ISSN 2477-1686  

 Vol. 12 No. 50 Januari 2026

Selalu Mendukung, Tapi Tak Pernah Didukung: Dinamika Psikologis Perempuan Bali di Tengah Budaya Patriarki

 

Oleh:

Made Agus Nanda Ari Resawan, Wanda Syelira dan Komang Rahayu Indrawati

 

Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

 

Pembuka

Masyarakat bali dikenal dengan keberagaman adat dan budaya yang beragam salah satunya adalah sistem kekerabatan patrilineal. Sistem patrilineal ini identik dengan budaya patriarki yang menyatakan bahwa kedudukan laki-laki (purusa) dianggap lebih penting dan lebih tinggi kedudukannya daripada perempuan (predana) (Rahmawati, 2016). Status laki-laki sebagai purusa memiliki peran untuk mengurus tanggung jawab keluarga (Ariyanti & Ardhana, 2020). Hal tersebut menyebabkan posisi perempuan sangat lemah karena tidak memiliki wewenang untuk mengambil tanggung jawab tersebut akibatnya mereka harus bekerja atas kuasa laki-laki. Laki-laki dianggap memiliki kedudukan dan peranan yang diistimewakan sehingga hanya laki-laki yang berhak untuk memutuskan keputusan penting sedangkan perempuan hanya menerima hal yang diputuskan (Rahmawati, 2016). Budaya patriarki juga membuat perempuan memiliki peran ganda (Ardini & Laksana, 2023). Tak jarang dalam menjalankan peran tersebut menyebabkan konflik peran (Wirakristama & Suharnomo, 2011). Menurut Rahayu dkk., (2024) perempuan yang hidup di tengah budaya patriarki dalam keluarga seringkali mengalami depresi, kecemasan, dan stress.

Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks dalam kehidupan perempuan Bali. Di satu sisi, mereka sangat dibutuhkan dan dipandang penting dalam kehidupan sosial dan keluarga. Disisi lain, mereka tidak mendapatkan pengakuan struktural atau ruang partisipasi yang setara. Namun, di tengah fenomena tersebut, perempuan Bali tetap aktif menggunakan berbagai strategi, meskipun upaya mereka sering kali tidak mendapatkan dukungan kembali secara setara. Perempuan Bali yang menjalani seringkali tidak mendapat dukungan dari keluarga ketika menjalani ketiga peran tersebut dan mendapat konsekuensi ketika terjadi ketidaksesuaian dalam pelaksanaan peran (Suryawan dkk., 2021)

 

Cara Berpikir dan Keyakinan

Cara berpikir, keyakinan, dan pandangan perempuan Bali dibentuk kuat oleh sistem sosial dan budaya yang bersifat patriarki yang memengaruhi cara mereka dalam memandang posisi dan tanggung jawab dalam keluarga. Dalam budaya patriarki, wanita dikonstruksikan sebagai pengemban utama tugas-tugas tertentu dan tidak perlu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang tinggi (Ayu dkk., 2022). 

Sejak usia dini, perempuan Bali telah dikenalkan dengan peran sebagai pendukung laki-laki, baik sebagai anak, istri, maupun ibu. Masyarakat menganggap bahwa anak perempuan harus dilatih untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan tujuan ketika menikah bisa melayani suami dengan baik (Darmayoga, 2021). Hal tersebut terjadi karena ketika perempuan Bali menikah mereka berstatus sebagai “pendatang” di keluarga laki-laki sehingga dituntut untuk selalu terlihat sempurna dan menuruti keinginan dan tuntutan suami maupun anggota keluarga  (Wedaningtyas & Herdiyanto, 2017). Namun, disini perempuan bali tidak merasakan terjadinya ketidakadilan atas peran yang telah diciptakan untuk mereka mereka selalu memaknai pekerjaan yang mereka lakukan (Rahmawati, 2016). Hal ini menyebabkan terciptanya pola pikir bahwa mereka harus bersedia berkorban dan mengalah demi menjaga keharmonisan keluarga serta bagian dari yadnya (pengorbanan).

Perempuan Bali cenderung memaknai keberadaan dirinya dalam kerangka adat yang ketat, di mana status sosial mereka seringkali bergantung pada kemampuan mereka dalam memenuhi harapan budaya, seperti melahirkan anak laki-laki atau berpartisipasi dalam kegiatan adat. Hal tersebut terjadi karena dalam sistem kekerabatan patrilineal mengharuskan keluarga Bali untuk memiliki anak laki-laki, jika perempuan tidak maka mereka akan mendapat diskriminasi dan menimbulkan konflik psikologis (Paramita dkk., 2025). Sistem patriarki di Bali juga membentuk kesadaran kolektif perempuan untuk mengutamakan suami di atas kepentingan pribadi (Widhiyana, 2024).

