ISSN 2477-1686
Vol. 11 No. 43 Oktober 2025
Homo Credulus: Penjelasan Psikologi Mengapa Kita Mudah Tertipu
Oleh:
Abu Bakar Fahmi
Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka
Pada suatu perbincangan dengan para guru mengenai misinformasi di lingkungan pendidikan, saya meminjam soal (dengan sedikit perubahan) yang digunakan dalam kajian psikologi kognitif mengenai batas nalar manusia (Kahneman, 2011) berikut ini:
Anda mendapat informasi bahwa usia Mahatma Gandhi adalah 140 tahun.
Menurut Anda, berapa sebenarnya usia Gandhi?
Para guru diminta untuk tidak mencari jawaban di gadget mereka, jadi mengandalkan pengetahuan yang terbatas mengenai sosok pemimpin informal India ini. Jawaban para guru bervariasi, namun mendekati informasi yang sudah diberikan sebelumnya, yakni 140 tahun. Meski nalar kita memandu bahwa manusia jarang bisa berumur sampai 140 tahun, para guru menebak usia Gandhi 90 tahun, hampir 100 tahun, 110 tahun, bahkan ada yang menjawab usia Gandhi 130 tahun!
Pada saat kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sesuatu, kita mengandalkan informasi yang ada sebagai patokan atau jangkar (anchor), bahkan saat kita menyadari kalau informasi tersebut mungkin keliru (Kahneman, 2011). Jadi, saat kita terpapar oleh informasi yang keliru, informasi tersebut akan berada dalam pikiran kita dan menjadi rujukan kita dalam menilai infomasi yang sama atau informasi berikutnya yang relevan.
Manusia pada dasarnya rentan terpapar misinformasi (Van Der Linden et al., 2023). Manusia adalah makhluk yang mudah tertipu. Oleh ilmuwan psikologi sosial, manusia disebut sebagai homo credulus (Forgas & Baumeister, 2019).
Credulus berasal dari Bahasa Latin yang artinya “mudah percaya” (vocabulary.com). Kata ini diserap ke dalam Bahasa Inggris menjadi credulous (adj.) yang artinya “siap untuk percaya terutama pada bukti yang sedikit atau tidak pasti” (merriam-webster.com). Kata ini berkaitan dengan kata credo yang artinya “saya percaya” (etymonline.com). Credulus juga memiliki akar kata yang sama dengan creditus atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan ‘kredit’ yang artinya “memberikan pinjaman”. Agar Anda bisa mendapat kredit dari lembaga pemberi pinjaman, Anda harus bisa dipercaya.
Kata benda dari credulous adalah credulity, yakni “kecenderungan untuk mempercayai hal-hal yang tampak menggelikan atau tidak memiliki bukti pendukung yang memadai” (Greenspan, 2009). Credulity memiliki kemiripan kata dengan gullibility, yakni kecenderungan seseorang untuk mudah ditipu atau dimanfaatkan oleh orang lain (Greenspan, 2009). Meski semua orang pernah tertipu pada suatu kesempatan dalam hidupnya, Greenspan menjelasakan, orang dengan gullibility yang tinggi memiliki pola dalam hidupnya yang mudah ditipu, dalam arti kerap tertipu secara berulang dalam situasi yang berbeda, bahkan ketika dihadapkan pada pada tanda-tanda peringatan bahwa dirinya mungkin akan tertipu. Menurut Greenspan, meskipun mirip, credulity berbeda dengan gullibility: credulity melibatkan komponen keyakinan seseorang sedangkan gullibility melibatkan komponen tindakan. Perilaku orang yang mudah tertipu (gullibility) merupakan hasil (outcome) dari keyakinan atau cara pandangnya yang mudah tertipu (credulity). Orang yang tertipu karena telah menginvestasikan sejumlah uangnya ke investasi bodong (gullibility) merupakan akibat dari keyakinan atau cara pandangnya yang mudah tertipu (credulity).
Forgas dan Baumeister (2019) menyebut manusia sebagai homo credulus karena sifat mudah tertipu telah menjadi ciri khas manusia yang ditemui pada semua masyarakat. Sejarah pertumbuhan budaya manusia mencatat banyak contoh kisah manusia yang mudah tertipu. Dalam agama-agama samawi, turunnya Adam dan Hawa di bumi adalah akibat keduanya terbujuk oleh tertipu daya iblis. Fabel yang dikarang Aesop pada abad ke-6 SM antara lain bertema penipuan, misalnya serigala berbulu domba dan rubah yang menipu gagak. Si Kancil, tokoh dalam fabel paling popular di Indonesia, yang menggunakan kecerdikannya untuk mendapat keuntungan, dalam antropologi disebut sebagai trickster, yakni karakter dalam cerita yang menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi dan menggunakannya untuk melakukan trik atau tipuan (Wikipedia). Pada abad ke-19 dikenal peristiwa penipuan paling terkemuka saat itu di mana seorang mantan prajurit Skotlandia bernama Gregor MacGregor menciptakan negara fiktif bernama Poyais di Amerika Tengah untuk menipu investor dan calon penghuninya (Konnikova, 2016). Di Indonesia, penipuan berkedok investasi dan pesugihan ghaib kerap menghiasi berita, seakan korbannya tidak bisa belajar dari pengalaman buruk korban lain sebelumnya.
Mengapa manusia mudah tertipu? Berikut ini penjelasan psikologi mengapa manusia mudah tertipu.
