ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Anak Belajar dari yang Dilihat: Efek Guru, Influencer, dan Role Model dalam Pendidikan
Oleh:
Benedicto Gopas Pakpahan, Ni Komang Putri Angelina Candra Dewi, Ni Putu Herlina Ayu Anggreni
Program Studi Psikologi, Universitas Udayana
Setiap hari, anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran atau kata-kata orang tua, tapi juga dari apa yang mereka lihat dan dengar di sekitarnya. Tanpa sadar, mereka meniru cara bicara guru, mengikuti kebiasaan orang tua, hingga mengikuti gaya tokoh favorit di media sosial. Fenomena sederhana ini sebenarnya menjelaskan sebuah proses psikologis yang berkaitan dengan teori dari Albert Bandura, yaitu social cognitive theory yang menekankan bahwa manusia belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orang lain serta melibatkan proses mental seperti perhatian, ingatan, dan motivasi. Bandura berpendapat bahwa manusia, terutama anak-anak, memperoleh perilaku dan nilai melalui pengamatan. Mereka belajar dengan memperhatikan model orang yang dijadikan panutan dan meniru tindakan yang tampak mendapat penghargaan sosial. Eksperimen Bandura menggunakan boneka bobo (bobo doll) menunjukkan bahwa anak-anak yang melihat orang dewasa bersikap agresif terhadap boneka menirukan perilaku serupa, bahkan ketika mereka tidak diminta menirukan perilaku tersebut (Ormrod, 2012). Artinya, masa anak-anak adalah fase di mana pengamatan menjadi media pembelajaran paling pertama dan utama.
Selain keluarga, guru juga memiliki peran besar sebagai figur panutan yang diamati anak setiap hari di lingkungan sekolah. Guru bukan hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga menjadi contoh dalam hal sikap, tanggung jawab, dan nilai moral. Penelitian Pratama, Mawardini, dan Rahayu (2023) menjelaskan bahwa guru berperan sebagai role model dan teladan moral bagi siswa, karena perilaku, tutur kata, dan cara guru menghadapi situasi sosial akan ditiru oleh siswa dalam kesehariannya. Begitu pula menurut Arsini, Yoana, dan Prastami (2023), guru adalah sosok yang “digugu dan ditiru”, yang berarti dipercaya dan dicontoh oleh peserta didik. Sikap guru yang disiplin, sabar, dan berakhlak baik menjadi dasar pembentukan karakter anak di sekolah. Mahtumah (2023) dalam penelitiannya di Madrasah Ibtidaiyah, Pasuruan, Jawa Timur menunjukkan bahwa strategi modeling the way, yaitu memberi teladan secara nyata, terbukti efektif dalam menanamkan nilai-nilai karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati pada siswa. Guru berperan untuk meningkatkan motivasi belajar anak melalui perilakunya, sebagai inspirasi akademik, pengembangan karakter anak, dan dukungan emosional bagi anak (Pebiana, Z., 2024). Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam perkembangan anak di sekolah. Dengan demikian, guru merupakan figur pertama yang memperlihatkan bagaimana teori Bandura diterapkan secara nyata di ruang kelas, sebelum anak berhadapan dengan model-model lain di luar lingkungan sekolah.
Seiring perkembangan zaman, sumber belajar anak kini tidak hanya berasal dari lingkungan sekolah, tetapi juga dari dunia digital. Dalam kehidupan modern saat ini, media sosial ikut andil dalam keseharian anak-anak, bahkan sejak usia dini. Anak-anak masa kini lahir di tengah arus informasi tanpa batas, di mana media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram bukan lagi sekadar hiburan, melainkan sumber belajar baru yang mampu menyediakan akses informasi yang cepat, fleksibel, dan menarik bagi pelajar (Annisa et al., 2025). Pengamatan terhadap figur di media digital menjadi bentuk baru dari proses modeling di mana anak-anak meniru bukan hanya tindakan, tetapi juga nilai-nilai yang tersirat di dalamnya.
Penelitian Pebriani dan Darmiyanti (2024) menunjukkan bahwa media sosial memiliki dua sisi bagi perkembangan anak usia dini. Di satu sisi, konten edukatif yang menarik dapat menstimulasi imajinasi, meningkatkan kemampuan bahasa, serta memperluas pengetahuan anak tentang dunia sekitar. Namun, di sisi lain, paparan konten yang tidak sesuai usia dapat menimbulkan dampak negatif seperti gangguan fokus, perubahan pola tidur, bahkan perilaku impulsif. Hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa perilaku anak tidak muncul secara spontan, melainkan merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh melalui proses observasi berulang terhadap model di sekitar mereka, baik secara langsung maupun virtual.
Sebagian anak sekolah dasar di Jawa Timur menjadikan media sosial sebagai ruang berekspresi dan belajar hal-hal baru, seperti menari, menyanyi, atau membuat konten sederhana (Saqya & Wiatmo, 2024). Namun, kebiasaan ini juga menumbuhkan kecenderungan untuk meniru gaya hidup influencer yang mereka sukai, baik dalam hal berpakaian, berbicara, maupun berperilaku. Anak-anak yang belum matang secara kognitif seringkali kesulitan membedakan perilaku yang layak ditiru dan yang tidak, sehingga proses modeling yang seharusnya membantu perkembangan positif dapat berubah menjadi pintu masuk perilaku konsumtif, agresif, atau rendah empati. Meski demikian, pengaruh figur di media sosial tidak selalu negatif. Apabila anak meneladani figur yang positif, dampak yang muncul juga dapat bersifat membangun. Salah satu contohnya adalah influencer edukatif seperti Xaviera Putri (@xavieraaputri) yang memberikan motivasi belajar melalui unggahan tentang tips belajar, kisah perjuangan akademik, dan pengalaman pribadinya. Pengikut Xaviera di media sosial melaporkan peningkatan semangat belajar dan rasa percaya diri dalam meraih prestasi akademik (Hikmawati et al., 2024).