 

Gambaran Aspek Afektif

Berada di dalam budaya patriarki pada keluarga Bali rentan mengalami depresi dan emosi negatif seperti kecewa, sedih, marah, dan takut.  Perempuan Bali umumnya mengemban peran ganda yang dijalankan secara bersamaan tanpa dukungan, sehingga menyebabkan konflik peran yang berujung pada tekanan psikologis. Perempuan Bali yang terus-menerus menjalani peran ganda tanpa dukungan memadai dari suami dan menerima berbagai tuntutan sering kali mengalami tekanan dan frustasi yang menyebabkan gejala stress psikologis seperti jengkel, marah, kesal, sedih, dan jenuh (Diputra & Lestari, 2015). Mereka terkadang menunjukkan respons emosional marah, kesal, lelah akibat tekanan peran yang tidak seimbang (Hastosa & Suarya, 2013)

Tekanan emosional lain yang bersumber dari harapan dari keluarga dan lingkungan sosial menuntut mereka bisa menjalankan peran mereka secara sempurna, yang sering berujung pada kecemasan sosial karena takut tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut (Cahyani dkk., 2024). Ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi meskipun maka akan menimbulkan rasa bersalah yang dapat menurunkan rasa percaya diri dan harga diri mereka.

 

Strategi Adaptif

Perempuan Bali dengan peran ganda menunjukkan perilaku adaptif yang kuat untuk menjaga fungsi keluarga tetap berjalan, sekalipun mengorbankan kebutuhan diri sendiri (Yosita dkk., 2022). Dalam konteks adat, perempuan dituntut aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Untuk mengatasinya perempuan mengembangkan berbagai strategi dengan mengatur waktu dengan baik dan efisien, memilih bagian kegiatan yang esensial, atau berbagi tugas dengan anggota keluarga. Hal ini menunjukkan bentuk adaptasi fungsional, di mana tanggung jawab tetap dijalankan, namun tetap disesuaikan dengan kondisi fisik dan emosional mereka (Suwijik & A’yun, 2022).

Strategi adaptif lainnya untuk menjaga keseimbangan peran, mereka mengajukan izin sementara di tempat kerja agar dapat menjalankan peran lainnya dan beristirahat dan tidak memaksakan diri saat kegiatan bertumpuk guna menjaga kondisi tubuh (Diputra & Lestari (2015). Tidak hanya itu, strategi adaptif juga tampak ketika perempuan berbagi tugas domestik dengan suami untuk meringankan pembagian peran bekerja dan tugas rumah tangga (Ardini & Laksana, 2023). Menurut Pradnyapradipa & Indrawati (2022) dukungan suami dan keluarga dalam pekerjaan rumah tangga baik dapat membantu perempuan menyeimbangkan peran dan mencegah terjadi konflik peran.

Selain dalam keluarga, perempuan Bali juga mengambil peran aktif dalam kelompok sosial dan komunitas seperti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk menjalin relasi sosial, berbagi pengalaman, serta memperoleh dukungan emosional. Keterlibatan ini meningkatkan resiliensi psikologis dan membantu perempuan dalam menghadapi tekanan budaya dengan lebih tenang (Kusuma & Alamudi, 2023). Dengan demikian, perempuan Bali menyaimbangkan konflik peran melalui faktor internal dan eksternal seperti dukungan dan fleksibilitas yang ada.

           

Kesimpulan

Dinamika psikologis perempuan Bali dalam keluarga patriarki menunjukkan adanya tekanan peran yang kompleks. Perempuan Bali dituntut untuk menjalankan berbagai peran secara bersamaan tanpa dukungan yang memadai, sehingga rentan mengalami stres, konflik batin, dan kelelahan dalam emosional. Meskipun demikian, banyak perempuan Bali mampu menunjukkan strategi adaptif untuk menjaga keseimbangan peran mereka.

Seluruh pihak perlu meningkatkan kesadaran bersama untuk berbagi peran secara adil dan menyediakan edukasi serta layanan kesehatan mental yang mendukung kesejahteraan perempuan. Perubahan ini tidak cukup dilakukan secara individual, tetapi memerlukan keterlibatan kolektif agar perempuan di Bali dapat berkembang dalam sistem sosial budaya yang lebih adil dan setara.

 

Referensi:

 

Ardini, N. P. A. M., & Laksana, I. G. N. D. (2023). Implikasi Budaya Patriarki Terhadap Perempuan Sebagai Tukang  Suun Di Pasar Badung Dalam Perspektif Hukum Adat. Kertha Wicara: Journal Ilmu Hukum, 12(1), 23-33. https://doi.org/10.24843/KW.2022.v12.i01.p3.

Ariyanti, N. M. P., & Ardhana, I. K. (2020). Dampak Psikologis dari Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Perempuan pada Budaya Patriarki di Bali. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 10(1), 283–304.

