ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 46 November 2025
Antara Tugas dan Tenggat: Mengapa Mahasiswa Sering Menunda?
Oleh:
Ryandra Syaid Zarnuji
Universitas Mercu Buana, Jakarta
Malam semakin larut, layar laptop masih menyala dengan lembar kosong yang belum tersentuh. Seorang mahasiswa duduk di depan meja belajar, memandangi layar sambil sesekali membuka media sosial. Ia tahu tugasnya harus dikumpulkan besok pagi, tapi dorongan untuk menunda terasa lebih kuat. “Masih ada waktu,” pikirnya sambil menenangkan diri, padahal waktu terus berjalan. Fenomena seperti ini tidak asing di kalangan mahasiswa. Kebiasaan menunda mengerjakan tugas, yang dikenal sebagai prokrastinasi akademik, sering dianggap sepele, namun bisa berdampak besar terhadap keseharian dan kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Bagi sebagian mahasiswa, prokrastinasi seperti kebiasaan yang sulit dikendalikan. Niat awalnya sederhana, hanya ingin beristirahat sebentar atau menunggu waktu yang tepat untuk mulai mengerjakan tugas. Namun tanpa disadari, waktu terus berlalu dan tekanan semakin meningkat. Banyak yang beranggapan bahwa mereka lebih produktif ketika dikejar waktu, padahal hal itu justru menimbulkan stres dan penurunan kualitas hasil kerja. Prokrastinasi tidak muncul begitu saja. Rendahnya motivasi, rasa takut gagal, dan perfeksionisme sering menjadi pemicunya. Ada mahasiswa yang menunda karena takut hasilnya tidak sempurna, ada pula yang merasa tugas terlalu sulit sehingga memilih mencari kenyamanan sesaat lewat hiburan digital.
Selain faktor psikologis, lingkungan digital juga memperkuat kebiasaan ini. Notifikasi yang sering muncul dan kemudahan mengakses hiburan membuat fokus belajar semakin mudah terpecah. Sekadar “scroll” sebentar bisa berubah menjadi berjam-jam tanpa disadari. Akhirnya, mahasiswa kembali dihadapkan pada tumpukan tugas yang menunggu untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Dalam jangka panjang, pola seperti ini tidak hanya mempengaruhi prestasi akademik, tetapi juga kesehatan mental. Stres, rasa bersalah, dan kelelahan emosional menjadi bagian dari siklus prokrastinasi yang berulang.
Dari sudut pandang psikologi, prokrastinasi berhubungan erat dengan kemampuan regulasi diri. Regulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur pikiran, emosi, dan tindakannya agar tetap sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Mahasiswa dengan kemampuan regulasi diri yang baik cenderung mampu mengendalikan dorongan untuk menunda dan tetap fokus pada tanggung jawabnya. Sebaliknya, ketika kemampuan ini rendah, individu cenderung membiarkan perasaan malas, cemas, atau takut gagal menguasai diri mereka. Akibatnya, menunda menjadi salah satu bentuk pelarian dari emosi negatif, meski pada akhirnya hanya menambah beban mental.
Mengatasi prokrastinasi memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan dengan langkah sederhana dan konsisten. Salah satunya adalah membagi tugas besar menjadi bagian kecil agar terasa lebih ringan untuk dikerjakan. Menetapkan jadwal belajar yang realistis dan menjaga konsistensi waktu juga membantu mahasiswa lebih disiplin. Selain itu, menciptakan lingkungan belajar yang minim distraksi, seperti menjauhkan ponsel saat belajar, dapat meningkatkan fokus. Dukungan teman atau kelompok belajar juga berperan besar dalam menjaga semangat dan rasa tanggung jawab.
Pada akhirnya, mengurangi kebiasaan menunda tidak hanya tentang manajemen waktu, tetapi juga tentang kesadaran diri. Mahasiswa perlu memahami kapan dan mengapa mereka cenderung menunda, kemudian belajar mengelola perasaan yang muncul saat menghadapi tugas. Dengan membangun kebiasaan kecil yang positif dan berkomitmen untuk memulai lebih awal, prokrastinasi dapat dikendalikan sedikit demi sedikit. Ketika hal ini tercapai, bukan hanya produktivitas yang meningkat, tetapi juga rasa tenang dan percaya diri dalam menjalani kehidupan akademik. Karena, pada akhirnya, menunda tidak pernah benar-benar menghapus tugas hanya memperpanjang beban yang sebenarnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Daftar Pustaka:
AI : Chat GPT (membantu memberikan ide dalam penulisan artikel ini)
Cirillo, F. (2018). The Pomodoro Technique: The acclaimed time-management system that has transformed how we work. Currency.
Duckworth, A. L., Gendler, T. S., & Gross, J. J. (2016). Situational strategies for self-control. Perspectives on Psychological Science, 11(1), 35–55. https://doi.org/10.1177/1745691615623247
Sirois, F. M., & Pychyl, T. A. (2013). Procrastination and the priority of short-term mood regulation: Consequences for future self. Social and Personality Psychology Compass, 7(2), 115–127. https://doi.org/10.1111/spc3.12011
Steel, P. (2007). The nature of procrastination: A meta-analytic and theoretical review of quintessential self-regulatory failure. Psychological Bulletin, 133(1), 65–94. https://doi.org/10.1037/0033-2909.133.1.65
Zimmerman, B. J. (2000). Attaining self-regulation: A social cognitive perspective. In M. Boekaerts, P. R. Pintrich, & M. Zeidner (Eds.), Handbook of self-regulation (pp. 13–39). Academic Press.
