ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 63 Agustus 2026
Ketika Gelar Sarjana Tidak Lagi Menjamin Masa Depan
Oleh:
Chandra Yudistira Purnama
Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani
Selama bertahun-tahun, gelar sarjana dipandang sebagai jalan utama menuju kehidupan yang lebih baik. Banyak orang tua rela mengeluarkan biaya besar demi menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi karena meyakini bahwa pendidikan tinggi akan membuka peluang kerja yang layak, penghasilan yang baik, dan mobilitas sosial yang lebih tinggi. Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan gambaran yang berbeda. Semakin banyak lulusan sarjana yang bekerja di luar bidang studinya, menerima pekerjaan yang tidak memerlukan pendidikan tinggi, atau bahkan kesulitan memperoleh pekerjaan tetap. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah gelar sarjana masih memiliki nilai seperti dahulu?
Para ahli menyebut fenomena ini sebagai devaluasi gelar sarjana, yaitu menurunnya nilai ekonomi dan sosial gelar sarjana di pasar kerja (Yang, 2023). Dalam beberapa dekade terakhir, akses terhadap pendidikan tinggi semakin terbuka. Jumlah perguruan tinggi bertambah, daya tampung mahasiswa meningkat, dan semakin banyak masyarakat yang berhasil meraih gelar sarjana. Di satu sisi, perkembangan ini merupakan kemajuan karena pendidikan menjadi lebih inklusif. Namun, di sisi lain, peningkatan jumlah lulusan yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan lapangan kerja berkualitas menyebabkan gelar sarjana tidak lagi menjadi pembeda yang kuat di pasar tenaga kerja (Lam & Tang, 2024).
Perubahan teknologi juga mempercepat proses tersebut. Digitalisasi, otomatisasi, dan perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah kebutuhan dunia kerja secara signifikan. Banyak pekerjaan lama menghilang, sementara pekerjaan baru bermunculan dengan tuntutan keterampilan yang berbeda. Perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang memiliki ijazah, tetapi juga mereka yang mampu beradaptasi, menguasai teknologi, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah yang kompleks. Akibatnya, pendidikan tinggi tidak selalu memberikan jaminan bahwa lulusannya akan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan harapan (“Higher Education and Labor Market Outcomes,” 2025).
Fenomena ini semakin diperparah oleh adanya skills mismatch atau ketidaksesuaian keterampilan. Kondisi ini terjadi ketika keterampilan dan pendidikan yang dimiliki seseorang tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya. Ketidaksesuaian tersebut dapat berbentuk overqualification, yaitu ketika tingkat pendidikan seseorang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan pekerjaannya, atau ketidaksesuaian bidang studi, yaitu ketika seseorang bekerja pada bidang yang tidak berkaitan dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya (Somers et al., 2018). Tidak sedikit lulusan teknik yang bekerja di bidang administrasi, lulusan akuntansi yang menjadi tenaga pemasaran, atau lulusan pendidikan yang bekerja di sektor yang sama sekali berbeda dari kompetensi akademiknya.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa skills mismatch merupakan persoalan global. Di China, ekspansi pendidikan tinggi telah melemahkan hubungan antara gelar perguruan tinggi dan akses terhadap pekerjaan berkualitas (Yang, 2023). Penelitian di Kazakhstan juga menemukan bahwa meskipun kondisi ekonomi relatif stabil, ketidaksesuaian keterampilan masih tinggi akibat lemahnya hubungan antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja (Nurmukhanova et al., 2026). Penelitian lain menunjukkan bahwa lulusan yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikan yang mereka tempuh cenderung memiliki tingkat kepuasan karier yang lebih rendah dan menyesali pilihan studinya (Iriondo, 2022).
