ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 65 September 2026

Fungsi Folklor untuk Psikologi: Dari Ketidaksadaran hingga Kesehatan Mental

Oleh:

Abu Bakar Fahmi, Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka

Eko A Meinarno, Universitas Indonesia

 

Pengantar

Bagaimana folklor dipandang dalam perspektif psikologi? Folklor di mata psikologi mempunyai empat fungsi. Pertama, sebagai manifestasi ketidaksadaran. Kedua, sebagai pencarian makna hidup; Ketiga, cara memahami konsep psikologi; dan keempat sebagai pendekatan dalam terapi.

 

Folklor sebagai Manifestasi Ketidaksadaran

Folklor, antara lain berupa mitos dan dongeng, merupakan cerminan struktur dasar jiwa manusia (von Franz, 2017). Folklor pada dasarnya adalah representasi dramatis dari proses dasar psikologis manusia (Mitchell, 2010). Beberapa dongeng dapat membantu memahami proses mental manusia dan menawarkan solusi atas masalah yang pada akhirnya mengarah pada kehidupan yang lebih memuaskan (Mitchell, 2010).

 

Salah satu tokoh psikologi yang memandang folklor sebagai manifestasi ketidaksadaran adalah Sigmund Freud (tokoh sentral aliran psikoanalisis) (Feist & Feist, 2008). Freud mengemukakan konsep mengenai analisis mimpi dengan salah satu metodenya adalah meminta pasien bercerita mengenai mimpi mereka dan semua asosiasi yang terkait dengannya, tidak peduli seberapa tidak terkait atau tidak logis asosiasi tersebut (Feist & Feist, 2008). Freud percaya bahwa asosiasi tersebut mengungkapkan keinginan bawah sadar di balik mimpi. Freud menyebut hubungan konstan antara elemen mimpi dan interpretasinya sebagai simbolis (Freud, 2018). Bagi Freud, elemen mimpi itu sendiri merupakan simbol dari pikiran bawah sadar.

 

Menurut Freud, pikiran bawah sadar manusia tidak hanya muncul melalui mimpi. Ketidaksadaran manusia juga muncul melalui banyak sumber, antara lain dalam folklor (Freud, 2018). Freud menulis,

 

“Di mana sebenarnya kita dapat menemukan makna dari simbol-simbol mimpi ini jika si pemimpi sendiri tidak dapat memberikan informasi mengenainya, atau paling banter hanya dapat memberikan informasi yang tidak lengkap?" Jawaban saya adalah: "Dari banyak sumber yang sangat berbeda, dari dongeng dan mitos, lelucon dan sandiwara, dari folklor, yaitu pengetahuan tentang adat istiadat, kebiasaan, pepatah dan lagu-lagu masyarakat, dari bahasa puitis dan vulgar. Di mana-mana kita menemukan simbolisme yang sama dan dalam banyak contoh kita memahaminya tanpa informasi lebih lanjut. Jika kita menelusuri setiap sumber ini secara terpisah, kita akan menemukan begitu banyak kesamaan dengan simbolisme mimpi sehingga kita harus percaya pada kebenaran interpretasi kita.”

Tokoh lain yang memandang folklor sebagai manifestasi ketidaksadaran adalah Carl Jung. Folklor, khususnya mitos, dipandang sebagai bentuk ketidaksadaran kolektif dari pengalaman manusia yang disebut sebagai arketip (Feist & Feist, 2008). Salah satu jenis arketip adalah pahlawan (hero). Arketipe pahlawan digambarkan dalam mitologi dan legenda sebagai sosok yang perkasa, kadang-kadang sebagian dewa, yang berjuang melawan rintangan besar untuk menaklukkan atau mengalahkan kejahatan (Feist & Feist, 2008). “Mitos pahlawan adalah mitos yang paling umum dan paling dikenal di dunia,” jelas Jung. “Kita menemukannya dalam mitologi klasik Yunani dan Romawi, di Abad Pertengahan, di Timur Jauh, dan di antara suku-suku primitif kontemporer. Mitos ini juga muncul dalam mimpi kita. Mitos ini memiliki daya tarik dramatis yang jelas, dan kepentingan psikologis yang kurang jelas, tetapi tetap mendalam.” (Jung, 2012).

