ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 48 Desember 2025
Analisis Anime “Orb: On the Movements of the Earth” dan On the Inertia of Academia
Oleh:
Made Syanesti Adishesa & Stefani Nugroho
Center for the Study of Sustainable Community, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Orb: On the Movements of the Earth (disingkat Orb) adalah sebuah seri anime yang ditayangkan sejak Oktober 2024 hingga Maret 2025 (Shimizu, 2024). Seri ini menceritakan tentang perjalanan tiga tokoh utama: Rafal, seorang anak jenius yang diburu karena temuannya tentang heliosentrisme dianggap mengancam tatanan kekuasan; Oczy, seorang preman upahan yang tak bisa membaca; dan Draka, seorang perempuan tunawisma yang berambisi mengumpulkan banyak uang.
Meski sangat berbeda latar belakang, ketiganya terhubung oleh satu hal: perjuangan menyelamatkan pengetahuan yang dianggap berbahaya. Pada awalnya mereka tidak peduli pada kebenaran tersebut. Mereka sibuk dengan isu pribadinya, seperti keinginan ‘cari aman saja’, ingin hidup dengan mudah, ketidakpahaman, ketakutan terhadap hal-hal baru yang tidak sesuai dengan apa yang ia yakini, ambisi untuk menjadi kaya, atau alasan lainnya. Melalui interaksi mereka dengan temuan tentang heliosentrisme, ketiga tokoh utama pada akhirnya berubah haluan dan justru berjuang untuk menyelamatkan pengetahuan tersebut. Sayangnya, perjalanan mereka berakhir tragis. Rafal akhirnya kehilangan nyawanya setelah berusaha melindungi catatan risetnya tentang heliosentrisme. Oczy dengan pemahaman sederhananya yang menulis buku harian tentang bagaimana ia mengetahui heliosentrisme, berakhir dihukum gantung. Draka juga berakhir tewas ketika mencoba ingin menyebarluaskan tulisan Oczy dengan teknologi percetakan. Dalam tulisan ini, penulis ingin membahas dua poin menarik dalam seri anime Orb yang menggambarkan dualitas dalam diskursus sains.
Ketika Ilmu Tak Bisa Berbicara
Salah satu pesan paling kuat dari seri anime Orb adalah bahwa pengetahuan tidak selalu ditentang karena salah, tetapi kadang karena dianggap mengganggu. Dalam seri anime tersebut, heliosentrisme dianggap sebagai ancaman bukan karena tidak masuk akal atau kelemahan argumen, tetapi karena menggoyangkan tatanan kekuasaan yang telah lama berjaya. Pengekangan yang terjadi dalam seri tersebut tidak hanya dalam bentuk perburuan fisik seperti penyiksaan dan penangkapan atas peneliti dengan tuduhan ‘ajaran sesat’. Dalam seri tersebut, banyak adegan memperlihatkan bahwa topik heliosentrisme dibicarakan sebagai topik tabu, dan para tokoh utama ‘dilarang’ untuk tidak hanya meneliti, tetapi juga membicarakan atau bahkan memikirkan topik tersebut. Dengan demikian, peredaman ilmu digambarkan sebagai sesuatu yang tidak hanya terjadi secara eksplisit tetapi juga kadang terjadi dalam bentuk yang lebih halus, seperti atmosfir akademik yang membuat para peneliti memilih diam.
Hal ini dapat dilihat dalam kerangka New Censorship Theory. Teori ini menyatakan bahwa penyensoran bukanlah semata karena larangan resmi dari pihak eksternal seperti negara atau institusi keagamaan, melainkan merupakan bagian integral dari proses mengkomunikasikan gagasan, dimana orang secara ‘otomatis’ mematuhi aturan-aturan implisit yang kerap diinternalisasi tanpa disadari (Bunn, 2015). Ini termasuk misalnya usaha-usaha untuk memperhalus argumen yang terlalu kontroversial, serta pemahaman tentang apa yang sebaiknya dibicarakan dan apa yang tidak. Rafal menentang dan mengabaikan aturan-aturan implisit ini dengan mempertanyakan kekuasaan gereja melalui teorinya tentang heliosentrisme. Dengan kata lain, ia diharapkan melakukan self-censorship, tetapi ia tidak melakukannya. Harga yang harus dibayarnya sangat mahal.