Pertama, manusia mudah tertipu karena penipuan melibatkan serangkaian perilaku yang lebih kompleks dan hal ini berkaitan dengan kemampuan manusia dalam berbahasa (Greenspan, 2009). Menurut Greenspan, penipuan dilandasi oleh apa yang disebut dengan teori pikiran (theory of mind), yakni kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, atau untuk berpikir tentang proses mental yang terjadi di dalam kepala orang lain. Kemampuan ini berkembang pada manusia mulai usia awal atau pertengahan masa kanak-kanak. Kemampuan ini ada pada primata namun dalam tingkat berbahasa yang lebih sederhana, misalnya simpanse mengalihkan pandangannya dari makanan agar tidak memberi sinyal lokasi makanan kepada simpanse lain dan kemudian mengambil makanan tersebut di lain waktu (Greenspan, 2009).
Kedua, manusia mudah tertipu justru karena manusia punya kapasitas yang bersifat universal untuk mempercayai orang lain, yakni dengan menerima informasi tidak langsung yang kita peroleh dari orang lain sebagai proksi dari realitas (Forgas & Baumeister, 2019). Dikupas oleh sejarawan Yuval Noah Harari dalam bukunya Sapiens, sejarah perkembangan budaya manusia merupakan hasil dari kemampuan manusia dalam berpikir fiktif (Harari, 2018). Menurut Harari, interaksi sosial berskala besar dalam masyarakat manusia yang kompleks dapat berkembang jika individu-individu secara bersama-sama menerima berbagai gagasan fiktif yang dipercaya bersama-sama sebagai kenyataan. Pertumbuhan agama, bentuk negara, dan inovasi finansial saat ini adalah hasil dari kemampuan turun-temurun umat manusia dalam berpikir fiktif.
Ketiga, meski otak manusia mampu bekerja secara kompleks, namun manusia kerap gagal mendeteksi adanya penipuan karena cenderung mengabaikan pengetahuannya (knowledge neglect) (Van Der Linden et al., 2023). Orang sering kali memiliki informasi relevan yang tersimpan dalam ingatan, tetapi gagal mengambil dan menggunakannya dalam kondisi baru yang salah. Orang tidak hanya buruk dalam menyadari ketika pengetahuan yang ada bertentangan dengan informasi baru, tetapi mereka juga dapat menyerap informasi yang salah dan menggunakannya dalam situasi baru. Menurut Van Der Linden dan koleganya, penelitian tentang pengabaian pengetahuan menunjukkan bahwa otak kita membutuhkan usaha dan kesulitan untuk menerapkan pengetahuan yang ada ketika menemukan informasi baru. Ketika klaim baru salah tetapi cukup masuk akal, kita memahaminya sebagai fakta. Misalnya, dalam sebuah penelitian, responden yang membaca cerita fiksi yang di dalamnya menyebutkan “St. Petersburg, ibu kota Rusia…” lebih cenderung menjawab pertanyaan “Apa ibu kota Rusia?” dengan “St. Petersburg,” meskipun mereka telah menjawab dengan benar “Moskow” dua minggu sebelumnya (Van Der Linden et al., 2023).
Keempat, manusia adalah makhluk yang kikir kognitif (cognitive miser), yakni bahwa manusia terbatas dalam kapasitasnya untuk memproses informasi sehingga menggunakan jalan pintas mental (mental shortcuts) kapan pun mereka bisa menggunakannya (Fiske & Taylor, 2008). Penelitian menunjukkan bahwa manusia menggunakan cara berpikir cepat (heuristic) atau jalan pintas mental ketika menilai headline suatu berita (Pennycook & Rand, 2021). Alih-alih memahami isi berita secara cermat, jalan pintas dilakukan dengan menilai suatu berita berdasarkan keakraban (seseorang yang sekali pernah terpapar suatu headline berita palsu akan mudah percaya pada headline tersebut jika terpapar kemudian), sumber berita (semakin sumbernya dinilai kredibel semakin mungkin suatu berita palsu dipercaya), dan umpan balik sosial (mudah percaya terhadap berita palsu yang mendapat banyak like di suatu platform media sosial). Jawaban yang mengandalkan jangkar mengenai usia Gandhi pada awal tulisan ini menunjukkan bahwa cara berpikir kita yang kikir kognitif membuat kita mudah tertipu.
Daftar Pustaka:
Fiske, S. T., & Taylor, S. E. (2008). Social Cognition: From Brains to Culture. McGraw Hill.
Forgas, J. P., & Baumeister, R. (2019). Homo credulus: On the social psychology of gullibility. In The Social Psychology of Gullibility: Fake News, Conspiracy Theories, and Irrational Beliefs. Routledge.
Greenspan, S. (2009). Annals of gullibility: Why we get duped and how to avoid it. Praeger Publishers.
Harari, Y. N. (2018). Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Kepustakaan Populer Gramedia.
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Penguin Books.
Konnikova, M. (2016). The conman who pulled off history’s most audacious scam. https://www.bbc.com/future/article/20160127-the-conman-who-pulled-off-historys-most-audacious-scam
Pennycook, G., & Rand, D. G. (2021). The Psychology of Fake News. Trends in Cognitive Sciences, 25(5), 388–402. https://doi.org/10.1016/j.tics.2021.02.007
Van Der Linden, S., Albarracín, D., Fazio, L., Freelon, D., Roozenbeek, J., Swire-Thompson, B., & Van Bavel, J. (2023). Using Psychological Science To Understand And Fight Health Misinformation: An APA Consensus Statement: (506432023-001) [Dataset]. https://doi.org/10.1037/e506432023-001
