ISSN 2477-1686  

 Vol. 11 No. 47 Desember 2025

 

 

Lari dari Masalah atau Melindungi Diri?

Memahami Pola Avoidant dalam Hidup Sehari-hari

Oleh:

Juan Nabil Al Razzak

Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

 

 Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan dan tuntutan sosial, banyak individu memilih untuk menarik diri dari situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Fenomena ini sering kali dipahami sebagai bentuk “lari dari masalah”, namun dalam konteks psikologi, hal ini bisa juga dilihat sebagai mekanisme perlindungan diri. Pola perilaku seperti ini dikenal dengan istilah avoidant behavior, yaitu kecenderungan untuk menjauh dari hal-hal yang dianggap mengancam kesejahteraan emosional seseorang.

 

Dekatkah Kita Dengan Perilaku Avoidant?

Di kehidupan sehari-hari, kita kerap menemukan seseorang yang suka menjauh, enggan menghadapi masalah, atau memilih diam ketika berada di situasi sulit. Perilaku ini disebut dengan istilah avoidant atau menghindar. Secara teoritis, konsep avoidant bisa dijelaskan dari berbagai perspektif psikologi.

 

Avoidant Itu Apa Ya?

Avoidant merupakan tingkah laku atau kepribadian yang cenderung menghindari situasi sosial dan emosi yang terasa mengancam, membuat cemas, sehingga menurut individu menghindar lebih baik daripada menghadapi langsung

Menurut teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, seseorang dengan gaya keterikatan avoidant biasanya berkembang karena pengalaman masa kecil yang tidak memberikan kebutuhan emosional secara konsisten. Akibatnya, mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa keintiman emosional bisa berbahaya atau menyakitkan. Di sisi lain, perilaku menghindar juga muncul dalam bentuk coping avoidant, yaitu cara menghadapi stres dengan menjauhi masalah daripada menyelesaikannya. Di tingkat klinis, terdapat gangguan kepribadian avoidant yang ditandai dengan rasa takut ditolak, kurang percaya diri, dan kecenderungan menghindari interaksi sosial. Pola avoidant sering kali berkembang sejak masa kanak-kanak akibat pengalaman keterikatan yang tidak aman (insecure attachment). Anak yang tumbuh dengan orang tua yang tidak responsif terhadap kebutuhan emosionalnya cenderung menginternalisasi keyakinan bahwa kedekatan emosional tidak aman. Menurut Mikulincer dan Shaver (2019), individu dengan gaya keterikatan avoidant cenderung menekan emosi negatif dan menghindari situasi yang dapat memicu ketergantungan emosional. Dengan demikian, perilaku menghindar bukan sekadar sikap pasif, melainkan hasil dari strategi adaptif untuk mempertahankan stabilitas psikologis.

 

Apakah Perilaku Avoidant Membahayakan?

Perilaku avoidant memiliki dampak yang beragam. Di sisi positif, seseorang dengan pola ini mungkin terlihat lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain. Namun, dampak negatifnya cenderung lebih besar, seperti merasa kesepian, memiliki hubungan yang dangkal, akumulasi stres, hingga hambatan dalam perkembangan karier. Contohnya, seorang mahasiswa yang terus menghindari presentasi di kelas mungkin merasa aman sementara, tetapi justru kehilangan peluang untuk berkembang dalam jangka panjang.

 

Apakah Avoidant Bisa Menghilang?

Untuk mengatasi pola avoidant, diperlukan strategi yang tepat. Pendekatan psikologis seperti Cognitif Behavioral Therapy (CBT), terapi eksposisi, atau terapi interpersonal dapat membantu individu menghadapi rasa takut dan membangun keterampilan sosial. Selain itu, strategi mandiri seperti menulis jurnal, berlatih mindfulness, atau belajar menyampaikan perasaan juga efektif untuk mengurangi kecenderungan menghindar. Dukungan dari orang terdekat seperti pasangan, keluarga, atau teman sangat penting agar individu tidak merasa sendirian saat berusaha berubah.

Kesimpulannya, perilaku avoidant bukan sekadar masalah pemalu atau pendiam, melainkan pola psikologis yang memengaruhi kualitas hidup seseorang. Pemahaman mendalam tentang akar, ciri, dan dampaknya bisa membantu kita lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang lain yang memiliki kecenderungan ini. Dengan intervensi dan dukungan yang tepat, seseorang dengan pola avoidant bisa belajar hadir secara penuh dalam kehidupannya, membangun hubungan yang lebih sehat, dan mengatasi kebiasaan menghindar yang merugikan.

 

Daftar Pustaka:

Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of  attachment: A psychological study of the strange situation. Lawrence Erlbaum  Associates.

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of  mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Publishing.

Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human  development. Basic Books.