Bagi Jung, ketidaksadaran kolektif perlu diasimilasikan ke dalam konsep-konsep sadar yang dapat membantu kita memahaminya. Sehingga Jung berpandangan bahwa penting bagi orang dewasa untuk menceritakan dongeng dan legenda pada anak-anak. Jung menulis,  

“…banyak gangguan neurotik yang muncul dari fakta bahwa isi-isi tertentu terkumpul di alam bawah sadar tetapi tidak dapat diasimilasi karena kurangnya konsep apersepsi yang akan “memahami”nya. Itulah mengapa sangat penting untuk menceritakan dongeng kepada anak-anak dan legenda, ... karena hal-hal ini adalah simbol-simbol instrumental yang dengan bantuannya isi-isi bawah sadar dapat disalurkan ke dalam kesadaran, diinterpretasikan, dan diintegrasikan.” (Mitchell, 2010).

Menggunakan perspektif psikoanalisis, ilmuwan psikologi anak Bruno Bettelheim mengkaji pentingnya dongeng bagi pertumbuhan psikologis anak. Dalam perspektif psikoanalisis, dongeng membawa pesan-pesan penting bagi pikiran sadar, bawah sadar, dan tidak sadar manusia (Bettelheim, 1976). “Dengan membahas masalah-masalah manusia universal, khususnya yang menyibukkan pikiran anak,” ungkap Bettelheim, “cerita-cerita ini berbicara kepada ego yang sedang berkembang dan mendorong perkembangannya, sekaligus meredakan tekanan bawah sadar dan tidak sadar.” Fungsi folklor ini mirip atau sejalan dengan fungsi folkor yang diajukan oleh Alan Dundes dalam karyanya The study of folklore in literature and culture: Identification and interpretation (1965). Folklor mewakili ekspresi kecemasan yang diwujudkan dalam kisah-kisah. Di Indonesia dapat kita ambil contoh cerita Si Pitung. Masyarakat yang takut terhadap penjajahan, maka muncul tokoh yang melawan penindasan. 

Folklor sebagai Sistem Keyakinan yang Membantu Menemukan Makna Hidup

Menurut ilmuwan psikologi eksistensial Rollo May, folklor berjenis mitos dipandang penting baik secara individual maupun secara sosial budaya. May berpandangan bahwa mitos merupakan sistem keyakinan, bersifat sadar maupun tidak sadar, yang memberi penjelasan mengenai masalah personal dan sosial. May berpendapat bahwa masyarakat sangat membutuhkan mitos karena apabila kekurangan mitos untuk dipercaya mereka beralih ke sekte-sekte dan berbagai bentuk tindakan pelarian dalam upaya untuk menemukan makna hidup (Feist & Feist, 2008).

 

Menurut May, orang berkomunikasi satu sama lain melalui dua tingkatan. Yang pertama adalah bahasa rasionalistik, di mana kebenaran lebih diutamakan daripada orang-orang yang berkomunikasi. Yang kedua adalah melalui mitos, di mana pengalaman manusia secara keseluruhan lebih penting daripada keakuratan komunikasi. Orang-orang menggunakan mitos dan simbol untuk melampaui situasi konkret yang ada, untuk memperluas kesadaran diri, dan untuk mencari identitas (Feist & Feist, 2008).

May berpandangan bahwa mitos dapat berkontribusi pada pertumbuhan psikologis jika orang mau menerimanya dan membiarkannya membuka realitas baru. Orang yang menyangkal mitos, menurut May, berisiko mengalami keterasingan, apati, dan kekosongan.