Ayu, G. A. S., Ardiansyah, P., & Danarlie, R. A. (2022). Ketimpangan Gender di Bali: Analisis Budaya Patriarki, Peran Adat dan Agama, serta Relevansinya di Dunia Modern. Jurnal Harkat: Media Komunikasi Gender, 18(2), 81–93. https://doi.org/10.15408/harkat.v18i2.29268

Cahyani, K. R. I., Aryanata, N. T., & Andhini, L. P. R. (2024). Kecemasan Sosial Perempuan Hindu Bali Dalam Konsep Menyama Braya. Journal of Psychology and Social Sciences, 2(3), 71-86. https://doi.org/10.61994/jpss.v2i3.692

Darmayoga, I. K. A. (2021). Perempuan Dan Budaya Patriarki Dalam Tradisi, Keagamaan Di Bali (Studi Kasus Posisi Superordinat dan Subordinat Laki-Laki dan Perempuan. Danapati: Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(2), 139-152.

Diputra, N., & Lestari, M. D. (2015). Koping Stres dalam Menjalani Peran Ganda Pada Wanita Hindu di Denpasar. Jurnal Psikologi Udayana, 2(2), 206-214. https://doi.org/10.24843/jpu.2015.v02.i02.p09

Hantosa, B. G., & Suarya, L. M. K. S. (2013). Perbedaan Stres Persiapan Hari Raya Galungan pada Ibu Rumah Tangga dan Ibu Bekerja yang Beragama Hindu di Denpasar. Jurnal Psikologi Udayana, Jurnal Psikologi Udayana, 1(1), 63-71. https://doi.org/10.24843/jpu.2013.v01.i01.p07

Kusuma, Y. L. H., & Alamudi, Y. (2023). Psikologi kesehatan. E-Book Penerbit STIKes Majapahit.

Oktarina, K. F. K., & Komalasari, Y. (2022). Triple Roles Perempuan Bali: Ancaman atau Proteksi? (Dalam Perspektif Ketahanan Keluarga). In Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) (Vol. 5).

Paramita, I. G. A., Dewi, N. N., & Hardika, I. R. (2025). Dinamika Psikologis Perempuan Bali Dengan Status Istri yang Tidak Memiliki Anak Laki Laki Pada Pernikahan Hindu Etnis Bali. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 11 (5.B), 94-105.

Pradnyapradipa, I. B. M., & Indrawati, K. R. (2022). Pengalaman Work-Life Balance Perempuan Bali yang Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Psikologi Udayana, 9(2), 156-170. https://doi.org/10.24843/jpu.2022.v09.i02.p06

Rahayu, R. P., Putri, A. R. S., Bahriyah, F., & Arlis, I. (2024). Patriarki dan Kesehatan pada Ibu yang Memiliki Balita. Al-Tamimi Kesmas: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health Sciences), 13(2), 270-280. https://doi.org/10.35328/kesmas.v13i2.2803

Rahmawati, N. N. (2016). Perempuan Bali Dalam Pergulatan Gender: Kajian Budaya, Tradisi, dan Agama Hindu. Jurnal Studi Kultural, 1(1), 58-64. http://journals.an1mage.net/index.php/ajsk

Sarafino, E. P. (1997). Health psychology: Biopsychology Interaction Third Edition. USA: The College of New York

Soekanto,  S.  (2012). Sosiologi:  Suatu  Pengantar.  Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.

Suryawan, I. M. Y., Ratnawati, N. L. T. T., & Latupeirissa, J. J. P. (2021). The Conflict Analysis of Balinese Women on Equality in Work, Family and Social Life. Journal of Humanities, Social Science, Public Administration and Management (HUSOCPUMENT), 1(1), 26-31. https://doi.org/10.51715/husocpument.v1i1.5

Suwijik, S. P., & A'yun, Q. (2022). Pengaruh Kesehatan Mental dalam Upaya Pemperbaiki dan Mengoptimalkan Kualitas Hidup Perempuan. Journal of Feminism and Gender Studies, 2(2), 109-123.

Tong, R. (2009). Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction (3rd ed.). Boulder, CO: Westview Press.

Wedaningtyas, P. A. M. P. P., & Herdiyanto, Y. K. (2017). Tuah Keto Dadi Nak Luh Bali: Memahami Resiliensi Pada Perempuan yang Mengalami KDRT dan Tinggal di Pedesaan. Jurnal Psikologi Udayana, 4(1), 9-19. https://doi.org/10.24843/jpu.2017.v04.i01.p02

Widhiyana, M. (2024). Pengaruh Budaya Patriarki Terhadap Kesetaraan Gender Dalam Keluarga Hindu Bali. Belom Bahadat, 14(1), 83-99. https://doi.org/10.33363/bb.v14i1.1179

Wirakristama, R. C., & Suharnomo, S. (2011). Analisis Pengaruh Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) Terhadap Kinerja Karyawan Wanita pada PT Nyonya Meneer Semarang dengan Stres Kerja sebagai Variabel Intervening.

Yosita, T. L., Wismanto, Y. B., & Yudiati, E. A. (2022). Kesejahteraan Psikologis pada Ibu yang Berperan Ganda Ditinjau dari Dukungan Suami dan Tekanan Psikologis. Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP), 8(1), 71. https://doi.org/10.22146/gamajop.68548