Dampak devaluasi gelar dan ketidaksesuaian keterampilan tidak dapat dianggap sepele. Secara ekonomi, lulusan yang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keterampilan dan pendidikannya berpotensi menerima upah yang lebih rendah. Beberapa penelitian menunjukkan adanya penalti upah antara 18 hingga 31 persen dibandingkan mereka yang bekerja sesuai dengan kompetensinya (Green & Henseke, 2021). Secara psikologis, kondisi ini dapat memicu ketidakpuasan kerja, hilangnya motivasi, dan perasaan gagal memenuhi ekspektasi yang dibangun selama menempuh pendidikan tinggi. Lebih jauh lagi, banyak pekerja yang terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai selama bertahun-tahun dan kesulitan melakukan mobilitas karier ke posisi yang lebih baik (Sevilla et al., 2021).
Pada tingkat yang lebih luas, kondisi ini juga berdampak pada pembangunan nasional. Ketika lulusan tidak dapat mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya, maka terjadi pemborosan investasi pendidikan yang dikeluarkan oleh individu, keluarga, maupun negara (Nurmukhanova et al., 2026). Ketidaksesuaian keterampilan juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial karena kelompok masyarakat tertentu lebih rentan terdampak, seperti lulusan dari keluarga kurang mampu, perempuan, dan kelompok rentan lainnya (Olaniyan, 2026). Dengan kata lain, pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi sarana mobilitas sosial justru berisiko kehilangan kemampuannya dalam menciptakan peluang yang lebih setara.
Akar permasalahan ini tidak hanya terletak pada pasar kerja, tetapi juga pada sistem pendidikan itu sendiri. Perubahan industri berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan banyak institusi pendidikan dalam menyesuaikan kurikulumnya. Dunia kerja saat ini membutuhkan keterampilan digital, kemampuan analitis, pemecahan masalah, kreativitas, dan kemampuan belajar secara mandiri. Namun, sebagian perguruan tinggi masih berfokus pada transfer pengetahuan teoritis yang belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan industri modern (Traoret et al., 2026). Selain itu, pemberi kerja secara konsisten menekankan pentingnya soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, kemampuan beradaptasi, dan kemandirian, tetapi keterampilan tersebut sering kali belum menjadi perhatian utama dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi (Keller & Dernózy-Polyák, 2026).
Hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri yang belum optimal turut memperbesar kesenjangan tersebut. Banyak kurikulum masih dirancang dari perspektif akademis tanpa melibatkan kebutuhan praktis di lapangan. Akibatnya, lulusan memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi belum memiliki pengalaman dan keterampilan yang siap diterapkan dalam dunia kerja (Wang et al., 2024).
Meski demikian, berbagai solusi mulai dikembangkan di berbagai negara. Pendekatan Competency-Based Learning menempatkan penguasaan kompetensi sebagai fokus utama pembelajaran sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menguasai keterampilan yang benar-benar dibutuhkan industri (Mugabe, 2026). Di sisi lain, konsep micro-credentials dan stackable skills memungkinkan individu memperoleh keterampilan baru secara lebih fleksibel dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja (Bloomberg, 2024; Malik et al., 2025). Kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah juga terbukti mampu meningkatkan relevansi pendidikan dan memperluas kesempatan kerja bagi lulusan (Rizaludin, 2025). Selain itu, pemanfaatan kecerdasan buatan dan learning analytics dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan keterampilan masa depan dan mempersonalisasi proses pembelajaran (Lai et al., 2025; Zamroni et al., 2025).
Pada akhirnya, gelar sarjana masih memiliki arti penting. Gelar tetap menjadi bukti bahwa seseorang telah menempuh proses pendidikan formal dan menguasai dasar-dasar keilmuan tertentu. Namun, di tengah perubahan teknologi dan pasar kerja yang bergerak sangat cepat, gelar sarjana tidak lagi dapat dipandang sebagai jaminan otomatis menuju kesuksesan. Kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan keterampilan yang relevan justru menjadi modal yang semakin menentukan. Masa depan pendidikan tinggi tidak diukur dari seberapa banyak gelar yang dihasilkan, melainkan dari seberapa siap lulusannya menghadapi perubahan. Di era modern, ijazah mungkin membuka pintu pertama, tetapi keterampilan dan kemampuan belajar sepanjang hayatlah yang menentukan apakah seseorang dapat terus bertahan dan berkembang di dalamnya.