Tekanan implisit untuk melakukan self-censorship bukan terbatas pada fiksi tentang abad ke 15. Sebuah penelitian tentang praktek self-censorship akademisi di Indonesia menemukan bahwa pemahaman tentang apa topik-topik apa yang ‘tabu’ dan sebaiknya dihindari, sudah menjadi tacit knowledge. Peneliti memilih untuk tidak melakukan penelitian, atau dengan sangat berhati-hati melakukan diseminasi hasil penelitian bukan karena larangan eksplisit, tetapi karena merasakan tekanan implisit. Tidak ada larangan tertulis, tetapi semua orang tahu “batas-batasnya” (Nugroho & Purbo, 2025). Bentuk self-censorship yang dilakukan pun beragam, termasuk menyamarkan tulisan yang membahas topik sensitif dalam bentuk artikel tentang anime.
Ketika Semua Orang Berbicara
Selain pembungkaman ilmu, seri anime Orb juga menggambarkan bahaya lainnya terhadap pengejaran umat manusia akan kebenaran. Kita diperkenalkan pada tokoh bernama Badeni, seorang karakter yang mewakili kelas masyarakat terdidik. Dalam seri Orb, orang yang menerima pendidikan hanyalah orang dari kelas sosial atas. Dengan latar belakang demikian, tidak heran Badeni memiliki prasangka terhadap masyarakat yang tidak menerima pendidikan. Badeni berargumen bahwa kata-kata dan pengetahuan dapat memiliki kekuatan yang sangat besar, sehingga diperlukan pendidikan dan kemampuan untuk mengelolanya. Ia membayangkan dunia di mana setiap orang bebas membaca, menulis, dan menyebarkan apa pun tanpa kemampuan memahami atau memverifikasi. Bagi Badeni, itu bukan utopia, melainkan bencana. Dunia akan dibanjiri dengan informasi yang tidak dapat diandalkan.
Badeni mewakili ketakutan lain: publik yang bicara tanpa batas, tanpa literasi. Penyebaran misinformasi di media sosial sendiri menunjukkan bahwa ketika setiap individu dapat menjadi penerbit instan, informasi palsu menyebar secepat informasi yang benar. Bahkan, komunitas ilmiah sekalipun tidak kebal: insentif publikasi, tekanan reputasi, dan ekonomi perhatian membuat sebagian ilmuwan tergoda untuk “mengakali sistem,” menghasilkan data palsu, atau mempromosikan temuan yang belum terverifikasi (Hopf et al., 2019). Dengan demikian, kekhawatiran Badeni tidak hanya terjadi dalam diskursus masyarakat awam, tetapi juga dari ranah ilmu pengetahuan itu sendiri. Ketika literasi rendah dan integritas ilmiah rapuh, masyarakat dapat kehilangan kemampuan membuat keputusan yang berbasis bukti.
Kesimpulan
Dalam Orb, ilmu dibungkam oleh otoritas; dalam dunia nyata, kadang ilmu dibungkam oleh kecemasan yang ditanamkan otoritas. Di sisi ekstrim lainnya, dunia di mana semua orang bisa berbicara tanpa kemampuan menilai kebenaran juga memiliki bahaya tersendiri. Kedua sisi ekstrim ini sama-sama membahayakan pengetahuan; satu karena terlalu diam, yang lain karena terlalu gaduh. Bagi penulis, seri anime Orb menjadi peringatan tentang perlunya literasi, etika, dan mekanisme kolektif untuk menjaga kebenaran dalam dunia yang semakin bising.
Referensi:
Bunn, M. (2015). Reimagining Repression: New Censorship Theory and After. History and Theory, 54(1), 25–44. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/hith.10739
Hopf, H., Krief, A., Mehta, G., & Matlin, S. A. (2019). Fake science and the knowledge crisis: ignorance can be fatal. Royal Society Open Science, 6(5), 190161. https://doi.org/10.1098/rsos.190161
Nugroho, S., & Purbo, L. (2025). Self-censorship in Indonesian Higher Education. AAS in Asia.
Shimizu, K. (2024). Orb: On the Movements of the Earth. Madhouse.
