ISSN 2477-1686
Vol. 12 No. 56 April 2026
Dinamika Psikologis Generasi Z dan Milenial Memilih Work-Life Balance daripada Jabatan
Oleh:
Dhea Fahira
Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara
Perubahan orientasi karier pada Generasi Z dan Milenial semakin nyata dalam beberapa tahun terakhir. Jika generasi sebelumnya memaknai kesuksesan melalui stabilitas kerja dan pencapaian jabatan struktural, generasi muda kini cenderung menempatkan work-life balance (WLB) sebagai prioritas utama. Fenomena ini terjadi secara global dan juga terlihat jelas dalam konteks Indonesia. Pergeseran ini bukan sekedar tren sosial, melainkan refleksi dinamika psikologis yang berkaitan dengan kesejahteraan, makna kerja dan keseimbangan peran.
Di Indonesia, Generasi Z mulai mendominasi angkatan kerja produktif dan menghadapi tuntutan kerja yang semakin kompleks, terutama di wilayah urban. Penelitian Amirra dan Perkasa (2025) menunjukkan bahwa work-life balance berpengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan Gen Z di Jakarta. Temuan ini menegaskan bahwa persepsi keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan menjadi faktor penting dalam membentuk evaluasi individu terhadap pekerjaannya.
Temuan tersebut sejalan dengan penelitian dari Mahardika et al. (2022) yang menunjukkan bahwa konflik antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (personal life interference with work) serta gangguan pekerjaan terhadap kehidupan pribadi (work interference with personal life) merupakan aspek dominan dalam dinamika WLB pada Generasi Z ketika konflik peran meningkat, individu cenderung mengalami kelelahan emosional dan penurunan kepuasan kerja.
Pada generasi milenial, pola yang serupa juga ditemukan. Gaol et al. (2023) dalam studi terhadap karyawan milenial di Bandung menunjukkan bahwa keseimbangan kerja dan kehidupan berkaitan erat dengan kenyamanan psikologis dan persepsi kebermaknaan kerja. Generasi milenial tidak semata-mata mengejar posisi struktural, tetapi mencari pekerjaan yang memungkinkan mereka tetap memiliki ruang untuk keluarga, relasi sosial dan pengembangan diri.
Secara teoretis, fenomena ini dapat dipahami melalui model Job Demands-Resources (JD-R). Bakker dan Demerouti (2007) menjelaskan bahwa tuntutan kerja yang tinggi tanpa dukungan sumber daya yang memadai berpotensi memicu stres dan burnout. Dalam konteks ini, work-life balance dapat berfungsi sebagai sumber daya psikologis yang membantu individu mengelola energi dan menjaga keseimbangan emosi. Waworuntu et al. (2022) dalam tinjauan sistematisnya juga menunjukkan bahwa WLB berhubungan positif dengan kepuasan kerja, komitmen organisasi dan kinerja pada Milenial dan Gen Z.
Menariknya, Sinurat et al.(2025) menemukan bahwa work-life balance berpengaruh terhadap kinerja karyawan Generasi Z. Hal ini memperlihatkan bahwa keseimbangan hidup bukan berarti menurunkan produktivitas. Sebaliknya, ketika individu merasa kebutuhan personalnya terpenuhi, mereka menunjukkan performa kerja yang lebih optimal.
Dalam perspektif psikologi generasi, Twenge (2010) menjelaskan bahwa perubahan nilai kerja berkaitan dengan transformasi sosial dan budaya yang lebih luas. Generasi yang tumbuh dalam era digital dan ketidakpastian ekonomi cenderung lebih menekankan fleksibilitas, otonomi dan keseimbangan hidup dibandingkan status struktural semata. Hal ini tidak berarti generasi muda kurang ambisius, melainkan mereka mendefinisikan ulang makna kesuksesan.
Penelitian nasional lainnya turut memperkuat temuan tersebut. Muliawati dan Frianto (2020), Sukur dan Susanty (2022), serta Syeftian dan Alfian (2025) menunjukkan bahwa keseimbangan kerja dan kehidupan berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa organisasi perlu memandang keseimbangan hidup sebagai investasi psikologis jangka panjang.
Dengan demikian, fenomena “jabatan bukan lagi tujuan” tidak dapat dipahami sebagai penurunan ambisi generasi muda. Sebaliknya, hal ini mencerminkan strategi adaptif dalam menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis. Dari sudut pandang psikologi kerja, keseimbangan hidup berperan sebagai faktor protektif terhadap burnout, stres kronis, dan disengagement. Kebijakan organisasi yang mendukung fleksibilitas, pengelolaan beban kerja yang realistis, serta budaya kerja yang menghargai kesehatan mental menjadi kebutuhan psikologis yang semakin relevan.
Pada akhirnya, redefinisi makna sukses ini membuka peluang terciptanya sistem kerja yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Generasi Z dan Milenial tidak menolak kesuksesan, tetapi mereka sedang merumuskan ulang maknanya bahwa karier yang ideal adalah karier yang memungkinkan individu berkembang tanpa kehilangan kesejahteraan psikologisnya.
Referensi:
Amirra, D., & Perkasa, D. H. (2025). Pengaruh work life balance dan stres kerja terhadap kepuasan kerja karyawan Gen Z Jakarta. Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 7(2).
Bakker, A. B., & Demerouti, E. (2007). The job demands–resources model: State of the art. Journal of Managerial Psychology, 22(3), 309–328.
Gaol, F. V. L., Deti, R., & Yusuf, R. (2023). Analisis Work Life Balance pada karyawan generasi milenial di Bandung. INOBIS: Jurnal Inovasi Bisnis Dan Manajemen Indonesia, 7(1), 30-37.
Greenhaus, J. H., & Allen, T. D. (2011). Work–family balance: A review and extension of the literature. In J. C. Quick & L. E. Tetrick (Eds.), Handbook of occupational health psychology (2nd ed., pp. 165–183). American Psychological Association.
Mahardika, A. A., Ingarianti, T. M., & Zulfiana, U. (2022). Work-life balance pada karyawan generasi Z. Collabryzk Journal for Scientific Studies, 1, 1–16.
Muhammad, F. R., Siregar, M. Y., & Fatihaturrizqi, M. (2025). Work-Life Balance Sebagai Strategi Retensi Karyawan Milenial Dan Gen Z. Manajemen Sumber Daya Manusia, 2(1), 20-27.
Muliawati, T., & Frianto, A. (2020). Peran work-life balance terhadap kepuasan kerja karyawan. Jurnal Ilmu Manajemen, 8(2), 421–430.
Sinurat, I., Gultom, P., & Sitompul, P. (2025, October). Analisis Work Life Balance Terhadap Kinerja Karyawan Pada Generasi Z. In Seminar Nasional Manajemen dan Akuntansi (pp. 200-206).
Sukur, M. I. S., & Susanty, A. I. (2022). Pengaruh work life balance terhadap kepuasan kerja karyawan. Jurnal Manajemen dan Bisnis.
Syeftian, I., & Alfian, A. (2025). Pengaruh work life balance dan stres kerja terhadap kepuasan kerja. Journal of Business Economics and Management, 1(3), 777–787.
Twenge, J. M. (2010). A review of the empirical evidence on generational differences in work attitudes. Journal of Business and Psychology, 25(2), 201–210.
Waworuntu, E. C., Kainde, S. J., & Mandagi, D. W. (2022). Work life Balance, Kepuasan Kerja, dan Kinerja di Antara Karyawan Milenial dan Gen Z: Tinjauan Sistematis. Society, 10(2), 384-398.