Referensi:
Bloomberg, L. (2024). Re-Aligning Higher Education and Employability: Stackable Skills are the New Currency as Online Education Paves the Way. Journal of Online Graduate Education. https://doi.org/10.65201/001c.141602
Green, F., & Henseke, G. (2021). TASK-WARRANTED GRADUATE JOBS AND MISMATCH. The Singapore Economic Review. https://doi.org/10.1142/S0217590821500399
Higher Education and Labor Market Outcomes: Investigating the Rise of Educated Unemployment. (2025). Strategic Data Management and Innovation. https://doi.org/10.71292/uiri.v1i01.19
Iriondo, I. (2022). Graduate Labour Market Outcomes and Satisfaction with University Education in Spain. PLoS ONE. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0270643
Keller, V., & Dernózy-Polyák, A. (2026). Skills and Competence Assessment in Higher Education: A Case Study in Hungary on Employer Expectations. Higher Education, Skills and Work-Based Learning. https://doi.org/10.1108/HESWBL-11-2025-0534
Lam, B. O., & Tang, H. H. (2024). Qualitative Inquiry into the Meanings of Higher Education: Implications for Developments in Education and Social Integration in Hong Kong in the Post-Covid-19 Period. Bulletin de Sinologie. https://doi.org/10.4000/11y7o
Mugabe, G. (2026). Rethinking Educational Pedagogy to Bridge the Skills Gap: The Impact of Competency-Based Learning at Kepler College. International Journal of Education and Emerging Practices. https://doi.org/10.63236/injeep.2.1.3
Nurmukhanova, G., & Kurmangalieva, A. K. (2026). The Relationship Between the Labor Market and Higher Education in Kazakhstan: Trends and Development Directions. Bulletin. https://doi.org/10.32014/2026.2518-1467.1139
Olaniyan, Y. D. (2026). Graduate Job Imaginaries and Labour Precarity: The Promise and Limits of Higher Education and Social Mobility for Rural Nigerians. Industry & Higher Education. https://doi.org/10.1177/09504222261436499
Sevilla, M. P., Farías, M., & Luengo-Aravena, D. (2021). Patterns and Persistence of Educational Mismatch: A Trajectory Approach Using Chilean Panel Data. Social Sciences. https://doi.org/10.3390/socsci10090333
Somers, M. A., Cabus, S., Groot, W., & Brink, H. M. van den. (2018). Horizontal Mismatch Between Employment and Field of Education: Evidence from a Systematic Literature Review. Journal of Economic Surveys. https://doi.org/10.1111/JOES.12271
Traoret, R. I., Hujran, O., Al-Naymat, G., & Aldahmani, S. (2026). Bridging the Skills Gap: A Machine Learning Approach to Align Business Education with Labor Market Needs in the UAE. Industry & Higher Education. https://doi.org/10.1177/09504222261436625
Wang, W., Hussin, M., & Majid, M. A. A. (2024). Employment Skills Revisited: A Qualitative Exploration of Multi-Stakeholder Perspective in China’s “3+1” Higher Education Context. Rupkatha Journal on Interdisciplinary Studies in Humanities. https://doi.org/10.21659/rupkatha.v16n2.14g
Yang, P. (2023). The Winner’s Curse? Temporal and Spatial Impacts of Higher Education Expansion on Graduate Employment and Social Mobility. Studies in Higher Education. https://doi.org/10.1080/03075079.2023.223102
Zamroni, Fatmasari, R., Rasyidi, Baharun, H., Windiyani, T., & Putri, D. F. (2025). Artificial Intelligence as a Tool to Improve the Quality of Job-Ready Graduate Skills in Higher Education. 2025 IEEE International Conference on Industry 4.0, Artificial Intelligence, and Communications Technology (IAICT). https://doi.org/10.1109/IAICT65714.2025.11101572