 

Folklor Sebagai Cara untuk Memahami Konsep Psikologi

Dalam psikologi, folklor digunakan sebagai cara untuk menjelaskan konsep psikologi. Sigmund Freud menggunakan kisah mitologi Yunani yang diceritakan di tulisan Meinarno dan Fahmi (2026) dengan mengemukakan konsep Oedipus complex, yaitu situasi yang terjadi pada fase falik (3-4 tahun) di mana anak mengembangkan perasaan cinta maupun permusuhan terhadap orang tua (Feist & Feist, 2008). Pada anak laki-laki, ia memiliki perasaan cinta seksual terhadap ibu dan permusuhan terhadap ayah; pada anak perempuan, ia merasakan permusuhan terhadap ibu dan cinta seksual terhadap ayah.

 

Pada fungsi ini, beberapa ilmuwan psikologi menggunakan fabel untuk menjelaskan konsep psikologi yang dikemukakan mereka. Misalnya, Leon Festinger menyinggung mengenai anggur masam dalam menjelaskan teori disonansi kognitif (Festinger, 1962). Anggur masam mengacu pada fabel Aesop mengenai rubah yang karena tidak mampu menjangkau seikat anggur yang menggantung di cabang pohon yang terlalu tinggi, sehingga ia pergi sambil mencemooh dengan menyebut anggur tersebut sebagai anggur masam. Teori ini berpusat pada gagasan bahwa jika seseorang mengetahui berbagai hal yang secara psikologis tidak konsisten satu sama lain, ia akan membuatnya lebih konsisten. Agar konsisten dengan perilakunya yang tidak mampu menggapai anggur, rubah menyebut anggur itu anggur masam.

 

Dalam menjelaskan konsep mengenai menunda kepuasan dan mengendalikan diri, ilmuwan psikologi Walter Mischel menggunakan fabel semut dan belalang. Pada musim dingin, belalang meminta makanan kepada semut yang sedang sibuk menjemur makanannya. Semut punya banyak cadangan makanan yang disimpan sejak musim panas, sedangkan belalang tidak berbuat apa-apa.  Mischel melakukan eksperimen yang dikenal dengan Marshmallow Test pada anak-anak usia 4 sampai 5 tahun untuk menguji sejauh mana mereka mampu menunda kepuasan saat ada marshmallow di depannya. Dari eksperimen ini, Mischel membagi dua cara orang berpikir berkaitan dengan reaksi terhadap imbalan: kecenderungan untuk mendapat imbalan segera disebut sebagai sistem panas (hot system) dan kecenderungan menunda mendapat imbalan disebut sebagai sistem dingin (cool system) (Mischel, 2014). Saat dihadapkan pada rangsangan yang memuaskan, kita bisa mengaktivasi sistem panas khas belalang, bisa juga mengaktivasi sistem dingin khas semut. Anak-anak yang berusia lebih muda cenderung mengaktivasi sistem panas khas belalang dengan menikmati kesenangan segera: memakan marshmallow. Penjelasan lebih detail terkait fungsi folklor untuk memahami konsep psikologi sebagaimana dicontohkan dari dua fabel di atas diulas oleh penulis pada tulisan lain (Fahmi, 2025a; 2025b).

 

Folklor sebagai Pendekatan dalam Terapi

Folklor, dalam hal ini dongeng, digunakan oleh ilmuwan psikologi sebagai pendekatan dalam terapi yang disebut dengan terapi naratif. Terapi ini memanfaatkan struktur naratif dongeng, serta metafora yang terkandung di dalamnya, untuk membantu orang memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Selama berabad-abad dongeng menyampaikan makna eksplisit dan implisit dan mampu ditangkap oleh pikiran manusia dalam beragam usia, baik anak-anak maupun orang dewasa, dengan pesan bahwa kesulitan hidup manusia itu alamiah sehingga cara untuk mengatasinya adalah dengan menghadapinya secara gigih (Bettelheim, 1976).

