kelelahan emosional atau kelelahan. Untuk menjaga stabilitas dalam proses mengajar, guru dengan kecerdasan emosional tinggi lebih mampu mengatasi tekanan pekerjaan. Guru yang mampu mengendalikan perasaan mereka cenderung membuat kelas lebih positif, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Secara keseluruhan, kecerdasan emosional merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas kinerja guru, baik dalam pengajaran maupun hubungan interpersonal di sekolah. Motivasi kerja yang tinggi dapat membantu guru mengelola emosi mereka secara positif, yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan kinerja mereka (Made et al., 2021). Dengan motivasi internal, guru dapat menghadapi tantangan pekerjaan karena kesadaran akan peran pentingnya dalam pendidikan.
Pramugari: Emosi Juga Bagian dari Tugas
Pramugari harus memahami dan mengenali perasaan orang lain di lingkungan kerja mereka untuk menciptakan suasana kerja yang baik bagi penumpang dan crew. Dalam dunia penerbangan, pramugari tidak hanya bertugas menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang, tetapi juga dituntut untuk mampu mengelola emosi dalam situasi yang penuh tekanan. Oleh karena itu, kecerdasan emosional menjadi faktor penting yang memengaruhi kualitas kinerja mereka. Penelitian Lee dan Jun (2019) menunjukkan bahwa pengelolaan emotional labor yang baik dapat meningkatkan keterlibatan kerja dan kinerja pramugari. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional membantu pramugari tetap profesional meskipun berada dalam tekanan kerja.
Selain itu, pelatihan kecerdasan emosional terbukti dapat meningkatkan kemampuan komunikasi, pengambilan keputusan, dan pelayanan pramugari dalam situasi krisis. Hal ini memperkuat bahwa kecerdasan emosional bukan hanya kemampuan pribadi, tetapi juga kompetensi profesional yang penting dalam dunia penerbangan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan, bahwa kecerdasan emosional berperan penting dalam meningkatkan kinerja pramugari. Kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi membantu mereka tetap profesional, mengurangi stres kerja, serta menciptakan pengalaman terbang yang lebih positif bagi penumpang.
Mengapa EQ Penting di Profesi Ini
Guru maupun pramugari merupakan profesi yang melayani manusia secara langsung sehingga memiliki tekanan emosional yang tinggi dalam pekerjaannya. Dalam kondisi tersebut, kecerdasan emosional berperan penting dalam menentukan kualitas kinerja, karena individu dengan EQ yang baik mampu mengelola stres serta merespons situasi dengan lebih bijak. Pada guru, EQ berkontribusi dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif, serta meningkatkan efektivitas pembelajaran dan hubungan guru–siswa. Sementara pada pramugari, EQ membantu dalam menjaga profesionalisme, menghadapi keluhan penumpang, serta mempertahankan kualitas pelayanan di bawah tekanan kerja yang tinggi. Selain itu, individu dengan EQ yang stabil cenderung lebih terbuka terhadap kritik dan menjadikannya sebagai sarana pengembangan diri, sehingga kualitas kinerja dapat terus meningkat dalam jangka panjang.
Dampak Kecerdasan Emosional Rendah dan Cara Mengembangkannya di Dunia Kerja”
Kecerdasan emosional berperan penting dalam menentukan kualitas kinerja di dunia kerja. Rendahnya kecerdasan emosional dapat menyebabkan kesulitan mengelola stres, komunikasi yang kurang efektif, meningkatnya konflik, serta penurunan kualitas kinerja. Sebaliknya, kecerdasan emosional dapat dikembangkan melalui peningkatan kesadaran diri, pengendalian emosi, empati, keterampilan sosial, dan motivasi intrinsik.
Berbagai penelitian mendukung hal tersebut. Gkolia, Belias, dan Koustelios (2014) menemukan bahwa kecerdasan emosional berhubungan positif dengan kinerja dan kepuasan kerja guru. Chan (2006) juga menunjukkan bahwa EI membantu menurunkan burnout pada guru. Dalam konteks pramugari, Lee dan Jun (2019) menemukan bahwa pengelolaan emotional labor yang baik dapat meningkatkan kinerja dan keterlibatan kerja, sedangkan kemampuan regulasi emosi yang rendah dapat meningkatkan kelelahan emosional. Dengan demikian, pengembangan kecerdasan emosional menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kinerja di dunia kerja.
Referensi:
Aizid, R. (2017). Sehat dan cerdas dengan terapi musik. Laksana.
Brackett, M. A., Palomera, R., Mojsa-Kaja, J., Reyes, M. R., & Salovey, P. (2010). Emotion-regulation ability, burnout, and job satisfaction among British secondary-school teachers. Journal of School Psychology, 48(5), 529–552.
Chan, D. W. (2006). Emotional intelligence and components of burnout among Chinese secondary school teachers in Hong Kong. Teaching and Teacher Education, 22(8), 1042–1054.
Gkolia, A., Belias, D., & Koustelios, A. (2014). The impact of teachers’ emotional intelligence on their job satisfaction and performance. International Journal of Educational Management, 28(2), 166–185.
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence. Bantam Books.
Kumari, P., & Aithal, P. S. (2022). Emotional labor and cabin crew job performance.
Made, N., Oktaviani, I., Bagus, I., & Manuaba, S. (2021). Kontribusi kecerdasan emosional dan motivasi kerja terhadap komitmen kerja guru. [Nama jurnal tidak tercantum], 9(1), 116–126.
PIP Unpad. (2020). Ternyata, kecerdasan emosional memegang peran penting dalam kesuksesan seseorang.
https://pipunpad.id/article/ternyata-kecerdasan-emosional-memegang-peran-penting-dalam-kesuksesan-seseorang
Santosa, S. (2002). Kecerdasan emosional. Gramedia.
Satriyono, G. (2018). Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja guru di SMP Negeri 4 Kediri. [Nama jurnal tidak tercantum], 3(1), 31–46.
Singh, P., et al. (2026). Emotional intelligence training and cabin crew performance.
International Journal of Economic Practices and Theories.
Yudianto, K., & Istiqomah, E. (2020). Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional terhadap kinerja cabin crew. [Nama jurnal tidak tercantum], 13(1), 76–8