Selain itu, ada beberapa orang tua yang menjadikan superhero sebagai role model bagi anak mereka. Para orang tua menjadikan superhero sebagai figur keberanian, kerja keras, dan kebaikan yang dapat ditiru, tetapi terdapat tantangan ketika menjadikan superhero sebagai role model anak mereka seperti kesulitan membedakan antara kenyataan dan fiksi, serta menunjukkan sifat hiperaktif dan atletis. Untuk menghadapi tantangan tersebut beberapa orang tua memberikan imbalan sebagai motivasi positif kepada anak yang meniru perilaku baik dari superhero dan beberapa orang tua lainnya memberikan hukuman berupa teguran yang bersifat membangun dan memperbaiki perilaku anak tanpa merusak psikologis mereka (Paath & Tutiasri, 2025).
Penelitian penelitian tersebut menunjukan betapa kuatnya pengaruh lingkungan sosial dan media digital dalam membentuk perilaku anak. Di Indonesia, kini anak-anak banyak belajar melalui media sosial sebagai bentuk ekspresi dalam berkarya. Akan tetapi jika tidak terdapat pengawasan yang memadai mereka akan rentan untuk meniru perilaku yang tidak sesuai pada tahap perkembangan mereka. Orang tua, pendidik, dan masyarakat perlu menjadi model perilaku positif bagi anak anak dengan menunjukan perilaku positif, seperti sikap empati, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari hari maupun dalam berinteraksi di dunia digital (Bandura, 1977 Santrock, 2021). Pemilihan konten di media sosial juga harus dilakukan dengan cermat agar anak bisa memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang mendukung perkembangan anak secara optimal. Selain itu, pemerintah dan tenaga pendidikan dapat berperan dengan menyediakan program literasi digital bagi anak anak, untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai etika penggunaan media sosial dan juga dampak perilaku yang ditampilkan di dunia maya (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2022). Dengan begitu, proses modeling yang terjadi tidak hanya memperkuat aspek kognitif anak, tetapi juga membentuk karakter yang berlandaskan nilai nilai positif dan moral.
Referensi:
Annisa, L. A., Alya, D., & Bahri, S. (2025). Penggunaan media sosial sebagai sumber pembelajaran yang efektif di kalangan pelajar. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 2(2), 15-22. DOI: https://doi.org/10.61722/jmia.v2i2.3951
Arsini, Y., Yoana, L., & Prastami, Y. (2023). Peranan Guru Sebagai Model dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik. MUDABBIR Journal Research and Education Studies, 3(2), 27-35. DOI: https://doi.org/10.56832/mudabbir.v3i2.368
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice Hall.
Hikmawati, M., Andriansyah, & Rahayu, P. B. (2024). Educational Content: Increasing Student Learning Motivation Through Instagram. Journal Proxemics, 1(2), 98-106. DOI: https://doi.org/10.55638/jprox.v1i2.131
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2022). Modul Literasi Digital untuk Anak dan Remaja. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
Mahtumah, M. (2023). Peran Guru sebagai Teladan (Modeling the Way) dalam Pembentukan Karakter Siswa Madrasah Ibtidaiyah. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, 1(5), 17-29. DOI: https://doi.org/10.61132/jbpai.v1i5.1111
Ormrod, J. E. (2012). Human Learning (6th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.
Paath, M. C. S. ., & Tutiasri, R. P. . (2025). Pembentukan Karakter Anak melalui Role Model Superhero. JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 8(1), 1009-1016. DOI: https://doi.org/10.54371/jiip.v8i1.7008
Pebiana, Z. (2024). Guru Sebagai Role Model untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Journal of Psychology Today, 2(2), 119–122. https://digamed.net/index.php/psychologytoday/index
Pebriani, M., & Darmiyanti, A. (2024). Pengaruh Media Sosial terhadap Perkembangan Anak Usia Dini dan Tinjauan dari Psikologi Perkembangan. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(3), 9-9. DOI: https://doi.org/10.61132/jbpai.v1i5.1111
Pratama, P. S., Mawardini, A., & Rahayu, R. (2023). Peran Guru Sebagai Role Model Dan Teladan Dalam Meningkatkan Moralitas Siswa Di Sekolah Dasar. Karimah Tauhid, 2(5), 2013-2027. DOI: https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v2i5.9046
Santrock, J. W. (2021). Life-span Development (18th ed.). McGraw-Hill Education.
Saqya, U. A., & Sinduwiatmo, K. (2024). Media Sosial Membentuk Tumbuh Kembang Anak di Indonesia. CONVERSE Journal Communication Science, 1(2), 80-88. DOI: https://doi.org/10.47134/converse.v1i2.2989