 

Penelitian dalam psikologi positif yang melibatkan 21 perempuan dewasa yang mengalami gangguan menyesuaian diri menemukan bahwa intervensi kelompok menggunakan pendekatan naratif mampu meningkatkan kesehatan mental mereka. Intervensi menggunakan dongeng meningkatkan pertumbuhan pribadi, penerimaan diri, dan apresiasi terhadap kehidupan dan potensi pribadi, serta membantu menurunkan kecemasan (Ruini et al., 2014). Pendekatan naratif menggunakan dongeng juga dapat mengungkapkan tingkat kesehatan mental dan emosi positif pada anak-anak usia sekolah (Ruini et al., 2017).

 

Penutup

Folklor menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sumber pengetahuan psikologis yang hidup dan terus relevan. Dari perspektif ketidaksadaran ala Freud dan Jung, folklor berfungsi sebagai jendela untuk memahami dinamika batin manusia, baik secara individual maupun kolektif. Folklor membantu manusia menemukan makna hidup dan menjaga keterhubungan dengan nilai-nilai yang melampaui pengalaman sehari-hari. Sebagai alat konseptual, folklor juga mempermudah penjelasan teori-teori psikologi yang kompleks melalui metafora dan narasi yang akrab. Lebih jauh, dalam praktik intervensi, folklor terbukti memiliki kontribusi nyata dalam meningkatkan kesehatan mental melalui pendekatan naratif.

 

Daftar Pustaka:

Bettelheim, B. (1976). The Uses of Enchantment: The Meaning and Importance of Fairy tales. Vintage Books.

 

Bronner, S. J. (2017). Folklore: The Basics. Routledge

Dundes, A. (1965). The study of folklore in literature and culture: Identification and interpretation. The Journal of American Folklore, 78(308), 136-142.

Fahmi, A. B. (2025a). Rubah dan Gagak: Pelajaran Mengenai Mengapa Orang Cerdas Bisa Bertindak Bodoh. Psikonara. https://psikonara.id/rubah-dan-gagak-pelajaran-mengenai-mengapa-orang-cerdas-bisa-bertindak-bodoh/. Diakses medio Mei 2026.

Fahmi, A. B. (2025b). Otak Semut, Otak Belalang: Bagaimana Cara Berpikir Mengenai Imbalan Dapat Memengaruhi Hidup Kita. Psikonara. https://psikonara.id/otak-semut-otak-belalang-bagaimana-cara-kita-berpikir-mengenai-imbalan-dapat-mempengaruhi-hidup-kita/. Diakses medio Mei 2026.

Feist, J., & Feist, G. J. (2008). Theories of Personality 7th Edition. McGraw-Hill.

Festinger, L. (1962). Cognitive Dissonance. Scientific American, 207, 93–102.

Freud, S. (2018). A General Introduction to Psychoanalysis. GlobalGrey.

Jung, C. G. (2012). Man and His Symbols. Random House Publishing Group.

Kondi, B. (2019). Folklore. In J. Sturman (Ed.), The SAGE International Encyclopedia of Music and Culture. SAGE Publications, Inc

Meinarno, E. A., Fahmi, A. B. (2026). Folklor untuk Psikologi. Dalam proses penerbitan.  

Mischel, W. (2014). The Marshmallow Test: Mastering Self-Control. Little, Brown and Company.

Mitchell, M. B. (2010). Learning about Ourselves through Fairy Tales: Their Psychological Value. Psychological Perspectives, 53(3), 264–279. https://doi.org/10.1080/00332925.2010.501212

Ruini, C., Masoni, L., Ottolini, F., & Ferrari, S. (2014). Positive Narrative Group Psychotherapy: The use of traditional fairy tales to enhance psychological well-being and growth. Psychology of Well-Being, 4(1), 13. https://doi.org/10.1186/s13612-013-0013-0

Ruini, C., Vescovelli, F., Carpi, V., & Masoni, L. (2017). Exploring Psychological Well-Being and Positive Emotions in School Children Using a Narrative Approach. Indo-Pacific Journal of Phenomenology, 17(sup1), 1–9. https://doi.org/10.1080/20797222.2017.1299287

von Franz, M.-L. (with Crossen, K.). (2017). The Interpretation of Fairy Tales: Revised Edition (2nd ed). Shambhala.